Kitabisa! - Bantu Bu Omi Bermimpi
Bantu Bu Omi Bermimpi

Bantu Bu Omi Bermimpi

Rp 54.449.354
terkumpul dari Rp 50.305.000
258 Donasi 0 hari lagi

Cerita

Saya (Campaigner) adalah mahasiswa Unpad yang dalam kesehariannya sering bertemu dengan Bu Amirah sebagai pembeli dan penjual. Bu Amirah yang akrab disapa Bu Omi adalah seorang wanita paruh baya yang sehari-hari mendedikasikan hidupnya untuk membantu suami mencari nafkah dengan berjualan gorengan di sekitaran kampus UNPAD Dipatiukur, Bandung. Dalam usianya yang sudah menginjak 48 tahun, Bu Omi sudah menjajakan gorengan mulai tahun 1990 berawal dari memapa tampah di atas kepala dan menjualnya di terminal-terminal dan dimana saja tempat yang dirasa ramai. Setelah bertahun-tahun ‘berkelana’ dengan gorengannya, suatu saat seorang penjual makanan di UNPAD menyarankannya untuk berjualan gorengan di kampus saja, dan mulai tahun 1993 Bu Omih mulai menjajakan gorengannya di kampus.

“Ibu dari dulu berjuang ya ikut aja kemana langkah kaki, istilah sundana mah nuturkeun indung suku. Kamana we ibu pergi, berusaha cari rezeki, yang penting mah halal, ga minta-minta sama orang.”

Sejak saat itu, terhitung sudah 24 tahun Bu Omi berjualan di kampus UNPAD DU, dari yang dahulu memakai baskom hingga sekarang membawa 2 kotak berukuran sedang, Bu Omih menjadi penghuni setia kampus saat para mahasiswa masuk dan lulus silih berganti. Selain itu, Bu Omi juga sering membantu membersihkan mushala dan ruangan organisasi mahasiswa sejak dulu, setiap diberi bantuan Bu Omi selalu panjang-panjang mendoakan mahasiswa segala doa-doa yang baik untuknya yang membuat takzim, tak heran banyak mahasiswa yang mengenalnya.

Perjuangan Bu Omi untuk menjajakan gorengan di kampus dimulainya sejak pukul 9 pagi, bermodalkan mengambil gorengan dari oranglain, ia kemudian berjalan kaki sejauh 2,5 KM dari rumahnya menuju kampus. Di kampus, Bu Omi bukannya menjual gorengan dengan duduk tenang menunggu pembeli, melainkan terus berjalan kesana-kemari untuk menawarkan dan berharap ada yang membeli. Jika sedang susah, Bu Omi baru akan berjalan pulang kembali ke rumahnya pukul 9 atau 10 malam, saat dimana bahkan penghuni kampus sudah tidak ada. Bu Omi sendiri sebenarnya menderita vertigo, jadi saat lelah sekali ia akan merasa sangat pusing, bahkan pernah ditemukan pingsan di ruang organisasi dan akhirnya diantarkan pulang oleh mahasiswa. Saban hari tubuhnya pun semakin kecil karena jarang sekali makan padahal perjuangan dan pekerjaannya sangat melelahkan. Itu semua dilakukan Bu Omi untuk membantu menghidupi keluarganya, membantu suaminya yang juga sangat jarang bisa bekerja, bebannya semakin berat karena masih harus menyekolahkan dua lagi anaknya yang masih kecil, dimana salahsatunya pernah menderita sakit parah.

“Berjuang untuk anak, bantu suami, jadi istri sholehah. Ibu ge ga pernah marah sama suami karena belum bisa kerja, ibu aja yang bantu berjuang untuk keluarga. Mau gimana-gimana juga Ibu percaya suatu saat Ibu pasti dibantu sama Allah, biar berubah nasib Ibu. Ibu percaya”

Ditengah perjuangannya berpuluh-puluh tahun membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga, Bu Omi juga kerap ditimpa berbagai cobaan. Ketika kakak kandung Bu Omi sakit keras dan tak punya biaya untuk pengobatannya, selagi menunggu antrian operasi di salahsatu rumah sakit di Bandung, kakaknya diurus di rumah Bu Omi yang sangat kecil bahkan untuk Bu Omi dan keluarganya saja sudah sangat penuh, namun ikhtiar Bu Omi membantu kakaknya ternyata tidak dapat menolak takdir bahwa sang kakak sudah harus berpulang kepada Sang Pencipta. Lalu cobaan lain adalah saat anak perempuannya menderita Koch Pulmonum atau TBC pada paru. Berbagai upaya dan juga bantuan telah dilakukan hingga saat ini kondisi anaknya sudah jauh lebih baik.

Selain itu, selama ini Bu Omi dan keluarga tinggal di sebuah petak tanah yang telah dijatah, karena tanah itu sebenarnya milik sang mertua yang mana disana juga tinggal 8 keluarga lainnya. Jadi pada satu blok tanah terdapat 9 keluarga, yang saling berbagi kamar mandi dan dapur. Untuk tempat tinggalnya sendiri, Bu Omi dan suaminya membangun sepetak ruang keluarga dan satu kamar untuk dihuni oleh 6 orang. Karena tinggal di rumah yang penuh dengan keluarga yang lain, sering sekali Bu Omi mendapat masalah dan gangguan dari yang lain. Gangguan itu berupa pengusiran, hinaan dan cacian, serta penyerangan fisik yang disebabkan oleh hal-hal kecil dan kadang tidak beralasan.

65559c6d0fbfe897bf1b2c513feae16f97eb8e03

Ket: Ruang tamu

f9fa947c783a4da2be19a11a1f96645e1ddecc35

Ket: Kamar untuk sekeluarga

aff467f7ed57343f4e6e6e5967bee6ec64af25d5

Ket: Dapur bersama

782f33eb6b3dc1a8f3a2d17f100884c643e5ed6b

Ket: Kamar mandi yang dipakai oleh 9 keluarga (tidak ada jamban)

698a6215dfb0c349f01231127379b63af63ac7ab

Ket: Tangga menuju rumah tinggal Bu Omi (diatas dapur)


Karena kondisi yang sudah sangat tidak nyaman tinggal disana, ditambah keinginan yang sangat besar untuk bisa punya rumah sendiri, saat ini Bu Omi dan keluarga sedang berusaha menyicil pembangunan sebuah rumah di kampung halamannya, di Garut. Tahapan pembangunan rumah sendiri sudah dimulai dari membangun pondasi pada tahun 2005 dan selama 12 tahun, sedikit demi sedikit Bu Omi menabung untuk mencicil pembangunan rumah impiannya. Belakangan ini Bu Omi semakin banyak mendapatkan gangguan dari keluarga yang tinggal di rumahnya sekarang, ia merasa sangat tertekan dan ‘ngebatin’ karena gangguan demi gangguan yang didapatnya, sehingga Bu Omi berharap dapat segera merampungkan pembangunan rumahnya agar mempunyai tempat yang layak di sebut rumah, tempat dimana setiap pulang dapat membuatnya merasa nyaman dan beristirahat dengan tenang.


Saat ini pembangunan rumah Bu Omi di Garut baru sampai tahap seperti terlihat diatas, pembangunan pun terhenti karena kehabisan dana. Uang tabungan telah habis terpakai namun masih juga belum bisa merampungkan dan merealisasikan impiannya.


Melalui campaign ini, mari kita bersama-sama membantu Bu Omi untuk merealisasikan impian sederhananya, yang telah diperjuangkan dan didoakannya selama puluhan tahun. Agar Bu Omi dan keluarga dapat memiliki rumah yang sebenar-benarnya rumah. Membantu seorang ibu yang perjuangannya sungguh sangat luar biasa untuk keluarganya, seorang pejuang yang sangat tulus, yang tidak pernah mengeluh ataupun menengadah tangan untuk mendapat iba oranglain. Ibu yang selalu yakin akan kuasa Sang Pencipta atas semua doanya, dan perjuangannya untuk membesarkan anak dan membantu suami yang patut diakui sebagai usaha paling maksimal yang bisa ia lakukan. Seorang pemimpi yang berhak mendapatkan mimpinya karena ia telah berusaha dan berjuang tanpa kenal lelah. Mari kita membantunya dengan menyumbangkan sebagian harta yang kita punya.

Sebagai bahan pengajuan bantuan ini, adapun rincian anggaran dan sketsa pembangunan rumah Bu Omi adalah sebagai berikut:

72339da4b239388ca482f1cd378ad786c4402df4

Ket : Sketsa Rumah Bu Omi


Rincian Anggaran Pembangunan

f53d3ac94ec6f0c33d67f427e3a78fed95bceef5

Untuk donasi, silakan ikuti langkah berikut :

1. Klik tombol "Donasi Sekarang"

2. Masukan nilai donasi dan data diri

3. Pilih metode pembayaran dan transfer

Jangan lupa bantu sebarkan informasi ini ke saudara, rekan, dan teman - teman lainnya.

Terimakasih untuk setiap bantuan yang saudara lakukan dan berikan, dalam bentuk apa saja, demi terlaksananya pembangunan rumah Bu Omi ini, semoga akan dibalas dengan balasan yang berlipat ganda, semoga saudara diberikan kelancaran untuk setiap urusan dan ikhtiarnya, semoga diberikan keberkahan atas sedekahnya sehingga menjadi amal kebaikan untuk saudara. Aamiin


Contact Person :

Sepdrian Nur Pratama

082240537646

Sepdriannurpratama@gmail.com

Disclaimer : Informasi dan opini yang tertulis di halaman campaign ini adalah milik campaigner (pihak yang menggalang dana) dan tidak mewakili Kitabisa.
Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (258)