Kitabisa! - SabangMerauke 2016
SabangMerauke 2016

SabangMerauke 2016

Rp 42.420.261
terkumpul dari Rp 95.150.700
59 Donasi 0 hari lagi
Yayasan Seribu Anak Bangsa
Akun telah terverifikasi

Cerita

Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman budaya. Dengan jumlah penduduk lebih dari 250.000.000 orang yang terdiri atas sekitar 350 etnis suku dan 483 bahasa serta budaya, maka diperlukan toleransi untuk menghormati keberagaman tersebut. Bentuk negara Indonesia yang merupakan kepulauan dan luasnya wilayah Indonesia menyebabkan anak-anak Indonesia sulit bertemu dan mengenal keberagaman yang dimiliki satu sama lain. Saat ini banyak konflik dapat disebabkan oleh atau berhubungan dengan perbedaan etnis dan agama. Selain itu, bentuk geografis negara Indonesia tersebut juga menjadi tantangan untuk mengatasi kesenjangan hasil pendidikan dan sikap sipil, dari perbedaan kualitas guru untuk fasilitas pendidikan dan akses ke pendidikan tinggi dari setiap daerah.

Pada tahun 2025, Indonesia memiliki kemungkinan untuk mengalami bencana populasi (di mana para pemuda menjadi beban negara) atau bonus populasi (di mana para pemuda menjadi pilar penting untuk pembangunan Indonesia). Faktor pembeda untuk hasil adalah pendidikan. Pendidikan mempersiapkan pemuda dan anak-anak di Indonesia untuk dapat berpartisipasi dalam pembangunan Indonesia. Namun, pendidikan juga bisa menjadi bumerang bila tidak dilengkapi dengan nilai-nilai penting seperti keragaman, yang merupakan pusat eksistensialisme masyarakat multietnis di Indonesia.

SabangMerauke demikian relevan dan penting karena misi utama kami adalah untuk mengenalkan nilai keanekaragaman melalui sarana pendidikan yang inovatif, sehingga kaum muda Indonesia bisa menjadi berpikiran terbuka, aspiratif, dan menerima keberagaman, maka cocok untuk membangun masyarakat yang kohesif dan berkontribusi untuk pembangunan Indonesia.

SabangMerauke merupakan program pertukaran pelajar antar daerah di Indonesia yang bertujuan untuk menanamkan nilai toleransi. Selama 3 minggu, 15 anak terpilih dari berbagai daerah di Indonesia akan tinggal bersama keluarga yang berbeda, sehingga mereka bisa merayakan keberagaman, mendapatkan teladan tentang pentingnya pendidikan, dan menjadi bangga menjadi bagian Indonesia. Tiga nilai yang ingin ditanamkan oleh SabangMerauke adalah toleransi, pendidikan, dan ke-Indonesiaan.

Sejak tahun 2013, SabangMerauke telah mengundang 40 anak-anak terpilih dari berbagai daerah di Indonesia untuk tinggal bersama keluarga yang berbeda di Jakarta. Berikut ini merupakan gambaran dari pengalaman beberapa alumni kegiatan SabangMerauke dari tahun-tahun sebelumnya:

  • Cerita ASM (Adik SabangMerauke) Febri (ASM 2015), semenjak awal Januari 2016 sudah pindah sekolah ke Pekanbaru dan tidak tinggal bersama orang tua. Febri merasa bersyukur dengan pegalamannya selama program SM 2015, karena dengan pengalaman tersebut sekarang Febri bisa jadi lebih mandiri dan bertoleransi dengan teman-teman yang berbeda agama di sekolah barunya. Selain itu, Febri juga merasa semakin bangga menjadi anak Indonesia. Febri sempat ikut membantu mengajar di SD dan menjadi kakak mentor untuk salah satu anak autis hingga anak tersebut bisa membaca. Febri juga menjadi penulis cerpen disekolahnya, hasil karyanya dimuat di buku Celoteh.
  • Cerita KSM (Kakak SabangMerauke) Setelah Kak Rona Cahyantari M menjadi KSM 2013, Rona melanjutkan kegiatan relawannya dengan mengikuti program Pencerah Nusantara, untuk meningkatkan layanan kesehatan masyarakat di daerah terpencil di seluruh Indonesia. “Keyakinan saya bahwa setiap orang punya peran dalam membangun Indonesia tumbuh dari SM (SabangMerauke). Jujur melihat SM seperti melihat sebuah rumah yang isinya orang-orang bersinergi positif, dan saya terdorong untuk menyebarkan energi yang sama positifnya di PN (Pencerah Nusantara)”.
  • Cerita FSM (Famili SabangMerauke) Bagi Ibu Kenny (FSM 2015) menjadi FSM untuk Ansyori di tahun 2015 memberikan banyak pelajaran baru bagi Ibu Kenny. “Selama ini saya merasa sudah cukup bertoleransi terhadap orang lain. Ternyata, masih banyak hal yang perlu saya pelajari untuk menjadi lebih toleran. Dan toleransi memang harus dirasakan langsung, tidak bisa hanya diajarkan”. Menurutnya, menjadi FSM memberikan kesempatan besar bagi seluruh keluarganya untuk mengeksplorasi rasa saling pengertian dan hal-hal yang tidak disangka-sangka telah mereka miliki sebelumnya, seperti rasa ingin tahu, rasa ketertarikan untuk berkomunikasi dengan orang yang baru dikenal, hingga ketertarikan anak-anaknya untuk suka

Di tahun 2016 ini, SabangMerauke kembali mengundang 15 anak dari berbagai daerah di Indonesia untuk tinggal dan belajar di Jakarta selama 3 minggu. Kegiatan SabangMerauke 2016 akan dilaksanakan pada tanggal 6 – 27 Agustus 2016. Saat ini, kami membutuhkan dana untuk membiayai kedatangan para Adik SabangMerauke dari daerah asalnya ke Jakarta agar dapat mengikuti kegiatan kurikulum SabangMerauke 2016.

Untuk mengetahui tentang SabangMerauke lebih lanjut, dapat mengakses ke www.sabangmerauke.org atau dengan mengirimkan email ke [email protected]

Kami percaya bahwa toleransi tidak bisa hanya diajarkan, tapi harus dialami dan dirasakan. Mari ikut berkontribusi untuk mewujudkan toleransi di Indonesia dengan berdonasi untuk SabangMerauke 2016!

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (59)