Kitabisa! - Lampu Islam Peduli Banjir dan Longsor Rohingya
Lampu Islam Peduli Banjir dan Longsor Rohingya

Lampu Islam Peduli Banjir dan Longsor Rohingya

Rp 3.893.313
terkumpul dari Rp 10.000.000
28 Donasi hari lagi

Cerita

Assalamualaikum teman-teman, kami dari @lampuislam

Saat ini, kami ingin mengajak teman-teman semua untuk membantu saudara-saudara kita yaitu Etnis Rohingya yang sedang terkena musibah banjir dan longsor di pengungsian Bangladesh.

Banjir dan Longsor Terpa Kamp Pengungsian Rohingya

Banjir dan Longsor Terpa Kamp Pengungsian RohingyaSudah hampir sepekan, langit di Distrik Cox’s Bazar berwarna abu-abu. Sinar matahari tak ada yang masuk, sepanjang hari yang ada hanya mendung. Langit kelabu menjadi latar yang mendominasi. Berhari-hari warna langit kelabu menandakan badai monsoon sudah datang.

Artinya, kalau sudah mendung, hujan yang turun bukan lagi rintik sederhana. Monsoon membawa curah hujan yang luar biasa bagi Bangladesh.

Tak bisa dianggap sederhana, badai monsoon pun telah menjadi krisis baru bagi nyaris satu juta populasi pengungsi Rohingya. Sudah berjejalan di kamp-kamp terpal di pinggiran Bangladesh, krisis baru datang seiring dengan munculnya monsoon: bencana banjir dan tanah longsor.

Hujan lebat selama berjam-jam, bahkan bisa satu hari penuh tak kunjung berhenti. Sungai meluap, tanah yang dipijak menjadi lumpur. Badai monsoon di awal Juli 2018 menyapu kamp-kamp pengungsi Rohingya di Distrik Cox’s Bazar.

Mitra Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Bangladesh mengatakan, hujan deras dan angin kencang sudah terjadi sejak Rabu (4/7) kemarin. Kabar buruknya, hujan deras bertahan sepanjang hari, bahkan berhari-hari.

Imbasnya fatal. Kamp-kamp pengungsi Rohingya yang hanya terbuat dari terpal plastik tipis dan bambu yang diikat tali tak kuat menahan derasnya arus banjir. Puluhan kali insiden longsor dilaporkan menimbun beberapa kamp pengungsian.

“Setidaknya terjadi 89 kali kejadian banjir dan longsor karena hujan deras sejak 4 Juli lalu. Dari jumlah tersebut, termasuk 37 kali longsor di kamp pengungsian maha besar Kutupalong,” tulis Rahadiansyah, dalam laporan yang dirilis Global Humanity Response (GHR) - ACT.

Mengutip data lain yang dikeluarkan Badan Dunia untuk Pengungsi (UNHCR), lebih dari 900 shelter pengungsian, dan 200 toilet darurat di kamp Rohingya seantero Cox’s Bazar hancur disapu banjir.

Jalan-jalan setapak yang menghubungkan antara kamp pun hampir mustahil untuk dilewati. Dari gambar-gambar yang dikirimkan mitra ACT di Cox’s Bazar, jalur-jalur penghubung antar kamp berubah jadi lumpur.

Padahal bentuk kamp super besar Kutupalong itu berundak-undak di bukit-bukit. Di Kamp Kutupalong yang dihuni lebih dari 250 ribu jiwa pengungsi, tanah berubah jadi lumpur. Lumpur banjir memicu ancaman lain berupa longsor. Tanah ambruk dari atas menimbun apapun yang ada di bawahnya.

rohingya1.jpg

Satu anak Rohingya tewas tertimbun longsor

Kabar paling baru disampaikan dr. Emam Hosain, relawan medis ACT yang berbasis di Cox’s Bazar. Ia mengatakan, banjir dan longsor besar satu pekan terakhir mengakibatkan seorang anak Rohingya tewas tertimbun longsor.

“Kamis (5/7) kemarin, pukul 11.00 siang saya dihubungi oleh ketua komunitas kamp pengungsi. Ia mengabarkan ada empat orang pengungsi terdiri dari tiga perempuan dan satu anak-anak tertimbun longsor. Bencana itu terjadi kala hujan masih turun lebat. Timbunan lumpur besar jatuh ke bawah lereng di kamp pengungsian Balukhali Blok D,” ujar Emam Hosain.

Bocah Rohingya yang tewas tertimbun longsor itu bernama Farok, umurnya baru 2,5 tahun. Emam memaparkan, Farok adalah putra dari Abdus Sukur. “Korban terluka lainnya karena tertimbun longsor adalah Mariam Khatun (45), Samudra Khatun (35), Rokeya Begum (26), dan anak dari Rokeya bernama Umme Habiba berusia tiga tahun,” kata Emam.

Melansir media lokal Cox’s Bazar, Badan Meteorologi Bangladesh sudah mengingatkan bahwa musim hujan deras baru saja dimulai di awal Juli ini. Artinya, hujan lebat akan terus bertahan dalam beberapa pekan ke depan. Krisis bagi lebih dari 700.000 ribu pengungsi Rohingya baru saja dimulai.

“Anak-anak dan perempuan menjadi yang paling rentan terpapar dampak hujan dan longsor di kamp pengungsian. Banjir juga bakal memicu masalah baru berupa sanitasi yang tak terjaga, hingga akhirnya memancing merebaknya bakteri kolera,” kata Rahadiansyah dari GHR – ACT.

Upaya darurat merespons dampak bencana banjir dan longsor di kamp-kamp pengungsian Rohinga Distrik Cox’s Bazar, ACT akan memprioritaskan bantuan pangan dan medis.

“Insya Allah untuk bantuan darurat segera kami kirimkan bantuan pangan, suplemen, obat-obatan, selimut, dan pasokan air bersih,” pungkas Rahadiansyah.

Hingga hari ini, hampir sejuta Rohingya tinggal berhimpitan dalam tenda-tenda pengungsian tak layak, berbahan terpal tipis di wilayah Cox's Bazar. Catatan UNHCR, populasi seluruh pengungsi Rohingya hari ini di Cox’s Bazar telah mencapai angka 887.661 jiwa atau setara dengan 204.354 keluarga.

Sementara itu, jumlah tersebut termasuk 721.641 jiwa populasi pengungsi Rohingya yang datang pasca-eksodus besar-besaran bulan Agustus tahun 2017 lalu. []

#LetsHelpRohingya
#LetsACTIndonesia

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Donasi (28)