Kitabisa! - Dukung Adik Pianto Lawan Gizi Buruk
Dukung Adik Pianto Lawan Gizi Buruk

Dukung Adik Pianto Lawan Gizi Buruk

Rp 1.242.373
terkumpul dari Rp 85.000.000
14 Donasi 0 hari lagi
Aksi Cepat Tanggap Aceh
Akun telah terverifikasi

Cerita

Balita mungil itu terkulai lemas di atas kasur khusus di ruang IGD Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh, Aceh. Jarum infus menusuk tubuhnya. Pernafasannya menggunakan alat bantu. Belalai selang-selang itu tersambung ke alat canggih di atas kepalanya.

Nama lengkapnya Pianto Syahputra Laia (1,8th). Ketika Aksi Cepat Tanggap (ACT) – Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Banda Aceh mengunjunginya, nampak ibunya adik Pianto, Jernih Hati Nduru, setia menemani di sampingnya.

Pianto sudah beberapa hari ini dirawat di rumah sakit provinsi itu. Berat badan balita kelahiran 1 Agustus 2017 sekarang cuma 4 kilogram. Rasa iba akan muncul dengan sendirinya manakala melihat tubuhnya dengan tulang sudah seperti terbungkus kulit. Bibir anak kedua dari dua bersaudara itu pecah-pecah.

Kisah adik Pianto awalnya diketahui MRI Subulussalam. Keluarganya sendiri berasal dari Desa Penuntungan Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam, Aceh.

Menurut informasi yang diperoleh dari ibunya, adik Pianto menderita gizi buruk yang diawali diare berkelanjutan saat usianya masih 3 bulan. Kala itu, Jernih dan suaminya, Fanetona Laia, membawanya ke RSUD Subulussalam. Dokter mendiagnosanya mengalami gizi buruk. Seminggu di sana, kondisinya pun berangsur membaik.

Penyakit itu kembali menghantui saat adik Pianto berumur 1,8 tahun.  Ia pun dibawa berobat lagi ke RSUD Subulussalam. Waktu itu berat badannya hanya 5 kilogram. Kondisinya semakin parah. Hari kedua berat badannya turun drastis menjadi 2,5 kilogram. Di hari ketiga naik lagi menjadi 4 kilogram.

Penyakit gizi buruk yang dideritanya mulai menyebabkan komplikasi penyakit lain. Kata dokter, adik Pianto terindikasi juga mengalami anemia dan kesehatan jantungnya mulai terganggu. Ia diharuskan rujuk ke RSUDZA atau rumah sakit di Medan, Sumatera Utara.

Fanetona dan Jernih sempat kebingungan bagaimana harus membawa anaknya ke rumah sakit provinsi di Banda Aceh. Kondisi ekonomi mereka tergolong sangat sulit. Sehari-hari, Fanetona dan anak sulungnya bekerja sebagai tukang babat di salah satu PT di Subulussalam. Sementara itu, Jernih tidak punya pilihan lain selain merawat adik Pianto di rumah.

e0a0443f-79e3-49d6-aaf4-a4967928cb0c.jpg

Dalam sebulan, penghasilan keluarga kecil di bawah Rp400 ribu. Uang tersebut dicukup-cukupkan saja selama ini. Jangankan untuk sekadar membeli baju baru, bisa makan dengan uang sebesar itu saja mereka sudah sangat bersyukur.

Pada Jumat (1/3), Fanetona dan Jernih menerima santunan dari Global Zakat melalui MRI Subulussalam untuk bisa membawa anaknya berobat ke Banda Aceh serta biaya hidup di sana. Namun demikian, keluarga kecil itu masih sangat membutuhkan uluran tangan para dermawan hingga Rp85 juta. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk biaya hidup selama masa pengobatan adik Pianto dan pemberdayaan ekonomi keluarga.

Oleh karenanya, ACT Cabang Aceh berupaya meringankan beban adik Pianto melalui kampanye di Kitabisa.com. Semoga dana yang terkumpul sesuai dengan harapan kita. Yuk, bantu kembalikan senyum adik Pianto dan keluarganya!

1. Klik “DONASI SEKARANG”

2. Masukan nominal donasi

3. Pilih bank (BNI/BNI Syariah/Mandiri/BCA/BRI/Kartu Kredit)

4. Dapatkan laporan via email

DISCLAIMER CAMPAIGN:

1. Donasi yang terkumpul dapat digunakan untuk biaya transportasi dan operasional selama masa pengobatan, serta pemberdayaan ekonomi keluarga bersangkutan.

2. Fundraising ini adalah bagian dari Program Mobile Social Rescue (MSR) ACT Aceh yang fokus dalam pendampingan pasien MSR.

3. Informasi lebih lengkap dapat menghubungi: Zulfurqan (+62 852-6005-7477)

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (14)