Ekspedisi Menjemput Harimau Jawa Sanggabuana 2019
Ekspedisi Menjemput Harimau Jawa Sanggabuana 2019

Ekspedisi Menjemput Harimau Jawa Sanggabuana 2019

Rp 251.827
terkumpul dari Rp 51.400.000
3 Donasi 0 hari lagi


Cerita

Salam lestari,

Perkenalkan nama saya Agung Prabowo selaku koordinator Ekspedisi Pecinta Alam Indonesia (EKPAI) 2019 "Menjemput Harimau Jawa" di Kawasan Pegunungan Sanggabuana. EKPAI 2019 "Menjemput Harimau Jawa" di Kawasan Pegunungan Sanggabuana merupakan kegiatan tindak lanjut dari ekspedisi yang telah dilakukan di Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon. Kegiatan ini merupakan kegiatan kolaborasi antara beberapa organisasi maupun komunitas pecinta alam yang ada di Karawang.

Mari simak bersama apa yang melatbelakangi ekspedisi ini!

Perdebatan masih atau tidaknya Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) terus bergulir sejak IUCN menetapkannya terancam punah dan dinyatakan punah pada tahun 1973. Pernyataan selanjutnya didukung oleh WWF pada tahun 1996 setelah melakukan penelitian di TN Merubetiri dengan menggunakan kamera penjebak system injak. Tidak sedikit praktisi maupun akademisi ikut mengamini pernyataan ini. Apalagi foto sosok harimau Jawa tidak pernah ada setelah foto terakhir akhir tahun 1938.

Kondisi dilapangan, masyarakat pinggiran hutan masih kerap memperbincangkan keberadaan Harimau Jawa. Apakah karena ada warga melihat jejak, kotoran, cakaran, suara auman atau bertemu secara langsung. Tidak hanya masyarakat pinggiran hutan, ada cukup banyak orang di luar komunitas pinggiran hutan yang meyakini keberadaan Harimau Jawa. Diantaranya bahkan menyatakan bertemu langsung. Dan wilayah pertemuan atau bukti-bukti keberadaan Harimau Jawa tersebut tidak hanya di TN Meru Betiri sebagai kawasan konservasi yang ditetapkan sebagai habitat terakhir harimau Jawa. Tapi menyebar, dari ujung barat Pulau Jawa, Provinsi Banten sampai Ujung Timur.

Ekspedisi Harimau Jawa Kelompok Pencinta Alam pada tahun 1997 di TN Meru Betiri telah mengindikasikan Harimau Jawa belum punah. Berbagai temuan terdokumentasikan memperkuat berbagai data dan informasi keberadaan Harimau Jawa. Baik yang bersumber dari masyarakat pinggiran hutan, petugas pemerintah pengawas hutan, TNI, peneliti maupun pemburu binatang liar yang juga menemukan bukti-bukti keberadaan Lodaya atau Gembong.

Tidak sedikit aktifis lingkungan yang lebih memilih setuju pernyataan punah demi untuk melindungi keberadaan Harimau Jawa. Dengan pernyataan punah, Carnivor tersebut dapat bebas menjelajah habitatnya dengan aman dan berkembang biak. Namun argumen ini bertolak belakang dengan harapan. Perburuan Harimau Jawa justru menjadi lebih bebas. Tidak ada hukum berburu hewan yang sudah punah. Jika pun ada informasi perburuan, akan disebut sebagai mitos atau mengada-ada.  Kondisi ini  terbukti dengan terbunuhnya harimau jawa akibat perburuan dan terjebak tahun 2012 – 2014. Bukti fisik berupa kulit dan gigi harimau dapat terdokumentasikan langsung dari sumbernya.

Lebih jauh, anggapan punah selain akan mengabaikan berbagai data dan informasi yang berkembang, dapat berimplikasi pada hutan jawa sebagai habitat Harimau Jawa. Alih fungsi hutan akan mengalami percepatan dengan berbagai alasan. Pembangunan adalah kata sakti yang dapat diterjemahkan dengan berbagai bentuk kegiatan. Rencana pertambangan emas di kawasan Meru Betiri adalah salah satu contoh, bagaimana punahnya harimau Jawa dijadikan alasan tidak ada alasan mempertahankan kawasan konservasi karena yang dilindungi telah punah. Kondisi serupa juga dapat dilihat tumbuhnya pembangunan fisik pada kawasan hutan untuk meningkatkan daya tarik wisata. Tekanan terhadap hutan di Jawa Juga terkait target program penyediaan energi 35.000 MW melalui Panas Bumi dan PLTA, perluasan lahan-lahan pertanian dll.

Ekspedisi Harimau Jawa 1997 telah menorehkan kesan dan kesadaran Pencinta Alam akan peran strategisnya dalam melestarikan spesies dan habitatnya sebagai bagian dari sistem kehidupan yang berkeadilan. Paska Ekspedisi, proses pembuktian  terus dikembangkan di banyak wilayah. Berbagai Informasi dari berbagai sumber menjadi dasar ekspedisi lanjutan, baik skala kecil maupun besar. Dilakukan secara mandiri maupun dengan mendapatkan dukungan dari donatur. Tahun 1999 dilakukan ekspedisi lanjutan di kawasan gunung Slamet dan 2005 di Gunung Ungaran. Ekpedisi mandiri dilakukan di Kawasan Gunung Raung tahun 2012 dan Perbukitan Pembarisan Jawa Barat 2013.

Berbagai temuan perjalan selama lebih dari 20 tahun memperkuat keberadaan Harimau Jawa. Temuan-temuan tersebut terdokumentasikan melalui foto, cetak jejak melalui media gips, data rambut, fases maupun catatan-catatan lapang, buku dll. Foto dari video petugas TN Ujung Kulon pada 25 Agustus 2017 kembali mengangkat isu keberadaan Harimau Jawa. Sekalipun foto tersebut mengidikikasikan sebagai Macan Tutul dari ciri yang ada, namun menyisakan hipotesis lain tentang keberadaan Harimau Jawa. Selain, berbagai data dan informasi menempatkan TN Ujung Kulon merupakan salah satu habitat Harimau Jawa.  Sebagai habitat, TN Ujung Kulon telah dibuktikan dengan ditemukannya jejak kaki dengan ukuran 14 x 16 cm dan seorang anggota TNI menyatakan telah bertemu dengan harimau Jawa dengan yang dikuatkan dengan sumpah.

Sebagai bagian upaya perlindungan dan penyelamatan Harimau Jawa sebagai spesies dan habitatnya serta perlindungan atas hutan-hutan jawa untuk keberlanjutan kehidupan, menjadi strategis untuk memberikan ruang peran pencinta alam. Sebagai komunitas peduli lingkungan, pencinta alam telah membuktikan dengan berbagai peran, baik sebagai individu maupun kelompok dalam satu ikatan kode etik pencinta alam.

Pegunungan Sanggabuana berasaal dari “Sangga” yang artinya sembilan menandakan Wali sembilan dan “Buana” yang artinya tempat yang sering digunakan untuk berkumpul, dalam penyebaran agama Islam ke berbagai daerah seperti Cirebon, Garut, Pamijahan Tasikmalaya, Banten, Demak, Kudus dll. Status Kawasan hutan Sanggabuana saat ini berstatus kawasa Lindung sehingga perlunya pengendalian kawasan agar sesuai dengan status dan fungsi kawasan sebagai wilayah resapan air kabupaten Karawang.

Ekspedisi Menjemput Harimau Jawa Kawasan Pegunungan Sanggabana adalah bentuk kongkrit peran aktif pencinta alam dalam kontek mandiri melakukan upaya perlindungan dan penyelamatan lingkungan. Selain itu ekspedisi ini juga merupakan bentuk rencana tindak lanjut dari Ekpedisi Pecinta Alam Indonesia Menjemput Harimau Jawa yang diadakan di Taman Nasional Ujung Kulon pada tahun 2018. Ekspedisi yang akan dilakukan kali ini yang akan dikemas dalam manajemen kolaborasi antara beberapa organisasi dan komunitas pecinta alam yang ada di Karawang. Selain sebagai cara memperkuat data dan informasi lapang kebaradaan Harimau Jawa, juga menjadi bagian dari proses belajar, membangun kesadaran kritis serta memperkuat komitmen para pihak dalam melindugi berbagai aset penghidupan secara adil dan berkelanjutan.

Adapun rencana anggaran yang dibutuhkan dalam ekspedisi ini sebedar Rp 51.400.000. Adapun dana tersebut nantinya akan digunakan untuk membeli perlengkapan serta akomodasi peserta sebanyak 30 orang.

Mari bersama-sama berpartisipasi dan berkontribusi dalam kegiatan EKPAI 2019 "Menjemput Harimau Jawa" di Kawasan Pegunungan Sanggabuana!

Terimakasih, 

Salam lestari.

#savesanggabuana #menolakpunah

Disclaimer : Informasi dan opini yang tertulis di halaman campaign ini adalah milik campaigner (pihak yang menggalang dana) dan tidak mewakili Kitabisa.
Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (3)