Kitabisa! - Bantu Layouter Isi Al-Quran Sembuh dari Kanker
Bantu Layouter Isi Al-Quran Sembuh dari Kanker

Bantu Layouter Isi Al-Quran Sembuh dari Kanker

Rp 42.123.798
terkumpul dari Rp 180.000.000
259 Donasi 0 hari lagi
Mohamad Arif Luthfi
Akun belum terverifikasi

Cerita

Bantu Kang Acep Sembuh dari Kanker

(Designer & Lay Outer Isi Al-Quran)

#BantuKangAcepSembuh

Perkenalkan nama saya Mohamad Arif Luthfi. Saya akrab dipanggil Luthfi. Saya alumni Pengajar Muda Angkatan 2 Gerakan Indonesia Mengajar dan juga anggota Forum Indonesia Muda angkatan 18. Saat ini saya sebagai Penanggungjawab MarComm Division Penerbit Mizan.

Dalam kesempatan ini, izinkan saya mengirimkan cerita kepada Anda semuanya. Cerita yang kemudian membuat hati saya terketuk untuk menuliskannya disini dan memohon doa serta dukungan dari saudara-saudara semuanya.

Saya menulis cerita ini tepat saat saya sedang di tol Cipularang saat perjalanan dari Jakarta menuju Bandung diwaktu adzan maghrib akan menghampiri. Ponsel saya bergetar. Ada whatsapp chat yang masuk. Saya menerima kabar bahwa kondisi Kang Acep Badrudin melemah dan harus dipindahkan ke rumah sakit lainnya. Seketika itu saya menarik nafas panjang. Dan kaca jendela mobil terus diketuk-ketuk akibat hujan yang sedang turun dengan sangat lebat.

Acep Badrudin adalah teman saya. Saya mengenalnya baik. Dia adalah salah satu orang terbaik di negeri ini yang selama ini berada dibalik meja atas terbitnya berbagai edisi Al-Quran. Ia adalah designer dan lay outer isi Al-Quran. Dia sudah lama berkiprah dibidang ini. Dia juga berkerja dengan baik dibeberapa penerbit besar di tanah air ini. Hanya saja sekitar tahun 2010 yang lalu, dia divonis kanker oleh dokter.

Semenjak vonis itu, segala macam pengobatan dan terapi dia coba terapkan. Dia juga sempat menjalani beberapa kali kemo terapi dan operasi. Tentu ikhtiar ini menjadikan Kang Acep harus membagi waktunya terhadap diri, keluarga, dan tanggung jawab mulia kerjanya.

Minggu, 26 Februari 2017 kemarin saya mendapat kabar bahwa Kang Acep harus dipindahkan dari salah satu rumah sakit di Bandung akibat rumah sakit tersebut belum bisa mengkover pasien kanker dengan BPJS. Dan Kang Acep terpaksa harus dirujuk ke rumah sakit Santosa Bandung untuk bisa mendapatkan perawatan yang optimal.


ebebfb1dd92ad7ddc7b0504c093f1e81053662ad


Menyaksikan foto-foto yang saya terima saat proses pemindahan itu membuat saya iba dan tanpa terasa dari kedua sudut mata saya timbul ambangan bening yang hangat. Kang Acep dikabarkan HB-nya turun diangka 6. Dan Kang Acep harus ditranfusi.

Hati saya bergetar menerima kabar itu. Pada tiap lembaran-lembaran Quran yang saya baca dan banyak orang lain baca, ada manifestasi kerja brilian dari seorang Acep Badrudin. Sore itu kondisi Kang Acep melemah. Kakinya bengkak. Sel kanker yang tumbuh sudah menjalar ke bagian-bagian tulang tubuhnya. Kanker stadium 4 itu tumbuh sangat cepat. Selera makannya hilang. Untuk sekadar minum dan memegang gelas plastik air mineral saja tangannya tak mampu. Tatapan matanya kosong. Untuk berbicara saja, ia harus menahan rasa sakit yang amat. Sementara ada ribuan hasil design dan lay out Al-Quran Kang Acep tersebar diseluruh penjuru negeri ini. “Rabbi, izinkan doa ini terkirim tunai untuk kesembuhan Kang Acep.”

Saat cerita ini saya tulis, Kang Acep sedang dirawat di kamar utama rumah sakit Santosa, Bandung. Selisih harga kamar utama dan jatah BPJS Kang Acep yang kelas 2 sekitar 200 rb-an. Saya membayangkan untuk kemo kalau pasien BPJS gratis (dan ada jatah kuota kemonya), tapi kalau nanti perlu kemo lanjutan maka uang yang harus disiapkan sekitar 17.5 jt (untuk kemo saja). Hitungan ini belum termasuk obat dan biaya lain-lain. Entah sudah berapa ratus juta uang telah keluar dari Kang Acep sejak vonis pertama dulu. Dari info valid yang saya dapatkan, hitungan kasarnya untuk biaya Kang Acep kira-kira diperlukan sekitar 180 jt. Belum lagi bagimana biaya hidup dua orang anak Kang Acep yang usianya masih sangat muda dan butuh perhatian lebih. Anak yang pertama (Muhammad Ezar Munggaran) baru berusia sepuluh tahun, sedangkan anak keduanya (Hilwa Raina Dzahin) baru berusia empat tahun. Mereka masih butuh perhatian dan kasih sayang orangtuanya. Sementara istri Kang Acep, Susanti-seorang guru di sebuah SD swasta, harus hilir mudik membatu support penuh kesembuhan Kang Acep di rumah sakit.

Menutup cerita ini, saya ingin mengajak saudara-saudara semua untuk turut kirimkan doa dan dukungannya buat Kang Acep. Mari kita bersamai doa Muhammad Ezar Munggaran & Hilwa Raina Dzahin yang selama ini dalam tiap doa-doa kecilnya bermunajat meminta kepada Allah atas kesembuhan ayah tercintanya. Mari kita kembalikan senyum kecil mereka. Di rumah, sungguh mereka tak henti-henti menanyakan, “Kapan ayah pulang?” []

Allahumma rabbannaasi adzhibil ba'sa wasy fihu. Wa antas syaafi, laa syifaa-a illa syifaauka, syifaa-an laa yughaadiru saqomaa.

“Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah kesusahan dan berilah dia kesembuhan, Engkau Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain”

Salam hormat,

Mohamad Arif Luthfi

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (259)