Kitabisa! - Transplantasi Hati Untuk Wiji
Transplantasi Hati Untuk Wiji

Transplantasi Hati Untuk Wiji

Rp 175.744.041
terkumpul dari Rp 1.495.000.000
886 Donasi 0 hari lagi

Cerita

09042c21a2291036e294bb962cf1d2512d919588

Nama saya Sigit Purwanto (50). Pipin, lengkapnya Wiji Pinilih adalah anak saya. Saat ini Pipin butuh biaya transplantasi hati untuk menyelamatkan jiwanya.

Wiji lahir tanggal 17 Januari 2016, setelah berpuluh tahun kami rindukan kehadirnnya. Saya dan Rini Pujiastuti (50), istri saya, sepakat memberinya nama Wiji Pinilih. Wiji berarti biji atau benih dan pinilih berarti pilihan. Benih unggul pilihan Tuhan untuk dihadirkan di tengah-tengah kami. Sejak Wiji lahir, anak pertama saya, Amartya Zen (19) dan anak kedua saya Spartan (16) tidak betah di sekolah. Selalu ingin segera pulang bermain bersama adik bayinya. Saya malah jadi repot melindungi Wiji dari kejahilan kedua kakaknya.

Wiji sangat aktif bermain dengan benda-benda apa saja ditemuinya. Bermain selalu sambil mendengarkan lagu-lagu anak. Asal suara vokalis di lagi itu anak-anak, dia pasti suka. Tidak ada masalah kesehatan berarti pada Wiji. Perkembangan fisiknya luar biasa. Bongsor. Makan dengan porsi telalu banyak untuk ukuran anak-anak. Istri saya tiba-tiba menjadi ahli gizi dadakan mengatur komposisi bahan pangan dan memasak untuk Wiji. Padahal masakannya selalu nggak enak. Bukan masalah, toh Wiji lahap.

Sampai usia 2 tahun Wiji belum bisa mengucapkan satu kata pun. Beberapa hari setelah ulang tahunnya kami membawa Wiji konsultasi ke dokter anak di RS Moewardi Surakarta. Di sana Wiji didiagnosis lambat bicara (speech delay). Harus menjalani pemeriksaan telinga dan dijadwalkan menjalani tes BERA untuk mengetahui secara pasti keberfungsian syaraf pendengarannya.

Tanggal 20 Februari 2018, Wiji kami bawa ke RS Moewardi untuk menjalani tes BERA. Sebelum pelaksanaan tes, Wiji harus meminum obat agar tertidur. Saat meminum obat itu Wiji muntah darah. Warnanya merah kehitaman. Perawat dan dokter yang menanganinya segera membuat rujukan dan menganjurkan kami segera melapor ke dokter spesialis anak. Wiji terlihat pucat dan lemas saat itu.

Dokter spesialis anak menjelaskan WIji kekurangan darah. Harus opname agar terawasi perkembangannya dan diberi tindakan untuk membantunya bertahan. Hasil tes darah WIji menunjukkan HB-nya hanya 4. Sangat jauh dari jumlah normal anak usia 2 tahun, sekitar 12.

Semalam dirawat di RS Wiji lemas dan terbaring. Hanya matanya bergerak-gerak dan sesekali menggelengkan kepala. Tanggal 22 Februari Wiji empat kali BAB darah. Volumenya banyak sekali. Kira-kira setengah gelas setiap kali BAB. Kesadarannya menurun drastis. Matanya terbuka tetapi tidak merespon ketika pipinya disentuh. Istri saya menangis sejadinya. Saya? Saya lari ke kamar mandi, tidak akan keluar jika mata saya masih terlihat memerah.

Transfusi darah dilakukan untuk menolong nyawa Wiji. Tetapi gagal. Terjadi respon penolakan berupa demam tinggi. Transfusi kedua, juga gagal. Baru berhasil pada transfusi ketiga pada malam hari tanggal 23 Februari 2018. Parameter haemoglobin, trombosit dan albumin naik sedikit.

Agar lebih terawasi Wiji dipindah dari kamar perawatan biasa ke High Care Unit (HCU). Di situ perawat dan dokter berjaga 24/7. Sudah tidak terjadi BAB darah. Keadaannya membaik meski belum pulih total. Sudah merengek minta diputarkan video lagu anak kesukaannya.

Setelah menjalani USG, MRI dan endoskopi diketahui Wiji mengalami varicess esofargus, atau pecahnya pembuluh darah di atas lambung akibat terjadi penyumbatan pembuluh darah di hati. Varicess esofargus ini yang membuat Wiji muntah dan BAB darah. Setelah pembuluh darah menutup, aman. Untuk sementara. Akar masalahnya yang membuat kami jadi lemas.

Dokter dengan bahasa dingin tanpa perasaan menjelaskan bahwa varicess esofargus terjadi karena sirosis. Dokter ya memang harus begitu supaya tidak terjadi salah interpretasi. Lalu dokter melanjutkan, “Kecil kemungkinan sirosis disembuhkan dengan pengobatan. Satu-satunya jalan kesembuhan adalah transplantasi hati”. Jlerrrrrr………perasaan kami sulit dicarikan padanan katanya.

Tanggal 6 Maret 2018 Wiji pulang karena sudah tidak ada lagi upaya dapat dilakukan oleh RS Moewardi. Saat ini Wiji dirawat di rumah, Jengglong RT 2 RW 2, Kelurahan Bejen, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar. Dia sudah bisa bermain meski mudah lelah, perut menggembung dan wajh memucat. Dia ingin bermain sepanjang hari sambil menunggu peluang transplantasi hati untuk membantunya tetap hidup dan tumbuh optimal sebagaimana anak-anak lainnya.

Transplantasi hati Wiji harus dilakukan segera sebelum kemampuan hati menopang metabolisme tubuhnya berada di titik paling lemah. Transplantasi bisa dilakukan di RS Cipto Mangun Kusumo (RSCM) Jakarta, RS Karyadi Semarang, RS Pertamedika Sentul City (RSPSC), RSUP Sardjito Yogyakarta, atau RS Soetomo Surabaya.

Sampai saat ini belum diperoleh informasi resmi dan terbaru biaya transplantasi hati di Jakarta (RSCM) maupun rumah sakit lainnya di Indonesia. Dari beberapa sumber diperoleh informasi biaya sekitar Rp 900 juta hingga 1,2 miliar pada tahun 2016. Biaya tinggi karena prosedur transplantasi hati menuntut standar tinggi peralatan, fasilitas, keahlian dan ketelitian. Tidak diketahui apakah pekiraan biaya itu sudah termasuk seluruh prosedur pemulihan dan biaya hidup keluarga selama di Jakarta.

Biaya transplantasi hati untuk Wiji jauh di atas kemampuan saya mengusahakannya. Untuk itu kami membuka donasi.

Kontak: Sigit Purwanto, mobile 0821-8618-7750 atau [email protected]


Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Kabar Terbaru


Fundraiser


Donasi (886)