Kitabisa! - Tali Asih Buat Slamet (Legenda Kota Bandung 90'an)
Tali Asih Buat Slamet (Legenda Kota Bandung 90'an)

Tali Asih Buat Slamet (Legenda Kota Bandung 90'an)

Rp 30.034.678
terkumpul dari Rp 9.999.999
231 Donasi 0 hari lagi
Bagian dari Relawan ACT

Cerita

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Yth. Bapak / Ibu sekalian, nama saya Firman Perdana Putra, sehari hari saya mengabdi untuk melayani masyarakat di Kepolisian Daerah Jawa Barat. Saya ingin berbagi tentang sosok yang luar biasa dan sungguh inspiratif yaitu Slamet alias Mamat.

Slamet adalah sukarelawan pengatur lalu lintas di pertigaan Jl. Martanegara - Maskumambang - Sesko TNI. Sudah sejak tahun 1990-an sampai dengan awal tahun 2000-an Slamet bertugas mengatur lalu lintas di sana.

Pada hari Sabtu, 22 April 2017 secara tidak sengaja saya pun bertemu dengan Slamet ketika sedang mengais-ngais sampah di daerah Cibiru Tonggoh Kec. Cileunyi, Kabupaten Bandung. Iya betul, kini Slamet menjadi pemulung sampah plastik bekas.

Slamet adalah sosok yang menyenangkan, murah senyum dan suka menolong. Slamet memang memiliki kekurangan yaitu down syndrome dan susah bicara, namun dia mengerti apa yang kita katakan kepada dia. Namun dibalik itu semua, Slamet benar benar sosok yang luar biasa, dia tidak peduli panas/hujan...dia tetap mengatur lalu lintas dengan suka rela.

Semoga dengan tali asih melalui Yayasan Kita Bisa ini, kita bisa berbagi sedikit rezeki untuk Slamet dan keluarganya, supaya bisa digunakan sebagai modal usaha yang lebih layak dan lebih bermanfaat lagi.

Terimakasih, semoga Allah Swt membalas kebaikan Anda sekalian, aamiin.

==========

Postingan awal saya di Facebook tentang Slamet (Sabtu, 23 April 2017) ==> https://web.facebook.com/firman.p.putra.7/posts/10...

SUBHANALLAH, ALHAMDULILLAH, ALLAHU AKBAR.... Akhirnya saya bisa ketemu oleh sosok ikon kota Bandung 90'an (Kisah RETURN OF THE SLAMET)
.
Hari ini Sabtu 22 04 2017, ketika saya sedang mengantarkan barang pesanan di daerah Cibiru Tonggoh (naik ke atas, di sekitar komplek Cibiru Raya) tiba tiba mata saya tertuju kepada sosok pemulung di pinggir jalan tsb, yang lengkap dengan karung serta besi pengais sampah.

Sosok Slamet di akhir tahun 90'an (Sumber: Google)

Sosok Slamet sekitar tahun 2004 (Sumber: Kang Aldi)

Sosok yang tidak asing bagi saya, walaupun wajahnya lebih hitam dan maaf sedikit kumal, tapi saya tidak akan pernah lupa sorot matanya.

Ya dialah Slamet. Slamet adalah sosok ikon kota Bandung tahun 90'an di sekitar pertigaan Martanegara / Sesko / Maskumambang.

Slamet adalah pengatur lalu lintas legendaris pada saat itu. Dengan pakaian putih putih dan topi pet, dia sungguh sigap mengatur lalu lintas. Tiba tiba masuk pertengahan tahun 2000 an, dia menghilang entah kemana, ada yg bilang Slamet dibunuh... Ada yang bilang Slamet ke Sumatera dll.

Slamet ketika saya temukan di Cibiru Tonggoh. Slamet kini menjadi pemulung sampah/botol-gelas aqua/plastik bekas

Slamet adalah sosok yg luar biasa, dgn keterbatasan yg dia miliki (Slamet sedikit susah berbicara... Kalaupun bicara maksudnya kurang dapat dimengerti) dia berupaya untuk menjalankan tugasnya dengan profesional ... Tanpa ada satu instansi pun yg menggajinya.

4d5c5c04b9e86351a836ee2496e7e82dcce654ca

Kini dia menjadi pemulung, mengais ngais sampah untuk mencari botol aqua ataupun plastik layak pakai. Ketika saya tanyakan, kenapa kamu tidak balik lagi ke Martanegara untuk jadi polisi "cepek? Dia bilang.... (minimal itu yg dapat saya tangkap dari maksud dia) bahwa dia diusir oleh preman di sana... Dan tidak boleh kembali lagi....

Dia pun memang sempat ke Sumatera untuk ikut kakaknya, tp dia tidak betah... Karena panas katanya hehehe...

Sekarang dia tinggal di Ujung Berung dengan istri dan kedua anaknya. Saya ingin foto KTP-nya, namun sayang dia tidak punya KTP.

Semoga rezeki Slamet selalu dimudahkan oleh Allah Swt, dan Mudah2an kita bisa berjumpa lagi. Slamet.... Slamet....... Slamet

Wassalam
Firman Perdana Putra

===========================

Artikel tentang Slamet dari Koran Pikiran Rakyat

Kehilangan Slamet, Sang Pengatur Lalu Lintas di Pertigaan Maskumambang

26 Februari, 2012 - 01:22
BANDUNG RAYA

PRLM - ANDA yang biasa melintasi pertigaan Jalan Maskumambang-Martanegara pastilah kehilangan sosok ini: berseragam putih layaknya petugas patroli keamanan sekolah dan membawa sebilah kayu. Tak kenal hujan dan terik matahari, sosok ini akan berdiri tegap mengatur lalu lintas.

Pria ini sudah berada di sana dan mengatur lalu lintas dari tahun 1990-an. Kepada pengguna jalan yang tertib, dia kerap memberi hormat dan tersenyum manis. Namun terhadap pengemudi yang membandel, dia bisa galak. Beberapa bulan terakhir ini, pria bernama Slamet (43) itu tidak ada.

”Saya sudah lama tidak melihat Slamet,” kata Bima Putra (21), mahasiswa yang sering melewati jalan itu. Bima mengaku mendapat kabar dari rekannya kalau Slamet itu sakit.

Dua bulan terakhir ini, banyak yang bertanya ke mana Slamet. ”Sudah dua mobil yang menanyakan Slamet hari ini,” kata Imin (45), pemilik kios koran di Jalan Maskumambang, Rabu (22/2/12).

Mujahid (42), tukang becak yang biasa mangkal di Jalan Maskumambang mendengar kabar kalau Slamet pindah. ”Kalau tidak salah ke daerah Cibiru, tapi saya tidak yakin,” kata Mujahid.

Slamet, di manakah kau berada?

Slamet adalah anak ketiga dari lima bersaudara. Kedua orang tuanya, Siwon dan Pawuh, sudah meninggal. Menurut adiknya, Popon (37), sejak lahir tanggal 23 Oktober 1971, Slamet sudah punya kelainan. Sampai umur 12 tahun, Slamet bernama Matman. Sampai umur 12 tahun itu pula, Slamet suka mengeluarkan air liur dan tidak bisa bicara.

”Setelah dikhitan dan berobat, Slamet sehat,” kata Popon. Popon adalah adik kandung Slamet. Kakak Slamet bernama Wardi dan Narti. Satu adiknya lagi bernama Abdul. Popon inilah yang mengurus Slamet. Mereka tinggal di Jalan Bintara 8E Kompleks Kavaleri, Bandung.

Setelah sembuh dari sakit, namanya baru diganti menjadi Slamet. Aktivitasnya mengatur lalu lintas terjadi secara tidak disengaja. Saat berumur 15 tahun, Slamet sering melihat-lihat kendaraan lewat di perempatan Jalan Pelajar Pejuang ’45-Jalan Martanegara.

Tiba-tiba salah seorang pengemudi memberinya uang receh. Slamet yang tidak mengerti apa itu uang membiarkan saja uang itu tergeletak sampai ada warga yang memungutnya dan memasukkan ke sakunya.

Sampai saat ini, Slamet masih tak mengerti nilai uang kendati dia tahu kalau uang itu berharga. ”Dia (Slamet) rajin sekali menabung hingga beberapa celengannya penuh,” kata Abdul (32), adik bungsunya.

Di tempat itu pula Slamet melihat polisi mengatur lalu lintas. Slamet kemudian menirunya dan mulai mengatur kendaraan. Pada tahun 2000-an Slamet pindah ke pertigaan Jalan Maskumambang–Jalan Martanegara. Keluarganya sempat mencemaskan keselamatan Slamet lantaran lalu lintas semakin ramai. Apalagi anjing kesayangan Slamet yang bernama Polih mati tertabrak mobil saat Slamet berada di sana.

”Slamet nangis sambil menggendong anjingnya. Sejak itu Slamet pindah ke pertigaan yang lebih sepi dari kendaraan,” ujar Popon.

Banyak warga mengira, Slamet bergaya layaknya polisi lantaran stres gagal ikut tes kepolisian. Padahal jelas bukan.

Dari mana seragam Slamet berasal? Menurut Popon, seragam putih dengan topi itu diberikan oleh seorang polisi yang hingga kini tak diketahui siapa namanya. ”Slamet sangat senang dan selalu memakai baju itu,” kata Popon.

Sejak Desember 2011, Slamet memang pindah ke Pekanbaru. Soalnya, Popon menikah dan tidak diperbolehkan lagi tinggal di rumah dinas yang dihuni orang tuanya. Sejak itu pula, Slamet tak bisa lagi bertugas. Kadang, kata Popon, Slamet bertanya kapan bisa mengatur lalu lintas lagi.

Kini Slamet hanya membantu kakak iparnya yang memiliki usaha depot air minum ”Amanah” di Jalan Tanjung Harapan Lorong Tanjung Pinang Nomor 2 RT 02 RW 01, Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir, Kepulauan Riau

Slamet, salam dari orang Bandung! (dok. ”PR”, 25/2/12/A-88)***

====================================

Artikel tentang Slamet dari website Catatan Bujangan

==> https://catatanbujangan.wordpress.com/2012/02/25/s...

Slamet, sebuah inspirasi

Sehabis lari pagi, sempat membaca sebuah berita dalam harian Pikiran Rakyat tentang seseorang yang bernama Slamet yang bertahun – tahun menjadi “polisi” mengatur lalu lintas di Bandung walaupun ia bukanlah seorang anggota kepolisian.

Slamet diberitakan mempunyai kelainan sejak kecil. Dia menderita kelainan mental. Pun sehari – hari ia dirawat oleh kakaknya. Kebiasaannya semasa kecil nongkrong dipinggir jalan entah bagaimana menggugah keinginannya untuk ikut mengatur lalu lintas. Sebagai pengatur lalu lintas ia tak segan – segan untuk marah kepada pengguna jalan yang melanggar aturan lalu lintas. Seorang anggota polisi, rupanya mengakui jasa Slamet, memberikan seragam warna putih sebagai “pakaian dinas” Slamet.

Slamet mengatur lalu lintas karena kehendak yang murni. Meski banyak sekali pengemudi yang memberikannya uang receh, Slamet tidak pernah mengerti akan uang. Uang receh pemberian ia tabung dalam beberapa celengannya. Slamet melakukan semua ini bukan untuk uang tapi bagaimanapun, saya pandang, inilah panggilan hati seorang Slamet untuk berbuat sesuatu.

Somehow, berita yang saya baca itu mengharukan hati saya. Betapa seseorang yang tak pernah berharap, mengerti akan uang rela berpanas – panas setiap hari untuk ikut mengatur lalu lintas. Betapa seorang yang mungkin tak begitu paham dengan kehidupan ini, mempunyai niat tulus dan murni untuk menyumbangkan tenaganya berbuat sesuatu yang mulia.

Apa yang dilakukannya mungkin saja hal yang kecil. Tapi itu tergantung darimana kita memandangnya. Seorang pemuda dengan kelainan mental membantu mengatur lalu lintas disebuah pertigaan yang ramai, membahayakan keselamatannya sendiri demi teraturnya lalu lintas, sungguh sebuah hal yang sangat besar dan berarti.

Mungkin diantara kita atau saya sendiri lebih banyak mengeluh tentang kehidupan. Berkeluh kesah tidak mampu. Mudah menyerah. Mungkin pula niatan dalam hati kita tidak selalu tulus. Mungkin pula selama ini kita terperangkap dalam kata “uang” sehingga melupakan rasa menolong yang tulus.

Slamet benar – benar memahami arti kalimat “berguna bagi orang lain dan kehidupan”. Selama ini kita berharap seperti itu, namun sering juga kita bingung bagaimana menjalaninya.

Seringkali kita ingin melakukan hal – hal yang besar dalam kehidupan tetapi lupa hal – hal kecil yang semestinya dilakukan. Seringkali pula kita kehilangan kekonsistenan dalam apa yang kita jalani walaupun apa yang kita jalani adalah berarti.

Apa yang dilakukan Slamet rupanya sangat bermakna karena kini ia dirindukan banyak pengguna jalan. Slamet telah pindah ke Riau mengikuti kakaknya yang mengurusnya semenjak ia kecil.

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (231)