Kitabisa! - bantu biaya operasi dan fisioterapi untuk Firman
bantu biaya operasi dan fisioterapi untuk Firman

bantu biaya operasi dan fisioterapi untuk Firman

Rp 5.029.709
terkumpul dari Rp 150.000.000
29 Donasi 0 hari lagi
Lena
Akun belum terverifikasi

Cerita

Nama saya Lena, saya adalah seorang perawat di salah satu rumah sakit swasta. 

Saya sudah tidak memiliki ibu, dan saya adalah anak pertama di keluarga sehingga saya saat ini menjadi pengganti ibu untuk adik-adik saya.

Kami masih memiliki ayah, namun ayah sudah menua dan melemah staminanya untuk membantu perekonomian keluarga kami.

Musibah terjadi begitu saja tanpa kami duga, adik saya, firman namanya, firman mengalami kecelakaan motor saat dalam perjalanan pulang.

Adik saya tertabrak oleh motor, dan berakibat pecahnya pembuluh darah di kepala, patah tulang pipi dan hidung serta patah tulang paha.

697635f535d65b090958c03849af9cfd01be477b

Diawal tertimpa musibah

Pada awalnya kami mengetahui firman kecelakaan, firman dibawa oleh warga sekitar ke RSUD yang dekat dengan tempat kejadian perkara.

Di RSUD tersebut kami tidak menerima laporan apapun tentang kondisi adik kami, dokter hanya mengatakan bahwa adik kami sudah bisa dibawa pulang.

Walaupun dengan kondisi mata yang lebam, dan pelipis yang sudah dijahit. Sesekali adik kami bangun dan mengeluh sakit.

Dengan basic pendidikan keperawatan, saya sempat memeriksa kaki dan tangan adik saya untuk digerakan. Dan bisa bergerak. Sedikit lega karena tidak terjadi apapun yang serius.

Tapi satu hal mencurigakan saat para perawat memindahkan adik saya dari tempat tidur ugd ke tempat tidur lain. Bagian paha firman terlihat turun.

Saya pun kembali menemui dokter, tetapi dokter tetap bilang bahwa adik saya tidak kenapa-kenapa, silahkan dibawa pulang.

Karena firasat saya mengatakan ada sesuatu dengan firman, saya mengajak ayah untuk membawa firman dengan ambulance, tetapi dokter melarang dengan mengucapkan "Gak usah pakai ambulance, mahal. Pakai becak aja, adiknya ga apa-apa kok"

Kami yang dalam keadaan panik jadi tidak bisa berpikir dengan jernih, akhirnya kami memutuskan memakai taksi saja karena firman bilang tidak bisa berjalan.

Karena tidak puas dengan pernyataan dokter RSUD, saya dan ayah membawa firman ke RS tempat saya bekerja. Dan tepat sehabis adzan subuh, hasil rontgen dan ct-scan pun kami dapatkan.

Firman mengalami pecah pembuluh darah di kepala dan patah tulang paha. Sejak dari RSUD firman memang tidak bisa sadar sepenuhnya. Ia terbangun sejenak dan tertidur lagi, begitu terus sampai 5 hari berikutnya.


Operasi pertama

Dalam kondisi syaraf yang belum sepenuhnya membaik, firman sudah harus menjalani operasi pemasangan pen.
Persiapan operasi pun dilakukan. Firman sudah memasuki ruang operasi. Kemudian obat bius disuntikkan pada punggung adik saya.
Belum juga dilakukan pembedahan pada bagian paha firman, ia tiba-tiba mengalami henti nafas (sleep apnoe).

Kemudian dokter anastesi membangunkan firman, dan mencoba kembali memulai operasi. Tapi terjadi lagi henti nafas.
Akhirnya dokter tersebut menyerah karena bila operasi dilanjutkan maka firman akan kehilangan nyawa.

Dalam kondisi yang tidak stabil, saya dan keluarga dirundung kebingungan. Dan orang di sekitar kami juga tidak ada yang memberikan opsi lain selain membawa firman ke pengobatan alternatif.

Saat di Alternatif

Dengan menimbang berbagai tempat pengobatan alternatif untuk patah tulang, kami akhirnya memilih suatu tempat.

Kami bukan dari keluarga yang berkecukupan, sehingga pengeluaran untuk rumah sakit diawal saja sudah cukup menghabiskan lebih dari setengah tabungan milik kami.
Akhirnya setuju untuk alternatif, kami juga mengharapkan biaya lebih rendah daripada biaya di rumah sakit.

Ternyata untuk 1 minggu perawatan, kami mengeluarkan biaya yang sama dengan saat kami di rumah sakit.

Iya, kami hanya bisa bertahan 1 minggu karena jika diteruskan sesuai target pak haji di tempat itu, 4 bulan, kami tidak ada biaya untuk tinggal dan berobat di sana selama itu.

Firman kembali kami bawa ke RS tempat saya bekerja, untuk dirontgen. Ternyata tulang paha belum tersambung. Masih dalam keadaan awal, patah tumpang tindih.

Kami mengistirahatkan firman di rumah sakit sementara untuk mencari rumah sakit dan dokter yang mungkin pernah menangani kondisi pasien seperti firman.

Dalam pencarian tersebut, akhirnya kami menemukan dokter yang menyanggupi untuk mengoperasi firman. Tapi, ia hanya bekerja di RS swasta elite yang kami benar-benar tidak sanggup membayarnya.

Akhirnya ada teman yang punya kenalan dokter orthopedi di salah satu RS. Saya pun mendatangi RS tersebut dan berkonsultasi dengan dokternya.

Operasi ke-dua

Setelah saya berkonsultasi dengan sang dokter, akhirnya dokter tersebut menyanggupi untuk mengoperasi firman.

Saya pun langsung meminta untuk dibuatkan anggaran biaya operasi. Tersebutlah nominal 65 juta.

Dengan sisa uang yang sudah tidak mencukupi untuk nominal sebesar itu, kami mencari pinjaman kepada saudara dan kerabat.

Uang sisa tabungan dan pinjaman dari beberapa orang pun terkumpul, kami membawa firman untuk dioperasi.

Dengan perkiraan uang yang cukup, kami membawa firman ke RS tersebut. Tapi ruang rawat kelas 3 yang sudah kami pesan ternyata tidak ada tempat. Kami terpaksa menginap selama beberapa hari di kamar kelas 1 yang cukup mahal.

Hari operasi pun datang. Semua berjalan lancar awalnya. Kami pun merasa lega dan bersyukur pada keberhasilan operasi ini

Firman melakukan recovery, fisioterapi dan terus membaik selama beberapa hari.

Sampai akhirnya firman diperbolehkan pulang...

Ternyata pihak adminstrasi menghalangi kami untuk pulang, karena biaya alat (pen) belum dibayar.

Padahal saat itu kami sudah membayar semua tagihan, mulai dari biaya operasi, kamar dan obat-obatan...

Perdebatan yang tidak berujung pun terjadi, dan kami tetap harus membayar pen sebesar 20juta rupiah.

Kami yang saat itu tidak punya uang lagi, akhirnya meminta bantuan salah seorang teman ayah kami. Teman ayah kami adalah seorang aparat pemerintah, entah bagaimana caranya, kami diperbolehkan meninggalkan RS.

Perkembangan baik terus kami rasakan karena firman sudah bisa latihan berjalan, kami berharap ia melanjutkan kehidupannya yang sudah terhalang musibah.

Kamipun setiap bulan melakukan cicilan untuk pembayar pen. Kami memberikan uang pada teman ayah, dan teman ayah yang memberikan pada pihak distributor pen.

Tapi hal yang tidak disangka terjadi, suatu malam, firman merasakan sakit di kakinya. Kamipun membawa firman ke RS terdekat.

Ternyata 2 buah baut pen di kaki firman sudah lepas. Dan dokter menyarankan firman tidak latihan jalan dulu. Khawatir pen patah dan firman harus operasi ulang.

3ce402bce72cf1e7f0c091b242edd54bb754b793

Kami tidak tau siapa yang benar dan siapa yang salah, hanya dokter di RS ini memberi kami informasi bahwa pen di kaki firman adalah pen yang kualitasnya tidak bagus.

2 buah baut lepas dan harus suntik lutut

Saya dan ayah mendatangi dokter yang mengoperasi firman. Kami meminta kejelasan bagaimana ini bisa terjadi dan kami harus bagaimana.

Bukan solusi yang kami dapatkan, malah dokter tersebut memarahi ayah saya karena dianggap tidak becus menjaga pasiennya.

Ayah pun tidak malu untuk mengakui bahwa kami tidak ada biaya lagi kalau firman memang harus dioperasi ulang.

Dan dokter tersebut menjawab, firman tidak bisa latihan dulu dan harus disuntik lutut per periode, dengan biaya Rp 1.500.000/1 x suntik dan biaya perawat Rp 200.000.

Sepulangnya ayah dan saya dari bertemu dengan dokter, tagihan pembayaran pen tidak muncul lagi. Dan teman ayah juga menjauh dari ayah. Kami tidak tau apa penyebabnya.

Dan sekarang kami memutuskan untuk tidak lagi kembali ke RS tersebut. Karena kami benar-benar tidak mampu.

Firman sudah tidak mendapatkan fisioterapi dan obat apapun karena saya dan ayah tidak ada biaya lagi.

Jika ada teman yang bertanya "mengapa tidak pakai bpjs". Sesungguhnya bukan kami tidak ingin tapi karena peraturan bpjs yang tidak mengcover korban kecelakaan.

Firman tidak lagi berani untuk berdiri dengan tongkat, karena khawatir pen di kakinya patah. Dan menyebabkan kami harus mencari biaya lagi untuk mengoperasinya.

3 Bulan yang lalu, saya konsul dengan salah satu dokter di RS swasta di Bekasi. Dokter tersebut memberitau bahwa firman harus segera dicabut pen-nya.
Karena pen yang kualitasnya tidak bagus itu akan membuat masalah tersendiri bila dipasang terlalu lama.
Dengan pekerjaan yang cukup baik, saya tadinya berharap dan mengusahakan biaya operasi angkat pen dengan melakukan pinjaman pada bank. Dengan menjaminkan rumah tinggal kami.
Tetapi dengan gaji yang ternyata dinilai oleh bank terlalu kecil, pinjaman itupun tidak saya dapatkan.

sementara firman terus menunggu untuk bisa difisioterapi dan bila memungkinkan segera diangkat pen nya.


Sudah 2 kali Ramadhan firman berpuasa hanya dari atas kasur. Dan 2 kali menjalankan hari raya Idul Fitri juga firman hanya merayakan di atas tempat tidurnya.

Terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu menyebarkan link ini, juga terima kasih banyak bagi yang sudah mau membantu donasi.

Kami juga berterimakasih kepada yang membaca kisah keluarga kami, mungkin sekiranya bisa membantu, kecil bagi anda tapi sangat besar artinya bagi kami.

Tak lupa kami mohon doa agar firman dipermudah untuk operasi angkat pen. 

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (29)