Kitabisa! - 7 Tahun Mengidap Hidrosefalus, Dini Butuh Bantuan
7 Tahun Mengidap Hidrosefalus, Dini Butuh Bantuan

7 Tahun Mengidap Hidrosefalus, Dini Butuh Bantuan

Rp 79.950.569
terkumpul dari Rp 300.000.000
538 Donasi 0 hari lagi

Cerita

Assalamu'alaikum, perkenalkan saya Fadil, mahasiswa semester akhir Jurusan Pendidikan Teknik Elektro UPI Bandung. Selain sedang menyelesaikan studi, saya juga berkhidmat di Masjid Agung Trans Studio Bandung sebagai staf IT dan Media.

Hari Selasa lalu, tepatnya tanggal 19 Desember 2017 saya menerima pesan WhatsApp dari ibu saya yang baru berkunjung ke salah satu rumah temannya sewaktu SMP. Begitu kagetnya saya, karena ibu saya mengirimkan sebuah foto dan video seorang anak yang sedang terlihat lemah tak bisa bergerak dengan ukuran kepala yang tidak normal seperti anak lainnya. Ibu bercerita bahwa anak yang ada di foto dan video tersebut adalah anak dari temannya, Pak Wardiana. Hati saya pun langsung tergerak ingin membantu Dek Dini

Anak yang sedang diuji sakit ini adalah Dini Safwa Yanfita, berusia genap 8 tahun pada tanggal 8 Desember 2017 lalu. Hari Ahad pagi, tepatnya 24 Desember 2017 saya bersama ibu saya baru bisa menjenguk Dek Dini di rumahnya yang merupakan tetangga jauh karena aktivitas yang begitu padat. Kami bertemu dengan Pak Wardiana, ayah Dek Dini. Setelah membuka percakapan, akhirnya Pak Wardiana menceritakan kondisi yang diderita anaknya dari sejak 7 tahun terakhir.

89702fd475bd0c4130cb804034fc0bca5baf5f90

Dek Dini dari sejak usia 5 bulan mengidap penyakit hidrosefalus, yaitu penumpukan cairan pada rongga otak atau yang disebut dengan ventrikel yang mengakibatkan ventrikel-ventrikel di dalamnya membesar dan menekan organ tersebut. Cairan ini akan terus bertambah sehingga ventrikel di dalam otak membesar dan menekan struktur dan jaringan otak di sekitarnya. Jika tidak segera ditangani, tekanan ini dapat merusak jaringan dan melemahkan fungsi otak. Pengobatan utama hidrosefalus adalah melalui operasi. Tujuannya adalah untuk membuang kelebihan cairan serebrospinal di dalam otak (alodokter.com).

Saat ini, Dek Dini hanya bisa berbaring, makan, minum, dan aktivitas kebutuhan dasar lainnya. Pak Wardiana menceritakan bahwa Dek Dini sudah menjalani tiga kali operasi, namun belum ada perkembangan yang signifikan. Bahkan, dokter di salah satu rumah sakit di Bandung menyatakan bahwa Dek Dini sudah cacat permanen. Maka, penanganan sementara yang dilakukan oleh Pak Wardiana dan istrinya adalah dengan cara berobat controlling ke dokter dan tidak menggunakan BPJS. Selain itu, jika Dek Dini terlihat merasa kesakitan, maka orang tuanya meminyaki bagian tubuhnya yang terasa sakit dengan minyak kayu putih sambil dipijit-pijit sampai rasa sakitnya mereda. Dalam sehari, Dek Dini sering mengalami kejang-kejang sampai 6 kali. Ketika orang tua Dek Dini bekerja, biasanya Dek Dini di rumah sendirian, tidak ada yang mengurus kecuali jika orang tuanya sudah pulang bekerja.

23394e469ef9f56d41af83e08c40857d17aa6dd7

Kondisi ekonomi Pak Wardiana tergolong sangat sederhana, profesi beliau sebagai Satpol PP di Kecamatan Cinambo, Bandung dengan gaji yang masih di bawah UMK, sedangkan istrinya sebagai karyawan pabrik. Kondisi ekonomi pasangan suami istri ini belum mampu membiayai anaknya berobat, bahkan operasi. Maka dari itu, uluran tangan dari para donatur sangat dibutuhkan. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk biaya pengobatan dan perawatan Dek Dini.

Demikian campaign ini saya buat selaku tetangga dari Dek Dini, semoga Allah subhanahu wata'ala membalas kebaikan pada donatur semuanya.

Info lebih lanjut:

0857 2014 6219 (Fadil: Telepon/WhatsApp) | @fadilisme92 (Instagram)

atau bisa mengunjungi alamat rumah Dek Dini:

Jalan Rumah Sakit No. 58 RT 02 RW 06 Kel. Sukamulya Kec. Cinambo, Bandung.

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (538)