Bantu Kay mendapat gelar dari Universitas Oxford!
Bantu Kay mendapat gelar dari Universitas Oxford!

Bantu Kay mendapat gelar dari Universitas Oxford!

Rp 181.734.969
terkumpul dari Rp 178.576.669
1305 Donasi 0 hari lagi


Cerita

Halo teman-teman semuanya,

Nama saya Kay Jessica. Terimakasih telah mengunjungi halaman ini. Saya dari Indonesia dan saya sedang mengejar gelar Magister Hukum saya dari Universitas Oxford, Inggris. Cerita ini akan menjadi tulisan yang panjang mengenai kisah dan perjuangan saya untuk pendapatkan gelar Master dari Universitas Oxford, Inggris. 

If you want to read the english version of this page, please go to  
https://www.gofundme.com/remaining-tuition-fee-at-oxford-university

Ini adalah kali pertama dimana saya bercerita mengenai hidup saya secara terbuka, di situs ini. Saya menyimpan masalah ini hampir setahun lamanya. Baru sekarang, saya memiliki keberanian untuk membuat halaman penggalangan dana ini, karena saya tidak memiliki pilihan lain selain mencoba opsi ini dan berharap saya dapat berhasil menggalang dana demi mendapatkan gelar saya dari Universitas Oxford.

Kegelisahan dan ketakutan ini selalu menghantui saya setiap hari dan setiap detik, mengingat ada kemungkinan saya dapat kehilangan gelar Magister Hukum saya dari Universitas Oxford, jika saya tidak menyelesaikan permasalahan biaya yang ada. Maka dari itu, saya akan menjelaskan kepada teman-teman pembaca semua mengenai situasi dan permasalahan yang saya hadapi pada saat ini.

INI CERITAKU..

1. UGM (Yogyakarta, Indonesia) – Universitas Oxford (Oxford, United Kingdom)

Sedari kecil, saya memiliki cita-cita untuk kuliah hukum di Universitas Oxford. Selain karena reputasi dan peringkatnya, keinginan itu juga datang melihat banyaknya alumni-alumni Universitas Oxford yang menjadi Ahli Hukum Internasional, Pengacara HAM Internasional, Hakim di Mahkamah Internasional atau Pengadilan Internasional. Saya teringat masa-masa dimana saya seringkali memberitahu keluarga saya mengenai mimpi saya untuk melanjutkan studi saya di Universitas Oxford dan bekerja di Pengadilan Internasional atau Organisasi Internasional. 

Mimpi itu jugalah yang membuat saya memilih untuk kuliah di Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2012, dengan konsentrasi Hukum Internasional. Selama masa studi saya di UGM, saya cukup aktif mewakili UGM di kancah internasional melalui partisipasi saya dalam moot court competition atau kompetisi peradilan semu. Pada tahun 2014, saya berpartisipasi mewakili UGM dalam kompetisi IMLAM (International Maritime Law Arbitration Moot) yang diadakan di Hong Kong. Selanjutnya, untuk tiga tahun berturut-turut dari 2014 sampai 2017, saya mengikuti kompetisi peradilan semu International Criminal Court (ICC) yang diadakan di Den Haag, Belanda. Kompetisi ini diawasi langsung oleh Professor Eddy O.S Hiariej. Tim ICC 2016 bahkan berhasil masuk ke babak semifinal, ini adalah pencapaian terbesar UGM sejauh ini. Skripsi yang saya tulis pada saat S-1 pun membahas mengenai kewajiban bagi negara-negara non anggota Statuta Roma, untuk bekerjasama dengan Mahkamah Pidana Internasional, berdasarkan Hukum Internasional. Pada saat itu dosen pembimbing saya adalah Professor Sigit Riyanto yang merupakan Dekan Fakultas Hukum UGM. Pengalaman-pengalaman ini memperkuat motivasi saya untuk memfokuskan studi saya pada Hukum Internasional, khususnya Hukum Pidana Internasional dan Hukum Humaniter Internasional.

Setelah saya lulus dan wisuda pada tahun 2016, saya memantapkan keinginan saya untuk melanjutkan S2 untuk mempelajari Hukum Internasional lebih dalam lagi agar kiranya saya dapat bekerja di bidang tersebut juga.  Saya mendiskusikan keinginan ini kepada beberapa dosen dan juga senior-senior alumni UGM yang telah melanjutkan studi nya ke luar negeri. Mereka sangat mendukung keinginan saya untuk melanjutkan pendidikan saya di luar negeri. Karena itu, pada akhir 2016 sampai 2017, saya menetap di Yogyakarta untuk menjadi coach bagi Tim UGM untuk Kompetisi ICC 2017, sekaligus mengerjakan dan  melengkapi aplikasi-aplikasi guna pendaftaran S2.

Awalnya, jika saya diterima di salah satu universitas yang saya tuju, rencana saya adalah mengikuti seleksi Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (“LPDP”) yang diinisiasi oleh Kementerian Keuangan Indonesia. Namun, hanya beberapa hari setelah saya melengkapi semua aplikasi pendaftaran saya ke beberapa universitas yang saya tuju, tiba-tiba LPDP mengumumkan bahwa seleksi Periode Februari 2017 untuk Program Master yang mulai September 2017 ditiadakan. Hal ini dikarenakan LPDP yang pada saat itu berniat untuk mereformasi manajemen dan proses seleksinya.

Tidak lama setelah itu, hidup memberikan kejutan yang sangat spesial bagi saya. Tepatnya pada 16 Maret 2017. Hari itu adalah hari dimana saya mendapat kabar bahwa saya diterima di Universitas Oxford. Saya sangat terkejut pada saat saya membaca email penerimaan berisi offer letter dari Universitas Oxford. Saya tidak pernah menyangka bahwa impian saya untuk melanjutkan kuliah hukum saya di Universitas Oxford dapat menjadi nyata. Pada saat itu, saya yakin dan mantap untuk mengambil kesempatan langka tersebut untuk mengeksplor Hukum Internasional lebih dalam lagi di Universitas Oxford, yang sejak 2016 sampai sekarang merupakan Universitas terbaik di dunia menurut Times Higher Education World University Ranking.

2. Munculnya Masalah: Keadaan Finansial

Setelah mendapat email berisi offer letter atau surat penerimaan dari Oxford, saya menyempatkan diri untuk menghubungi LDPD dan menanyakan langsung mengenai ada atau tidaknya kebijakan bagi mahasiswa-mahasiswa yang sudah diterima di perguruan tinggi top di luar negeri, namun tidak dapat mengikuti seleksi LPDP gelombang Februari 2017 yang ditiadakan. Pada saat itu pihak LPDP menyatakan bahwa tidak ada kebijakan khusus, LPDP meniadakan seleksi pada periode tersebut dikarenakan adanya perbaikan internal demi kemajuan LPDP.

Karena tidak adanya seleksi Beasiswa LPDP pada saat itu, tidak dapat dipungkiri, saya harus merubah rencana pendanaan saya. Pada saat itu saya merasa bingung, saya mencoba mengirim surat dan aplikasi ke beberapa perusahaan dan institusi pendidikan ternama di Indonesia. Selain itu, saya juga berkomunikasi dengan Fakultas Hukum Universitas Oxford dan memberitahu mereka mengenai keadaan keuangan saya yang mungkin dapat menghambat saya untuk melanjutkan studi saya di Oxford.

Penundaan studi ke tahun berikutnya pun tidak dapat dilakukan di Universitas Oxford. Sempat terlintas di benak saya untuk menunda studi ke tahun berikutnya, agar satu tahun tersebut dapat saya gunakan untuk bekerja dan mencoba mengikuti seleksi beasiswa LPDP. Ternyata, Universitas Oxford memiliki regulasi sendiri dan penundaan studi ke tahun berikutnya tak diizinkan.

Itu merupakan pilihan yang sulit bagi saya dan keluarga, meskipun keluarga saya tahu bahwa melanjutkan studi di Universitas Oxford merupakan mimpi yang sudah saya miliki dari kecil. Pada saat itu, ayah saya sudah resmi berhenti bekerja. Keadaan finansial keluarga kami pun menurun drastis, bukan saja karena ayah saya berhenti bekerja, namun karena beberapa masalah kompleks yang terjadi di dalam keluarga saya yang tak dapat dibendung lagi.

3. Saya Melanjutkan Studi Saya di Oxford

Sekitar dua bulan setelah Universitas Oxford mengirimkan offer letter kepada saya, saya diinformasikan oleh Fakultas Hukum Universitas Oxford bahwa mereka akan memberikan beasiswa parsial/tidak penuh berbentuk potongan biaya kuliah, karena kondisi keuangan saya. Kesempatan ini tidak akan datang untuk kedua kalinya. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, Universitas Oxford tidak memperbolehkan penundaan studi sehingga jika saya tidak mengambil kedua offer yang diberikan, baik offer untuk studi dan offer beasiswa parsial, maka saya harus melakukan semua prosedur untuk melengkapi aplikasi pendaftaran di tahun berikutnya, tanpa ada kepastian untuk diterima/diberikan beasiswa parsial. Mengingat rendahnya tingkat penerimaan dan kompetitifnya seleksi untuk masuk ke Program Magister Hukum, Universitas Oxford, maka saya tidak ingin mengambil resiko kehilangan kesempatan gemilang ini untuk melanjutkan studi hukum internasional di Universitas Oxford.

Akhirnya, setelah melalui beberapa tahapan diskusi dan negosiasi, Universitas Oxford memperbolehkan saya untuk membayar sisa biaya kuliah (tuition fee) dan biaya college melalui tiga kali cicilan. Cicilan pertama dibayarkan dengan tabungan keluarga yang dipegang oleh ibu saya, itu hanyalah satu-satunya tabungan yang kami miliki namun ia memberikannya dengan harapan agar saya dapat mengaktualisasikan cita-cita saya untuk bekerja di Mahkamah Pidana Internasional. Kami sekeluarga pun membahas bagaimana kami dapat membayar cicilan kedua dan ketiga, namun pada saat itu Ayah saya meyakini saya untuk mengambil kesempatan ini, ia percaya bahwa jika kesempatan sekali seumur hidup seperti ini sudah terbuka, maka jalan menuju kesana juga akan dimudahkan. Ia pun berjanji akan mencukupi sisa uang kuliah saya dan pada saat itu ia juga mencoba peruntungan dalam dunia bisnis. Saya pun berencana bekerja paruh waktu untuk mencukupi biaya hidup saya selama di Oxford.

Inilah saat dimana impian saya terwujudkan, saya pindah ke Inggris pada bulan September 2017 untuk memulai studi saya di Universitas Oxford.

4. OXFORD dan perjuangan untuk meraih gelarku

Pada bulan September 2017, saya memulai studi S2 saya di Universitas Oxford dan saya merasa terkesima. Universitas Oxford benar-benar sesuai dengan imajinasi yang ada di benak saya sebelumnya. Bangunan-bangunan dan lingkungan Universitas Oxford sama persis seperti Hogwarts dalam film Harry Potter. Dosen-dosen yang mengajar saya merupakan Akademisi hukum terkemuka, Hakim serta Jaksa di Mahkamah Internasional/Mahkamah Pidana Internasional, serta Praktisi Hukum yang sudah memiliki nama di bidangnya masing-masing.  

Saya sangat senang dan nyaman belajar di Oxford, saya sungguh-sungguh jatuh cinta pada seluruh aspek dari  Oxford: semua mata kuliah yang saya ambil serta dosen-dosennya yang sangat kompeten, teman-teman dari berbagai belahan dunia yang sangat suportif, sistem pembelajaran yang tidak tertandingi, sistem tutorial yang hanya dimiliki Oxford dan tidak ada di program Magister Hukum lain, reading list yang harus kami baca sebelum kelas, dan tak lain tak bukan, indahnya suasana Oxford yang akan membuat kamu merasa seperti di dunia akademik sesungguhnya.

Melalui program ini, saya tidak hanya mendapat pemahaman dan pengetahuan mendalam mengenai isu-isu Hukum Internasional, namun saya juga didorong untuk berpikir kritis dan untuk menyuarakan pendapat atau analisis hukum saya di dalam diskusi. Menyelesaikan studi hukum saya di Universitas Oxford akan meningkatkan kemampuan intelektual saya dan dengan gelar ini, saya dapat mengejar cita-cita saya untuk bekerja di bidang Hukum Internasional.

Meskipun saya merasa sangat bahagia menjadi mahasiswa di Universitas Oxford namun bagaimanapun juga, yang ada di benak saya adalah bagaimana cara membayar cicilan kedua dan ketiga yang masih harus saya lunasi. Dalam relung hati saya, saya tahu bahwa orangtua saya tidak akan mampu untuk melunasi cicilan tersebut mengingat situasi keluarga saya yang kian memburuk apalagi pada akhir 2017 dan bahkan sampai sekarang. Tidak hanya karena masalah finansial, namun juga terpecah-belahnya keluarga saya. Sebenarnya masalah ini bukanlah masalah baru bagi keluarga kami, namun situasi makin memanas dan memuncak di penghujung tahun 2017 sampai pada 2018. Rasanya tidak  mungkin jika pada saat itu saya harus meminta ibu saya untuk meminjam uang kesana kemari demi melunasi cicilan biaya pendidikan ini. Semua cobaan ini rasanya sangat berat bagi ibu saya, bahkan sampai sekarang. Namun dibalik semua ini, saya sangat bersyukur akan kehadiran sosok ibu saya yang sangat kuat menghadapi berbagai hantaman yang ada di dalam hidupnya. Ia adalah malaikat bagi saya. Apapun yang saya lakukan saat ini, semua sema-mata demi membahagiakan beliau.

Suatu hari pada saat kelas berlangsung, saya mendapatkan peringatan keras dari college saya mengenai ketidakmampuan saya untuk membayar cicilan tesebut. Saya akhirnya datang untuk menjelaskan mengenai keadaan finansial keluarga saya yang memburuk dan memberitahukan bahwa saya belum mampu membayar sisa cicilan yang ada. Namun, peraturan universitas harus dipatuhi, college saya merekomendasikan saya untuk mengajukan suspensi studi saya jika saya tidak mampu membayar cicilan yang ada. Pada saat itu, saya merasa putus asa, tidak tahu apa yang harus saya lakukan.

Dikendalikan oleh emosi, rasa impulsif, serta kebingungan, keesokan harinya saya pergi ke London menuju ke beberapa bank, hanya untuk mencari informasi apakah saya dapat meminjam uang demi studi saya. Tanpa harus kesana, saya tahu hal itu tidak mungkin.  Pada saat itu saya tidak tahu harus melakukan apa sehingga saya dikendalikan oleh rasa kecewa dan emosi yang meluap-luap. Tidak tahu harus menghubungi siapa, tidak tahu harus kemana, tidak tahu harus bercerita ke siapa. Ingin rasanya menghilang dari bumi, tapi itu bukan saya. Saya bukan seseorang yang mudah menyerah. 

Program pinjam dana dari Pemerintah UK juga hanya diberikan untuk mahasiswa-mahasiswa penduduk UK/EU. Ada satu institusi pinjaman swasta yang dapat memberikan dana bagi mahasiswa internasional namun mereka mewajibkan adanya guarantor atau penjamin yang merupakan penduduk inggris, stabil dari segi finansial, memiliki rumah, dan akan bertanggung jawab membayar hutang ini jika saya tidak dapat membayarnya. Rasanya tidak mungkin menemukan siapapun yang bersedia menjadi penjamin tersebut. Belum lagi tingginya suku bunga pinjaman yang bervariasi dari mulai 10% sampai 36%.

Pihak college makin memaksa saya untuk mengajukan suspensi studi karena mereka tidak melihat ada alternatif lain. Berbicara mengenai masalah ini kepada ibu saya atau keluarga saya tidak akan mengubah apapun karena saya tau betapa parahnya situasi keluarga kami, dengan hutang dimana-mana karena jatuhnya keluarga kami. Faktanya, pada saat itu ayah saya tidak lagi menanggung semua biaya keluarga kami. Saya seringkali mencoba menghubungi ayah saya dan berharap dia dapat membantu menangani masalah ini seperti apa yang ia janjikan di awal, namun keluarga saya yang berada di Indonesia saja tidak dapat menemui atau menghubungi beliau. Akhirnya, kami tahu bahwa setelah menggunakan dan menghabisi uang yang ayah saya miliki, seseorang meninggalkannya begitu saja dengan hutang dimana-mana. Untuk saat ini, ayah saya telah kembali bersama keluarga kami, beberapa bulan lalu pada 15 Januari 2019, ayah saya didiagnosa terkena kanker paru-paru, stadium terakhir. Ia harus menjalani kemoterapi sebanyak 12 kali di RS. Persahabatan di Jakarta. Saya sangat berharap ia dapat datang ke wisuda saya di Oxford, jika semua masalah ini telah terselesaikan.

Tidak memiliki pilihan lain pada saat itu, saya mengajukan suspensi studi ke college saya, dengan hati yang berat. Sebagai catatan, suspensi hanya dapat dilakukan satu kali (untuk satu tahun).  Untungnya, para dosen memperbolehkan saya untuk datang ke kelas, tutorial, dan semuanya bahkan sampai program ini selesai. Saya sangat down untuk beberapa hari setelah saya mengajukan suspensi, namun saya sadar, menyalahkan situasi dan kemalangan ini tak akan mengubah apapun. Saya harus bangun dari kesedihan dan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan masalah ini. Tough time never last, but tough people do. 

Setelah itu, saya bekerja keras dari bulan Februari 2018, bahkan sampai program studi saya berakhir. Saya sempat menjadi paid researcher, barista, dan juga pelayan di sebuah restauran di Oxford dalam kurun waktu satu tahun sampai saya kembali ke Jakarta pada Februari 2019. Saya merasa mendapatkan pengalaman tak bernilai dan saya tahu arti dari perjuangan, selama bekerja pun saya bertemu teman-teman baru dari berbagai macam latar belakang, budaya, serta kisah-kisah unik yang juga menjadi inspirasi bagi saya. Saya bekerja siang dan malam berharap dapat menabung untuk melunasi pembayaran saya, serta dapat kembali ke Oxford untuk meraih gelar saya.

Untuk merangkum bagian ini, saya akan meringkas usaha-usaha apa saja yang telah saya lakukan setahun belakangan ini:

  1. Pinjaman dari Bank Inggris: tidak dapat dilakukan karena status saya sebagai pelajar internasional yang belum memiliki penghasilan tetap sesuai dengan standar yang ditentukan oleh bank-bank Inggris.
  2. Pinjaman dari Bank/Peminjam Dana di Indonesia: tidak dapat dilakukan karena tidak memiliki aset yang dapat dipakai sebagai jaminan dan tidak adanya pemasukan stabil setiap bulannya.
  3. Pinjaman pelajar Pemerintah Inggris:  hanya dapat dilakukan oleh mahasiswa-mahasiwi penduduk Inggris atau penduduk EU.
  4. Pinjaman dari Peminjam Dana di Inggris: hanya dapat dilakukan bila ada guarantor atau penjamin yang merupakan penduduk Inggris, memiliki rumah di Inggris, stabil dari segi finansial dan memiliki penghasilan tetap, dan akan bertanggung jawab membayar cicilan pinjaman saya jika saya gagal membayar cicilan hutang.
  5. Pinjaman ke Saudara:  tidak memungkinkan karena saya telah mencoba opsi ini.
  6.  Beasiswa:  semua beasiswa diberikan di awal program, sedangkan saya sudah berada di akhir program dan telah diberikan beasiswa parsial/deduksi biaya kuliah pada awal program dimulai.
  7. Bekerja: selama di Inggris, saya sempat bekerja menjadi paid researcher, barista, dan pelayan di sebuah restauran, dari hasil menabung saya, saya telah membayar £ 1,950  dari total biaya yang tersisa untuk melunasi biaya pendidikan saya di Oxford.

Saat ini saya bekerja di di salah satu perusahaan manajemen investasi di Jakarta, sebagai intern untuk divisi legal and compliance. Kontrak kerja saya akan selesai pada awal bulan Juni 2019 dan saya berharap agar saya dapat mengumpulkan uang dari penggalangan dana ini untuk kembali ke Oxford dan mengikuti ujian akhir di Oxford, demi mendapatkan gelar Magister hukum saya.

5. Tujuan Dari Penggalangan Dana Ini

Saya berharap dapat mengumpulkan £ 9,500 atau Rp. 178.576.669,00 dalam waktu satu bulan, agar saya dapat kembali ke Oxford untuk kembali lagi mengikuti ujian akhir dan mendapat gelar Master Hukum Internasional dari Universitas Oxford. Saya baru melakukan penggalangan dana karena saya berpikir bahwa ini harus menjadi opsi terakhir saya setelah saya berusaha dan bekerja semaksimal mungkin. Ternyata, walaupun saya bekerja selama kurang lebih satu tahun, penghasilan yang saya terima tidak besar dan bahkan terbilang rendah, mengingat saya juga harus membiayai living cost sendiri. Dari hasil tabungan saya, saya hanya mampu membayar sejumlah £1,950 atau setara dengan Rp. 36.657.837,00 dan sampai saat ini masih kurang £9,500 atau Rp. 178.576.669,00 untuk membayar sisa cicilan yang harus saya lunasi  ke Universitas Oxford.

Faktanya, penggalangan dana berbasis online cukup sering digunakan oleh pelajar di Inggris mengingat biaya pendidikan semakin tinggi setiap tahunnya. Namun, saya mengerti bahwa metode penggalangan dana seperti ini masih terbilang jarang di Indonesia. Total biaya untuk program Magister Hukum BCL/MJUR tahun ini naik menjadi £34,145 atau setara Rp. 641.917.463,00 sedangkan pada tahun saya total biayanya sebesar £31,087 atau Rp. 594,228,871,00. Melalui website kitabisa.com dan tulisan saya ini, saya berharap dapat mengumpulkan Rp. 178.576.669,00 dalam target satu bulan kedepan mengingat deadline untuk membayar kekurangan ini jatuh pada pertengahan bulan Juni 2019 sebelum ujian akhir untuk program Magister Hukum BCL/MJUR berlangsung. Suspensi studi maksimal dilakukan setahun saja dan itu merupakan peraturan dari Universitas Oxford. 

Saya sadar bahwa mencapai target ini dalam waktu yang singkat mungkin sangat sulit namun saya percaya "the only time you lose is when you did not try."  Saya memilih untuk menceritakan cerita saya di website ini dan berharap dapat mengumpulkan dana guna melunasi biaya kuliah saya di Universitas Oxford. Sampai saat ini pun tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya jika harus kehilangan degree saya dari Universitas Oxford.

Seluruh dukungan, share, dan donasi akan sangat saya apresiasi, terima kasih sebelumnya karena teman-teman semua telah menyempatkan waktu anda untuk membaca cerita saya ini.  Saya juga akan meminta email/kontak sosial media para donatur untuk memberikan lembar pertanggungjawaban serta bukti-bukti pembayaran ke Universitas Oxford. Disamping ini, saya juga membuat versi Bahasa Inggris dari halaman ini di website gofundme UK https://www.gofundme.com/remaining-tuition-fee-at-oxford-university

Jika teman-teman ingin memberikan donasi secara offline (mengingat adanya potongan biaya jika melalui website ini) atau jika teman-teman mengetahui ada peluang beasiswa atau pinjaman pribadi, teman-teman dapat mengontak saya melalui email dan sosial media saya.

email: kayjessicarousseau@gmail.com

instagram: kay_jessica 

Saya juga tidak menutup peluang bagi perusahaan yang dapat memberikan pinjaman atau bantuan dana dengan jaminan atau ikatan kerja. Saya sangat bersyukur dan berterimakasih untuk bantuan teman-teman yang telah membaca, share, dan memberikan donasi. Saya berharap saya mampu membanggakan teman-teman semua setelah saya mendapatkan gelar dari Universitas Oxford.


6. Apa Yang Akan Saya Lakukan Untuk Indonesia?

Setelah saya lulus dari Universitas Oxford, saya ingin menjadi akademisi yang berkontribusi untuk Hukum Internasional baik di UGM, di Indonesia, dan dalam lingkup internasional. Saya percaya bahwa gelar Magister Hukum dari Program BCL/MJUR yang saya miliki nantinya, akan membantu saya untuk mengejar impian saya untuk bekerja di Peradilan Pidana Internasional. Seringkali banyak mahasiwa-mahasiswi Indonesia yang berasumsi bahwa Hukum Internasional adalah hukum yang abstrak dengan karir yang terbatas. Tidak banyaknya Praktisi-Praktisi Hukum Internasional di Indonesia membuat banyaknya mahasiswa berpikir bahwa studi Hukum Internasional tidak akan terpakai nantinya, karena berbagai alasan:

a) Seringkali mahasiwa-mahasiswi Indonesia berpikir bahwa tidak mungkin rasanya untuk bekerja di Organisasi Internasional atau Pengadilan Internasional;

b) Mahalnya biaya untuk melanjutkan studi S-2 atau S-3 ke universitas-universitas top dunia yang terkenal dengan Hukum Internasional.

Anggapan ini membuat banyaknya mahasiswa-mahasiswi hukum Indonesia yang mengesampingkan ketertarikannya pada Hukum Internasional dan memilih untuk menekuni konsentrasi hukum yang lebih lumrah di Indonesia, seperti hukum dagang atau hukum perdata. Jika hal ini berkelanjutan maka ini akan menjadi hambatan bagi perkembangan Hukum Internasional di Indonesia karena akan semakin sedikit mahasiswa-mahasiwi yang memilih Hukum Internasional sebagai konsentrasi studinya.

Kesempatan bagi saya untuk menyelesaikan studi Hukum Internasional di Universitas Oxford juga akan memotivasi mahasiswa-mahasiwi Indonesia, untuk mengejar mimpinya. Sebagai penutup, jika penggalangan ini berhasil dilakukan dan saya dapat lulus dari Universitas Oxford, saya bersedia untuk berkontribusi bagi Hukum Internasional, dengan semua potensi yang saya miliki. Terimakasih untuk dukungan dan perhatian yang teman-teman berikan. Saya, Kay Jessica akan selamanya berterimakasih dan bersyukur atas kesempatan untuk berbagi kisah ini kepada teman-teman sekalian. XKay

Disclaimer : Informasi dan opini yang tertulis di halaman campaign ini adalah milik campaigner (pihak yang menggalang dana) dan tidak mewakili Kitabisa.
Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


icon-flash-message

Doa-doa #OrangBaik

Terbaru
  • Terbaru
  • Terpopuler

Maaf terjadi kesalahan. Cobalah beberapa saat lagi. Coba lagi


Donasi (1305)


Fundraiser