Tuntaskan Pengobatan Para Penderita TBC Kebal Obat
Tuntaskan Pengobatan Para Penderita TBC Kebal Obat

Tuntaskan Pengobatan Para Penderita TBC Kebal Obat

Rp 2.111.659
terkumpul dari Rp 170.000.000
13 Donasi 70 hari lagi


Cerita

6291dd4d-100e-4ade-9b34-d0b2e8684596.jpg


Bismillah…

Assalamu’alaikum Wr, Wb.

Perkenalkan saya Ully Ulwiyah (32th), biasa dengan panggilan Ully. Saya adalah Ketua dari Yayasan Pejuang Tangguh TB RO Jakarta. Saya  seorang mantan penderita penyakit TBC Kebal Obat yang sembuh pada tahun 2013 lalu. Saat ini saya dan teman-teman mantan pasien, aktif dalam kegiatan pendampingan pasien TBC Kebal Obat di lima wilayah DKI Jakarta.

Saya dan teman-teman tergabung dalam satu wadah yaitu Yayasan PETA. PETA adalah singkatan kelompok  PEjuang TAngguh”. PETA merupakan wadah paguyuban pasien maupun mantan pasien TB Kebal Obat atau TB MDR yang berdiri sejak tanggal 12 Mei 2012. Bentuk kegiatan bermula dari pertemuan bulanan pasien, dimana ada sharing pengalaman dalam proses pengobatan diantara pasien dan kemudian didukung oleh paramedis dan dokter dari RS Persahabatan. Tujuan didirikannya PETA; memberikan motivasi, edukasi dan pendampingan kepada pasien TB MDR untuk tetap berobat sampai sembuh. Seiring dengan kebutuhan adanya lembaga yang formal akhirnya PETA membuat akta notaris sebagai Yayasan pada tanggal 12 November 2014.

Visi dan Misi ;

Visi Yayasan PETA yaitu 

“Terwujudnya PETA sebagai yayasan yang profesioanl dan sukses dalam memberikan dukungan psikososial yang efektif dan efisien bagi terduga dan pasien TBC,khususnya TBC Kebal Obat di Jabodetabek”.

Misi Yayasan PETA yaitu:

- Meningkatkan dukungan psikososial pasien TB, khususnya pasien TB RO

- Mencari inovasi-inovasi baru pada pengambangan program PETA

- Mengupayakan dukungan sumber-sumber dalam pelaksanaan program program PETA

- Mengembangan kemitraan PETA dengan organisasi pemasyarakatan, organisasi pemerintah dan dunia bisnis.

Di DKI Jakarta sendiri telah ditemukan kurang lebih 40.000 kasus TBC dan sekitar 1000 kasus TBC Kebal Obat

Dari sekian banyak pasien, ada Mulyadi (43), Dewi (28) dan Ujang (25) sebagai pasien TBC Kebal Obat di DKI Jakarta. Mereka mengalami kesulitan atau masalah setelah di vonis TBC Kebal Obat.

e54feba7-7f0c-440f-9085-82ef6699df01.jpg

Mulyadi (43), divonis dengan jangka waktu pengobatan TBC Kebal Obat selama 20 sampai 24 bulan. Setiap hari beliau harus datang ke Rumah Sakit (RSUP Persahabatan) untuk minum obat dan suntik. Mulyadi tinggal di wilayah Barat Jakarta seorang diri. Tidak memiliki tempat tinggal untuk menetap. Kehidupan Mulyadi sehari-hari dihabiskan tinggal di lorong gang. untuk kebutuhan ke kamar kecil dia harus mencari kamar mandi umum. Sedangkan kebutuhan lainnya dia mengandalkan belas kasihan dari warga sekitar. 

2c78fb45-81df-4aa8-9a59-e53fd825072b.jpg

Sebelum sakit, Mulyadi bekerja di bengkel sebagai mekanik mesin. Sakit yang diderita Mulyadi membuat ia tidak dapat bekerja seperti biasa. Penyakit dan pengobatan yang sedang dia jalani membuat tubuhnya tidak kuat untuk beraktivitas/bekerja. Efek samping obat yang membuat tubuh jadi tidak bertenaga. Akan tetapi semangat Mulyadi untuk sembuh sangat tinggi. Keinginan sembuh dan berdaya membantu teman-teman yang menderita penyakit yang sama menjadi niat utama. Sutar (44) sebagai pendidik sebaya tak pernah Lelah untuk memberikan support dan motivasi kepada Mulyadi untuk semangat menjalani pengobatan sampai sembuh.

2429e737-8859-478b-8567-826f18eec78b.jpg

 Sama seperti Mulyadi (43), keinginan sembuh juga sangat ingin diraih oleh Dewi (28). Ibu dua orang anak; Sidik (8) & Fauzi (2) ini menderita TBC kebal obat yang sangat kurang sekali dukungan keluarga. Ini dikarenakan kurangnya informasi dan edukasi mengenai penyakit TBC. Pada saat Dewi divonis penyakit TBC dan harus menjalani pengobatan yang sama dengan Mulyadi. Dukungan orang terdekat sangat dibutuhkan oleh dewi, tapi keberuntungan tidak berpihak pada Dewi, Suami yang seharusnya menjadi penyemangat, pergi meninggalkan dia dan anak-anaknya.

Dewi terpaksa mengasingkan dirinya dengan tidak tinggal bersama keluarganya, karna Dewi tidak mau membebani orang tuanya yang sudah membantu Dewi untuk mengurus anak-anaknya, Dewi terpaksa menitipkan kedua anaknya pada orang tuanya. Sebab, selain takut menularkan Dewi juga tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan kedua anaknya. Saat ini, Dewi tinggal di Rumah Singgah/Shelter yang di kelola oleh Yayasan PETA. Lokasinya cukup dekat dengan Rumah Sakit (RSUP Persahabatan) tempat Dewi berobat/minum obat. Disalah satu kamar rumah singgah, Dewi sehari-hari meratapi penderitaanya sendiri. Hanya pendampingnyalah pendidik sebaya (PETA) tempat Dewi berbagi, berkeluh kesah dan sekedar bercerita perihal rindu dengan kedua anaknya.

Kebutuhan sehari-hari, seperti makan dan susu, Dewi hanya mengandalkan bantuan dari teman-teman PETA. Meskipun keinginan Dewi bekerja sangat tinggi berulang kali Dewi menyampaikan keinginannya untuk menjadi buruh cuci. Kondisi fisiknya belum memungkinkan Dewi untuk beraktifitas berat sementara ini, melihat lama jangka pengobatannya dan Dewi baru menjalani dua bulan pengobatan.

c9743ecb-fd15-4832-a909-be7f22ceb0ce.jpg9b7649ff-2cd3-47ec-9beb-5cddd3b5ae9b.jpg

Kisah lain terjadi juga pada Ujang (25), divonis sakit TBC Kebal Obat oleh dokter membuat hati Bapak dari satu orang putra (1thn) hancur. Selain harus menerima di PHK dari tempat dia bekerja, tragisnya Ujang juga harus di usir dari rumah oleh istrinya dengan alasan takut tertular. Kini Ujang pun sama dengan Dewi tinggal di rumah singgah. Beruntung, Ujang masih memiliki kakak yang masih mau peduli dengan kondisi Ujang, meski begitu ujang tetap menjalani pengobatannya dengan berat. Efek samping obat yang di alami membuat Ujang harus menggunakan kursi roda untuk beraktifitas, mudah sesak, dan lemah. Selain fisik yang tidak baik, psikis Ujang pun terganggu karna kenyataan hidup yang dijalani tanpa sang istri.

Kisah di atas adalah tiga dari banyaknya permasalahan dalam kehidupan pasien TBC Kebal Obat di wilayah DKI Jakarta. Dengan cerita yang beragam menjadi jalan tersendiri bagi mereka untuk melalui pengobatan yang cukup melelahkan dan efek samping obat yang berat. Perlu diketahui, bahwa ada banyak faktor yang menyebabkan pasien mangkir pengobatan TBC kebal obat. Diantaranya adalah dukungan dari orang-orang sekitar, efek samping obat dan penanganannya, beban sosial ekonomi, serta stigma dan diskriminasi. Masyarakat awam belum memahami dan masih beranggapan ini adalah hal yang menakutkan. Betapa pentingnya edukasi yang diberikan kepada masyarakat serta peran serta pemangku kepentingan seperti RT, RW, Lurah, Camat, dan Kader Kesehatan Masyarakat agar tidak ada lagi penolakan bagi pasien TBC khususnya TBC Kebal Obat.

Peran serta elemen masyarakat sangatlah penting, mengingat Indonesia menjadi Negara dengan Beban TB tertinggi ke 3 dan TB kebal obat ke 7 di dunia.

Bantuan berupa materi maupun non materi sangat diperlukan oleh pasien TBC kebal obat. Dimana kerjasama dan koordinasi yang baik menjadi parameter kesembuhan pasien pada masa yang akan datang. Meskipun di lain sisi ada pula kisah pasien yang tidak mengalami kendala yang berarti dan mampu menyelesaikan pengobatannya dengan baik. Sehingga kami meyakini bahwa dengan melihat contoh/role model, pasien yang sembuh akan tertarik menjadi pendidik sebaya bagi pasien yang lain dan dapat membantu memberikan dukungan psikososial kepada pasien TBC Kebal Obat.

Wilayah DKI Jakarta menjadi perhatian khusus Dinas Kesehatan Provinsi dan Mitra dalam penanggulangan TBC
Kebal Obat. Kendala dukungan psikososial dianggap menjadi kunci sukses pengobatan TBC Kebal Obat. Melihat dukungan psikososial bagi pasien dengan TBC Kebal Obat mampu meningkatkan keberhasilan pengobatan. Mekanisme yang diharapkan Dinas Kesehatan yaitu melalui mekanisme kemitraan dengan LSM khususnya Yayasan mantan pasien TBC kebal obat (PETA) yang dinilai memiliki kapasitas dukungan psikososial  yang mampu untuk meningkatkan penemuan kasus pasien TBC kebal obat yang memulai pengobatan maupun yang dalam fase pengobatan dengan tujuan sembuh. Karena pendampingan dari mantan pasien dan pengalaman selama pengobatannya diharapkan mampu memotivasi pasien untuk memulai pengobatan dan menyelesaikan pengobatan.

PETA sebagai Yayasan mantan pasien di rasa mampu untuk memfasilitasi hal tersebut, dengan banyak kegiatan positif  seperti, melakukan kunjungan ke rumah sakit untuk melakukan KIE bagi pasien baru atau yang sudah pengobatan, berdiskusi dalam kegiatan FGD pada pasien yang sudah di pindahkan ke Puskesmas, mengumpulkan pasien dalam kegiatan sarasehan dengan tujuan agar pasien tidak merasa jenuh berobat, dan memberdayakan pasien sembuh dengan memberikan peningkatan kapasitas dalam kegiatan pelatihan pendidik sebaya dan training pasien berpengalaman agar pasien terlatih dapat menjadi mandiri dalam mengelola, mengaplikasikan dan berimplementasi untuk pasien itu sendiri dan masyarakat luas.

Terkait dengan proses di atas, sebagai Yayasan berbasis mantan pasien  bahwa sangat penting untuk memastikan pasien TBC Kebal Obat menjalani pengobatan serta mendapat kesembuhan dengan mudah.

Pasien butuh rumah singgah sebagai tempat yang layak untuk beristirahat bagi yang membutuhkan tempat tinggal sementara. Di rumah itu juga pasien dapat terjamin kebutuhan gizinya agar pasien dapat meminimalisir efek samping obat.

Dari sekian banyak pasien yang ada di Jakarta, banyak juga pasien yang kesulitan datang ke rumah sakit untuk minum obat karna tidak ada biaya transport, mengingat khusus bagi pasien TBC Kebal Obat harus setiap hari datang ke layanan kesehatan dan minum obat  di depan petugas kesehatan atau dokter. Beban ekonomi terjadi karna banyak pasien yang kesulitan bekerja karna efek samping obat dan di PHK. Setelah sembuh pun, ada beberapa orang yang pesimis untuk kembali bekerja. maka dari itu dirasa perlu memberikan modal usaha untuk mereka yang mau mengembangkan dirinya di dunia usaha.

 Untuk sembuh dari TBC Kebal Obat penderita juga harus sembuh dari keadaan sosialnya, seperti, tidak lagi ada stigma dan diskriminasi terlebih dari orang-orang terdekat, tidak di PHK dari tempat dia bekerja, tidak di tinggalkan oleh pasangannya, mendapat tempat tinggal yang layak, serta asupan makanan yang baik dan bergizi.

Campaign ini merupakan bagian dari fundraising program Yayasan Pejuang Tangguh TB RO Jakarta dalam hal pendampingan  dan pemberdayaan pasien TBC Kebal Obat di 5 kota  di DKI Jakarta.

Untuk info hub. Contact Person “Ully Ulwiyah” di 081298478887 dan Email : ulwi09ully03@gmail.com

Sebagai pendamping pasien saya ingin mengalang dana untuk membantu penunjang pengobatan pasien-pasien yang ada di wilayah Jakarta. Saat  ini biaya yang di butuhkan  senilai  Rp. 170.000.000,- (Seratus Tujuh Puluh Juta Rupiah) dan dana tersebut akan digunakan untuk :

  1.  Biaya kontrak rumah singgah pasien
  2. Transport ke Rumah sakit
  3. Beli makanan penunjang gizi
  4. Modal usaha bagi pasien TBC Kebal Obat

Untuk itu, sangat besar harapan saya akan bantuan dan doa para #OrangBaik, dengan cara:

1. Klik tombol “DONASI SEKARANG”
2. Masukkan nominal donasi
3. Pilih metode pembayaran GO-PAY, Jenius Pay, LinkAja, DANA, Mandiri Virtual Account, BCA Virtual Account, atau transfer Bank (transfer bank BNI, Mandiri, BCA, BRI, BNI Syariah, atau kartu kredit) dan transfer ke no. rekening yang tertera.

Tak hanya mendoakan dan berdonasi, saudara-saudara juga bisa membagikan halaman galang dana saya ini agar semakin banyak yang turut menemani perjuangan saya.

Terima kasih banyak, #orangbaik!

Disclaimer : Informasi dan opini yang tertulis di halaman campaign ini adalah milik campaigner (pihak yang menggalang dana) dan tidak mewakili Kitabisa.
Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (13)