Kitabisa! - Pengantar Yang Telantar
Pengantar Yang Telantar

Pengantar Yang Telantar

Rp 4.275.946
terkumpul dari Rp 40.000.000
49 Donasi 0 hari lagi
Gerry Wijaya
Akun telah terverifikasi

Cerita

Pengantar yang Telantar

Sebuah kabar tiba dari Muhajir Juli ke grup WhatsApp Perkumpulan Awak Droe Only. Kisah tentang Marzuki (65), warga Gampong (desa) Pulo Kiton, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen, Aceh. Lelaki paruh baya itu sehari-hari mendulang nafkah sebagai pengemudi becak yang berpangkalan di sekitar BLUD Dr Fauziah, Bireuen. Setelah mendapat informasi awal, Muhajir Juli menyambangi kediaman Marzuki. Pemandangan yang menyesakkan dada menyambut. Dinding rumah bertambal sulam dengan material apa saja yang bisa digunakan untuk menahan hembus sang bayu. Tripleks bekas, papan sisa cor, bahkan terpal plastik, spanduk dan kardus juga 'terlibat'. Atap yang kebanyakan sudah mengangakan lubang besar di sana-sini bertambal kombinasi-rapuh antara anyaman daun kelapa dan rumbia, pasrah menentang keperkasaan cuaca. 

Di situlah sehari-hari Marzuki dan keluarga melabuhkan lelah, di sebuah bangunan yang sudah tidak layak lagi disebut rumah. Kerusakan ekstrem tampak disekujur bangunan. Kayu yang menjadi tiang dan papan yang menjadi tabir sudah tampak renta dan letih dimakan waktu. Jangankan untuk merenovasi rumah, penghasilan sehari-harinya saja makin tak menentu, sejak pasar induk telah berpindah ke tempat lain. Maklum saja, profesinya sangat bergantung pada sirkulasi penumpang yang sebelumnya padat di pasar induk lama. 

Beban hidup Marzuki dan populasi huniannya tak berhenti di situ. Naungan mereka memang relatif luas untuk ukuran penghuni kawasan kumuh di pinggiran Kota Juang. Rumah mereka memiliki tiga kamar tidur, sesuai dengan jumlah kepala keluarga. Lantai semen yang sudah bocel di sana-sini membecek tatkala hujan menerpa. Ventilasi seperti tak perlu ada, sebab rongga atap dan 'rongga nakal' di dinding selalu menyediakan udara yang cukup untuk menggigilkan tubuh, ketika angin pesisir berembus di keheningan dini hari. Saat hujan tiba, kehebohan hadir. Para penghuni selalu kelimpungan menggulung tilam, menutupi perabotan dengan lembar-lembar plastik yang sama-lusuh dengan nasib mereka. Tak ketinggalan segala kerepotan menampungkan ember-ember plastik di tiap lubang atap yang menghubungkan langsung langit dengan ruang hunian. 'Hebatnya' lagi, para penghuni melakukannya di tengah rewelnya rengekan dua balita yang terlalu dini mengenal duka.

Sejatinya rumah Marzuki berisi tiga kepala keluarga, bahkan ada satu kepala keluarga lain yang membangun naungan menempeli rumahnya. Ia hidup bersama dua putri yang berstatus janda, masing-masing telah memiliki anak pula. Kedua putrinya bekerja sebagai asisten rumah tangga, menjadi buruh cuci dan juru masak. 

Sudah berulangkali beberapa pihak melakukan pendataan beberapa tahun lalu tetapi tidak ada tindak-lanjut konkret. Menurut Geuchiek (kepala desa) Pulo Kiton, tidak ada alokasi dana untuk pembangunan rumah baru. Padahal, kebutuhan dana untuk membiayai penanganan masalah mereka terbilang kecil untuk ukuran bantuan yang tersedia. Walhasil, nama mereka tetap tak tercantum dalam penerima bantuan rumah dari Dana Desa, Baitul Mal, dan Dinas Sosial. Termasuk beberapa pihak lain yang membuat Marzuki sempat berbesar hati, meski akhirnya mendulang kecewa. 

“Cuma Jokowi saja yang belum datang!” tutur Marzuki saat Muhajir Juli menyambangi kediamannya. Tatapan nanar, mimiknya datar tanpa ekspresi. Seperti sudah kebas dengan janji. Gambaran keputusasaan dengan sekelumit harap tersisa. Kulitnya yang legam terlihat makin kusam diterpa mentari pesisir, juga debu jalanan yang menorehkan jejak dekil. 

Kesal bercampur pasrah tergambar samar dalam intonasinya. Kepasrahan tersebut pula yang melandasi keputusan Perkumpulan ADO dan beberapa donatur lain berinisiatif menggalang dana dari anggota grup, tanpa menunggu tindak-lanjut dari instansi pemerintah maupun lembaga lain yang pernah mendata; Sebab, cuaca tak mampu membaca duka Marzuki dan keluarga. Proses urun-dana berlangsung khidmat, dana terkumpul hingga Rp 7 juta. Jumlah ini berlebih untuk menangani kebutuhan awal –yang semula direncanakan  mengganti atap berlubang dengan seng saja. Ternyata, saat dibongkar, mayoritas bahan penyokong rumah sudah terlalu rapuh. Muncullah inisiatif lain untuk menggalang dana hingga cukup membangun setengah-bagian rumah yang materialnya sudah terlalu tak dapat diberdayakan lagi. Daya solidaritas Perkumpulan ADO sudah menggapai batas. Muncullah inisiatif untuk memperluas bantuan dengan menjalin jejaring pendanaan tambahan. KitaBisaDotCom menjadi pilihan karena memiliki sejarah dan reputasi pendanaan bantuan sosial yang melingkup wilayah Nusantara. Kami berharap, dukungan-tambahan dari KitaBisaDotCom dapat menanggulangi kondisi Marzuki yang selama ini telah babak-belur berjibaku dengan cuaca.

2b310537-2a89-4b2b-99a8-da7b71ee4022.jpg

9a981b86-afc1-4f66-b2f9-b80f24d6185c.jpg

3103a793-9eb9-42cb-9d9f-3cd795331d75.jpg

c307127e-63b4-4c32-9583-2e0aa5511271.jpg

1c30795f-8c71-4309-aa73-ce5ec884f824.jpg

9b18b4f9-56aa-4d81-8101-0d6d27349b44.jpg

1d5c42e3-0ad5-4d37-b140-4d320bf71d48.jpg

a7ccf0b5-4832-4191-a5bc-cc2aed10f81b.jpg

Progress proses pembangunan rumah Pak Marzuki setelah dilakukan urun-dana dari Anggota grup ADO :

76b55697-6ff7-466a-b926-84e9095eb4b6.jpg

2953f88e-1d8e-4f34-a799-7a77031445e6.jpg

6f8b5a13-b025-47a5-badb-e2e8d3ff5051.jpg

Dana yang terkumpul sampai saat ini ada sekitar 7 juta. Didapatkan dari urunan dana anggota internal grup ADO.

Estimasi masih membutuhkan dana sekitar 40 juta dikarenakan rumah Pak Marzuki sudah tidak bisa lagi direnovasi, tetapi harus dibongkar total.

RAB untuk pembangunan rumah Pak Marzuki : 

5d3126a8-d06e-4c44-95e5-c13937021f81.jpg
Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (49)