Lututnya menghantam tanah, berjalan 7 kilometer ke hutan demi mencari nafkah. Sriyono adalah tulang punggung ibu yang sakit-sakitan dan tak berdaya...

Pagi bahkan belum benar-benar terang ketika Sriyono sudah bersiap meninggalkan rumah kecilnya. Jam menunjukkan pukul 06.00. Di sudut ruangan yang sunyi, ibunya terbaring lemah sakit-sakitan. Untuk bangun sendiri saja sulit, apalagi bekerja.
Tak ada pilihan lain. Sriyono, seorang disabilitas yang kesulitan berjalan dan berbicara, harus menjadi tulang punggung keluarga.
Sejak kecil hidupnya tak pernah mudah. Polio yang menyerangnya membuat kedua kakinya tak cukup kuat menopang tubuh. Ia tumbuh dengan cara yang berbeda, bukan berlari, bukan berjalan, tapi merangkak. Hingga hari ini, itu masih menjadi caranya berpindah tempat.
Setiap kali mencoba berdiri dan melangkah, badannya sempoyongan dan gemetaran. Kakinya bergetar hebat, seperti tak sanggup menahan beban. Sering kali ia terjatuh. Dan ketika tubuhnya tak lagi kuat untuk memaksa berjalan, ia kembali merangkak. Gemetar. Perlahan. Menahan perih di lutut dan telapak tangan.
Namun waktu tak pernah menunggu. Setiap hari, Sriyono harus menempuh jarak sekitar 7 kilometer untuk mencari kayu bakar. Jarak itu ia tempuh dengan merangkak. Pergi dan pulang. Tanpa kendaraan. Tanpa alas yang layak melindungi tubuhnya dari panas dan kerasnya jalan.
Ia berangkat pagi, dan harus kembali sebelum pukul 10.00. Bukan karena pekerjaannya sudah selesai. Tapi karena di rumah, ibunya sendirian.
“Kalau saya lama, ibu tidak ada yang jaga…” mungkin itu yang terlintas dalam hati kecilnya.
Kayu bakar yang ia kumpulkan dijual seharga Rp5.000 per ikat. Nilai yang begitu kecil dibanding tenaga dan jarak yang ia tempuh. Namun dari situlah ia berharap bisa membeli kebutuhan dan obat untuk sang ibu.
Tak ada yang menggantikan perannya. Tak ada bahu tempat bersandar. Di rumah kecil yang sepi itu, Sriyono bukan hanya anak. Ia adalah pencari nafkah. Ia adalah perawat. Ia adalah harapan satu-satunya bagi ibunya yang terbaring lemah.
**
Sahabat, Sriyono telah membuktikan bahwa sesulit apapun kondisinya, hidup harus tetap berjalan. Berjuang adalah keharusan,bukan sebuah pilihan.
Tapi dalam hati kecilnya, tentu dia merasakan lelah luar biasa. Tanpa ada yang membantu, semua beban ditopang seorang diri.
Apabila kisah ini sampai kepadamu, mungkin Tuhan sedang menitipkan sedikit rezeki untuk Sriyono melalui tangan baikmu.
Mari berbagi, semoga rupiah yang kamu keluarkan berbalik menjadi berkah manis.
1. Klik "DONASI SEKARANG"
2. Masukkan nominal donasi
3. Pilih metode pembayaran
4. Klik "DONASI" dan ikuti langkah selanjutnya
Disclaimer : Informasi, opini dan foto yang ada di halaman galang dana ini adalah milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah/kecurigaan silakan lapor kepada kami disini.
Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan