Perjuangan Lansia Pemulung: Hidup dari 5000 Rupiah
Perjuangan Lansia Pemulung: Hidup dari 5000 Rupiah

Perjuangan Lansia Pemulung: Hidup dari 5000 Rupiah

Rp 41.251.887
terkumpul dari Rp 80.000.000
799 Donasi 34 hari lagi


Cerita

Kerasnya Hidup, Nafkahi Diri dari Tumpukan Sampah

"Sehari dapat 5.000 rupiah, seminggu kadang 40 ribu, sudah syukur alhamdulilah. Bisa untuk beli nasi, yang penting bisa makan, nggak ada lauknya pun ndak apa-apa bagi saya" -Lansia Pemulung.

Gunungan sampah beserta dengan aromanya menyeruak, beradu menjadi satu. Tempat yang jika dikunjungi sebagian orang, tidak ingin berlama-lama. Kesan kumuh, dan tidak nyaman juga tergambar ketika membayangkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Ciangir Tasikmalaya ini. 

Namun gunungan sampah itulah yang menjadi sumber nafkah bagi puluhan pekerja harian yang berjibaku untuk mencari rezeki.

Sampah-sampah yang sudah terkumpul kemudian akan dijual ke pengepul. Namun, tidak setiap hari mereka bisa mendapatkan uang dari hasil mengumpulkan sampah. Pasalnya, uang yang didapatkan tergantung kepada sampah yang dihasilkan dari menghimpun.

Puncak kesulitannya terjadi setelah merebaknya virus corona hingaa resesi ekonomi dan sulitnya mencari nafkah dirasakan sampai kepada mereka di TPA Ciangir ini. 

Sampah per kilogram yang biasanya dihargai Rp2.500, kini turun menjadi Rp1.500. sehingga menjadikan mereka mengalami penurunan pendapatan, hingga sulitnya memenuhi kebutuhan pangan.

Mayoritas para pekerja di TPA Ciangir ini meerupakan ibu-ibu dan bapak-bapak lanjut usia. Meskipun dengan penghasilan yang tidak menentu, kebanyakan dari mereka menjadikan TPA ini sebagai tempat mata pencaharian utama.

Begini Nasib Saudara-Saudara Kita yang Masih Harus Berjuang untuk Bisa Makan

Bukan tak merasakan bau menyengat, kotor dan kumuhnya TPA, hanya saja kebutuhan makan sehari-hari harus diperjuangkan untuk anak dan istri. Ada yang rela bekerja dan berlama-lama ditengah gunungan sampah, dengan segala bentuk potensi penyakit yang bisa kapan saja menyerang mereka.

Seperti hal nya yang dirasakan oleh Ibu Kiroh (85), ia beserta sang suami sudah bekerja di TPA Ciangir sejak belasan tahun lamanya.

Kesulitan ekonomilah yang membuat dirinya bertahan untuk tetap mengais rezeki di TPA ini. Suka duka saat bekerja selama belasan tahun sudah ia rasakan disini, namun puncak kesulitan ia rasakan sejak pendapatan dari hasil memungut sampah berkurang, karena harga jual sampah yang sudah ia kumpulkan mengalami penurunan.

Sama hal nya dengan Oon (55) perempuan paruhbaya yang sudah terbiasa hidup seorang diri sejak 5 tahun yang lalu suaminya meninggal dunia ini sama-sama pekerja harian yang mencari nafkah di TPA Ciangir, sejak sang suami meninggal ia harus bekerja untuk menghidupi dirinya. 

Namun lagi-lagi ia mengalami penurunan pendapatan yang ia rasakan di tengah sulitnya ekonomi saat ini. Saat ini mendapatkan Rp 40.000 ribu per minggu saja ia sudah bersyukur. Ditengah kesulitan himpitan ekonomi, ia juga merasakan kesulitan pemenuhan kebutuhan pangan harian.

Melihat keadaan ini, ACT Berikhtiar untuk membantu saudara-saudara kita yang hidupnya pas-pasan. Jangan biarkan mereka bertahan dalam kesulitan dan kelaparan. Melalui sedekan pangan ini kami mengajak untuk sama-sama membantu kebutuhan pangan masyarakat dan pekerja harian di TPA Sampah Ciangir Tasikmalaya.

Gerakan Sedekah Pangan Agar Semua Orang Bisa Tetap Makan

Yuk! Mari kita terus saling merangkul satu sama lain untuk meringankan kesulitan sesama ditengah kondisi ekonomi sulit ini. Dengan bekerjasama dan tolong menolong memenuhi kebutuhan pangan harian mereka yang kekurangan di TPA Ciangir Tasikmalaya. in syaa Allah bantuan akan rutin berturut-turut selama tiga bulan kedepan khususnya pada masa resesi ekonomi ini.

Salurkan bantuan terbaik Anda dengan cara :

  • Klik "DONASI SEKARANG"
  • Pilih Bank Transfer Mandiri/BCA/BNI/BNI Syariah/BRI dan kartu kredit
  • Dapat laporan via email

Bantu share juga halaman ini agar lebih banyak doa dan aksi yang dapat kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka yang membutuhkan.

Disclaimer : Informasi dan opini yang tertulis di halaman campaign ini adalah milik campaigner (pihak yang menggalang dana) dan tidak mewakili Kitabisa.
Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (799)