Kitabisa! - Bantu anak pedalaman Papua
Bantu anak pedalaman Papua

Bantu anak pedalaman Papua

Rp 202.291.648
terkumpul dari Rp 200.000.000
773 Donasi 0 hari lagi

Cerita

Assalammualaikum, halo #orangbaik

Saya, founder dari gerakan Bookforpapua. Sebuah gerakan sosial kecil untuk membatu pendidikan baca tulis bagi anak-anak dipedalaman Papua. Gerakan ini saya rintis sejak tahun 2012 lalu.
Saat ini melalui #bookforpapua dengan dibantu beberapa teman, kini saya tengah mengelola 4 rumah belajar sederhana dipedalaman Papua. Keempat rumah belajar itu terletak di Kabupaten Asmat, Kabupaten Jayawijaya, Lanny jaya dan Kabupaten Nabire. Selain memfasilitasi puluhan anak-anak diempat rumah belajar tersebut. Saat ini #bookforpapua juga menyekolahkan beberapa orang diantaranya.

Namun untuk sementara waktu halaman galang dana ini saya khususkan untuk membantu anak-anak saya di Rumah Belajar Asmat & biaya utk membantu 4 anak papua lain yg tengah saya sekolahkan disekolah formal

Saat ini dirumah belajar tersebut kami memiliki 60an anak yang diajarkan tulis baca dan tiap anak memperoleh makanan tambahan rutin sebanyak 4x dalam seminggu.

Sebelumnya, seperti yg kita ketahui, Papua adalah salah satu provinsi dg sumber daya alam terkaya dinegeri ini. Namun disisi lain, tingkat kemiskinan & pendidikan di Papua adalah salah satu yang terburuk di Indonesia. Ini dua hal yg berbanding terbalik. Saya rasa mungkin hampir semua orang sudah mengetahui ini.

Rasanya kadang memang tak bisa dinalar, Bagaimana bisa ? sebuah pulau yang kaya raya namun masyarakat aslinya masih hidup didalam belenggu kemiskinan dan keterbelakangan dalam hal pendidikan. 

Miris memang, jika tak percaya lihat saja, beberapa tahun belakangan ini banyak sekali bencana kesehatan yang merenggut nyawa dipedalaman papua. Kematian komunal seperti ini seolah tak ada habisnya mendera masyarakat pedalaman Papua.

Bencana gizi buruk di Korowai yg terjadi tahun lalu. Kemudian disusul oleh wabah campak dan gizi buruk di Asmat yg menggemparkan kita dipenghujung tahun yang sama, yg menelan korban hingga 93 nyawa. Bahkan menurut beberapa sumber jumlah korbannya lebih dari itu, dan yang lebih memalukannya lagi, selain menghebohkan didalam negeri, beritanya juga diulas oleh beberapa media massa terkemuka didunia. 

Padahal sebelumnya, kejadian serupa juga pernah terjadi dikabupaten Nduga. Tak jauh-jauh, kedua kabupaten itu hanya bertetangga saja. Bahkan di awal tahun 2017 itu juga, Dikampung Eyuni, di kabupaten Lannyjaya, didekat salah satu rumah belajar kami disana, saya dengan mata kepala sendiri juga sempat menyaksikan bencana yg sama, yg waktu itu entah karena wabah diare/kolera. Yg jelas tragedi itu juga merenggut sekitar 27 nyawa. 

Keadaan ini terus menerus berulang dan semakin diperparah oleh buruk dan kurangnya perhatian pemerintahan setempat.

Jika ingin mengetahui lebih lengkap bencana apa saja yg terjadi tiga tahun belakangan, teman-teman bisa kok googling di internet, karena terbatasnya ruang, saya tidak bisa mengurainya disini.

Pendidikan dan Kesehatan adalah dua masalah paling krusial di Papua.

Sekolah-sekolah yg seharusnya menjadi titik tumpu untuk meningkatkan sumberdaya manusia agar mampu bangkit dan bersaing dengan pendatang, banyak yang lapuk karena tak terurus, tak ada guru yang mengajar, bangku-bangkunya habis dimakan rayap. Berbulan-bulan, bahkan ada yg sampai tahunan, dan anehnya walau tak pernah berada ditempat tugas, sang guru yg bersangkutan tetap saja menerima gaji. Hebatnya lagi, dihari kelulusan dan kenaikan kelas, anak-anak yang tak bisa membaca pun bisa lulus dan mendapatkan ijazah.

Begitu pula dibidang kesehatan, Puskesmas banyak yg terbengkalai, ditutupi semak belukar karena tenaga medis yang bertugas hampir tak pernah hadir melayani. Saya sendiri saat membantu anak atau masyarakat yang sakit bahkan pernah beberapakali terlibat adu mulut dg petugas kesehatan setempat karena sakit hati melihat pelayanan mereka. 

Hal-hal seperti ini sudah menjadi pemandangan yg "amat biasa" di Papua, tidak aneh. Sudah jadi rahasia umum, semua orang tau, tapi tak banyak yang peduli.

Kita dengan mudah bisa menemukan kondisi seperti ini hampir disemua tempat. Tak perlu jauh-jauh pergi kepedalaman. Dikota kecamatan atau dikota setingkat kabupaten pun mudah sekali ditemukan. Saya berani menuliskan seperti ini karena sy telah lama menyaksikannya dg mata kepala saya sendiri. Sejak 2012 hingga sekarang masalah kesehatan dan pendidikan di papua seakan tak ada perubahan. Tapi biarlah, saya juga tak berniat menyalahkan pihak-pihak terkait, dan kalau pun sy tuliskan disini, itu semata-mata hanya sebagai informasi bagi teman-teman yang belum mengetahuinya saja. Jadi singkat cerita, kira-kira begitulah kusutnya masalah sosial di Papua.

Apalagi pasca wabah campak dan gizi buruk yg melanda Asmat tahun lalu. Rumah belajar kami disana menjadi over kapasitas. Pasca wabah itu. kami kedatangan banyak anak-anak baru dari pedalaman, meski sudah melebihi kapasitas, Namun kami tak tega menolaknya, apalagi anak-anak tersebut sudah datang jauh-jauh.

Karena jumlah mereka yang terus bertambah, kadang saya dan kawan-kawan pura-pura tegar menolak mereka. Kami terpaksa menyuruh anak-anak itu pulang dg alasan kelas kami sudah penuh, tidak ada tempat lagi untuk belajar, tapi melihat mereka terus mengintip dibalik pintu dan terus memohon sambil berkata.

"Paguru, kasih saya masuk kah ? Sa mau ikut belajar"

Mendengar itu saya tak pula sampai hati, Meski rumah belajar kami bukanlah lembaga pendidikan resmi. Tapi tak dipungkiri, kehadiarannya telah banyak membawa manfaat bagi anak-anak, bagaimana tidak, saat sekolah-sekolah milik negara menolak menerima mereka dengan berbagai alasan, Rumah belajar kami menjadi harapan mereka satu-satunya.

Saya dan Rio,

Saya dan Rio, salah satu anak kami yang sempat terindikasi menderita gizi buruk

Karena anak-anak yg datang terus bertambah, kemudian bersama paroki gereja setempat, kami mulai memperbesar ruangan agar bisa menampung lebih banyak anak-anak.

Asmat

Ruang kelas kami yang lama, sebelum disekat dan penambahan ruang kelas baru.

Penambahan ruang kelas

Penambahan ruang kelas

Penambahan ruang kelas

Penambahan ruang kelas

69dd370b-f60f-4e65-82fd-f688974d2504.jpg

Penambahan ruang kelas

d9e6ae4c-23bd-49ea-834f-84c2a1203344.jpg

Rapat bersama orang tua anak-anak untuk penerimaan anak baru dan syukuran utk pembangunan kelas baru

a6b0ef9d-43a7-466d-8cf5-03aeb95d8a22.jpg

Pemberian tambahan makan rutin tiap selesai belajar

03c5a44c-9ac7-4bc6-b135-641590f874a7.jpg

Pemberian tambahan makanan rutin tiap selesai belajar

Namun tak seperti sebelumnya. Asupan makanan yang awalnya hanya kami sediakan untuk 30an anak saja, kini jatah itu harus kami bagi kepada lebih dari 60 orang. Over kapasitas ini benar-benar mulai terasa efeknya. Lauk ikan yg dulu disebut sebagai asupan makanan padat gizi berganti dengan mie, bubur kacang perlahan-lahan berganti dg menu seadanya, jauh dari kata padat gizi. Mau bagaimana ?? Jumlah anak yg terlalu banyak, dana yang terbatas serta harga pangan yg selangit membuat kami kian terjepit. jika tak begitu maka dana yang ada tidak akan cukup, Simalakama. 

39d8f32e-ece6-4761-b984-d7e3373736e6.jpg

Kadang ingin rasanya saya menyetop. Berhenti mengelola dan melupakan mereka. 

Tapi bayangan kejadian gizi buruk yg sempat kami lewati beberapa waktu lalu itu. Membuat saya tak tega.

Apalagi bergerak dibidang pendidikan dengan masalah sosial sepelik ini, untuk melihat hasilnya tentu tidak bisa instan. Butuh waktu. Dua tahun pertama yang berat telah kami lalui. hasilnya pun sudah terlihat, Anak2 yg dulu tidak bisa memegang pena kini sudah agak lancar menulis, anak yang dulu tidak mau dan tak mengerti arti dan gunanya sekolah kini datang sendiri tanpa harus dijeput lagi, dan untuk melihat hasilnya saya yakin masih butuh waktu beberapa tahun lagi.

Lalu jika menghentikannya sekarang ? 

Bagaimana nasib anak-anak itu nanti ? Yg sudah berhasil dibujuk untuk sekolah ? Yg baru saja paham apa gunanya membaca, yg baru saja bisa mengeja, dan anak-anak yg wajahnya sedang berseri-seri penuh semangat itu harus ditinggalkan ? Lalu apa jadinya ? Sungguh saya tak tega meninggalakan mereka, setidaknya tidak untuk saat ini.

Persiapan ujian paket

Saya dan beberapa anak yg sudah cukup lancar tulis baca, saat ini tengah kami persiapakan agar bisa ikut ujian paket agar bisa melanjutkan pendidikannya ke sekolah formal.

Karena itulah saya mengajak kawan-kawan semua untuk membantu langkah kecil saya ini agar tak berhenti disini. 

Meski bencana gizi buruk kemarin memang telah berlalu, tapi bukan berarti mereka, anak-anak di Asmat telah pulih, Mereka masih sangat butuh untuk diperhatikan. Sebab, kondisi "real" di Papua jauh lebih buruk dari sekedar bencana gizi buruk dan campak yg menghebohkan itu. Ibarat gunung es. Bencana kemarin itu hanya puncaknya saja.

ac4b57c4-60d8-4b1b-9faf-30cac6bfda04.jpg

Ditambah lagi saat ini. Dengan mulai maraknya anak-anak yang kecanduan menghisap lem Aibon hingga mabuk dan teler diseantero Papua, yang kini juga merembet sampai ke Asmat, Menambah berat hati saya meninggalkan mereka.

48cb825b-18c1-4f72-9121-a145f5630ef6.jpg

Anak-anak yang mulai terkena pengaruh buruk mabuk lem Aibon

30943ca7-c44a-4c4c-a033-a2e5007055a5.jpg

Saya semakin yakin bahwa belum saatnya berhenti, Anak-anak ini masih benar-benar perlu ditolong. Namun kurangnya sumber pendanaan membuat sy dan kawan-kawan tak berdaya.

Saat ini saja, Untuk dapat menjalankan Rumah belajar Asmat dan menutupi biaya sekolah empat anak ini, dibutuhkan dana sekitar 6 sampai 7 juta rupiah setiap bulan.

Jumlah itu adalah jumlah biaya akumulatif untuk menutupi biaya alat tulis dan biaya asupan makanan mereka sehari-hari.

Perkiraan budget 200 jt ini adalah jumlah perkiraan dana untuk memenuhi kebutuhan selama 2 tahun.

Jadi jika kawan-kawan memiliki kelebihan dan kelapangan rejeki, perkenankanlah saya memintanya sedikit, tak perlu banyak, donasi sepuluh, dua puluh ribu rupiah pun sudah sangat meringankan kami.

Dan satu hal lagi, kian hari isu "PAPUA MERDEKA" kian santer terdengar. Semakin hari campaignnya semakin merajalela dimana-mana. bahkan dirumah belajar yg kami kelola pun. Anak-anak masih lebih hapal "bintang kejora" daripada "merah putih" 

Seperti contoh berikut,

76bc6ed1-f07d-4743-a606-4385b6ef4810.jpg

Mungkin karena terlalu lama diabaikan, Anak-anak hampir-hampir tak menganggap dirinya bagian dari Indonesia, buktinya, hiasan bendera Bintang kejora ini ada dimana-mana

e22e82bf-393a-4298-80cd-d65ff5f68db0.jpg

Simbol Bendera bintang kejora ini menghiasi hampir semua dinding dirumah belajar, selalu ada dibuku anak-anak, Meski sudah banyak cara yg dilakukan tapi bagi mereka bendera Papua tetap saja ini, bukan Merah putih, sedih

custom alt

Tapi saya pikir, gerakan ini bisa tumbuh subur, salah satu penyebabnya toh juga adalah buah dari ketidakpedulian kita selama ini. Perlakuan ini tentu membuat mereka merasa diabaikan, maka lama kelamaan timbul dan terbentuklah gerakan tersebut. Jadi soal isu Gerakan Papua Merdeka yg sering teman-teman tanyakan ini, meskipun sejak awal saya tidak pernah membawa-bawa rasa nasionalisme dalam kegiatan ke Papua, tapi saya bisa katakan, Gerakan itu benar-benar ada, nyata dan terus berkembang, Jadi saran saya hanya satu, kalau tak ingin kehilangan saudara, ya bantulah sekarang. 

Mereka, saudara kita ini butuh perhatian lebih, butuh lebih dari sekedar jargon "NKRI HARGA MATI" yang selalu kita elu-elukan disosial media itu. Mereka butuh perhatian yang nyata. Bukan teriakan "persaudaraan" omong kosong seperti yg selalu kita teriakkan itu. Mereka butuh kasih dan kepedulian yang nyata dari saudara setanah airnya. Sebab kalau tidak sekarang, kapan lagi ? jika terus diabaikan bukan tidak mungkin lho suatu saat nanti "Papua Merdeka" itu bisa benar-benar terjadi.

Ow iya, Donasi yg terkumpul nantinya akan digunakan untuk menutupi biaya sekolah anak-anak, biaya pengadaan alat tulis, bahan makanan, pakaian dan biaya-biaya lain yg bersifat tak terduga. seperti biaya berobat, perbaikan bangunan dan lain-lain. 

Donasi akan dicairkan secara berkala sesuai dengan kebutuhan. serta untuk pelaporannya Inshaa allah nanti juga akan selalu saya update dihalaman ini.

Jadi, sekali lagi, sebelum terlambat. Ayo bersama-sama kita ulurkan tangan untuk merangkul kembali saudara-saudara kita ini.

Untuk keperluan rumah belajar yang lain, jika dirasa perlu nanti akan saya buatkkan halaman campaign donasinya sendiri.

Lalu buat teman-teman yang ingin mengetahui seperti apa kegiatan #bookforpapua ini, Kawan-kawan bisa lihat di akun instagram saya berikut ya.

https://www.instagram.com/book...

Atau bisa juga mengontak saya di nomer seluler 082229000099.

Akhir kata, salam hangat saya dan seluruh anak-anak saya di Papua.
Terimakasih.

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (773)