Kitabisa! - Napak Tilas Raja Ashoka, Membuat 100.000 Stupa
Napak Tilas Raja Ashoka, Membuat 100.000 Stupa

Napak Tilas Raja Ashoka, Membuat 100.000 Stupa

Rp 24.854.355
terkumpul dari Rp 1.590.000.000
98 Donasi 0 hari lagi
Johnson Khuo
Akun telah terverifikasi

Cerita

Nama saya Johnson, lulusan Teknik Informatika ITB, Bandung. Semasa kuliah saya sering aktif di berbagai kegiatan sosial keagamaan baik di lingkungan Keluarga Mahasiswa Buddhis di kampus maupun di lingkungan muda-mudi vihara.

Kemudian setelah lulus, saya terjun ke dunia profesional yang cenderung kapitalis. Saya bekerja di salah satu dari bank swasta terbesar di Indonesia. Saya bahkan pernah cukup beruntung untuk memperoleh pengalaman bekerja di salah satu kota pusat finansial terbesar di dunia, yaitu London.

Selama sepuluh tahun saya berkecimpung di rutinitas dunia perkantoran, semakin saya merasa bahwa perlu ada sesuatu yang perlu dilakukan untuk mengimbangi kesibukan duniawi yang cenderung sangat memikat dan magnetis namun di sisi lain juga sangat rentan terhadap rongrongan hal-hal yang bersifat negatif, seperti: ambisius, mudah marah, tersinggung, cemburu, kebohongan, manipulasi dan sebagainya,

Sebagai seorang Buddhis, saya percaya karma dan bagaimana karma mempengaruhi lika-liku hidup di dunia ini. Negativity dalam hidup ini perlu disiasati sedemikian rupa sehingga dapat terimbangi atau bahkan dikalahkan oleh timbunan energi-energi positif (kebajikan) yang banyak. Dalam Buddhisme, diajarkan bahwa ada empat faktor yang dapat dilakukan untuk mengimbangi / melawan hal-hal negatif yang telah kita lakukan, yaitu:

  1. kekuatan penyesalan yang mendalam,
  2. menerapkan antidote yang berlawanan dengan hal negatif yang telah terjadi seperti meditasi, pradhaksina, bernamaskara, membuat stupa, membuat patung Buddha, dan berbagai aktifitas penghimpunan kebajikan lainnya,
  3. tekad untuk tidak mengulangi, dan
  4. basis perlindungan yaitu Triratna: Buddha, Dharma dan Sangha.

Terkait dengan hal ini, ada sebuah kisah nyata yang sangat inspiratif dari Raja Ashoka yang Agung. Saya coba share di sini

**********

Ashoka yang Agung adalah raja penguasa Kekaisaran Gupta dari 273 SM sampai 232 SM.


Ashoka adalah putra maharaja Maurya. Diceritakan bahwa Ashoka sebelumnya adalah seseorang yang memiliki temperamen yang sangat buruk dan kejam. Ashoka memenangkan perang dengan membunuh saudara-saudaranya dan bahkan ratusan ribu jiwa prajurit menjadi korban perangnya.

Namun, satu hari setelah perang usai, Ashoka menjelajah kota dan yang bisa dilihat hanyalah rumah-rumah yang terbakar dan mayat-mayat yang bergelimpangan di mana-mana. Hal ini membuatnya muak dan sangat menyesal. Ia kemudian berteriak dengan kata-kata yang menjadi termasyhur: "Apakah yang telah kuperbuat?" Kekejian penaklukan ini akhirnya membuatnya memeluk agama Buddha. Sejak saat itu Ashoka, yang sebelumnya dikenal sebagai “Ashoka yang kejam” (Canda Ashoka) mulai dikenal sebagai sang “Ashoka yang Saleh” (Dharmâshoka).

Sejak itu juga dan selama sisa masa pemerintahannya, ia menganut kebijakan resmi anti-kekerasan ahimsa. Bahkan penyembelihan dan penyiksaan sia-sia terhadap hewan pun dilarang. Ashoka juga mempromosikan konsep vegetarianisme. Rakyatnya diperlakukan secara sama, apapun derajat, agama, haluan politik, ras, sukubangsa dan kasta mereka. Kerajaan-kerajaan di sekeliling wilayahnya yang sebenarnya mudah ditaklukkan ia buat sebagai sekutu yang terhormat. Ashoka kemudian mendefiniskan prinsip-prinsip dasar dharma sebagai tindakan anti-kekerasan, toleransi terhadap semua sekte atau aliran agama, dan segala pendapat, mematuhi orang tua, menghormati para Brahmana, guru-guru agama dan pandita, baik hati terhadap kawan, perlakuan manusiawi terhadap para pembantu, dan murah hati terhadap semua orang.

Sebagai seorang Buddhis, Ashoka percaya bahwa Buddhisme adalah bermanfaat untuk semua manusia, hewan dan bahkan tumbuhan. Ashoka membangun banyak sekali stupa, vihara dan tempat tinggal untuk para biksu di berbagai penjuru Asia Selatan dan Asia Tengah. Berdasarkan teks Ashokavadana, diceritakan bahwa Beliau bahkan membangun 84.000 stupa untuk menyimpan relik Buddha. Ashoka juga mendorong para biksu untuk menuliskan karya-karya Buddhis dan mendukung berbagai biara besar di India, antara lain Nalanda dan vihara Mahabodhi.

Tidak hanya itu, Ashoka juga suka mengundang filsuf-filsuf Buddhis maupun non Buddhis untuk berdiskusi. Beliau juga senang berdana kepada pihak-pihak non Buddhis.

Kata-kata Ashoka yang terkenal dan banyak ditemui di prasasti-prasasti adalah sebagai berikut "Semua orang adalah anakku. Aku seperti ayah mereka. Seperti seorang ayah menginginkan kebaikan dan kebahagian untuk anaknya, aku ingin supaya semua orang selalu bahagia."

Seorang penulis berkebangsaan Inggris, H.G. Wells, menuliskan bahwa, "Dalam sejarah dunia, ada ribuan raja dan kaisar yang menyebut diri mereka sendiri ‘Yang Agung’, ‘Yang Mulia’ dan ‘Yang Sangat Mulia’ dan sebagainya. Mereka bersinar selama suatu waktu yang singkat, dan kemudian cepat menghilang. Tetapi Ashoka tetap bersinar dan bersinar cemerlang seperti sebuah bintang cemerlang bahkan sampai hari ini." Ini dipercaya adalah berkat kekuatan dari berbagai energi positif (kebajikan) yang telah dihimpun oleh Beliau selama masa hidupnya,

********

Saya melihat bahwa Raja Ashoka benar-benar menerapkan secara serius keempat faktor untuk mengimbangi dan melawan kekejian yang telah terjadi sebelum Beliau akhirnya menjadi sadar. Dan hasil dari himpunan kebajikan Beliau pun masih dapat terasa sampai dengan sekarang.

Selanjutnya, saya menemukan sebuah program kebajikan yang dibuat oleh Kadam Choeling Indonesia (www.kadamchoeling.or.id) yang saya pikir dapat menjadi sebuah tools bagi saya dan juga teman-teman untuk mengikuti jejak langkah Sang Ashoka yang Agung, yaitu sebuah program pembuatan 100.000 stupa dan menyimpannya sebagai sebuah gudang energi positif yang diharapkan akan dapat menyokong kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia yang damai, bajik serta bijak untuk waktu yang selama-lamanya.

Membangun stupa memiliki manfaat yang sangat luar biasa, karena dapat memberikan jejak karma positif yang sangat kuat di dalam batin. Manfaatnya antara lain dapat menghasilkan kondisi-kondisi kelahiran kembali yang lebih baik, seperti lahir di keluarga yang kaya, memiliki tubuh yang bagus, suara yang indah, paras yang menawan, dapat membawa kebahagiaan bagi banyak orang dan bahkan dapat memiliki umur yang panjang. Dilihat dari perspektif yang lebih tinggi, kebajikan dari membuat stupa bahkan dapat membawa seseorang mencapai tingkat Kebuddhaan, dengan cepat.

Proses pembuatan stupa:

  1. Terlebih dahulu membuat patung Buddha Amitayus (manifestasi dari Buddha Amitabha yang dipercaya sebagai Buddha yang dapat menganugerahkan umur panjang) yang terbuat dari bahan gypsum yang dicetak ke dalam mold, berukuran kecil, kemudian dicat merah,
  2. Menggulung mantram-mantram yang juga dicetak dalam ukuran kecil,
  3. Patung Amitayus dan mantram dimasukkan ke dalam plastik
  4. Patung Amitayus dan mantram tersebut dimasukkan ke dalam stupa yang juga dibuat dari bahan gypsym dan dicetak menggunakan mold. Ukuran stupa: 10 cm x 10 cm x 20 cm (p x l x t).

Proses pembuatan patung-patung kecil seperti demikian juga dikenal dengan istilah tsa-tsa (dalam bahasa Tibet) atau stupika (dalam bahasa Indonesia), yaitu sebuahbentuk kerajinan pembuatan arca Buddhis tradisional yang berasal dari kerajaan Buddhis di wilayah pegunungan Himalaya. Di Indonesia, stupika diperkirakan telah dikenal pada abad VIII, yaitu banyak ditemukan di dalam stupa dan Candi-candi Buddhis. Ketika itu, stupika dibuat dari bahan tanah liat.

Untuk menyelesaikan proyek ini, diperkirakan diperlukan dana sebagai berikut:

  1. Biaya stupa: @ Rp 5.000 x 100.000 = Rp 500.000.000,-
  2. Biaya membangun rumah penyimpanan stupa-stupa kecil tersebut:
    1. satu rumah Rp109 juta untuk menampung 10.000 stupa
    2. dibutuhkan total 10 rumah untuk menyimpan 100.000 stupa
    3. sub total biaya untuk membangun rumah penyimpanan stupa: Rp 1.090.000.000,-
  3. TOTAL BIAYA: Rp 1.590.000.000,-

Lokasi penyimpanan stupa akan ditempatkan di Biara Indonesia Gaden Syeydrub Nampar Gyelwei Ling di Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Semoga ini bisa menjadi sebuah kesempatan bagi saya dan juga teman-teman untuk melakukan aksi nyata mengikuti teladan Raja Ashoka yang Agung dalam usaha fana kita mengimbangi dan melawan energi negatif yang senantiasa memenjara kita dengan sebuah aktifitas bajik yang istimewa.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Salam,

Johnson

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (98)