Bantu Mami Yuli raih Gelar Doktor Hukum Tatanegara
Bantu Mami Yuli raih Gelar Doktor Hukum Tatanegara

Bantu Mami Yuli raih Gelar Doktor Hukum Tatanegara

Rp 12.118.000
terkumpul dari Rp 100.000.000
29 Donasi 0 hari lagi

Cerita

“Dengan Pendidikan, kita tidak akan lagi dipandang sebelah mata. Mereka yang selalu berpikir bahwa waria (transpuan) itu tempatnya hanya dipinggir jalan dan di lampu merah akan bisa melihat, bagaimanapun sulitnya tekanan yang diberikan kepada kita, kita pasti akan mampu melewatinya. Saya sekolah tinggi-tinggi seperti ini bukan cuma untuk saya, tapi untuk seluruh komunitas waria, untuk seluruh masyarakat Indonesia. Agar kita semua sadar bahwa Pendidikan adalah hak mutlak kita sebagai warga negara.”

Demikian motivasi Mami Yuli ketika menjelaskan betapa Pendidikan yang diraihnya hingga titik ini tidaklah dilalui dengan mudah. Perjuangan demi perjuangan terus dihadapi dan diupayakan keberhasilannya melalui berbagai cara untuk dapat menginsipirasi komunitas waria serta masyarakat Indonesia dalam meraih cita-cita.

Yulianus Rettoblaut atau akrab dipanggil Mami Yuli, 57 tahun, seorang transpuan (transgender perempuan) yang meraih gelar Sarjana Ilmu Hukum dari Universitas Islam Attahiriyah. Dia kemudian melanjutkan pendidikan Magisternya di Fakultas Hukum Universitas Tama Jagakarsa, Jakarta Selatan, dengan predikat terbaik (A+) dan IPK 3,85 selama 2,5 tahun. Pada titik itu, dia dijuluki sebagai transpuan pertama di Indonesia yang mampu meraih gelar Magister Hukum Pidana.

Tidak berhenti sampai di situ, Mami Yuli terus mengejar mimpi dan cita-citanya. Mami Yuli tercatat sebagai Mahasiswa Program Doktoral pada Fakultas Hukum Universitas Jayabaya. Di perguruan tinggi tersebut Mami Yuli menekuni bidang Hukum Tata Negara. Mami Yuli ingin menjadi bukti hidup bagi komunitasnya bahwa transpuan juga punya kemampuan dan bisa berprestasi seperti dirinya.

“Waria (transpuan) itu, selain sebagai masyarakat termaginal, juga sebagai warga negara yang secara sadar dan terang-terangan kerap dimiskinkan oleh sistem yang berlaku di negeri ini,” menurut Mami Yuli. Sejak 1979 hingga 17 tahun berlalu, Mami Yuli pernah menjalani hidup dan bekerja di jalanan, menghadapi berbagai bentuk stigma, kekerasan, dan diskriminasi dari berbagai pihak termasuk masyarakat dan negara. Pada masa itu Mami Yuli tergerak bahwa komunitas transpuan tidak boleh hidup di jalan untuk selamanya. Dibutuhkan program pemberdayaan yang secara khusus ditujukan bagi komunitasnya, puluhan tahun lebih Mami Yuli berjuang sebagai aktivis pemberdayaan komunitas transpuan untuk mendapatkan perlindungan hukum serta hak-haknya sebagai warga negara, hingga detik ini. “Hukum di Indonesia ini tidak pernah berpihak pada kita sebagai waria,” lanjut Mami Yuli.

Mami Yuli juga tercatat sebagai penggagas terbentuknya Rumah Singgah Waria yang diakui oleh internasional sebagai Panti Jompo Waria pertama di dunia yang kemudian menjadi inspirasi bagi organisasi-organisasi transgender di negara lain untuk lebih memberi perhatian terhadap transgender lanjut usia.

Beberapa tahun belakangan bantuan yang biasa didapat untuk Rumah Singgah Waria ini semakin berkurang, bahkan Kementerian Sosial yang sebelumnya memberi dukungan sudah tidak pernah lagi mengucurkan bantuan sebagai dampak atas meningkatnya kebencian terhadap komunitas LGBTI belakangan ini. Mami Yuli terpaksa harus memutar akal ekstra keras untuk dua hal yang dicintainya, Pendidikannya dan Rumah Singgah Waria.

Saat ini Mami Yuli terancam tidak dapat menyelesaikan Pendidikan Doktornya karena ketiadaan biaya. Padahal tinggal selangkah lagi gelar Doktor tersebut dapat menjadi kebanggaan bagi komunitas transpuan di Indonesia. Namun keadaan berkata lain, Sidang Terbuka yang menjadi salah satu syarat untuk mendapatkan gelar itu ternyata membutuhkan biaya yang sangat besar. Mami Yuli harus menyiapkan sekurang-kurangnya 100.000.000 (seratus juta rupiah) untuk dapat melaksanakan Sidang Terbuka.

Beginilah kondisi nyata sistem Pendidikan di Indonesia, dengan segala upaya memiskinkan warga negara yang sudah termiskinkan oleh sistem itu sendiri.

Mari Bantu Mami Yuli meraih Gelar Doktor Hukum Tata Negara, untuk menginspirasi seluruh warga negara dalam mendapatkan hak-haknya khususnya Hak mendapatkan Pendidikan yang layak, sekaligus memberi jalan bagi Mami Yuli untuk terus melanjutkan perjuangannya, bagi komunitas transpuan di Indonesia, serta seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya. Dan pada saatnya nanti kita semua akan menjadi bagian atas keberhasilan Mami Yuli sebagai Transpuan Pertama dan satu-satunya di Indonesia saat ini yang mampu meraih gelar Doktor Hukum Tata Negara.

Disclaimer : Informasi dan opini yang tertulis di halaman campaign ini adalah milik campaigner (pihak yang menggalang dana) dan tidak mewakili Kitabisa.
Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (29)