Kitabisa! - Bang Kelana, Keliling Indonesia Bermodalkan Azan
Bang Kelana, Keliling Indonesia Bermodalkan Azan

Bang Kelana, Keliling Indonesia Bermodalkan Azan

Rp 251.483
terkumpul dari Rp 50.000.000
3 Donasi 0 hari lagi

Cerita

Kamis (24/5) tim ACT Aceh menyambangi kediaman Akhyarizal atau akrab disapa Bang Kelana. Lelaki kelahiran Banda Aceh 50 tahun silam ini memilik empat orang anak yang masih kecil-kecil. Kedatangan tim ACT Aceh ke kediaman Bang Kelana berawal dari postingan Facebook Edi Fadhil yang mengisahkan perjumpaannya dengan Bang Kelana.

Edi Fadhil yang sehari-hari bekerja sebagai abdi negara ini juga dikenal sebagai sosok aktivis kemanusiaan, baru-baru ini ia memenangkan award yang dihelat oleh salah satu stasiun Tv nasional.

Setelah janjian, berangkatlah tim ACT Aceh dengan Edi Fadhil ke kediaman Bang Kelana. Tak lupa, tim membawakan sejumlah paket sembako untuk Bang Kelana dan keluarga.

Bang Kelana menempati rumah bantuan tsunami ukuran 6x6 M di daerah Kajhu, Aceh Besar. Begitu tim tiba, dengan ramah beliau langsung mempersilahkan masuk.

Rumah Bang Kelana berwarna hijau muda. Baru-baru ini di cat oleh Komunitas Kapay (Kajhu Peduli Anak Yatim) ketika melihat catnya sudah terkelupas.

Duduk sebentar, Bang Kelana mulai mengisahkan perjalanan hidupnya kepada tim ACT Aceh. Bang Kelana dulunya bekerja sebagai nelayan. Hampir tiap hari melaut dengan penghasilan yang lumayan untuk menghidupi keluarganya. Namun semuanya buyar ketika musibah tsunami menghamtam Aceh. seluruh perlengkapan melautnya habis dibawa tsunami, hilang bersama dengan gelombang hitam pekat. Begitupun dengan isteri dan semua anak-anaknya turut serta menjadi korban musibah maha dahsyat pada 2004 silam itu.

“Setelah tsunami, saya benar-benar terpuruk. Antara ambang sadar atau tidak menjalani sisa-sisa hari setelah tsunami. Semua hilang dalam sekejap mata.” Ungkapnya.

Tak ingin terus-terusan larut dalam musibah yang memang sudah kehendak dari-Nya. Bang Kelana jadi teringat dengan pesan Almarhum Ayahanda untuk menjelajah. Mengitari luasnya bumi Allah.

“Mungkin dengan melakukan satu perjalanan. Memori saya tentang rumah dan keluarga bisa terobati. Waktu itu saya juga tidak berpikir bagaimana saya akan memulai perjalanan karena memang sudah tidak apa-apa lagi (harta – red). Pokok jih jak (Pokoknya jalan)” Batinnya ketika itu.

Bang Kelana memulai perjalanan pada 2005. Dalam tahun yang sama beliau meminang seorang wanita yang akhirnya menjadi teman seperjalanannya. Teman yang setia tanpa pernah mengeluh akan beratnya berjalan kaki dari Banda Aceh hingga ke Kalimantan.

“Saya mulai berjalan dari Banda Aceh terus menyusuri pantai timur Sumatera sampai Lampung, kemudian menyeberang ke Jakarta dan dari Jakarta jalan kaki lagi melewati Semarang sampai Surabaya dan kemudian dari Surabaya naik kapal laut ke Banjarmasin (Kalimantan Selatan) dan berjalan kaki lagi ke Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur. “ Ujar Bang Kelana.

Setiap menjumpai masjid, beliau beserta isteri dan anaknya akan berhenti. Meminta izin kepada pengurus masjid untuk mengumandangkan azan. Di situlah biasanya beliau mendapatkan sedikit sedekah dari pengurus atau jamaah setelah mengetahui kisah perjalanannya.

Hebatnya Bang Kelana mencatat dengan sangat lengkap nama dan alamat serta waktu beliau melantunkan adzan di ratusan mesjid yang beliau singgahi, sepanjang perjalanan beliau catat rapi dan detail di beberapa buku tulis tebal lengkap dengan detail kenangan beliau saat melewati suatu wilayah. Misalnya di suatu lokasi beliau sangat capek, istri mau melahirkan, kehabisan makanan, sakit gigi dsb. Semua dicatat detail.

2ef9baeda4c30e700f90503b90301aec53fb1137

bcaf77ee70eb96bb540ca00197bdaa2813c9b9ed

Beberapa bulan di Balikpapan, Bang Kelana mulai memiikirkan untuk kembali ke Banda Aceh berhubung anaknya yang kecil sering merengek dalam perjalanan.

Perjalanan kembali ke Banda Aceh juga ia tempuh dengan berjalan kaki. Menerapkan pola yang sama ketika pergi pertama sekali. Jalan dan berhenti di setiap masjid yang beliau temui, menemui pengurus masjid untuk menjadi muazin dan kembali melanjutkan perjalanan.

Bang Kelana kembali ke Banda Aceh pada tahun 2013. Total ia menghabiskan waktu selama delapan tahun. Dari 2005 sampai 2013 melangkahkan kaki setapak demi setapak. Dari Banda Aceh hingga Balikpapan.

Sepulang dari perjalanan panjangnya. Bang Kelana mulai menjalani hidup seperti masyarakat pada umumnya. Dari 2013 sampai sekarang ia bekerja sebagai pencari tirom (Tiram).

“Biasanya kalau cari tiram anak-anak gimana bang?” tanya Edi Fadhil.

“Anak-anak saya bawa juga Bang. Isteri beserta anak duduk di atas boat yang saya buat dari gabus bekas. Terus saya nyelam mencari tiram.” Jawab Bang Kelana sambil menunjuk keluar, ke arah boat buatannya.

8ad74911e2df9ca9de923100e7aa0d18c293ae00

Ya, setiap kali mencari tiram. Anak beserta isterinya akan Bang Kelana ajak karena setelah beliau angkat tiramnya ke atas, Isterinya akan langsung mengupasnya. Jadi kalau meninggalkan isteri dirumah itu artinya tidak ada yang bisa langsung mengupas tiram.

Pekerjaan seperti ini tentu terlalu berat bagi Bang Kelana beserta keluarga. Selain berat juga sangat beresiko bagi anak-anaknya. Berhubung ikut dengan ayahnya, anak-anak Bang Kelana jadi tidak bersekolah seperti anak pada umumnya.

7ad28e9336e18a5ede8e0e5a671cd584934db53b Sore Itu, Hanya Ada Nasi Untuk Berbuka Puasa di Rumah Bg Kelana

Melihat kondisi Bang Kelana seperti ini, kami berinisiasi untuk menghadiahi Bang Kelana sebuah becak. Becak ini nantinya akan digunakan oleh Bang Kelana untuk jualan ikan keliling.

Jadi nantinya anak Bang Kelana akan kembali bisa melanjutkan sekolah. Isterinya jadi bisa lebih fokus merawat, menjaga dan melihat tumbuh kembang sang anak.

Sahabat semuanya, yuk bantu ringanin beban Bang Kelana dengan cara:

1. Klik "DONASI SEKARANG"

2. Masukan nominal donasi

3. Pilih bank (BNI/BNI Syariah/Mandiri/BCA/BRI/Kartu Kredit)

4. Dapatkan laporan via email

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (3)