Kitabisa! - Bantu Komang & Devita Remaja Dengan Disabilitas
Bantu Komang & Devita Remaja Dengan Disabilitas

Bantu Komang & Devita Remaja Dengan Disabilitas

Rp 13.679.163
terkumpul dari Rp 11.500.000
97 Donasi hari lagi
Yayasan Pusat Pemberdayaan P.D.I Bali
Akun telah terverifikasi

Cerita

Remaja Bali dengan disabilitas tinggal didaerah terpencil memerlukan bantuan kita. I Komang Suparta 18 tahun mengalami perubahan dalam hidupnya dua tahun lalu, ketika kakinya diamputasi setelah ia terjatuh dari truk pasir di desa Besakih, Bali Timur. Komang Suparta awalnya menyembunyikan diri karena malu akan kakinya, selain itu juga ada kepercayaan bahwa disabilitas merupakan kutukan dari tuhan. Hal itu membuatnya merasa minder.

1dae7d4236f9f2d9f5099a40ef4f4b0479a1237d

Sampai saat ini, hidup tidak mudah baginya dan keluarganya yang tinggal dirumah (tanpa air atau listrik), didaerah miskin di Besakih. Beberapa orang Bali tinggal di Desa yang terisolasi, termasuk Komang Suparta, keluarganya dan orang-orang dengan disabilitas, mereka mengalami kesulitan untuk mengakses pekerjaan, kesehatan, air atau pendidikan.

33b25dda67bbb9a104829ba25ccfc19e07ff1332

Komang Suparta dan keluarganya mengandalkan air hujan yang ditampung dalam bak, susu dari sapi dan telur dari ayam yang mereka pelihara untuk menopang hidupnya. Kurangnya lapangan pekerjaan didesanya dan mereka mempunyai pendapatan yang tidak cukup untuk keluar dari jeratan kemiskinan.

e1f20b85fd1bda86b48e85e91635d1b1c258d0b3

Akhirnya, Komang Suparta keluar dari persembunyian sehingga

dia mulai menerima perawatan dari rumah sakit Klungkung dan ia mendengar tentang PUSPADI Bali, yayasan yang membantu lebih dari 4,500 lebih penyandang disabilitas.

fd6be11f4f39aacd4e4a2d260f6a78f3f7c8f937

Segera setelah, Komang Suparta datang ke bengkel PUSPADI Bali untuk menerima kaki palsu pertamanya dan setiap beberapa bulan dia memperbaikinya, sehingga tetap nyaman untuk digunakan. Kaki Palsu membutuhkan pergantian segera, karena setiap bulannya pasti adanya penyusutan.

c12435b25cc2d076450aa6bc6ba9582282657bc8

Tanpa kaki palsu, Komang Suparta harus menggunakan tongkat yang menyulitkan dia untuk membawa barang atau mengendarai sepeda motor. Dengan menggunakan kaki palsu, dia bisa membantu pekerjaan rumah dan berangkat bekerja sendiri.

6f4f794da11726816295e43b7ba0705e373ae2e7

Diakhir tahun, Komang Suparta menyelesaikan Program Soft dan

Hard Skill Training PUSPADI Bali (yang membekali peserta dengan pelatihan bahasa inggris, computer dan persiapan menuju dunia kerja) dan Komang bekerja di Bunga Bali sebagai Administrasi (sebuah yayasan yang membantu Penyandang Disabilitas) di Sanur.

Komang menyelesaikan sekolah dasar, SMP dan SMA tetapi dia berharap satu hari bisa mendapatkan beasiswa dan melanjutkan kuliah.“Saya ingin erus berusaha untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus untuk kehidupan yang lebih baik,’’ Ujar Komang Suparta. ‘’Saya sangat menghargai PUSPADI Bali karena memberikan kaki palsu jadi saya bisa bekerja dan dengan jalan tersebut saya bisa melanjutkan pendidikan.’’

901221ad41e9973f538c60ed393616780be1384d

Sementara itu, Ni Komang Devitha 11 tahun lahir dengan disabilitas dan menggunakan kaki palsu jadi ia bisa dengan percaya diri untuk berpergian didesa, sekolah dan bermain dengan teman-temannya.

0dd624f344d29bf91619918eddddd59bc60a6796

Dia tinggal di Gianyar bersama keluarganya, salah satu daerah miskin di Bali utara. Dimana ibunya merawat dia setiap hari. Ayahnya berjualan gas dan membuat kerajinan.

92f7faca1d152b767382f7e3c04fbf03c7c6972d

Keluarganya tidak cukup menghidupi Devina atapun membawanya

untuk berobat. Akhirnya, Devitha menerima Kaki Palsu dari PUSPADI Bali, Dia berjalan-jalan tanpa bantuan atau sepatu khusus karena hal tersebut tidak nyaman untuknya. Tanpa sebuah kaki palsu, dia merasa kesulitan untuk pergi kesekolah setiap harinya terutama saat musim hujan dan dia takut menginjak benda tajam atau sesuatu yang berbahaya.

e3b77a0958e9023cc1f1fb781ff8ab12bc28260d

Devitha sangat senang menerima kaki palsu pertamanya dari

PUSPADI Bali tetpai setiap hari dia tumbuh sehingga setiap beberapa bulan harus datang ke bengkel untuk memperbaiki kakinya.

“Ketika saya memikirkan tentang disabilitas saya, kadang-kadang saya merasa sedih tetapi mendapatkan kaki palsu dari PUSPADI Bali sangat membantu dan berguna ketika saya pergi sekolah atau pergi ke pura,’’ ujar Devitha.

9d4dbc15b006aabf983d82153227593a56bd67a1

Semua donasi dari campaign ini akan digunakan untuk membantu

membiayai pembuatan kaki palsu Devitha dan Komang Suparta. Kaki palsu Komang dikenai biaya Rp. 7.500.000 dan Devitha dikenai biaya Rp. 4.000.000. Tim PUSPADI Bali secara khusus membuat kaki palsu menggunakan bahan berkualitas.

Bantu Komang dan Devitha dengan klik tombol Donasi dibawah ini.

Jika anda mempunyai pertanyaan, hubungi kami di [email protected].


Support Balinese Youth with a Disability

Balinese youth with a disability living in impoverished areas of the island need our help. 18-year-old I Komang Suparta’s life took a big turn two years ago, when his leg had to be amputated after he fell off a truck while shifting sand in his village in Besakih in East Bali. Komang Suparta initially hid away out of shame of his amputated leg, due to a Balinese Hindu belief that his disability is a curse from the Gods.

Up till then and now, life hadn’t been easy for him and his family who live in a basic home (without running water or electricity), in a poor area of Besakih. Many Balinese people living in isolated villages, including Komang Suparta, his family, and people with a disability, find it challenging to access quality jobs, healthcare, water or an education. There is a high unemployment rate in their isolated village and they’re unable to generate an income to lift themselves out of the cycle of poverty.

Eventually, Komang Suparta came out of hiding so he could start receiving treatment at the hospital in Klung Klung and it was there that he heard about PUSPADI Bali, which is a NGO supporting more than 4, 500 local people with a disability.

Soon after, Komang Suparta came to the PUSPADI Bali workshop to receive his first prosthetic leg and every few months he has to replace it, so that it continues to fit him properly. His prosthetic leg needs to be replaced soon, as it is starting to wear down from months of use.

Without a prosthetic leg, Komang Suparta would have to use crutches which isn’t easy when he is carrying items or riding his motorbike. By using a prosthetic leg, he’s able to help his family with more chores around the home and independently travel to work.

Last year, Komang Suparta completed PUSPADI Bali’s Soft and Hard Skills Training Program (which provides participants with English, computer as well as job readiness skills) and is working in administration at Bunga Bali (a nonprofit supporting people with a disability) in Sanur.

Komang finished primary school and high school but he hopes one day that he can get a scholarship and go to university.

“I want to keep working towards getting a good job to properly support myself,” Komang Suparta said. “I appreciate PUSPADI BALI providing me with prosthetic legs so I can keep thinking about working and ways to get a good education.”

Meanwhile, 11-year-old Ni Komang Devitha was born with a congenital defect and uses a prosthetic leg so she can confidently move about her village, go to school and play with her friends. She lives with her family in Gianyar, in an impoverished area of North Bali, where her Mum is her full-time carer. Devitha’s Dad earns an income delivering gas, as well as doing carpentry and wood making.

The family doesn’t make enough to support themselves or for the proper medical support that Devitha needs. Recently, Devitha received her first prosthetic leg from PUSPADI Bali as previously, she had been walking around with no proper support or shoes because they were uncomfortable for her.

Without a prosthetic leg, she finds it hard travelling to school each day, especially during the rainy season and she fears stepping on sharp or dangerous objects.

Devitha is happy to be have received her first prosthetic leg from PUSPADI Bali but as she grows, she will need to upgrade it every few months.

“When I think of my disability, sometimes I feel sad but getting a prosthetic from PUSPADI Bali has been very helpful and useful when I go to school as well as to the temple,” Devitha said.

Donate now to help cover the costs of both Devitha and Komang Suparta’s new prosthetic legs, enabling them to focus on their futures rather than worrying about medical costs. The cost of Komang’s prosthetic leg is USD 562 dollars while for Devitha, it’s USD 300 dollars.

Please contact us, if you have any further questions [email protected].


Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (97)