Kitabisa! - Bantu Usaha Nenek Suhermin Hidup Memulung
Bantu Usaha Nenek Suhermin Hidup Memulung

Bantu Usaha Nenek Suhermin Hidup Memulung

Rp 144.965.530
terkumpul dari Rp 150.000.000
8540 Donasi 0 hari lagi
Aksi Cepat Tanggap Sulawesi Tengah
Akun telah terverifikasi
Bagian dari Lets ACT Indonesia

Cerita

Kisah Nenek Pemulung Sebatang Kara

198c33a0-5748-4e24-885b-a66ff3240fab.jpg

Seorang nenek di Desa Binangga, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan memulung.

Hidup sebatang kara di tanah rantau tak membuatnya sedih dan meratapi nasib. Hampir setiap harinya, nenek yang diketahui bernama Suhermin ini mencari barang-barang bekas di jalanan.

Setap harinya, Ia menyusuri jalan serta tempat pembuangan sampah di Kota Palu. Nek Suhermin, terkadang beranjak dari rumah pada pagi hari hingga keesokan harinya hingga karung yang dibawanya itu penuh.

8ecc5477-be37-4f00-a986-cb56c8f81d7b.jpg

Setelah terkumpul, barang bekas yang ia dapat itu kemudian dijual untuk bertahan hidup. Ia harus menempuh puluhan kilo dengan berjalan kaki menelusuri jalanan dari Kabupaten Sigi ke Kota Palu, sambil mendorong sepeda ontel miliknya.

Jika hasil memulung itu sudah mencukupi sebelas karung, barang bekas tersebut dijual kepada pengumpul. Biasanya harganya Rp50.000 hingga Rp200.000.

Untuk mengumpulkan sebanyak itu tak mudah. Nenek itu harus memulung barang bekas berupa botol plastik air minum kemasan hingga bermingu-minggu bahkan sebulan.

556c2a9b-bf52-4078-9dfd-150ec48cc845.jpg

Usia memang tidak bisa berbohong. Kekuatan Nenek Suhermin sudah melemah. Itu tampak saat ia mendorong sepeda ontel tua yang mengangkut karung berisikan sampah pelastik.

Nenek asal Jawa Timur ini bercerita jika pada tahun 1980 silam, Ia pertama kali menginjakkan kaki di Kabupaten Donggala dengan maksud untuk mengais rezeki di tanah kaili.

Di sebuah pelabuhan, akhirnya Suhermin bertemu dengan seorang pria muda asal Desa Binangga. Beberapa waktu kemudian, Suhermin lalu ditawari untuk menjalin pernikahan. Saat itu umum Suhermin masih berusia 35 tahun. Namun nasib berkata lain, sang suami tak berumur panjang.

c724ad66-b5f4-4ee0-bc3f-c2bae2ae819c.jpg

Usia pernikahannya hanya 6 bulan. Suaminya dipanggil menghadap Allah SWT. Semua harus dikerjakan sendiri guna melanjutkan hidupnya.

Karena tak berbekal keterampilan, akhirnya Suhermin memutuskan untuk memulung sebagai perkerjaannya. Berbekal sebuah sepeda ontel, dengan dua karung, Ia mendorong sepeda ontelnya ke lokasi biasanya memulung di Kota Palu.

Suhermin tak pernah sedih dengan kondisi kehidupannya saat ini. Menurutnya, jika kita selalu bersyukur, kebahagiaan akan selalu menyertai.

"Hidup itu sudah ada yang atur mas, kita cukup jalani saja," tandasnya.

Sahabat, mari berikan rezeki terbaikmu agar Nenek Suhermin bisa mendapatkan hidup yang lebih layak, dengan cara:

  1. Klik tombol "DONASI SEKARANG";
  2. Isi nominal donasi yang ingin diberikan;
  3. Pilih metode pembayaran GO-PAY/Mandiri/BCA/BNI/BNI Syariah/BRI dan kartu kredit;
  4. Dapat laporan via email.

DISCLAIMER

  1. Seluruh hasil penggalangan dana akan digunakan untuk membantu biaya kehidupan sehari-hari Nenek Suhermin;
  2. Fundraising ini adalah bagian dari Program Mobile Social Rescue (MSR) yang fokus membantu meringankan permasalahan sosial dan ekonomi; dan
  3. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Chandra (+6282291252755)
Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (8540)