Kitabisa! - Sepatu Sekolah Untuk Waingapu
Sepatu Sekolah Untuk Waingapu

Sepatu Sekolah Untuk Waingapu

Rp 23.370.615
terkumpul dari Rp 30.000.000
142 Donasi 0 hari lagi
Team AWU (Aware of Waingapu)
Akun belum terverifikasi

Cerita

Story Video Siswa-Siswi SD Masehi Pau, Melolo, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur

“Ayo ikut kita Kaka e !”

“Kemana adik?”

“Ke Sekolah”

Kamipun mengikuti langkah kaki kecil mereka berlarian menuju SD Masehi Pau, Waingapu, Sumba Timur. Ya, langkah kaki kecil yang sebagian benar-benar tanpa alas dan sebagian lagi menggunakan sandal jepit.

Bagi kami semangat mereka pergi ke Sekolah sebenarnya tak cukup dibayar dengan kado sepasang sepatu baru. Tetapi setidaknya sepasang sepatu yang akan kita berikan nantinya dapat melindungi kaki mereka dari kontur tanah berbatu Sumba, kotoran hewan ternak ditanah dan panasnya tanah Sumba.

Betapa mereka memandang sepatu yang kami pakai adalah barang mewah saat di hari itu, hari dimana kami bertekad untuk kirimkan sepatu sekolah kepada adik-adik kami di SD Masehi Pau yang punya semangat belajar sangat tinggi meski harus berjalan kaki cukup jauh untuk menuju sekolah.

Bulan Oktober 2016 adalah waktu dimana kami berkesempatan berkunjung ke Sumba Timur. Kami Team AWU (Aware of Waingapu) terdiri dari 20 orang pemuda (Yuwi, Made Basudewa, Nugrahening Ari, Ari Ashari, Yohanes Derry, Eliza Techa, Gema Gempita, Thio A. Prasetya, Resi Fauziyah, Yusuf Cahya, Gayuh Jatu, Jibril Dewantara, Ragil Satriyo, Susmita, Narayana, Muh Rafly, Satya Widyana, Raditya Sanjaya, Yuris Rezha, Brian Sahar) yang berasal dari beberapa provinsi di Indonesia mendapatkan tugas dari Kementerian Koordinator Maritim dan Sumber Daya Republik Indonesia untuk berekspedisi menggunakan Kapal Awu menuju Sumba Timur.


Tim AWU (Aware of Waingapu)

Demi matahari Sumba yang tak pernah ingkar janji mengiringi langkah kaki anak Sumba pergi ke sekolah menjemput impian, suatu hari nanti kami akan kembali - Team Awu (Aware of Waingapu)

Sebelum suatu hari kamu berkunjung ke Sumba, bisa jadi kebaikan kamu akan sampai lebih awal di Sumba. Ijinkanlah kami mengajak kamu ikut mengiringi langkah kaki anak Sumba pergi ke Sekolah.

Pada siang hari itu, kami baru selesai melakukan kegiatan di sekolah. Bagi kami yang sering berada di ruangan berpenyejuk, tidak sengaja terucap keluhan dari mulut kami,

“Panas sekali pengen cepetan sampai rumah rambu (tempat kami menginap di sana)”.

Tapi malulah kami, ketika melihat adik-adik kami yang berjalan bersama kami sepulang sekolah ternyata hampir semuanya tidak bersepatu. Padahal teriknya matahari Sumba di siang hari cukup menggambarkan panasnya tanah yang kami pijak.

Dana yang terkumpul dari campaign ini akan kami belikan sepatu sekolah dan kami kirimkan ke Melolo, Waingapu, NTT. Besar harapan, tak sekedar alas kaki yang dapat kita semua berikan untuk mereka tetapi alas tumpuan semangat bagi adik-adik kita agar lebih giat lagi dalam belajar untuk menggapai impian.

Suka cita adik-adik kami di sana dalam menuntut ilmu bahkan lebih mahal harganya dibanding sepatu yang akan kita hadiahkan tetapi alangkah berartinya pemberian ini nantinya sebagai tumpuan mereka berjuang demi masa depan yang cerah untuk Bangsa ini.

Mari kita bergandeng tangan memelihara semangat adik-adik kita di Waingapu. Karena kami adalah kamu. Klik dan sebarkan lingkaran kebaikan inihttps://m.kitabisa.com/sepatuuntukwaingapu

Kupersembahan cerita yang akan mengantarkan kado di awal tahun yang baru untuk kalian adik-adikku, Permata Sumba, Pelita Bangsa Indonesia.

Kisah Dullah Si Penggembala Kuda Sumba

Mentari sudah menyongsong tinggi seperti semangat Dullah dan kawan-kawannya. Ke sekolah memanglah menjadi suatu kewajiban untuk mereka, lengkap dengan seragam dan atributnya. Rutinitas ini sama dengan daerah di Indonesia bagian manapun. Tetapi masalah alas kaki ini yang membedakan sekolah ini dengan sekolah yang lain. Bersepatu disini adalah bukan kebutuhan primer, melainkan suatu kebutuhan yang mewah bagi mereka. Sandal adalah sepatu di sekolah mereka.

a76450253afbf30d8bb5c63a168693b0a86141c7.png

“Hai kakak e !”

“Hai adik. Siapa adik punya nama?”

“Dullah kaka!”

Kami mulai menyapa dan mengakrabkan diri . Dia adalah Dullah, bocah 12 tahun yang duduk di kelas 6 SD Masehi Pau. Saat itu kami bertemu Dullah sepulang sekolah sedang menggembalakan kudanya, masih berseragam putih merah dengan tubuhnya yang kurus tinggi dan kaki yang tak beralaskan apapun. Padahal teriknya matahari Sumba siang itu menggambarkan betapa panasnya juga tanah yang kami pijak.

(Dullah baru saja pulang sekolah, masih berseragam, tapi kemana sepatu dia?)

Hari kedua kami bertemu Dullah lagi, kali ini ia bersama teman-temannya. Mereka berjalan sambil menenteng sandal jepit ditangan. Pemandangan anak-anak sepulang sekolah menenteng sandal jepit membuat kami terheran- heran. Kamipun bertanya:

“Eh Dullah, kenapa kok sandalnya ditenteng?”

“Iya kakak e, biar besok waktu digunakan ke sekolah lagi tidak kotor e.” Jawaban polos dari bibir Dullah yang lugu.

“Kenapa Dullah tidak pakai sepatu saja ke sekolah? Jejal pertanyaan kami kepadanya.

“Kaka, saya tidak ada sepatu. Sepatu saya sudah tidak muat lagi. Kemarin terakhir dibelikan bapak saya ketika saya masuk di kelas satu sebagai hadiah. Tapi sekarang sudah tidak muat lagi dipakai.”

Di tengah terik matahari Sumba kami merasakan sambaran petir siang bolong di hati kami. Kini kami berubah pemikiran kami bahwasanya sepatu adalah hal yang istimewa.

Dullah cukup mewakili teman-temannya menjelaskan bahwa semangat anak-anak Sumba pergi ke Sekolah meski hanya beralaskan sandal jepit tak kalah hebat seperti semangat anak-anak di Jawa. Di mana pulau yang mereka dambakan untuk dikunjungi.

“Kaka e, ajak Dullah ke Jawa”

“Kenapa Dullah ingin pergi ke Jawa?”

“Untuk Sekolah, supaya bisa jadi seperti kaka e”

Di hari-hari terakhir di Sumba kami mengetahui bahwa Dullah adalah anak yang gigih dalam mencapai apa yang ia cita-citakan. Untuk pergi ke sekolah saja belum semua anak-anak di Waingapu dan orangtua punya kesadaran. Ada beberapa anak yang sehari sekolah sehari tidak. Pernah suatu hari kami melihat Dullah menyemangati adiknya sendiri:

“ Adik besok harus pergi ke sekolah, besok kaka e belikan sepatu untuk sekolah”

Padahal kami tahu dari cerita Dullah bahwa membeli beras untuk makan sehari-hari saja harus menunggu kain tenun mamaknya terjual (belum tentu seminggu sekali) apalagi untuk beli sepatu di Kota.

Kami Tim Aware of Waingapu (AWU) mengajak teman-teman untuk berdonasi dan menyebarkan campaign #SepatuWaingapu. Dullah dan teman-temannya di Waingapu Sumba Timur sangat pantas mendapatkan kado sepasang sepatu. Selain untuk melindungi kaki mereka dari teriknya matahari Sumba dan menghindarkan dari penyakit kulit atau penyakit lainnya yang tertular melalui tanah, hal ini juga salah satu bentuk dukungan kita semua untuk menyemangati mereka dalam mewujudkan mimpi-mimpinya.

Kami mengajak teman-teman untuk mengirimkan kado sepasang sepatu untuk mereka. Yuk bantu Waingapu bersepatu dengan sedikit berbagi melalui :

1. Klik https://ktbs.in/qmk2u
2. Klik *"donasi sekarang"*
3. Isi data diri (bisa anonim) dan pilih cara pembayaran
4. *Transfer ke no rekening yang dipilih*, jangan lupa dengan kode uniknya
5. Bantu *share informasi ini* ke lingkaran terdekat kita

Narahubung: Brian Sahar (081286910815)

Semoga niat tulus kita dapat menambah senyum di wajah adik-adik Waingapu.

#SepatuWaingapu

NB: Kami menerima donasi secara langsung melalui anggota tim kami :

- Bali : Dewa (087861806081)
- Lampung : Gema(085769737771)
- Malang : Jibril(+6282336611770)
- Jakarta : Derry(082298809918)
- Surabaya : Susmita(085755104795)
- Mojokerto : Ragil(081260618166)
- Jogjakarta : Thio (08981187529)
- Solo : Brian Sahar (081286910815)
- Semarang: Gayuh (085640010110)

Terimakasih
Salam hangat,
Team AWU (Aware of Waingapu)

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (142)