Apresiasi untuk Amina Sabtu, Fatmawati-nya Tidore
Apresiasi untuk Amina Sabtu, Fatmawati-nya Tidore

Apresiasi untuk Amina Sabtu, Fatmawati-nya Tidore

Rp 9.485.586
terkumpul dari Rp 10.000.000
39 Donasi 0 hari lagi

Cerita

Amina siapa?
Saya tidak akan heran jika ada yang bertanya begitu. Tak banyak generasi sekarang yang mengenal sosok Amina Sabtu. Padahal beliau merupakan salah satu pelaku sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Saksi hidup sekaligus figur penting dalam terbentangnya wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke.

Kalau kita mengenal Ibu Fatmawati sebagai penjahit bendera Merah Putih yang dikibarkan saat upacara pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, Nenek Na bolehlah kita sebut "Fatmawati-nya Tidore" atau juga "Fatmawati dari Indonesia Timur".

Beliau adalah penjahit bendera Merah Putih yang kemudian dikibarkan sekelompok pemuda pejuang di Tanjung Mareku, Pulau Tidore, pada 18 Agustus 1946.

84937b954b1c5432b957efdb86fb49a6d878295d

(Nenek Na [paling kanan, duduk] mengikuti upacara peringatan pengibaran bendera di Tanjung Mareku, 18 Agustus 2016. Foto: Malut Post)

Bendera hasil jahitan Nenek Na itu menjadi bendera Merah Putih pertama yang berkibar di Indonesia Timur. Berkibarnya bendera tersebut sekaligus menyimbolkan Tidore dan Kepulauan Maluku sebagai bagian dari Republik Indonesia. Ini menjadi hantaman telak bagi Jepang juga Belanda, yang hanya mengakui kemerdekaan RI di Pulau Jawa.

Selain Nenek Amina Sabtu sebagai penjahit/pembuat bendera, tercatat pula nama Abdullah Kadir, sepupunya, yang bersama sejumlah pemuda Mareku mengibarkan bendera hasil jahitan Nenek Na di Tanjung Mareku.

Awalnya, bendera tersebut akan dikibarkan di Jembatan Residen, Ternate. Namun ketatnya penjagaan tentara Belanda membuat Kakek Dullah dan kawan-kawan harus mengubah rencana.

Menggunakan perahu dayung, Kakek Dullah dkk. putar balik ke Pulau Tidore dan mulai mencari tempat yang dipandang strategis untuk menancapkan simbol perlawanan terhadap pendudukan penjajah yang masih berlangsung di Maluku Utara tersebut. Tanjung Mareku kemudian dianggap sebagai lokasi sempurna.

Kakek Abdullah Kadir telah wafat pada 2009 silam. Sedangkan Nenek Amina Sabtu masih diberi kesehatan dan umur panjang.

19b11f8d8ef1bcdfa256d88c53eecacf3db4eec7

(Nenek Na didampingi sejumlah cucu saat saya kunjungi bersama rekan-rekan blogger pada 10 April 2017. Penglihatannya masih tajam, demikian pula ingatannya. Foto: dok. pribadi)

Saat peristiwa heroik lebih dari setengah abad itu, usia Nenek Na baru 19 tahun. Kini beliau sudah tidak bisa banyak bergerak. Untuk mengikuti upacara peringatan pengibaran bendera di Tanjung Mareku yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari rumahnya saja, Nenek Na harus dipapah anak-cucu.

Nenek Na tinggal bersama anak-cucunya di Mareku. Tepatnya RT 08 RW 4 Kelurahan Mareku, Kecamatan Tidore Utara, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara. Rumah yang 70 tahun silam jadi tempat beliau menjahit bendera Merah Putih bersejarah tersebut.

Beliau menghabiskan keseharian dengan bercengkerama bersama cucu, dan sesekali mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci piring. Hal yang sebenarnya tidak diperkenankan oleh anak-cucunya.

Setiap upacara 17 Agustus, Nenek Na (dan Kakek Dullah semasa hidupnya) selalu diundang Pemkot Tidore Kepulauan untuk hadir di Kantor Walikota. Pada momen itu biasanya Pemkot memberi santunan. Namun, belum ada tanda penghargaan sebagai pahlawan atau semacamnya yang diberikan pada beliau. Bahkan kisah heroik Nenek Na, Kakek Dullah, dkk. pada 1946 tersebut seolah terlupakan. Tak tertulis dalam sejarah.

Saya beruntung sekali mendapat kesempatan menjumpai Nenek Na di rumah beliau, 11 April 2017 lalu. Bersama tujuh rekan blogger lain yang berasal dari Jawa, Sumatera, dan Bali, kami saksikan sendiri betapa bersahajanya kondisi Nenek Na.

fc731cd62b7865a4b927830247228fd2b0b559eb

(Saya menyalami Nenek Na, disaksikan cucu beliau [kanan] dan Ci Anita Gathmir [jilbab biru] yang membawa saya dan rekan-rekan blogger lain ke Tidore pada 8-14 April 2017. Foto: Rifqy Faiza Rahman)

Tak banyak yang bisa kami lakukan selain menuliskan kisah heroik Nenek Na dan Kakek Dullah di blog, lalu menyebarkannya melalui media sosial agar lebih dikenal luas dan dikenang selalu oleh generasi kini.

Tapi, itu saja tentu tidak cukup, bukan? Karenanya saya berinisiatif membuka laman donasi ini di Kitabisa.com. Saya ingin mengajak kita semua memberi tali asih sebagai penghargaan dan ungkapan terima kasih sebesar-besarnya atas keberanian Nenek Na, tanpa melupakan jasa almarhum Kakek Dullah tentunya, di era perang kemerdekaan.

Yuk, ulurkan tanganmu. Begini cara berdonasi:

  1. Klik tombol "Donasi Sekarang" berwarna merah di bawah ini
  2. Isi data dirimu dan pilih metoda pembayaran
  3. Transfer ke nomor rekening yang muncul
  4. Selamat bergabung dalam lingkaran orang baik!

Seluruh donasi yang terkumpul (setelah dipotong biaya admin Kitabisa sebesar 5%) akan diserahkan langsung pada Nenek Na.

Jangan lupa, tolong bantu sebarkan laman donasi ini di akun-akun media sosialmu juga ya. Semoga lebih banyak lagi yang turut memberi apresiasi pada sosok pemberani seperti beliau.

Oya, sebagai campaigner saya sih inginnya menyerahkan hasil donasi ini secara langsung saat upacara 18 Agustus 2017 di Tanjung Mareku mendatang. Tapi kalau itu tidak memungkinkan, kawan-kawan baik saya di Tidore siap membantu menyerahkannya.

Salam hangat,

Eko Nurhuda (www.bungeko.com)
WA 0816 1728 5758 | facebook.com/ekonurhuda

===================================================

Berita-berita mengenai Nenek Na dan peristiwa Tanjung Mareku 1946

http://www.jawapos.com/read/2015/08/18/1003/amina-sabtu-pahlawan-yang-terlupakan-

http://portal.malutpost.co.id/en/opini/item/2705-a...

http://m.jpnn.com/news/heroik-penjahit-merah-putih...

http://www.radarbangka.co.id/rubrik/detail/feature...

http://portal.malutpost.co.id/en/daerah/tidore-kep...

http://portal.malutpost.co.id/en/feature/item/2288...

Disclaimer : Informasi dan opini yang tertulis di halaman campaign ini adalah milik campaigner (pihak yang menggalang dana) dan tidak mewakili Kitabisa.
Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (39)