Tuntaskan Krisis Air Bersih di Pulau Madu, SULSEL
Tuntaskan Krisis Air Bersih di Pulau Madu, SULSEL

Tuntaskan Krisis Air Bersih di Pulau Madu, SULSEL

Rp 850.824.928
terkumpul dari Rp 833.600.000
598 Donasi 0 hari lagi

Cerita

Sulitnya Air Tawar Di Pulau Madu

Tahukah Anda bahwa Indonesia memiliki satu pulau yang bernama pulau Madu? Jika belum tahu, pulau Madu ini terletak paling tenggara dari provinsi Sulawesi Selatan. Pulau ini berada disebelah timur gugusan pulau Bonerate yang terkenal keindahannya. Pulau yang memiliki lebar sekitar 1 KM dan panjang 8 KM ini dapat ditempuh dari pulau Adonara Nusa Tenggara Timur sekitar 10 jam dengan menggunakan kapal laut, sedangkan jika dari Ujung Pandang dibutuhkan waktu 1,5 hari perjalanan laut.

Pertama kali tim Badan Wakaf Al Qur'an berkunjung ke pulai ini pada tahun 2013 saat mendistribusikan 500 eksemplar Al Qur'an. Respon warga pulau Madu sangat bagus, mengingat selama ini yang memberi bantuan Al Qur'an suma 2-5 eksemplar saja, hal ini disampaikan oleh pak Geno selaku Kepala Desa di pulau Madu.

Pulau yang dihuni lebih dari 2500 jiwa ini merupakan salah satu pulau yang terisolasi. Sulitnya jalur transportasi yang ditempuh membuat pulau ini lambat berkembang. Salah satu kampung yang kesulitan mengakses air bersih adalah Onesatonde atau biasa disebut Onesatonda. Di pulau ini warga hanya mengandalkan satu-satunya sumur air tawar yang berjarak sekitar 100 meter dari pemukiman penduduk. Mereka harus rela antri demi mendapatkan air untuk kebutuhan minum dan memasak.

Waktu untuk antri setidaknya 6 jam, karena warga mulai antri jam 5 pagi dan pulang menjelang dhuhur.

Meskipun antri berjam-jam warga rela antri, karena air dalam sumur ini mereka anggap sudah baik untuk dikonsumsi, walaupun setelah di tes ternyata TDS airnya lebih dari 1000ppm, padahal berdasarkan aturan dinas kesehatan di Indonesia batas maksimal TDS air minum adalah 600ppm.

Menurut penuturan Pak Geno, Kepala Desa Onesatonde Pulau Madu, warganya mengalami 2 kesulitan fasilitas umum yang paling dibutuhkan warga yaitu air bersih dan listrik. Untuk Listrik belum ada jaringan PLN sehingga warga menggunakan genset untuk menerangi rumah mereka masing-masing. Untuk air bersih ini belum ada solusi yang bisa memenuhi kebutuhan air bersih warganya, kecuali 1 sumur yang tawar yang dimiliki desa. Itu pun pada bulan Oktober sampai Desember volume air sumur biasanya menyusut tajam.

Mesin Desalinasi Air Payau Sebagai Solusi

Setelah mengetahui kondisi warga di pulau Madu yang kesultan air bersih, maka Badan Wakaf Al Qur’an (BWA) pada tahun 2014 lalu membuat proyek wakaf sarana air bersih di kepulauan madu ini. BWA menilai bahwa masalah krisis air bersih di desa Onesatonde pulau Madu ini dapat diselesaikan dengan menggunakan mesin desalinasi air payau. Mesin ini dapat memfilter air payau menjadi air tawar dengan TDS rendah antara 10-30ppm.

Oleh karena itu, BWA berencana membuat Project Wakaf Sarana Air Bersih dengan mesin desalinasi yang dilengkapi dengan teknologi prepaid.

Teknologi prepaid ini digunakan sebagai solusi agar dana infaq perawatan mesin yang dibayarkan masyarakat ketika mengambil air di hydran umum ini, dapat teratur terkumpul optimal. Mesin ini rencananya di desain bersifat "mobile" sehingga mudah dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain yang juga membutuhkan air bersih. Selain Onesatonde adalah daerah Tehu u dan juga Liaganda yang juga membutuhkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sejak tahun 2014 yang lalu, BWA telah melakukan kampanye penggalangan dana untuk merealisasikan proyek ini. Informasi tentang proyek pembangunan sarana air bersih di pulau madu ini dapat di lihat di website www.wakafquran.org atau langsung kunjungi laman proyeknya di http://goo.gl/D0kSPL

Info Tentang Proyek ini bisa menghubungi:
Darminto HP/WA 085234738915

Disclaimer : Informasi dan opini yang tertulis di halaman campaign ini adalah milik campaigner (pihak yang menggalang dana) dan tidak mewakili Kitabisa.
Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (598)