Kitabisa! - Wawan Mengayuh Becak Satu Kaki demi Keluarga
Wawan Mengayuh Becak Satu Kaki demi Keluarga

Wawan Mengayuh Becak Satu Kaki demi Keluarga

Rp 37.864.106
terkumpul dari Rp 30.000.000
211 Donasi 0 hari lagi
KOMPAS.COM
Akun telah terverifikasi

Cerita

Seorang pria dengan kaus lusuh dan celana panjang coklat duduk di kursi becak. Matanya menatap kosong di tengah keramaian aktivitas Pasar Beringharjo dan pasar buku bekas. Rambut yang mulai putih tersapu lembut semilir angin di tengah teriknya matahari. Becak hijau ini berhenti di seberang Taman Budaya Yogyakarta (TBY), tepat di bawah pohon yang teduh.

Namun, setiap kali ada orang berjalan melintas, wajah pria ini tampak sumringah dengan langsung menyapa dan menawarkan jasa antar dengan becak. Ia pun tak putus asa untuk terus menawarkan jasanya.

Becak milik Wawan ini memang tampak berbeda dengan lainya. Di sisi kanan becak terdapat dua buah kruk. Kruk penyangga kaki tersebut ternyata untuk membantunya berjalan. Kaki kanan Wawan sudah diamputasi.

49413cd9-e38f-4d3f-849f-53f7bfb7e05b.jpg


Namun, meski dengan keterbatasan fisik, pria 48 tahun ini tetap semangat mencari nafkah dengan menjalankan profesinya sebagai tukang becak. Setiap kali mengantar penumpang, Wawan mengayuh becaknya dengan kaki kirinya. Becaknya pun sama sekali tidak dimodifikasi.

"Kalau ngayuh becak dengan satu kaki. Ya berat, tapi tidak masalah, karena sudah terbiasa mas," ungkapnya.

Sebagai kepala keluarga, ia harus memenuhi kebutuhan hidup. Terlebih, saat ini ia harus menghidupi istri dan anaknya yang berusia 2 tahun. Selain itu, dirinya juga harus membayar rumah kontrakan yang ditinggalinya bersama keluarga.

Setiap hari, dari pagi sampai siang hari, Wawan mangkal di seberang TBY. Tetapi, saat sore hari ia berpindah tempat di seberang Pasar Beringharjo. "Saya kadang sampai jam 2 pagi baru pulang. Kadang malam sampai tidur di becak juga, ya sambil nunggu penumpang," bebernya.

Penghasilanya sebagai tukang becak pun tidak menentu.Terkadang, Ia juga harus rela pulang dengan tangan kosong, karena tidak mendapat penumpang. "Kadang dapat, kadang tidak. Ya kalau ramai liburan sehari bisa dapat Rp 50.000 sampai Rp 100.000. Ya bagi saya, berapapun, cukup tidak cukup tetap harus disyukuri," tandasnya.

57ad6664-e540-4612-a337-068934aa7846.jpg

Wawan mengatakan musibah yang menimpanya hingga kaki kananya harus diamputasi terjadi saat di Magelang. Saat itu, pada malam hari ia hendak menuju Yogyakarta. Saat berjalan kaki, ia terperosok ke dalam lubang sedalam lutut orang dewasa. Lubang tersebut ternyata bekas orang membakar sampah.

"Tahun 2013, saya jatuh, langsung tidak sadarkan diri, tahu-tahu sudah di rumah sakit. Cerita orang yang menolong, saya jatuh di lubang bekas orang bakar sampah dan masih panas," kata Wawan. Akibat kejadian itu, kaki kanan dan kirinya mengalami luka bakar.

Namun demikian Pak Wawan tidak putus asa, Ia terus bekerja demi melihat harapan masa depan keluarganya yang lebih baik. Untuk itu, KOMPAS.COM mengajak pembaca membantu Pak Wawan alat penunjang yang layak, dengan cara :

1. Klik "DONASI SEKARANG"

2. Masukkan nominal donasi

3. Pilih BANK

4. Klik "DONASI" dan ikuti langkah selanjutnya

Sebarkan juga link ini untuk mengajak lebih banyak orang agar bisa membantu wujudkan apa yang diperjuangkan Pak Wawan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kisah Wawan, Kayuh Becak dengan Satu Kaki demi Keluarga".

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (211)