Kitabisa! - Hidayah Bu Ina
Hidayah Bu Ina

Hidayah Bu Ina

Rp 22.210.904
terkumpul dari Rp 35.000.000
100 Donasi 0 hari lagi
Bagian dari Sedekah Sahabat

Cerita

Banyak hal bisa terjadi lewat mimpi. Mimpi bagi Bu Ina itu adalah sebuah petunjuk yang baik. Pasalnya, ia menjadi mualaf disebabkan oleh mimpi. Pada tahun 2015 lalu ia mantap menjadi seorang muslimah dan mengucapkan dua kalimat syahadat. Ibu berusia 41 tahun ini dahulu adalah seorang nasrani, bertempat tinggal di Jakarta Barat dan hidup bersama mertua dan saudara-saudaranya. Suaminya meninggal pada tahun 2012 lalu dan kini harus menghidupi 5 orang anak.

Setelah memutuskan untuk menjadi mualaf, perjalanan hidup ibu dengan nama panggilan Bu Ina ini tak berjalan dengan mulus, ia diusir dari tempat tinggal oleh keluarga lalu mengontrak kamar di kawasan Mangga Dua, Jakarta Barat dan berjualan nasi uduk untuk memenuhi segala kebutuhannya. Hidayah bukan hanya datang dari Bu Lia, namun terjadi pada keempat anak-anaknya. Rasa syukur tak bisa diungkapkan, hanya doa yang selalu dipanjatkan seiring waktu berlalu sembari berharap anak pertamanya juga menyusul mengikuti langkah ibunya yaitu menjadi seorang muslim.

Bu Ina tinggal di kontrakan sempit bersama ke empat anaknya

Selama Bu Ina memeluk agama islam, ia dibimbing oleh pengurus dan teman-teman dari masjid kantor pusat BRI, mulai dari belajar sholat hingga mengaji. Namun untuk biaya sekolah anak-anak di tanggung oleh teman-teman di UIN setelah mereka tak dibiayai lagi oleh gereja karena memeluk agama Islam. Karena tak ingin merepotkan pihak UIN, Bu Ina tetap berjualan nasi uduk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Sahabat, ujian setelah menjadi mualaf tak berhenti begitu saja, tahun 2015 lalu, rumah yang ia tempati di Mangga Dua tersebut hangus terbakar dan terpaksa tidur di tenda pengungsian.

"Saya pernah nggak punya uang sama sekali, anak-anak lapar lalu saya beranikan pergi ke rumah mertua di daerah Jakarta Barat, namun saya ragu karena akan diusir dan keluarganya nggak akan menerima kami lagi" ujar Bu Ina.

Barang dagangan bu Ina didapatkan dari teman pengajiannya. Mengingat kebutuhan terus meningkat, bu Ina ingin berjualan nasi dan lauk pauk namun terkendala di modal.

Sejak saat itu keputusannya untuk tak datang ke rumah mertua adalah keputusan yang terbaik hingga pada akhirnya ia dan keempat anaknya tinggal di rumah kontrakan di daerah Citayam. Semua dibiayai oleh teman-teman di UIN. Namun untuk kebutuhan sehari-hari seperti pangan, ia berjualan pakaian dengan penghasilan Rp. 10.000-20.000 perhari. Ia juga berkeinginan ingin memiliki penghasilan yang lebih baik lagi dengan berjualan nasi beserta lauk pauk sehingga anak-anaknya bisa berkumpul bersama. Namun masih terkendala di modal. Keluh kesah tak nampak di wajahnya, yang dipikirkan hanyalah berwirausaha dengan halal sambil menghidupi ke lima anak-anaknya.

Mari dukung Bu Ina berjuang untuk berwirausaha dengan agama baru yaitu agama Islam yang dianutnya dan berwirausaha demi menghidupi ke lima anaknya. Untuk informasi lebih lanjut atau donasi offline 082211009980 (sms/wa)

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (100)