Kitabisa! - Hartono, Ojek Konvensional yang Tak Kenal Lelah
Hartono, Ojek Konvensional yang Tak Kenal Lelah

Hartono, Ojek Konvensional yang Tak Kenal Lelah

Rp 73.785.623
terkumpul dari Rp 50.000.000
951 Donasi 0 hari lagi
Tiara
Akun telah terverifikasi

Cerita

Assalamualaikum. Perkenalkan, nama saya Tiara. Bersama @dramaojol.id, saya tergerak untuk membantu Pak Hartono, seorang pengemudi ojek konvensional yang saya tumpangi beberapa hari lalu.

Dana yang digalang ini rencananya untuk membantu pengembangan usaha istri dari Pak Hartono yang berjualan donat. Karena apabila manfaat yang terkumpul ini nantinya digunakan untuk membeli motor baru, menurut saya kurang efisien karena mengingat usianya, Pak Hartono sudah tidak sepatutnya bertaruh nyawa di jalan menembus Jakarta—terlebih rumahnya di Cengkareng.

d30ac022e79afb77747fa8171b035fbf77ce1656

Izinkan saya untuk ceritakan pengalaman saya dengan Pak Hartono. Saya bagikan kisah ini sebagai terima kasih saya kepada Pak Hartono karena melalui beliau, Allah bicara tentang rasa syukur kepada saya.

Malam itu, Rabu 13 September 2017, persis jam 10 malam di mana waktu operasional Grand Indonesia berakhir, saya memesan ojek online untuk pulang ke rumah. Namun setelah lama menunggu, ojek online yang saya pesan tidak kunjung tiba dan tidak bisa dihubungi. Terpaksa akhirnya saya tekan opsi “Cancel” pada aplikasi.

Selagi berdiri di kerumunan ojek online, seseorang menyapaku ramah.

“Mba, ojek, Mba? Saya bukan ojek online, tapi saya mau antar Mba ke mana pun,” tawar sosok renta itu kepadaku.

Spontan kugelenggkan kepala karena aku butuh beberapa saat untuk yakinkan diri bahwa situasi aman—iya di Jakarta memang perlu insecure untuk secure.

Setelah memastikan kondisi terkendali, kuhampiri Bapak tadi. Kusebutkan tujuanku yang segera diamininya, “Oh, ayo, Mbak!” ucapnya semangat bahkan tanpa bertanya soal berapa tarif yang akan dia dapat nanti.

Dari kawasan Menteng, Jakarta Pusat, kunaiki Honda Astera 1997 yang sudah tidak bisa melaju kencang menuju Rawamangun. Di jalan, aku membuka obrolan yang disambut dengan sangat hangat oleh si Bapak.

“Bapak namanya siapa?”

“Hartono, Mba.”

“Salam kenal, Pak Hartono. Saya Tiara. Kenapa nggak gabung ojek online aja, Pak? Kan biar lebih gampang dapat penumpangnya,” aku membuka bincang dengan satu saran.

“Usia saya sudah 63 tahun, Mba. Nggak diterima lagi. Mungkin mereka khawatir saya nggak bisa buka handphone, hehehe,” jawabnya seraya terkekeh kecil.

Dheg. 63 tahun. Usia yang persis sama saat Ayahku meninggal dua tahun lalu.

“Oh gitu. Jadinya Bapak cari penumpang keliling aja, ya. Emangnya rumah Bapak di mana?”

“Cengkareng, Mba.”

“Cengkareng, Pak?” aku ulang jawabannya dengan nada meninggi seolah tidak percaya.

Kupikir lagi. Jarak Cengkareng-Menteng itu jauh, lho. Naik motor tua yang jalannya nggak laju lagi, mungkin akan memakan waktu tidak sebentar.

“Iya, Mba. Soalnya di daerah saya sepi penumpang. Jadi saya harus cari tempat yang banyak orangnya, kayak di mall-mall gitu.”

“Biasanya mangkalnya di mana aja, Pak?”

“Nggak pernah mangkal di satu tempat, Mba. Keliling aja. Soalnya kalau mangkal, suka diusir sama satpam atau ojek pangkalan setempat.”

“Oh gitu, Pak. Biasanya narik dari jam berapa, Pak?”

“Jam 6, Mba.”

“Pulang jam berapa?”

“Jam 12 malam.”

“Dapat banyak penumpang nggak?”

“Nggak bisa dipastikan, Mba. Pernah juga nggak dapat sama sekali,” tuturnya lirih.

Sampai di sini aku tercekat. Hari itu, aku begitu banyak mendapat kemudahan dan keberkahan hidup. Sementara di hari yang sama, ada sesamaku yang begitu sulit untuk bertahan. Aku terdiam karena kata-kata mulai meleleh bersama air yang mulai mengambang di kelopak mata.

Singkat cerita, Pak Hartono adalah kepala keluarga yang masih harus menghidupi satu istri dan ketiga anaknya yang masih sekolah SMA dan SMP. Sebagai tulang punggung tambahan, istrinya membantu keuangan keluarga dengan berjualan donat. Pak Hartono asli Cepu (CMIIW) Jawa Tengah, namun telah tinggal di Jakarta selama 30 tahun terakhir.

Melalui Kitabisa.com ini, saya ingin mengajak teman-teman untuk bantu membuka jalan rezeki Pak Hartono. Adalah benar bahwa rezeki sudah dijamin oleh Allah, namun, siapa tahu campaign ini merupakan salah satu rezeki Pak Hartono yang sudah Allah siapkan melalui pintu yang tidak disangka-sangka. Dengan membantu Pak Hartono, kita juga turut membantu empat jiwa lainnya, yakni istri dan ketiga anaknya. Juga karena saya percaya bahwa dari rezeki yang kita dapat, ada hak orang lain yang membutuhkan di sana. Mari bersama kita perkuat perjuangan Pak Hartono dengan cara sebagai berikut:

  1. Klik tombol merah "Beri Donasi"
  2. Isi data diri Anda
  3. Pilih cara berdonasi
  4. Transfer ke nomor rekening yang tertera

Itu saja belum cukup, karena kami masih butuh Anda untuk menyebarluaskan campaign ini agar ada lebih banyak lagi orang yang berbuat baik membantu Pak Hartono dan keluarga. Cukup dengan sebarkan ke rekan-rekan Anda dengan membagikan link campaign ini di media sosial Anda.

Jika ada yang ingin bertanya lebih lanjut, silakan langsung hubungi Instagram saya dengan username @scorpioritta.

Atas perhatian dan kemurahan hati teman-teman semua yang membaca campign ini, saya ucapkan banyak terima kasih. Semoga berkah Tuhan senantiasa menyertai Anda.


Salam,
Tiara


Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (951)