Kitabisa! - Bantu Sulteng Menghadapi Bencana Gempa & Tsunami

Bantu Sulteng Menghadapi Bencana Gempa & Tsunami

Bantu Sulteng Menghadapi Bencana Gempa & Tsunami
Sulawesi Tengah berkali-kali dihantam gempa dan tsunami, namun luput dari perhatian kita yang tinggal di luar Sulteng. Ayo bantu saudara kita!
Campaigner (Social Media)
Rahardjo Campaigner Telah Terverifikasi

Rp 0

terkumpul dari target Rp 1.200.000.000
0% terkumpul 169 hari lagi
DONASI SEKARANG

Bantu campaign ini dengan menjadi Fundraiser
Setiap donasi yang Anda kumpulkan akan disalurkan ke Bantu Sulteng Menghadapi Bencana Gempa & Tsunami

Jadi Fundraiser

Campaign ini mencurigakan? Laporkan

Akhir bulan Mei 2017 terjadi gempa 6,6 SR di wilayah Poso, Sulawesi Tengah. 164 rumah rusak berat, 86 rumah rusak ringan, bangunan fasilitas umum rusak berat 18 unit, rusak ringan 4 unit.

Sabtu sore menjelang malam takbiran, 18 Agustus 2012, gempa berkekuatan 6.2 SR mengguncang Kabupaten Sigi. Gempa ini berpusat di 27 Km Barat Daya Kabupaten Parigi Moutong. Tercatat lima orang tewas, tiga orang luka berat dan belasan orang luka berat. Sebanyak 943 rumah rusak berat dan ringan, serta lebih dari 10 ribu warga di tiga kecamatan terkena dampak gempa.

Senin dinihari, 17 November 2008, gempa tektonik berkekuatan 7,7 SR yang berpusat di Laut Sulawesi. Gempa ini menyebabkan 4 penduduk Kabupaten Buol tewas.

24 Januari 2005 pukul 04.11 WIB, gempa berkekuatan 6.2 SR berpusat 16 kilometer arah tenggara Kota Palu menimbulkan kepanikan warga akibat trauma tsunami. Gempa itu menghancurkan 100 rumah. Seorang warga tewas dan 4 orang lainnya luka-luka.

4 Mei 2000, Gempa Bumi berkekuatan 6,5 SR di Kepulauan Banggai. Merupakan rangkaian gempa yang terjadi di lepas pantai Kepulauan Banggai, Sulawesi. Gempa ini menewaskan sedikitnya 54 orang disertai gelombang tsunami setinggi 3 meter ini sedikitnya merusak 23.000 rumah penduduk.

1 Januari 1996, gempa berkekuatan 7.4 SR mengguncang dan dirasakan dengan intensitas VI MMI. Gempa yang berpusat di Selat Makassar mengakibatkan gelombang tsunami di bibir pantai barat Kabupaten Donggala dan Kabupaten Toli-Toli. Sebanyak 9 orang tewas, menghancurkan 386 rumah penduduk, fasilitas umum dan kantor pemerintahan.

Gempa Sausu tahun 1994 yang berpusat di Sausu, Donggala (sekarang di Kabupaten Parigi Moutong), menelan korban sekitar 30 orang tewas, dan ribuan rumah penduduk rata dengan tanah. Peristiwa alam yang dahsyat itu tidak pernah hilang dari ingatan masyarakat. Apalagi, sebagian saksi peristiwa mengerikan itu masih hidup.

14 Agustus 1968, gempa berkekuatan 6,0 SR berpusat di Teluk Tambu, Kecamatan Balaesang Donggala (100 km dari Kota Palu). Lalu disusul oleh gelombang tsunami setinggi 10 meter di wilayah pantai barat Kabupaten Donggala. Sedikitnya 200 orang tewas, 790 rumah rusak serta menenggelamkan hampir seluruh isi desa di pesisir pantai barat Donggala.

20 Mei 1938, gempa berkekuatan 7.6 SR dan Intensitas VIII-IX MMI. Gempa ini mengguncang seluruh Pulau Sulawesi dan sebagian Kalimantan serta memunculkan tsunami di Teluk Tomini. Sebanyak 50 orang tewas dan 50 orang luka-luka.

1 Desember 1927 pukul 13.37 WIB, gempa berkekuatan 6.5 Skala Richter (SR) terjadi dengan intensitas VIII-IX MMI (Modified Mercally Intensity). Gempa ini berasal dari aktifitas tektonik Watusampu berpusat di Teluk Palu. Dampak gempa yang sangat kuat ini mengakibatkan kerusakan ratusan rumah penduduk, kantor-kantor pemerintah dan bangunan sosial di Kota Palu, Kota Donggala dan Kecamatan Biromaru. 14 orang meninggal serta 50 lainnya luka-luka dalam peristiwa itu. Juga terjadi gelombang pasang tsunami setinggi 15 meter di Teluk Palu. Tangga Dermaga Talise (di pantai Teluk Palu) amblas ditelan ombak dan dasar laut di sekitar dermaga turun hingga 12 meter. Gempa itu juga dirasakan sampai di bagian tengah Sulawesi yang jaraknya sekitar 230 km dari pusat gempa.


6a512cd59ea1abe1b8fb958e8b0f39bdc3d680b7


Klik di sini untuk melihat video bencana gempa di Sulteng eae89284a6aadd9d30094a2e1bafa0eb70c153ff


Menurut ahli geologi ada 295 sesar aktif di Indonesia, sehingga Indonesia rawan gempa tektonik. Termasuk Sulteng yang "menyimpan" gempa besar. Ayo bantu share!


Tiga lempeng tektonik bertemu di wilayah Indonesia

Pertemuan atau pergesekan lempeng tektonik ini mengakibatkan Indonesia memiliki banyak gunung berapi (bagian dari ring of fire) dan 295 sesar aktif yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Sesar aktif ini memicu gempa kecil atau pun besar. Ahli geologi sejauh ini hanya bisa menghitung siklus dari gempa besar, namun tidak bisa meramalkan dengan akurat kapan sebuah gempa tektonik besar akan terjadi.

Salah satu wilayah yang sudah diteliti oleh para ahli geologi adalah Sulawesi Tengah atau wilayah di mana sesar aktif Palu-Koro berada. Wilayah ini ternyata memiliki jejak gempa besar di masa puluhan hingga ratusan lalu. Beberapa wilayah di Sulawesi Tengah (termasuk kota Palu) memiliki siklus gempa besar yang diperkirakan akan terjadi dalam waktu "dekat". Kapan bulan dan tahunnya tentu tidak bisa dihitung dengan akurat oleh para ahli geologi.

Lihat http://ekspedisipalukoro.co


687a5949cae234fbea51edc1a52e35179700086a

Ahli Geologi dan Aktivis PRB Bertemu

Sejak lama ahli geologi, terutama yang tergabung dalam Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) prihatin dengan ancaman gempa besar ini. Aktivis Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dalam berbagai pertemuan seputar soal kebencanaan sering mencetuskan rencana untuk mengupayakan gerakan PRB yang kreatif di Sulawesi Tengah. Hingga akhirnya Perkumpulan SKALA bersama IAGI menyusun rencana untuk membuat belasan episode film dokumenter untuk ditayangkan di televisi. Film dokumenter ini ditujukan untuk tidak hanya mengedukasi masyarakat dan pemerintah tentang pentingnya membuat persiapan dalam menghadapi bencana gempa besar yang akan terjadi, tetapi juga untuk mengingatkan adanya wilayah yang terancam gempa di Indonesia yang jumlahnya hampir 300 wilayah.

Ekspedisi untuk upaya PRB yang menghasilkan film dokumenter ini diberinama "Ekspedisi Palu-Koro", karena isinya nanti tidak melulu tentang bencana gempa atau tsunami atau hal-hal yang bersifat geologis. Wilayah Sulawesi Tengah adalah wilayah yang unik dari segi flora dan fauna dan sejarah peradaban kunonya. Ada banyak flora dan fauna yang endemik di sini. Mungkin terbanyak di dunia.

Bahkan setidaknya ada 3 lembah yang menyimpan jejak peradaban kuno dari masa lebih dari 2500 tahun lalu. Kekayaan dan keindahan alam (tambang mineral dan energi) serta kekayaan budaya akan menjadi topik yang menarik dalam film dokumenter yang akan dibuat nanti.

Ekspedisi Palu-Koro dimotori oleh Perkumpulan SKALA yang merupakan organisasi masyarakat yang mengelola situs kebencanaan DisasterChannel.co. dan situs RisikoBencana.co (dikelola bersama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, BNPB).

Perkumpulan SKALA berdiri sejak tahun 2006 (lihat http://perkumpulanskala.net) bergerak di bidang media seputar kebencanaan dan kemanusiaan.

Lihat http://ekspedisipalukoco.co


f2888c461a3813ed89e09ec817d4b3c68c7a12b7

Pelaksanaan Ekspedisi di Bulan Juli 2018

Ekspedisi Palu-Koro direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Juli tahun 2018 untuk menghindari musim penghujan yang bisa menghambat jalannya ekspedisi. Berbagai peneliti akan terlibat dalam ekspedisi ini, terutama dari Universitas Tadulako (Sulteng) beserta para aktivis kemanusiaan dan kebencanaan (Forum PRB) dari wilayah Sulteng.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, BPBD, BNPB Pusat sudah menyatakan dukungannya. (mohon lihat situs: http://ekspedisipalukoro.co). Di situs itu ada informasi mengenai sejumlah workshop yang sudah dilaksanakan sebelumnya. Bahkan juga 'riset awal' di tengah bulan Mei 2017 lalu. Kantor BPBD Palu sudah bersedia menyediakan kantornya untuk menjadi sekretariat ekspedisi.

Ekspedisi ini direncakanan akan berjalan selama 40 hari sejak awal akhir bulan Juli 2018. Hasil dalam bentuk laporan sementara tertulis akan diterbitkan 1 minggu setelah ekspedisi selesai. Sedangkan beberapa video pendek (30 detik hingga 1 menit) tentang promosi serial film dokumenter akan disebarkan ke media sosial (Youtube, Facebook, Twitter, Google+, IG dan lain-lain) sejak minggu pertama ekspedisi.

Serial film dokumenter akan berjumlah 15 episode (untuk tayangan 1 jam termasuk iklan) yang akan diselesaikan dalam waktu 4 minggu setelah ekspedisi selesai. Setiap episode berisi masing-masing 1 kategori atau topik. Namun akan ada 1 video pendek (10-20 menit) yang berisi rangkuman dari seluruh serial film dokumenter. Video pendek ini akan selesai dalam 1 minggu setelah ekspedisi selesai.

Juga dibuat 5 hingga 10 teasers (30 detik - 1 menit) yang disebarkan di media sosial dan televisi.

Akan ada konferensi pers yang akan diadakan sebelum ekspedisi, saat ekspedisi dan setelah selesai ekspedisi. Pameran foto juga akan diselenggarakan sepanjang ekspedisi berlangsung dengan memanfaatkan Universitas Tadulako atau kantor BPBD Palu.

Lihat http://ekspedisipalukoro.co


7ae21e188c664ed41736a23fa7bd756c54990666

Biaya Ekspedisi

Untuk menjamin berhasilnya tujuan dari ekspedisi ini, yaitu edukasi atau sosialisasi dari upaya PRB di Sulteng dan wilayah rawan gempa lainnya di Indonesia, maka tim ekspedisi telah memilih film maker yang dianggap mampu menghasilkan film yang menghibur, enak ditonton, namun bisa memberikan pesan penting atau mendidik soal upaya PRB. Perkiraan biaya untuk ini diperkirakan sekitar Rp 1.2 milyar. Itu meliputi perencanaan, riset awal, shooting di lokasi, editing, riset tambahan, biaya untuk membayar hak cipta pihak lain (potongan film atau musik), serta biaya aktivitas di media sosial.

Biaya lain sebesar Rp 900 juta adalah untuk biaya honor peneliti dan staff pendukungnya, transportasi, akomodasi, peralatan dokumentasi, aktivitas sosialisasi (media cetak dan online), aktivitas mengundang pejabat pemerintah, aktivitas sosialisasi gerakan PRB untuk masyarakat setempat, dan lain-lain.

039ed59766b900463ff294261e291d69234c393e

9759ca97729680bf2703787f0cb23b23ee8acb6e

Konferensi pers di kantor Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI), Palu.

Lihat http://ekspedisipalukoro.co


Akan Ada Ekspedisi Lanjutan

Ekspedisi ini direncanakan untuk menjadi pilot project, karena masih banyak wilayah rawan gempa di Indonesia yang perlu dipersiapkan agar menjadi "tangguh" saat menghadapi bencana gempa nanti. Selain itu akan ada juga ekspedisi untuk wilayah yang rawan bencana gunung meletus, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, banjir, longsor, atau bencana sosial. Itu termasuk kota Jakarta yang sebenarnya terancam megathrust dari Selat Sunda, juga kawasan Jawa Barat karena adanya sesar aktif Lembang. Belum termasuk ancaman tsunami dari pantai Selatan Jawa.

Semua yang terjadi tentu adalah kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun kita telah diberi berkah berupa akal-budi untuk digunakan bertahan hidup dan bahkan untuk menjadi lebih baik di masa depan, sekali pun dihadapkan pada bencana alam. Ekspedisi Palu-Koro adalah bentuk rasa bersyukur, karena telah diberi akal-budi sehingga kita mampu berupaya menjadi lebih baik lagi di masa depan.

Amin.

Lihat informasi lebih dalam dan lebih lengkap di: http://ekspedisipalukoro.co


b1782b07c04563ca1febf31e73701f3c03ac155e

02d8fe94db4d6bd298e370cb57a8dd83a9e0e9bd

f3ecd5c2c7e7fe69f72a3b0d77e0dacb71ea0c09

5328f8151408cb6ee6ff4985e8d2a1610c163d61

3ac62a893adc42f6beea5f723a2a7f9faa09cee5


Disclaimer: Informasi dan opini yang tertulis di halaman ini adalah milik campaigner (pihak yang menggalang dana) dan tidak mewakili Kitabisa

DONASI SEKARANG

Donatur 0

Belum ada donatur untuk campaign ini
Jadilah donatur pertama!

Disclaimer: Informasi dan opini yang tertulis di halaman campaign ini adalah milik campaigner (pihak yang menggalang dana) dan tidak mewakili Kitabisa.

DONASI SEKARANG
Empty Fundraiser

Galang dana sebagai Fundraiser

Isi form dibawah untuk menjadi Fundraiser campaign "Bantu Sulteng Menghadapi Bencana Gempa & Tsunami"
Setiap donasi yang Anda kumpulkan akan disalurkan ke "Rahardjo"

Mau buat halaman untuk galang dana online seperti ini?