Kitabisa! - Bantu Selamatkan Mata Lavina
Bantu Selamatkan Mata Lavina

Bantu Selamatkan Mata Lavina

Rp 186.140.317
terkumpul dari Rp 200.000.000
1359 Donasi 0 hari lagi
Rifa Fauziyah Maghfirah Maulani
Akun belum terverifikasi
Bagian dari Relawan ACT

Cerita

Halo #orangbaik, saya Rifa Fauziyah, mahasiswi Fikom Unpad yang lagi magang di ACT (Aksi Cepat Tanggap) Jabar. Aneh memang, terlebih di saat teman-teman saya yang lain banyak magang di perusahaan pada umumnya saya lebih memilih magang di lembaga kemanusiaan, alasannya ya, karena saya memang ingin dan saya pun punya ketertarikan pribadi terhadap isu-isu kemanusiaan, semisal, yang terkenal itu isu Rohingya, isu Somalia, isu bencana alam, dan lain-lain yang memang ACT sudah berpengalaman dalam hal tersebut. Di sisi lain rasanya saya nggak bisa tenang kalau hidup saya hanya dihabiskan untuk cari profit semata, atau cuma sedekah (sedikit pula) saat saya tahu orang lain kelaparan, sakit, terusir. Ini mungkin bisa menjadi pemberat amal baik saya kelak di hari akhir, kalau saya pernah menyumbangkan tenaga dan pikiran saya.

Saya tahu, orang yang hidup dalam situasi pahit berkepanjangan itu banyak. Tapi semenjak saya gabung di ACT, saya baru tahu kalau orang-orang yang mengalami hal tersebut ternyata sebanyak ini.

Saya ceritakan salah satu yang terdekat. Sore tanggal 11 Juli lalu, saya buka grup Whatsapp ACT. Salah satu senior saya sesama relawan share foto anak kecil, sedang digendong ayahnya. Kepalanya bersandar lemah di bahu sang ayah, mata kanan anak itu memerah dan bengkak sebesar bola pingpong. "Itu anaknya teman komunitas saya, nama anaknya Lavina" kata senior saya.

Sehari kemudian (Bandung, 12/7/17), saya dan rekan-rekan lain di ACT memutuskan untuk mengunjungi rumahnya. Awalnya saya tidak terlalu tergerak saat pertama kali lihat foto Lavina. Tapi setelah saya ketemu langsung, kondisinya lebih membuat terhenyak dibandingkan yang saya lihat di foto. Nana (panggilan sayang keluarga) hanya terkulai lemas di tempat tidur, menangis sesenggukan dengan tarikan napas begitu dalam, seolah memohon agar rasa sakitnya dihilangkan.

Saya juga baru tahu kalau ternyata Nana adalah buah hati yang kehadirannya sudah ditunggu-tunggu Kang Luky (profesi ojek online) dan Teh Yani (ibu rumah tangga) selama 6 tahun. Kista yang diderita Bu Yani membuat mereka terancam tidak dapat memiliki momongan. Setelah berjuang melewati operasi pengangkatan kista, akhirnya impian untuk memiliki buah hati pun terwujud. Ironisnya, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Tiga bulan setelah kelahirannya, Nana divonis mengidap tumor mata.

“Awalnya matanya keliatan herang (berkilau) kaya mata kucing. Mulai muncul benjolan, makin lama makin menonjol sampai sebesar bola pingpong.”

Saran dokter, harus segera dilakukan operasi pengangkatan kedua bola mata agar seluruh tumor Nana terangkat. Keluarga pun menolak, karena tak sanggup membayangkan masa depan sang anak tanpa kedua bola mata. Akhirnya berbagai macam ikhtiar dilakukan oleh Kang Luky dan istri mulai dari menempuh jalur medis hingga pengobatan alternatif. Namun tumor di mata Nana terus bertumbuh sampai akhirnya di usia 1 tahun 6 bulan Nana terpaksa dioperasi. Bahkan sang Ibu saking tak tega melihat kondisi Nana yang selalu menangis kesakitan sempat memohon kepada pihak rumah sakit, “Dok, bisa nggak diganti sama mata saya? Biar saya aja yang buta, anak saya yang sehat..” Namun apa daya, ternyata dalam dunia medis tidak semudah seperti yang dibayangkan. Mata kanan Nana pun diangkat dan digantikan dengan bola mata palsu.

“Setelah operasi kondisinya sedikit membaik, mata kanannya kempes, yang kiri sudah mulai bersih. Tapi sebulan pasca operasi, anak tuh tiba-tiba panas. Udah panas itu susah makan, susah BAB. Waktu malam gatau sorenya, mata palsunya lepas, jatuh ke bawah. Ibunya cari-cari ngga ketemu. Dibawa lagi ke rumah sakit, katanya iritasi kulit. Jadi dikasih obat, dibawa pulang, nggak bisa langsung pasang mata palsu lagi karena matanya membengkak kembali.” ujar paman Nana. Hingga saat ini, Nana kerap muntah setiap kali makan lebih dari 1 suap. Akibatnya, badannya menjadi kurus dan lemas, hingga yang tersisa hampir tinggal tulang berbalut kulit.

Sampai saat ini segala upaya terus dicoba oleh pihak keluarga, mulai dari pengobatan secara medis hingga pengobatan alternatif serta rekomendasi untuk kemoterapi. Sekedar mengandalkan biaya BPJS pun tidak memungkinkan, karena BPJS hanya menutupi separuh biaya pengobatan, dan separuhnya lagi terpaksa harus ditanggung oleh keluarga. Tapi apa daya, kondisi ekonomi keluarga tidak memungkinkan untuk berbuat banyak.

Layanan BPJS yang diterima Nana pun tidak bisa dilakukan sesegera mungkin karena antrian yang cukup panjang, belum lagi penolakan dari beberapa RS spesialis mata karena ruangan penuh dan sebagainya sempat membuat keluarga kecewa karena Nana membutuhkan penanganan yang cepat.

Pemeriksaan medis terakhir menyatakan, tumor di mata Nana sedang dalam kondisi aktif kembali. Mata kanannya kembali membengkak, dan menurut dokter mata kirinya sudah tidak dapat melihat akibat tertutup tumor. Jika dibiarkan, Nana terancam kehilangan satu-satunya mata yang tersisa. Kemoterapi menjadi harapan Nana nyelamatkan mata kirinya.

Saya pikir, nggak perlu alasan apapun buat kita untuk bantu Nana. Kenyataan bahwa saya manusia, kita manusia, itu sudah cukup untuk bikin hati kita tergerak untuk tidak membiarkan Nana berjuang sendirian.

Jadi, saya mengajak kamu untuk ikut bantu Nana secepatnya agar Nana bisa melihat indahnya dunia kembali, lewat donasi di kitabisa.com. Tidak ada kontribusi yang terlalu kecil. Kamu juga bisa ikut bantu dengan sebarkan info ini seluas-luasnya, supaya semakin banyak #orangbaik yang tahu. Jangan lupa berdoa untuk Nana juga ya!

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (1359)