Kitabisa! - #PatunganTHR Untuk 3 Lansia Pejuang Gerlam Unpad
#PatunganTHR Untuk 3 Lansia Pejuang Gerlam Unpad

#PatunganTHR Untuk 3 Lansia Pejuang Gerlam Unpad

Rp 57.316.435
terkumpul dari Rp 9.000.000
389 Donasi 0 hari lagi

Cerita

Kampus Unpad Jatinangor memiliki beberapa kisah tentang perjuangan hidup tiga orang lansia yang kini dalam masa senjanya dan masih semangat bekerja untuk menyambung hidup. Meskipun dengan kondisi dan keterbatasan yang dimiliki, mereka tetap berjuang mencari rezeki yang halal setiap harinya.

Mengutip sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Baihaqi, Rasulullah bersabda “Seseorang yang memperoleh (harta) secara sah (halal menurut hukum), menyelamatkan dirinya dari minta-minta dan menunaikannya demi makan dan minum keluarganya dan menolong tetangganya akan berjumpa dengan Allah subhanahu wata’ala”. Aamiin Allahuma Aamiin

99dfe529be193a05dbcd196ca236e694d669b99c.png

Diantara kita mungkin banyak yang sering melihat mereka, tetapi tak banyak yang tahu detail kehidupan mereka. Yuk, kita simak kisah mereka…

1. Pak Odeh, begitulah masyarakat Jatinangor Desa Sukawening memanggilnya. Seorang lansia berumur 62 tahun ini berprofesi sebagai pencari barang bekas di Kampus Unpad Jatinangor. Pak Odeh sudah bekerja selama 18 tahun. Sebelumnya Pak Odeh sempat berprofesi sebagai Hansip, tetapi pada tahun 1994 nasib buruk menimpanya. Pak Odeh mengalami kecelakaan yang membuat salah satu tangannya harus diamputasi. Semenjak kejadian itu Pak Odeh beralih profesi menjadi pencari barang bekas atau biasa disebut pemulung. Pak Odeh memiliki enam orang anak dan saat ini tinggal bersama istrinya yang sedang sakit asma di sebuah rumah sederhana yang dibangun dari hasil bantuan.

Penghasilannya sebagai pemulung tidak menentu. Terkadang, Pak Odeh hanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp 30.000,00 – Rp 50.000,00 per hari. Meskipun demikian pak Odeh tidak menyerah begitu saja, di hari biasa beliau berangkat dari rumah pukul 5 pagi disaat orang lain mungkin masih tidur hingga pukul 8, kemudian pulang ke rumah dan dilanjut kembali pukul 12 siang hingga pukul 4 sore. Sedangkan ketika bulan Ramadhan seperti saat ini pak Odeh mulai bekerja dari pukul 7 sore hingga pukul 9 malam.

2. Pak Illa, seorang kakek tua penjual lap yang sering berjualan di sekitaran Gerlam (Gerbang Lama) Unpad. Di usianya yang sudah 90 tahun, seharusnya sudah bukan tugasnya untuk bekerja, namun hal ini tetap dipilih Pak Illa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya meski harus pulang pergi Majalaya-Jatinangor setiap harinya. Pak Ila tinggal sendiri karena isterinya sudah lama meninggal dunia. Pak Illa juga bekerja bukan karena paksaan tetapi atas kemauannya sendiri karena ia bosan jika harus diam di rumah saja. Dalam kesehariannya menjual lap, Pak Illa tidak mengambil untung banyak. “Berapa aja Abah mah, kadang bisa sampai 200 ribu, tapi nanti uangnya di setor” jelasnya. Pak Illa tidak menerima langsung keuntungan penjualannya, namun ada orang lain lagi yang mengaturnya. Ia pernah mencoba berjualan di pasar namun ternyata saingannya lebih banyak, akhirnya ia memutuskan untuk berjualan lap di sekitaran kampus.

Beberapa bulan yang lalu Pak Illa sempat tertabrak motor, hal tersebut mengakibatkan dirinya harus dirawat dan pendengarannya sedikit terganggu. Ditengah keterbatasannya itu, Pak Illa tetap berjualan meskipun jarak yang ditempuh dari rumah sampai kampus Unpad sekitar satu jam.

3. Lanjut ke sosok berikutnya, ia adalah Pak Umen, sosok tegar dan tak kenal lelah yang senantiasa hari demi hari duduk di Gerlam Unpad sambil memainkan alat musik Kecapi buatannya sendiri. Pak Umen senantiasa menyandungkan harmoni, senar demi senar yang ia petik dari kecapinya dengan memainkan lagu-lagu khas Sunda. Dibalik alunan indahnya, Pak Umen seharusnya tak bekerja lagi karena usianya yang sudah menginjak 76 tahun. Beliau juga seorang veteran kemerdekaan.

Namun, Pak Umen masih perlu bekerja walau penglihatannya sudah rabun untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Saat ini, Pak Umen hidup bersama istri dan anak bungsu yang masih kelas 4 SD. Pak Umen memiliki enam anak, 12 cucu, 8 buyut yang masih dalam tanggungannya bersama keluarga besar. Pak Umen yang tinggal di Majalaya, Kp. Legok Goong RW 07 RT 01 ini, rupanya mulai tahun 2001 menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk bermain Kecapi, mulai berangkat dari rumah pukul 8 pagi hingga pukul 1 atau 2 siang setiap harinya. Dia tidak bisa bekerja hingga sore hari karena jarak rumahnya yang jauh dan angkutan yang sulit ditemukan jika hari mulai gelap. Tempat tinggal Pak Umen sangat sederhana, dilapisi bilik dan kain sebagai pembatas ruang.

Penghasilannya dari memainkan Kecapi-nya tak menentu, namun dia tetap semangat bekerja seperti itu karena bermain Kecapi selalu mengingatkannya akan zaman dahulu ketika masih banyak manusia yang mencintai budaya aslinya sediri, dia juga bermaksud untuk terus mengenalkan budaya khas Sunda ke warga Jatinangor.

Itulah kisah perjuangan hidup mereka. Dengan kondisi yang sudah renta, 3 Lansia Pejuang ini tetap berpuasa di bulan suci Ramadhan sebagai wujud ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala. Di usianya yang sudah tidak lagi muda mereka tidak mau berhenti berjuang mencari rezeki halal yang sudah Allah sediakan di bumi ini. Mereka pantang minta-minta. Besar harapan mereka agar suatu saat nanti Allah mengubah takdir hidup mereka lebih baik lagi. Denis Diderot seorang penulis dan filsuf Perancis dalam bukunya mengatakan “ ..chaque individu de la meme espece a le droit d’en jouir aussitot qu’il jouit de la raison, yang kurang lebih maksudnya bahwa setiap individu manusia memiliki ruang dan hak yang sama dalam menikmati karunia hidup. Pak Odeh, Pak Ila dan Pak Umen hanya sebagian kecil dari para lansia di luar sana yang memiliki hak untuk menikmati hidup ini dengan layak. Tak seharusnya di masa senjanya ini masih berjuang menghadapi kerasnya kehidupan.

Maukah kita menjadi salah satu bagian dari orang-orang yang membuat mereka bahagia? Dan bisa mewujudkan harapan mereka #OrangBaik untuk hidup layak? Dukung campaign ini #PatunganTHR #3LansiaPejuang dengan menyalurkan donasi untuk mereka dan jangan pernah berhenti berbuat kebaikan sekecil apapun, kepada siapapun, karena ada orang yang tengah menanti uluran tanganmu.

Rencana Penggalangan Dana

Rp 9.000.000 untuk THR Pak Odeh, Pak Illa, dan Pak Umen sekeluarga.

Jika melebihi target akan dialokasikan untuk tabungan hidup, tabungan kesehatan, atau modal usaha Pak Odeh, Pak Illa, dan Pak Umen atau lansia-lansia pejuang hidup lainnya yang membutuhkan.

Cara Berdonasi:

1. Klik tombol berwarna merah “Donasi Sekarang”

2. Isi data diri (bisa anonim) dan pilih cara pembayaran

3. Transfer ke nomer rekening yang dipilih/isi form kartu kredit unuk pilihan kartu kredit

Terimakasih sahabat.

Salam,
Alumni Pelatihan Village of Change (VOC) Unpad

Narahubung: Herlina Loviga 082112017434

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (389)