Kitabisa! - Gaza Kembali Berdarah, Selamat Gaza Sekarang Juga
Gaza Kembali Berdarah, Selamat Gaza Sekarang Juga

Gaza Kembali Berdarah, Selamat Gaza Sekarang Juga

Rp 0
terkumpul dari Rp 500.000.000
0 Donasi 0 hari lagi
Bagian dari Relawan ACT

Cerita

Assalaamu'alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh

Hai #orangbaik #sahabatkemanusiaan dimanapun berada. Saya Elly Sumantri, tim Aksi Cepat Tanggap Sumatera Selatan. Saya tinggal di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

#orangbaik #sahabatkemanusiaan, Palestina kembali membara.

Baru saja usai salat Jumat, ribuan anak muda Gaza bangun dari shfnya, beranjak menuju ke pagar pembatas, pagar yang memisahkan antara si penjajah dan mereka yang terjajah. Dua titik yang menjadi puncak eskalasi Jumat (6/4) kemarin, gerbang Rafah dan pagar pembatas di Khan Younis, berkumpul puluhan ribu warga Gaza. Gemuruh emosi pun kembali meninggi.

Tuntutan warga sipil Gaza hanya satu: kembalinya hak warga Palestina atas tanah air mereka, tanah yang selama puluhan tahun terakhir, dijajah dan diblokade. Jumat di awal April ini adalah pekan ke-dua aksi besar dengan tajuk Great March of Return dilangsungkan di Gaza.

ksi Jumat (6/4) kemarin diawali dengan berkumpulnya ribuan anak muda Gaza sembari membawa ban bekas. Ya, ban bekas dikumpulkan dari seantero Gaza, dibawa sampai ke perbatasan. Rencana anak-anak muda Palestina itu, ban bekas akan dibakar habis di sepanjang perbatasan, fungsinya adalah untuk mengaburkan pandangan sniper Israel yang bersiaga menembak apapun dan siapapun di perbatasan.

Asap besar pun mengepul tinggi, hitam, pekat. Asap menutup pandangan para penembak jitu Israel, setidaknya mencegah darah kembali tumpah untuk sementara waktu. Dua titik perbatasan, antara Rafah dan Khan Younis, asap pembakaran ban menutup semua pagar perbatasan.

amun, apa yang dibalas oleh militer Israel di luar dugaan. Dari sisi perbatasan wilayah Israel kepulan asap tebal itu dikipasi dengan blower raksasa. Imbasnya asap mengepul ke arah sebaliknya, menyelimuti kumpulan anak muda Gaza yang sedang berorasi di seberang perbatasan. Ketika asap dan api pembakaran ban mulai padam, darah kembali tumpah.

Batu dibalas lagi dengan peluru. Tak pandang bulu, tak memandang siapa targetnya, penembak jitu Israel dikabarkan kembali memberondongkan pelurunya tepat ke kaki, badan, bahkan kepala anak-anak muda Gaza.

Bentrokan yang pecah di Gaza Jumat (6/4) kemarin menyebabkan sedikitnya 9 orang tewas ditembus timah panas militer Israel. Kementerian Kesehatan Palestina pun merilis pernyataan, lebih dari 1.000 orang terluka. Korban terluka termasuk puluhan anak-anak dan perempuan yang ikut terlibat dalam aksi Great March of Return.

The Palestinian Shehab News Agency, media lokal di Gaza melaporkan, catatan korban tewas paling baru dilaporkan bernama Alaa Yahya al-Zamali, anak muda asal Rafah berusia 17 tahun.

Laporan lain menyebut, spanjang aksi Jumat kemarin, moncong sniper Israel nyatanya memang tak peduli dengan target tembakannya. Bahkan termasuk beberapa jurnalis ambruk setelah ditembak dari jarak ratusan meter.

Yaser Murtaja, seorang jurnalis berusia 30 tahun tampak dalam sebuah video mengerang kesakitan. Yaser dengan rompi bertuliskan “Press” tetap menjadi sasaran tembak. Yaser ambruk bersama kameranya setelah timah panas menembus kakinya. Sampai tulisan ini dituliskan, kondisi terkini Yaser masih belum diketahui, ia dibawa ke ICU rumah sakit wilayah Selatan Gaza dalam kondisi kritis.

Yaser sedang merekam dengan kameranya di sebelah saya. Kemudian suara peluru meletus dekat dengan kami. Yaser lalu ambruk sembari berteriak ‘saya tertembak, saya tertembak’,” kata Hosem Salem, seorang fotografer lainnya, melansir Al-Jazeera.

Dalam gambar lain yang tersebar viral di media sosial, tampak pula seorang petugas medis sedang membalut luka di kepala kawannya, anak muda Gaza yang terbaring kaku di atas tanah. Padahal, si petugas medis itu pun sedang menahan kesakitan setelah kaki kanannya ikut tertembak.

Petugas medis membalut perban di kepala kawannya, sembari kakinya pun mendapat perawatan luka dari kawannya yang lain,” tulis akun Instagram @eye.on.palestine dalam postingannya, Jumat (6/4) kemarin.

Dua pekan berselang, sudah dua kali pula darah tumpah di Gaza. Jika ditotal, sejak aksi Great March of Return dimulai di Gaza pekan kemarin, militer Israel sudah menewaskan 29 jiwa warga Gaza. Termasuk 21 jiwa wafat setelah bentrokan pertama, Jumat (30/3) pekan lalu.

Sementara itu korban terluka jumlahnya tak bisa dipastikan, perkiraannya lebih dari 2.600 jiwa dalam dua pekan terakhir. Korban luka tak mampu ditampung seluruhnya di tiap-tiap rumah sakit dekat perbatasan Gaza.

Seperti yang diketahui, Jumlah fasilitas medis di Gaza amat terbatas. Ditambah lagi dengan problem pelik listrik yang menyala hanya 5 jam sehari, juga obat-obatan yang nihil.

Mari, #orangbaik dan #sahabatkemanusiaan semuanya dimanapun berada. Kita sisihkan harta kita untuk membantu rakyat Palestina yang membutuhkan uluran tangan kita. Menyediakan makanan, obat-obatan dan listrik bagi mereka untuk keberlanjutan hidup mereka.

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (0)