Dukung Anggun untuk Lanjutkan Kuliah di Minerva
Dukung Anggun untuk Lanjutkan Kuliah di Minerva

Dukung Anggun untuk Lanjutkan Kuliah di Minerva

Rp 16.954.665
terkumpul dari Rp 20.000.000
35 Donasi 0 hari lagi


Cerita

Saya telah menjadi saksi bagaimana pendidikan telah mengubah hidup seorang anak kampung dari Blitar. Dengan alasan tersebut pula, saya termotivasi untuk melanjutkan pendidikan saya di Minerva School at KGI, sebuah universitas dengan inovasi pendidikan abad 21. Minerva dibentuk oleh Ben Nelson, seorang veteran dalam bidang inovasi dan entrepeneurship dan Stephen M. Kosslyn yang sebelumnya merupakan dekan di Harvard University. Pembelajaran tidak berlangsung di kelas melainkan melalui laptop dan software khusus yang dapat menghubungkan pengajar dan mahasiswa dalam platform Active Learning Forum. Selama perkuliahan di Minerva, mahasiswa dituntut untuk tinggal, belajar, dan membuat dampak nyata di 7 kota di dunia, San Francisco, Seoul, Hyderabad, Berlin, Buenos Aires, London, dan Taipei.

Sekilas Tentang Anggun

Empat belas tahun adalah umur ketika saya harus berpikir tentang masa depan sendirian karena perceraian orang tua saya dan kepergian ibu saya menjadi tenaga kerja di luar negeri. Sampai akhirnya, diujung rak perpustakaan SMP, saya menemukan buku yang menyelamatkan hidup saya, The 7 Habits for Highly Effective Teen. Gagasan mengenai memusatkan hidup pada prinsip dan nilai tumbuh dipikiran saya.

Keyakinan bahwa saya tidak didefinisikan oleh latar belakang atau situasi, menjadikan saya gigih dan bersikap proaktif dengan mencari kerja sampingan (mengajar les dan menjadi ojek murid saya), serta berperan aktif dalam pendidikan saya. Saya bersyukur akhirnya menerima bantuan pendidikan di Sampoerna Academy, sebuah sekolah menengah atas berasrama yang memiliki siswa dari seluruh Indonesia. Saya juga tidak henti-hentinya berterima kasih pada Kuasa-Nya, yang mengizinkan saya tetap berprestasi dengan salah satunya mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar ke Amerika Serikat (AS) bertemakan lingkungan dan kepemimpinan. Sepulang dari AS, saya berusaha berkontribusi dengan membuat proyek-proyek lingkungan yakni pendidikan lingkungan untuk anak-anak SD, lomba film pendek untuk pelajar SMP dan SMA seluruh Indonesia, dan talkshow lingkungan untuk umum.


f8ecc9135de1af816ed1619c5dd49fd56965f14a

Gambar 1. (Dari kiri ke kanan) Yesa, Ibu Lisa, dan Anggun di depan White House, Washington D.C.


a2ee0fd60d7197ccf76bd53a2d6170396bde1f87

Gambar 2. Pidato sambutan dalam acara puncak proyek lingkungan oleh Yesa dan Anggun

Hidup Bagi Anggun dan Alasan di Balik Minerva School at KGI

Bagi saya hidup adalah tentang mencapai versi terbaik saya, secara emosional dan intelektual, untuk kebaikan bersama. Saya ingin hidup saya dipenuhi tantangan-tantangan bermakna, dipenuhi dengan inovasi dan eksplorasi, digunakan dengan maksimum untuk turut membantu orang-orang muda Indonesia, terlebih yang memiliki latar belakang sosial ekonomi atau nasib seperti saya.

Selain itu, saya percaya bahwa kita berada pada masa ketika setiap masalah dan tantangan dunia perlu diselesaikan bersama. Perkembangan teknologi telah membuat kita lebih terhubung satu sama lain, begitupun juga dengan masalah kita. Ilmu pengetahuan tidak lagi dapat terisolasi antara satu bidang dan bidang lainnya, maka penting bagi setiap orang untuk baik menjadi ahli dalam bidang tertentu sekaligus menguasai hubungannya dengan bidang-bidang lain. Bagi saya, sangat menyesakkan melihat orang-orang berjuang hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Keinginan untuk menghapuskan kemiskinan dan menciptakan dunia yang lebih baik membuat saya bersemangat untuk menjadi penggerak dan wiraswasta sosial. Namun, mempelajari tentang ekonomi dan bisnis saja tidak akan cukup untuk menjadi wiraswasta sosial di bidang saya inginkan.

Satu dari beberapa isu yang menarik bagi saya adalah agrikultur. Untuk generasi-generasi sebelum saya, bertani adalah satu satunya cara untuk hidup, dan sekarang semuanya telah berubah. Ayah saya merelakan tanah kami dijual untuk membuka toko kelontong tradisional di desa kami dan kakak laki-laki saya berupaya mencari pekerjaan dengan upah rendah di

kota, mengandalkan ijazah SMA-nya. Ketika saya masih lebih muda, sulit bagi saya untuk memahami alasan dari situasi tersebut, dan sekarang saya tahu bahwa menurut Bank Dunia pada tahun 2013, setidaknya ada 18 juta petani kecil Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan global. Hal tersebut mengusik hati saya karena dua hal, (1) bahwa berhenti bertani tidak membuat kondisi keluarga saya menjadi lebih baik, (2) bahkan para petani yang berjuang menyiapkan makanan untuk orang lain harus berjuang untuk memberi makan keluarga mereka sendiri. Meskipun hal ini terjadi di desa, namun kemiskinan dan pertanian telah menjadi masalah kita bersama yang akan memberikan dampak negatif yang nyata, misalnya: orang-orang yang pindah ke kota untuk mencari perkerjaan, inovasi yang minim dalam pertanian, dan adanya food loss karena hal tersebut. Terjun langsung ke bidang pertanian tidak membuat saya menciptakan situasi yang berbeda. Saya perlu melengkapi diri saya dengan pengetahuan mendalam tentang berbagai bidang terkait lain yang mampu membantu saya memecahkan masalah tersebut dan segala kompleksitasnya.

Minerva School at KGI merupakan tempat yang tepat yang memungkinkan saya untuk mencapai hal tersebut karena merupakan universitas non-tradisional dengan pendidikan berbasis tujuan. Universitas ini meruntuhkan pemahaman tradisional tentang keharusan adanya wujud fisik bangunan di satu tempat sebagai persyaratan mutlak lembaga pendidikan. Sebagai gantinya, Minerva merancang pendidikan yang dilangsungkan di 7 kota berbeda di seluruh dunia dan memungkinkan mahasiswanya merasakan menjadi bagian dari beragam latar sosial budaya. Minerva menekankan pendidikan yang mengutamakan pengalaman untuk mendapatkan kemampuan kritis dan pendekatan multidisipliner untuk memahami masalah dengan lebih komprehensif. Bagi saya kesempatan untuk belajar berpikir kritis dan inovatif akan membantu saya dalam upaya berkontribusi menyelesaikan masalah kompleks kemiskinan, agrikultur dan isu-isu lainnya untuk generasi kita dan generasi-generasi mendatang.

Lebih lanjut mengenai Minerva

Bagaimana Anda dapat Membantu Anggun dan Mimpinya

Minerva telah membuktikan komitmennya untuk memberikan bantuan finansial bagi setiap orang yang berhasil diterima, sesuai dengan kondisi ekonominya. Sesuai dengan keadaan ekonomi saya, Minerva memberikan bantuan ($28,450) yang menutupi hampir keseluruhan biaya yang saya harus keluarkan. Namun, meskipun telah membuka pintunya dengan lebar, Minerva masih jauh dari jangkauan. Saya membutuhkan dana deposit pendidikan, deposit residence hall/tempat tinggal (yang akan dikembalikan setelah lulus, asalkan tidak merusak properti yang ada), asuransi kesehatan, visa serta tiket pesawat yang totalnya $3500. (Saya harus mengumpulkan Rp 20.000.000 terlebih dahulu untuk membayar deposit dan asuransi pada awal bulan Juli.)

Bantu saya dengan menyebarkan campaign ini dan/atau berdonasi dengan cara:

  • Klik tombol berwarna merah "Donasi"
  • Isi data diri dan pilih cara pembayaran
  • Transfer ke nomor rekening yang muncul

Atau Anda dapat mengubungi saya di angguncitraberlian@gmail.com

Terima kasih,

Anggun Citra Berlian

Minerva di berbagai media :

“This college startup has a 1.9% acceptance rate, making it tougher to get into than Harvard,” Business Insider, April 2016

“The Future of College?” The Atlantic, September 2014

“Harvard, Stanford, and Minerva? The Next Elite University at Half the Price,” LinkedIn, April 2015

“Extreme Study Abroad: The World Is Their Campus,” The New York Times, October 2015

“With virtual seminars and lower tuition, Minerva Schools offers online alternative to college,” PBS NewsHour

“Students Aren’t Going To College To Learn, They’re Going To Network,” Forbes, April 2016

Disclaimer : Informasi dan opini yang tertulis di halaman campaign ini adalah milik campaigner (pihak yang menggalang dana) dan tidak mewakili Kitabisa.
Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (35)