Kitabisa! - #KapalKemanusiaan Indonesia untuk Palestina

#KapalKemanusiaan Indonesia untuk Palestina

#KapalKemanusiaan Indonesia untuk Palestina
Logistik di Palestina semakin menipis. Satukan semangat, mari bantu saudara kita di sana dengan memberangkatkan #KapalKemanusiaan untuk Palestina.
Organisasi
Aksi Cepat Tanggap Campaigner Telah Terverifikasi

Rp 6.453.866.332

terkumpul dari target Rp 8.500.000.000
76% terkumpul
DONASI SEKARANG

Bantu campaign ini dengan menjadi Fundraiser
Setiap donasi yang kamu kumpulkan akan disalurkan ke #KapalKemanusiaan Indonesia untuk Palestina

Jadi Fundraiser

Campaign ini mencurigakan? Laporkan

Update 14 - Layarkan 10.000 Beras untuk Palestina

Jalan Panjang Seberangi Laut, Layarkan 10.000 Ton Beras untuk Palestina

Jalan Panjang Seberangi Laut, Layarkan 10.000 Ton Beras untuk Palestina

ACTNews, JAKARTA - Bisa jadi, tak banyak pemahaman kolektif masyarakat Indonesia bisa menunjukkan dengan detail dan tepat di atas peta, di mana letak sebuah negeri yang bernama Palestina itu. Belum lagi dengan pertanyaan-pertanyaan yang bakal muncul dari rasa ingin tahu berikutnya. Misalnya saja, tentang blokade darat dan laut yang mengurung Gaza.

Bagaimana sebenarnya blokade itu berlangsung sampai benar-benar membuat Gaza terpuruk, terjajah dan terkucilkan? Seberapa jauh jarak antara Gaza dan Yerusalem? Juga sejauh mana Indonesia dan Palestina terpisah jarak?

Di atas lembaran peta dua dimensi, jika perjalanan dilakukan melintasi laut, maka jarak yang dibutuhkan untuk mencapai Palestina tak kurang dari 5.775 nautical miles, atau sekira 10.695 km.

Dari lautan Indonesia, pelayaran menuju ke Palestina akan terus ke barat. Melintasi Samudera Hindia, Teluk Bengal, Laut Arabia, lalu ke Teluk Aden, Laut Merah, menyeberang di Terusan Suez, sampai di Palestina.

Jalan panjang Kapal Kemanusiaan, dari Indonesia sampai Palestina

Walau ada jarak kurang lebih 10.695 km pelayaran laut dari Indonesia sampai Palestina, bukan berarti perjalanan itu urung dilakukan. Ini tentang perjalanan kemanusiaan, tentang pelayaran yang tak biasa.

Untuk ketiga kalinya setelah perjalanan Kapal Kemanusiaan Somalia dan Rohingya di tahun 2017 lalu, kali ini bangsa Indonesia punya ikhtiar baru, dengan tajuk Kapal Kemanusiaan untuk Palestina.

Insan Nurrohman selaku Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT) menuturkan, pelayaran istimewa ini insya Allah akan membawa 10 ribu ton bantuan beras dari Indonesia. Pelayaran akan dimulai di momen 21 Februari (21/2) mendatang, bertolak dari Terminal Petikemas Surabaya, Pelabuhan Tanjung Perak.

“ACT menjadi inisiator. Kapal Kemanusiaan untuk Palestina secara bertahap dalam rentang 6 bulan ke depan akan memboyong bantuan konkret dari Indonesia. Bantuan ini diperkirakan akan masuk melalui Gaza, termasuk opsi tambahan melalui wilayah Tepi Barat atau Yerusalem,” ujar Insan dalam konferensi pers Kapal Kemanusiaan Palestina di Kantor ACT, Cilandak Jakarta Selatan, Rabu (10/1).

Akan tetapi, sebelum memulai pelayaran istimewa Kapal Kemanusiaan untuk Palestina, bakal ada cerita prolog tentang pengadaan beras dan lika-liku jalur transportasi darat yang bakal ditempuh.

Bayangkan saja, untuk total 10.000 ton beras atau sama dengan 10.000.000 kg beras, artinya butuh paling tidak 400.000 karung beras berukuran masing-masing 25 kg. Insan menuturkan, karung-karung beras itu kemudian akan dimasukkan ke dalam kontainer-kontainer berukuran panjang 20 feet dengan kapasitas angkut 25 ton per-kontainer.

“Artinya kalau dalam sekali angkut, insya Allah beras yang akan dikirim masyarakat Indonesia untuk Palestina bisa mencapai 400 unit kontainer,” ujar Insan.

Sementara menyiapkan berbagai proses perizinan mengirimkan barang bantuan, proses penyiapan beras sedang dikebut di puluhan desa wakaf di Kabupaten Blora dan Kabupaten Bojonegoro, juga di berbagai wilayah lain di Provinsi Jateng dan Jatim.

Iqbal Setyarso selaku Vice President Communication ACT memaparkan, ada puluhan desa yang dilibatkan untuk menyiapkan pengadaan beras.

“Beras untuk Palestina bakal disiapkan di puluhan Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) yang berada di desa wakaf dan dikelola oleh Global Wakaf ACT. Kurang lebih ada 10.612 petani yang dilibatkan, dengan luas lahan pertanian tak kurang dari 3.389 hektare. LPM yang siap menyiapkan beras untuk Palestina ada sekitar 25 desa, di 11 kecamatan dan 5 kabupaten berbeda,” tutur Iqbal.

Sejak awal Januari 2018, ribuan ton beras sudah dipanen, perjalanan panjang untuk kirimkan beras menuju Palestina sudah dimulai. Kalau satu langkah sudah bergulir, pantang untuk urung menuntaskan perjalanan.

“Ini tentang perjalanan kemanusiaan. Kita tunjukkan kalau bangsa ini bangsa besar. Bukan sekadar doa yang kita kirimkan ke langit. Tapi bangsa ini perlu hal konkret yang dikirimkan sampai Palestina. Insya Allah, tanggal 21 Februari 2018 Kapal Kemanusiaan Palestina akan berlayar,” tegas Presiden ACT Ahyudin di Jakarta, Rabu (10/1). []

Update 13 - Listrik di Gaza, Hanya Enam Jam Menyala

Hanya Enam Jam Menyala, Lalu Listrik Padam Lagi di Gaza

Hanya Enam Jam Menyala, Lalu Listrik Padam Lagi di Gaza

ACTNews, GAZA - Gelap itu mungkin sudah terlalu akrab bagi dua juta lebih penduduk Gaza, Palestina. Apa rasanya jika listrik hanya menyala tidak lebih dari 2 jam sehari?

Padahal di seberang Gaza, di luar Gaza yang terblokade, nyala lampu kota-kota lain begitu gemerlap. Sudah bertahun-tahun terakhir, hanya ada suplai listrik tidak lebih dari 50 megawatt sehari yang dikonsumsi untuk lebih dari 2 juta penduduk Gaza. Dengan jumlah sumber listrik hanya sekecil itu, listrik di Gaza hanya bisa menyala tak lebih dari 3-4 jam sehari.

Lantas, seberapa besar sebenarnya 50 megawatt listrik itu? Sebagai perbandingan saja, mengutip apa yang tertulis dalam catatan Perusahan Listrik Negara (PLN) tahun 2016 lalu, capaian beban puncak listrik di ibu kota Jakarta mencapai 7.000 megawatt per hari!

Artinya, jika dibandingkan dengan Jakarta, jumlah 50 megawatt listrik yang menerangi Gaza mungkin hanya untuk menerangi tak lebih dari 1 kelurahan saja. Padahal, di Gaza ada 2 juta penduduk!

“Hidup makin hari makin sulit di Gaza. Makanan semakin sulit, air tak bisa keluar dari keran-keran, tak ada jaminan keamanan, tidak ada pendidikan, tidak ada fasilitas kesehatan yang layak. Hampir mustahil ada kemungkinan untuk melintasi batas, keluar dari Gaza,” kata Mohamed Nofal, seorang warga Gaza asal Jabaliya, seperti dilansir laman Middle East Eye.

Sedikit lebih baik, kini listrik di Gaza 6 jam menyala

Mengawali pekan ke-2 Januari 2018, datang sedikit kabar baik dari Gaza: listrik sudah menyala 6 (enam) jam sehari. Tapi, itu pun tak pernah cukup. Mitra Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Gaza mengabarkan, listrik yang minim masih sangat berdampak pada rumah sakit, sekolah, pabrik, dan juga rumah-rumah warga.

“Apalagi di awal Januari ini sudah memasuki musim dingin di Gaza. Suhu harian di Gaza sudah menembus 10 derajat Celsius. Tidak ada listrik berarti tidak ada pemanas ruangan yang bisa menyala. Hanya dengan selimut kami berlindung kalau malam datang,” kata Abu Najjar* mitra ACT di Gaza.

Keputusan untuk menambahkan listrik Gaza menjadi enam jam sehari datang usai Menteri Energi Israel Yuval Steiniz menyetujui untuk mengirimkan pasokan listrik tambahan untuk Gaza. Alasannya sederhana: listrik akan diberikan kembali oleh Israel. Hal ini mengingat warga Gaza lewat pernyataan Presiden Palestina Mahmoud Abbas sudah menyetujui untuk membayar kebutuhan listrik tambahan ke Israel.

Ya, selama ini memang ada uang yang harus dibayarkan oleh warga Gaza dalam jumlah tak sedikit, untuk mendapat suplai listrik dari Israel.

Kita akan kirimkan listrik tambahan menjadi 120 megawatt sehari untuk Gaza. Paling lambat listrik akan dikirimkan suplainya pada Senin (8/1),” tulis Yuval Steinitz dalam pernyataannya kepada media, Ahad (7/1).

Jika dikalkulasi, mitra ACT di Gaza mengatakan, jumlah 120 megawatt akan menghidupi listrik Gaza tak lebih dari enam jam sehari. “Setelah enam jam listrik akan padam lagi. Kami tidak pernah tahu di jam berapa, di waktu apa listrik itu akan menyala. Kadang di pagi hari, kadang di sore hari, malah kadang ketika kami tertidur sepanjang malam, listrik itu baru disuplai oleh Israel,” kata Abu Najjar yang kini menetap di wilayah Khan Yunis, Gaza.

Bagi 2 juta lebih warga Gaza, listrik yang sangat minim tentu menjadi penghambat terberat untuk menghidupi hari-hari. Karena listrik yang minim, salah satu masalah pelik datang dari urusan sanitasi.

“Air bersih sulit. Keran-keran di tiap-tiap rumah di Gaza tidak mengalir lagi. Karena listrik tidak menyala, pompa air pun padam,” ungkap Abu Najjar.

Mencoba hadir di tengah-tengah peliknya hidup warga Gaza, sudah sejak tahun 2014 lalu Aksi Cepat Tanggap menyediakan sebuah truk Water Tank yang setiap harinya berkeliling ke seantero Gaza. Truk Water Tank berpindah-pindah menyuplai kebutuhan air ke wilayah paling membutuhkan.

Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response (GHR) – ACT mengatakan, kebutuhan truk Water Tank di Gaza terus bertambah. Hampir semua wilayah di Gaza mendesak kebutuhan yang sama tentang air bersih.

“Tidak pernah ada yang tahu kapan listrik di Gaza mulai menyala. Lebih sering di pagi sampai siang hari listrik itu justru padam. Artinya kalau listrik padam tidak ada air bersih yang bisa mengalir. Dalam kondisi seperti itu kebutuhan akan truk Water Tank sangat diperlukan,” ujar Faradiba.

Melanjutkan amanah Masyarakat Indonesia untuk Gaza, insya Allah dalam waktu dekat akan ada lagi tambahan truk Water Tank di Gaza. “Satu lagi truk Water Tank dari Indonesia akan berkeliling di Gaza dalam waktu dekat, mohon doa dari semua masyarakat Indonesia,” pungkas Faradiba, Senin (8/1). []

sumber gambar: Dokumentasi ACT 2018, AFP


Update 12 - Indonesia Siap Kirim 10.000 Ton Beras

Indonesia Siap Kirim 10.000 Ton Beras Sampai ke Palestina

Indonesia Siap Kirim 10.000 Ton Beras Sampai ke Palestina

ACTNews, JAKARTA - Pangan, menjadi satu dari sekian banyak kebutuhan mendesak yang sangat diperlukan jutaan warga Palestina. Dari Gaza yang dipenjara, sampai Tepi Barat (West Bank) Yerusalem yang dijajah sekian dekade, pangan tak pernah mudah diperoleh.

Terlebih bagi wilayah Gaza yang sudah puluhan tahun terkurung dalam blokade Zionis Israel. Tidak ada pekerjaan yang bisa dikerjakan, angka pengangguran pun melesat. Padahal, populasi Gaza paling banyak adalah anak-anak muda di usia produktif.

Problem peliknya adalah blokade dan penjajahan. Ketika blokade Israel tak pernah selesai, hampir mustahil ada lapangan pekerjaan. Menghidupi Gaza dalam blokade, ekonomi Palestina pun stagnan, berputar sangat perlahan. Kalaupun ada makanan yang tersedia di warung-warung, tak semua warga Gaza sanggup membeli.

Sementara ribuan kilometer dari Palestina, di negeri nan subur bernama Indonesia, pergantian tahun 2018 tetap ditandai dengan kegembiraan yang memuncak. Negeri Gemah Ripah Loh Jinawi ini bahkan akan menyambut panen pertama beras di antara periode Januari dan Februari 2018.

10.000 Ton Beras Indonesia Siap Dikirim ke Palestina

Memulai tahun 2018, ada semangat besar yang sedang digaungkan oleh masyarakat Indonesia. Panen raya di awal tahun bukan sekadar rutinitas panen biasa. Pasalnya, ada koneksi yang sedang terhubung kuat antara masyarakat Indonesia dengan Palestina yang sedang terjajah. Panen beras akan selaras dengan niatan besar untuk panen kebaikan.

Koneksi itu pun berujung pada satu doa dan semangat. Insya Allah, di awal tahun 2018, sekali lagi masyarakat Indonesia akan menyatukan doa dan ikhtiar terbaik di urusan kemanusiaan: akan ada 10.000 ton beras yang bakal dikirimkan Indonesia untuk Palestina.

Ibnu Khajar selaku Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT) memberi ajakan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk memulai ikhtiar masif ini. “Fakta yang paling penting hari ini adalah orang-orang di Palestina membutuhkan kita,” tegas Ibnu Khajar di Jakarta, Selasa (2/1).

Ibnu menegaskan, meski tahun berganti, kondisi terkini di Palestina tak pernah berubah. “Beberapa rumah sakit dikabarkan logistiknya menipis, suplai pangan berhenti di sejumlah wilayah padat penduduk di Gaza. Sementara di Yerusalem, anak-anak muda Palestina tak henti melawan memastikan Tanah Al-Quds atau Yerusalem tetap diakui sebagai ibu kota Palestina,” tegasnya.

Memulai langkah pertama ikhtiar masif ini, Presiden ACT Ahyudin memimpin langsung proses panen pertama yang dilakukan di Desa Panolan, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Desa itu termasuk dari sekian banyak percontohan Desa Wakaf yang diinisiasi ACT.

“Hari Ahad (31/12), di ujung tahun 2017 ini, kami berada di Desa Panolan, Blora. Bersamaan dengan panen besar pertama di Desa Panolan, Alhamdulillah spirit kita meluap untuk mengirimkan 10.000 ton beras bagi saudara-saudara kita di Palestina,” ujar Ahyudin,

Semangat yang sama pun diluapkan oleh Ibnu Khajar. Ia mengajak masyarakat Indonesia untuk bergerak bersama menyiapkan Kapal Kemanusiaan untuk Palestina.

“Insya Allah, tanpa keraguan sedikitpun, Indonesia bisa kirimkan 10.000 ton beras untuk Palestina di momen '212' atau tanggal 21 Februari 2018. Kapal Kemanusiaan 10.000 ton untuk Palestina akan menjadi lanjutan cerita dari 1.000 ton beras Kapal Kemanusiaan Somalia, juga 2.000 ton beras Kapal Kemanusiaan Rohingya,” ujar Ibnu.

Memang bukan perjalanan yang mudah untuk melayarkan Kapal Kemanusiaan sampai ke Tanah Palestina. Namun demikian, Ahyudin meyakinkan bahwa bulir-bulir beras pertama sudah mulai dikumpulkan dari Kecamatan Kedungtuban, Blora. Artinya langkah pertama sudah ditapaki. Doa dan ikhtiar untuk Palestina harus digulirkan.

“Indonesia bisa menjadi negeri terdepan untuk membantu membela tanah Palestina. Sampai kita yakinkan negeri Palestina bisa kembali merdeka,” pungkas Ahyudin. []

Update 11 - Indonesia Siap Kirim 10.000 Ton Beras

Indonesia Siap Kirim 10.000 Ton Beras Sampai ke Palestina

Indonesia Siap Kirim 10.000 Ton Beras Sampai ke Palestina

ACTNews, JAKARTA - Pangan, menjadi satu dari sekian banyak kebutuhan mendesak yang sangat diperlukan jutaan warga Palestina. Dari Gaza yang dipenjara, sampai Tepi Barat (West Bank) Yerusalem yang dijajah sekian dekade, pangan tak pernah mudah diperoleh.

Terlebih bagi wilayah Gaza yang sudah puluhan tahun terkurung dalam blokade Zionis Israel. Tidak ada pekerjaan yang bisa dikerjakan, angka pengangguran pun melesat. Padahal, populasi Gaza paling banyak adalah anak-anak muda di usia produktif.

Problem peliknya adalah blokade dan penjajahan. Ketika blokade Israel tak pernah selesai, hampir mustahil ada lapangan pekerjaan. Menghidupi Gaza dalam blokade, ekonomi Palestina pun stagnan, berputar sangat perlahan. Kalaupun ada makanan yang tersedia di warung-warung, tak semua warga Gaza sanggup membeli.

Sementara ribuan kilometer dari Palestina, di negeri nan subur bernama Indonesia, pergantian tahun 2018 tetap ditandai dengan kegembiraan yang memuncak. Negeri Gemah Ripah Loh Jinawi ini bahkan akan menyambut panen pertama beras di antara periode Januari dan Februari 2018.

10.000 Ton Beras Indonesia Siap Dikirim ke Palestina

Memulai tahun 2018, ada semangat besar yang sedang digaungkan oleh masyarakat Indonesia. Panen raya di awal tahun bukan sekadar rutinitas panen biasa. Pasalnya, ada koneksi yang sedang terhubung kuat antara masyarakat Indonesia dengan Palestina yang sedang terjajah. Panen beras akan selaras dengan niatan besar untuk panen kebaikan.

Koneksi itu pun berujung pada satu doa dan semangat. Insya Allah, di awal tahun 2018, sekali lagi masyarakat Indonesia akan menyatukan doa dan ikhtiar terbaik di urusan kemanusiaan: akan ada 10.000 ton beras yang bakal dikirimkan Indonesia untuk Palestina.

Ibnu Khajar selaku Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT) memberi ajakan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk memulai ikhtiar masif ini. “Fakta yang paling penting hari ini adalah orang-orang di Palestina membutuhkan kita,” tegas Ibnu Khajar di Jakarta, Selasa (2/1).

Ibnu menegaskan, meski tahun berganti, kondisi terkini di Palestina tak pernah berubah. “Beberapa rumah sakit dikabarkan logistiknya menipis, suplai pangan berhenti di sejumlah wilayah padat penduduk di Gaza. Sementara di Yerusalem, anak-anak muda Palestina tak henti melawan memastikan Tanah Al-Quds atau Yerusalem tetap diakui sebagai ibu kota Palestina,” tegasnya.

Memulai langkah pertama ikhtiar masif ini, Presiden ACT Ahyudin memimpin langsung proses panen pertama yang dilakukan di Desa Panolan, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Desa itu termasuk dari sekian banyak percontohan Desa Wakaf yang diinisiasi ACT.

“Hari Ahad (31/12), di ujung tahun 2017 ini, kami berada di Desa Panolan, Blora. Bersamaan dengan panen besar pertama di Desa Panolan, Alhamdulillah spirit kita meluap untuk mengirimkan 10.000 ton beras bagi saudara-saudara kita di Palestina,” ujar Ahyudin,

Semangat yang sama pun diluapkan oleh Ibnu Khajar. Ia mengajak masyarakat Indonesia untuk bergerak bersama menyiapkan Kapal Kemanusiaan untuk Palestina.

“Insya Allah, tanpa keraguan sedikitpun, Indonesia bisa kirimkan 10.000 ton beras untuk Palestina di momen '212' atau tanggal 21 Februari 2018. Kapal Kemanusiaan 10.000 ton untuk Palestina akan menjadi lanjutan cerita dari 1.000 ton beras Kapal Kemanusiaan Somalia, juga 2.000 ton beras Kapal Kemanusiaan Rohingya,” ujar Ibnu.

Memang bukan perjalanan yang mudah untuk melayarkan Kapal Kemanusiaan sampai ke Tanah Palestina. Namun demikian, Ahyudin meyakinkan bahwa bulir-bulir beras pertama sudah mulai dikumpulkan dari Kecamatan Kedungtuban, Blora. Artinya langkah pertama sudah ditapaki. Doa dan ikhtiar untuk Palestina harus digulirkan.

“Indonesia bisa menjadi negeri terdepan untuk membantu membela tanah Palestina. Sampai kita yakinkan negeri Palestina bisa kembali merdeka,” pungkas Ahyudin. []

Update 10 - Makanan Hangat dari Indonesia

Makanan Hangat dari Indonesia, untuk Ribuan Pasien Rumah Sakit di Gaza

Makanan Hangat dari Indonesia, untuk Ribuan Pasien Rumah Sakit di Gaza

ACTNews, GAZA - Kalau fisik sedang tak sehat, kalau tubuh sedang didera beberapa gejala penyakit, pelarian pertama tentu menuju praktek dokter terdekat. Tapi bagaimana jika dokter meminta segera untuk rehat sejenak, menginap di ranjang rumah sakit yang dingin dan kelam?

Tentu harapannya bisa memilih rumah sakit dengan kualitas yang lebih baik ketimbang pilihan-pilihan lainnya.

Perbandingan kualitas tiap rumah sakit itu biasanya ditilik dari kualitas obat-obatan, kualitas pelayanan petugas medis, sampai urusan yang nampaknya sepele tapi berperan besar dalam penyembuhan: rumah sakit dengan menu makanan yang bergizi dan lengkap.

Namun, bayang-bayang tentang pilihan rumah sakit yang layak itu bisa jadi hanya berlaku di kota-kota yang sedang tak dilanda kekacauan. Hanya berlaku di kota-kota semacam Jakarta yang tak pernah padam sedetik pun dari ingar-bingar.

Lantas, bagaimana dengan kondisi bangsal-bangsal rumah sakit di Gaza Palestina? Mungkinkah ada pilihan-pilihan untuk sekadar memilih rumah sakit di Gaza yang lebih layak? Jawabannya adalah nihil.

Rumah sakit di seantero Gaza bisa dibilang menjadi rumah sakit dengan fasilitas yang paling menyedihkan. Obat-obatan stok menipis tanpa ada kabar kapan akan ada stok baru, listrik hanya menyala tak lebih dari 2 jam sehari, kuantitas dokter yang tak sebanding dengan jumlah pasien yang terus membeludak.

Bahkan yang lebih buruk, tak ada pilihan menu makanan apapun yang sempat disiapkan rumah sakit di Gaza untuk para pasiennya. Jangankan menuntut untuk sekadar memenuhi kebutuhan gizi, menyiapkan seporsi nasi dengan lauk apa adanya pun sulit untuk dilakukan.

Dapur Indonesia di Gaza Siapkan Ribuan Paket Makanan untuk Pasien

Mitra Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengabarkan langsung dari Gaza, tentang kondisi terkini beberapa rumah sakit yang tersebar di seantero Gaza. Kabarnya, sudah sejak beberapa bulan terakhir, ratusan rumah sakit di Gaza tak bisa memenuhi permintaan untuk menyiapkan menu-menu makan untuk pasien.

“Kondisi ekonomi semakin sulit. Pendataan kami menunjukkan sedikitnya ada delapan rumah sakit di Gaza tak bisa lagi menyediakan makan untuk para pasiennya. Selama proses penyembuhan si pasien tidak ada asupan gizi yang bisa disuplai oleh sumber daya di rumah sakit,” ujar Abu Muhammad*, mitra ACT di Gaza, Kamis (28/12).

Bahkan, Muhammad menambahkan secara khusus Kementerian Kesehatan Palestina mengeluarkan permohonan, agar semua pekerja kemanusiaan di Gaza membantu menyiapkan makanan untuk ribuan pasien di beberapa rumah sakit.

Bergerak cepat menjawab permohonan khusus ini, Dapur Umum Indonesia untuk Gaza kembali mengepulkan harum sedap nasi dan berbagai macam lauk. Kali ini, ribuan paket nasi dan lauk menjadi santapan terbaik untuk ribuan pasien di beberapa rumah sakit yang berbeda, di seantero Gaza.

Menjadi inisiator Dapur Indonesia untuk Gaza, sudah sejak Senin (25/12) kemarin, puluhan relawan ACT menyiapkan tak kurang 1.000 paket makanan siap santap untuk setiap rumah sakit. Makanan siap santap ditujukan khusus untuk pasien dan karyawan rumah sakit.

Andi Noor Faradiba dari Tim Global Humanity Response (GHR) - ACT menjelaskan, setiap harinya tak kurang 1.000 paket makanan sebanyak tiga kali sehari, disiapkan untuk sejumlah rumah sakit dari dapur umum ACT di Gaza.

“Sampai beberapa hari sejak tanggal 25 Desember kemarin, dapur ACT di Gaza menyiapkan 1.000 paket makanan untuk pasien dan staf di Rumah Sakit Kamal Naser Khanyounis, juga 1.000 paket makanan lagi untuk European Hospital di Southern Governate Gaza,” ujar Faradiba.

Abu Muhammad menceritakan, setiap harinya ribuan paket makanan disalurkan satu per satu dari satu ruang rawat pasien ke ruang rawat lainnya. Relawan ACT di Gaza membawa paket makanan siap santap dan buah-buahan itu untuk tiap pasien yang terbaring di ranjang.

"Dari mulai pasien balita, anak-anak sampai dewasa merasakan nikmatnya gizi lengkap dari menu makanan yang dimasak langsung di dapur umum ACT. Sudah berbulan-bulan tidak ada asupan makanan yang disiapkan oleh rumah sakit karena keterbatasan sumber daya rumah sakit,” ujar Muhammad.

Tak hanya sehari atau dua hari saja, distribusi makanan untuk pasien rumah sakit di Gaza Insya Allah bakal dilakukan terus menerus. “Dapur Umum Indonesia di Gaza akan terus mengepul, menyiapkan ribuan paket makanan untuk rumah sakit, juga sekolah, juga ke masjid, dan ke pemukiman-pemukiman padat penduduk di Gaza,” pungkas Faradiba. []


Update 9 - Nasi Daging untuk Ribuan Jamaah Masjid

Ribuan Porsi Nasi Daging untuk Ribuan Jamaah Masjid di Gaza

Ribuan Porsi Nasi Daging untuk Ribuan Jamaah Masjid di Gaza

ACTNews, GAZA - Siang hari di Gaza, Palestina, matahari baru saja lewat di atas bayangan kepala. Azan zuhur berkumandang, iqamat disuarakan, lalu salat zuhur berjamaah pun ditunaikan. Walau Gaza sedang mencekam, tapi lihat saja berapa banyak saf-saf salat yang tetap terisi penuh setiap lima waktu salat.

Bagaimana pun eskalasi krisis kemanusiaan yang sedang mendera Gaza, kenyataannya Masjid di Gaza tetap menjadi pusat dari segala aktivitas. Masjid menjadi pondasi nyata yang menyatukan hati tak kurang dua juta jiwa populasi masyarakat Gaza.

dapur_umum_gaza_logo__1_.jpg

Selasa (19/12) lalu, dari deretan album foto-foto yang dikirimkan langsung dari Gaza sampai ke Jakarta, tampak sekali betapa hati masyarakat Gaza tetap hangat, kompak, dan solid.

Foto-foto itu menunjukkan, bahwa krisis boleh saja mendera Gaza sampai ke titik nadir. Tapi, saf-saf masjid di seantero Kota Gaza itu tetap tak ditinggalkan.

Beranjak dari alasan itulah, relawan Dapur Umum Indonesia untuk Palestina yang diinisiasi Aksi Cepat Tanggap (ACT) singgah sejenak ke masjid-masjid di Gaza. Relawan-relawan ACT di Gaza itu membawa ribuan paket makan siang untuk jamaah salat di beberapa masjid di Gaza.

Ada dua masjid yang disambangi relawan ACT di Gaza Selasa (19/12) lalu. Untuk dua masjid di Gaza itu, Dapur Indonesia untuk Palestina sudah siapkan tak kurang 1000 porsi makan siang. Menunya istimewa, nasi daging dengan semerbak harum bawang bombai.

Selasa lalu, amanah masyarakat Indonesia berupa seribu paket makan siang disiapkan langsung untuk Masjid Al-Safa di Al-Burige Camp, juga Masjid Al-Huda di Al-Nussirte Camp. Kedua masjid termasuk yang terbesar di seantero Gaza.

“Relawan ACT di Gaza sudah siapkan sejak pagi menu nasi daging. Jumlahnya 1000 porsi. Distribusi makanan dari Dapur Umum Indonesia untuk Palestina dilakukan menjelang salat Zuhur. Santap makan siang dilakukan berbarengan di dalam masjid setelah salat zuhur ditunaikan,” kisah Andi Noor Faradiba, dari Tim Global Humanity Response ACT.

Abu Najjar (nama disamarkan, -red) salah satu relawan ACT di Gaza menuliskan dalam pesan singkatnya, Ia dan timnya sudah siapkan paket makanan sebelum azan dikumandangkan di Masjid Al-Safa dan Masjid Al-Huda. Hampir seribu lelaki Gaza yang menunaikan Zuhur di dua masjid siang itu dipersilakan tunaikan salatnya terlebih dahulu.

Setelah itu, ratusan porsi nasi disiapkan berjajar, dari bagian saf paling depan sampai saf paling belakang. Semua jamaah salat bergabung jadi satu. Dari si bocah kecil, sampai si kakek.

Langsung di dalam kedua masjid itu, makan siang berjamaah pun dilakukan. Selain nasi daging, ada pula jus buah sebagai pelengkap.

“Alhamdulillah, nasi daging panas dari Dapur Indonesia ini masih sedap mengepul. Hangat masjid di Gaza jadi makin hangat. Padahal suhu di luar sudah ada di angka 10 derajat celsius. Gaza mulai memasuki musim dingin,” ujar Najjar.

Sekali lagi ada ribuan kebaikan hati masyarakat Indonesia di dalam masjid di Gaza. “Syukron Indonesia, Syukron ACT,” pungkas Najjar. []



Update 8 - Ada Hari Medis Gratis di Khan Yunis Gaza

Kado dari Indonesia, Ada Hari Medis Gratis di Khan Yunis Gaza

Kado dari Indonesia, Ada Hari Medis Gratis di Khan Yunis Gaza

ACTNews, GAZA, Palestina - Benda ajaib bernama stetoskop itu ditempelkan di dada si adik kecil. Denyut yang tak normal seketika bisa diketahui oleh Paman Dokter. Hari itu, di Khan Yunis, Gaza - Palestina, Paman Dokter bertugas sebagai relawan medis dari Aksi Cepat Tanggap (ACT).

Stetoskop diangkat, Paman Dokter meminta adik kecil membuka lebar mulutnya. Tampak tenggorokan si adik merah menyala. Tanda kalau si adik sedang radang. Si adik kecil berambut keriting itu pun mengeluh ke Paman Dokter, kalau ia memang sedang demam

bantuan_medis_gaza__5_.jpeg

Kepalanya pusing dan badannya sering menggigil. Apalagi ditambah dengan musim dingin yang baru saja melanda seantero Gaza, Palestina. Suhu harian di Gaza bisa anjlok turun di bawah 10 derajat celsius kalau malam datang.

Ditemani sang Umi, Hari itu, si adik kecil itu sudah sejak pagi mengajak Umi untuk ke klinik, sebab hari itu adalah hari medis gratis! Semua obat gratis, pelayanan medis pun gratis! Paman Dokter ACT melayani seluruh pasiennya dengan sepenuh hati.

Hari itu, Selasa (19/12) memang menjadi hari spesial bagi ribuan warga Gaza yang bermukim di wilayah marjinal di Kota Khan Yunis, sebelah selatan Gaza. Ada kado dari Indonesia, ada kiriman hadiah dari masyarakat Indonesia. Seharian itu, sebuah klinik bernama Alhuda Medical Centre di Kota Khan Yunis diubah oleh Aksi Cepat Tanggap menjadi sebuah klinik gratis!

“Kami menyiapkan seluruh pelayanan medis gratis. Ada amanah dari masyarakat Indonesia untuk menjalankan klinik ini gratis seharian penuh. Alhamdulillah Selasa (19/12) itu tidak kurang 900 pasien datang ke klinik ini,” kata Abu Hasan (bukan nama sebenarnya, -red) salah satu relawan dokter ACT di Klinik Alhuda.

Paman Dokter Abu Hasan menuturkan, seperti si adik kecil berambut keriting yang baru saja ia periksa, seluruhnya pasien medis yang datang hari Selasa itu adalah warga Khan Yunis Gaza. Warga yang tak punya pekerjaan sama sekali, sebab di Gaza yang terjajah memang tak ada pekerjaan layak yang bisa dikerjakan.

“Hidup di Gaza sudah sangat sulit, ditambah dengan tak ada pekerjaan. Ratusan ribu keluarga di Gaza hidup jauh di bawah garis kemiskinan. Obat-obatan susah, kalau pun ada mahal sekali harganya,” tutur Abu Hasan.

Selasa (19/12) lalu, tak kurang 900 pasien warga Khan Yunis Gaza dilayani oleh klinik gratis, kado dari masyarakat Indonesia. Dokter Abu Hasan memaparkan, penyakit yang dikeluhkan warga Gaza kebanyakan disebabkan karena standar hidup yang jauh dari kata layak. Imbas gizi yang tidak terjaga, standar hidup yang anjlok.

“Kebanyakan warga Khan Yunis menderita penyakit kronis musiman, juga penyakit-penyakit umum menjelang musim dingin. Seperti misalnya diabetes mellitus, hipertensi, asma, infeksi saluran kemih, infeksi saluran pernapasan bagian atas, bahkan patah tulang dan luka setelah Intifada Al-Aqsa kemarin,” papar Abu Hasan.

Amanah Masyarakat Indonesia, Pelayanan Medis Gratis ACT di Gaza

Aksi pelayanan medis gratis Selasa (19/12) lalu merupakan lanjutan aksi nyata yang diinisiasi ACT langsung di Gaza. Berkolaborasi dengan puluhan mitra relawan medis ACT yang bermukim di Gaza, sekali lagi amanah masyarakat Indonesia rampung disampaikan.

Bambang Triyono, Direktur Global Humanity Response ACT menjelaskan, narasi kemanusiaan dari Masyarakat Indonesia masih bakal terus berlanjut di Gaza, juga meluas sampai ke Al-Quds, Yerusalem Palestina.

“Setiap harinya akan ada aksi lanjutan yang bakal digulirkan ACT di Gaza. Untuk Gaza, Aksi Medis Gratis, Dapur Indonesia juga Distribusi Water Tank ACT akan menjadi prioritas. Insya Allah nama dan bendera Indonesia akan terus berkibar di Gaza,” tutur Bambang. []


Update 7 - Paman ACT Datang Bawa Air Bersih

Sorak Anak Gaza Ketika Paman ACT Datang Bawa Air Bersih
Sorak Anak Gaza Ketika Paman ACT Datang Bawa Air Bersih

ACTNews, GAZA - Hore! Paman ACT datang bawa air bersih! Teriak sekumpulan bocah yang sedang bermain di salah satu sudut wilayah paling miskin, di sebelah Selatan Gaza, Palestina. Mereka Bersorak kegirangan, sebab relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan mobil truk yang menggendong tangki air itu kembali datang sambangi rumah mereka. Rumah yang sebenarnya tak pernah layak disebut rumah, hanya terbuat dari lapisan-lapisan terpal tipis nan pengap.

Bukan kali pertama, di salah satu sudut wilayah paling miskin di Khan Yunis di Gaza, sekali lagi truk Water Tank ACT datangi rumah bocah-bocah Gaza itu. Malah mereka sudah akrab dengan seseorang relawan mitra ACT yang bertugas menyupiri truk Water Tank ACT keliling Gaza.

“Bahkan anak-anak Khan Yunis itu menyebutnya Paman ACT. Paman supir truk Water Tank ACT,” kata Andi Noor Faradiba, atau yang biasa dipanggil Diba, dari Tim Global Humanity Response ACT.

Sore itu, Ahad (17/12), sekali lagi mobil Water Tank ACT beraksi. Sejak Ahad pagi, Truk tangki berwarna hijau dan oranye itu sudah berkeliling ke beberapa lokasi sekaligus. Air bersih didistribusikan ke beberapa lokasi yang paling membutuhkan di seantero Gaza.

“Pekan ketiga Desember ini, Water Tank ACT datangi beberapa lokasi di Selatan Gaza. Termasuk juga datangi salah satu wilayah paling miskin di Khan Yunis. Di wilayah itu, Paman ACT selalu ditunggu bawa air bersih,” kata Diba.

Ketika truk Water Tank ACT tiba di wilayah kumuh sebelah Timur Khan Yunis, bocah-bocah Gaza itu seketika berlarian mendekat. Bahkan selang-selang yang terhubung dari truk tangki air itu ditarik bergotong royong oleh anak-anak Khan Yunis.

“Air bersih ini sudah seharian mereka nantikan. Ketika truk tangki air ACT datang mereka langsung bersorak. Bergantian anak-anak Khan Yunis ini membasuh muka dari selang air yang terhubung langsung ke tangki air di atas truk,” kisah Abu Najjar (bukan nama sebenarnya,-red) relawan mitra ACT di Gaza.

Diba menjelaskan, salah satu wilayah tujuan distribusi Water Tank ACT Ahad kemarin (17/12) adalah lokasi paling miskin di Gaza. Daerah paling miskin, ada di sebelah Timur Khan Yunis. “Keluarga Palestina di wilayah itu termasuk suku badui, atau suku bangsa pengembara di Tanah Arab. Mereka tak punya apapun selain tenda terpal kumuh yang menjadi rumah mereka,” tutur Diba.

Tentang Aksi Bela Palestina, Terima kasih Indonesia!

Selagi air bersih didistribusikan untuk keluarga badui di Khan Yunis Gaza, anak-anak Gaza itu mendapat cerita dari Paman ACT. Si Paman ACT berkisah bahwa di waktu bersamaan, Ahad (17/12) di Jakarta Indonesia sedang ada gemuruh doa dan semangat dari Aksi Bela Palestina.

Paman ACT bercerita di Jakarta ada ratusan ribu bahkan jutaan bangsa Indonesia yang terlibat aksi heroik. Aksi yang kirimkan doa sampai ke langit. Doa untuk kemanusiaan bangsa Palestina. Doa untuk perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina,” kata Abu Najjar.

Usai mendengar cerita itu, anak-anak Gaza di Khan Yunis itu pun langsung mengucap serentak “Syukron ACT, Syukron Indonesia!,”

Si bocah-bocah Gaza itu bersorak terima kasih sembari memegang sebuah tulisan “Aksi Bela Al Quds, Terima Kasih Indonesia atas dukungan untuk rakyat Palestina!”. []


Update 6 - Klinik Medis ACT di Gaza

Klinik Medis ACT di Gaza, Setiap Hari Ribuan Pasien Singgah Berobat

Klinik Medis ACT di Gaza, Setiap Hari Ribuan Pasien Singgah Berobat

ACTNews, GAZA - Detak Kota Gaza di pagi buta masih mencekam. Sudah dari pekan kemarin, warga Gaza dipenuhi amarah yang serupa. Amarah yang makin hari makin memuncak. Amarah yang akhirnya berakhir pada demonstrasi, aksi turun ke jalan dan bentrokan ribuan pemuda Palestina dengan serdadu Israel.

Amarah yang membubung itu awalnya bersumbu dari pernyataan Trump, Presiden Amerika Serikat yang berkata bahwa Yerusalem termasuk Kota Suci al-Quds di dalamnya, diakui Trump sebagai Ibukota Israel.

Ketika sekali lagi status Yerusalem kembali diusik, para penjaga al-Aqsa - kebanyakan ribuan pemuda Palestina – tak bisa berdiam. Dimulai sejak Jumat (8/12) selepas salat Jumat pekan kemarin, bentrokan dengan para polisi dan militer Israel terjadi sepanjang hari.

Melaporkan dari Gaza, seorang mitra Aksi Cepat Tanggap mengutip pernyataan dari Kementerian Kesehatan Palestina, tentang jumlah korban bentrokan sejak Jumat (8/12) kemarin. Ia mengatakan, korban luka di Gaza mencapai lebih dari 800 orang.

“Pasca Jumat malam, roket pun dijatuhkan Israel tepat di pinggiran Gaza, dua warga Palestina tewas. Lebih dari 800 terluka karena bentrokan dengan militer Israel,” kata Abu Umar (nama disamarkan, -red) mitra ACT yang bermukim di Gaza.

ACT hadirkan klinik medis gratis, untuk pemuda Palestina yang terluka

Di tengah kondisi Gaza yang masih mencekam, siapa sangka ada narasi berbahasa Indonesia yang terpampang besar di sebuah klinik di wilayah Kota Jabalia, sebelah utara Gaza. Narasi itu bertuliskan; “Bantuan Medis, Gaza Desember 2017”.

Memang Gaza dan Indonesia terpisah ribuan kilometer, tapi sekali lagi dukungan Indonesia hadir nyata di Gaza.

Sejak Senin (11/12), Aksi Cepat Tanggap (ACT) kembali ke Gaza, membawa amanah Masyarakat Indonesia. Klinik medis ACT hadir di tengah-tengah perjuangan warga Gaza membela al-Quds, membela masjid al-Aqsa.

Sebuah klinik berukuran cukup besar di Kota Jabalia diubah oleh ACT menjadi sebuah klinik gratis. “Di tengah semangat perjuangan warga Gaza membela al-Aqsa. ACT kembali menjadi pelopor dari Indonesia, menghadirkan layanan medis gratis untuk ribuan warga Gaza setiap harinya,” kata Bambang Triyono, Direktur Global Humanity Response ACT.

Bambang menambahkan, Klinik ACT di Jabalia berlokasi di titik strategis. “Klinik berada di titik temu terdekat untuk melayani kesehatan ribuan warga Gaza dari Kota Jabalia, Beit Lahia, Beit Hanoun, dan Shekh Redwan,” papar Bambang.

Senin kemarin, selama sehari penuh, klinik ACT di Gaza melayani tak kurang dari 1.183 pasien. Abu Umar menuturkan, ribuan pasien yang datang kebanyakan adalah anak-anak Gaza, ibu hamil, juga puluhan pemuda Palestina yang terluka pascabentrok.

“Pasien klinik ACT di Gaza kebanyakan adalah anak-anak dengan keluhan gangguan pernapasan, kekurangan gizi. Ada juga ibu hamil dan lansia yang membutuhkan pemeriksaan rutin. Pasien yang datang adalah warga Gaza miskin yang sudah lama tak mampu lagi datang berobat ke rumah sakit,” kata Abu Umar, Senin (11/12).

Tidak hanya pasien umum warga Gaza yang singgah sejenak untuk berobat, Abu Umar menuturkan, klinik pun menjadi tujuan pertama bagi para ratusan pemuda Gaza yang terluka, pascabentrokan dengan serdadu Israel.

Meskipun klinik ACT tak henti-henti didatangi pasien, tapi kendala kurangnya tenaga medis dan minimnya obat-obatan yang bisa masuk ke Gaza, tetap mempersulit keadaan.

Bambang menjelaskan, Gaza hari ini masih menjadi wilayah yang terjajah, dikepung dari berbagai sisi oleh Israel. “Obat-obatan adalah barang yang begitu mahal di Gaza. Tersedianya obat gratis di klinik ACT sangat membantu warga Gaza yang terluka pascabentrok,” papar Bambang.

Laporan dari mitra ACT di klinik Jabalia Senin (11/12) kemarin, klinik persembahan dari Masyarakat Indonesia itu masih kekurangan banyak jenis obat-obatan. Terutama obat bagi warga Gaza yang terluka, juga untuk anak-anak Gaza yang butuh suplemen vitamin.

“Sampai Senin, kondisi di Gaza masih memanas. Pemuda Palestina terus melawan. Lemparan batu dibalas dengan peluru karet, granat kejut (stun grenade/flash bang), hingga gas air mata. Mohon doa dari semua masyarakat Indonesia,” pungkas Abu Umar. []


Update 5 - Dari Indonesia untuk Para Penjaga Al Quds

Dapur ACT di Gaza dan al-Aqsa, dari Indonesia untuk Para Penjaga

Dapur ACT di Gaza dan al-Aqsa, dari Indonesia untuk Para Penjaga

ACTNews, GAZA & al-Aqsa - Luka yang belum kering itu kini kembali terkoyak lebar. Memutar sejenak ingatan beberapa bulan lalu, tak pernah terlupakan dalam memori kolektif masyarakat dunia, ketika Agustus pertengahan 2017 kemarin, luka besar pernah menganga besar di hati sebagian besar masyarakat Palestina. Bahkan sampai memancing amuk dan emosi pula dari masyarakat dunia.

Agustus kemarin, sujud warga Palestina di tanah suci al-Quds Yerusalem dilarang. Masjid al-Aqsa yang menjadi bagian dari kompleks al-Quds di Yerusalem, ditutup total oleh serdadu Israel. Kata pemimpin serdadu Israel, tak boleh ada ibadah salat jumat dan salah berjamaah yang dilakukan di dalam kompleks suci al-Quds.

Emosi pun seketika membubung, luka besar menganga, sebulan lebih perlawanan sengit ditunjukkan untuk membela al-Quds tanah suci Bangsa Palestina. Sampai akhirnya, serdadu Israel itu mundur. Kamera pengawas yang dipasang oleh mereka kembali dilepas di kompleks tua al-Quds. Sujud dan salat berjamaah kembali bisa ditunaikan lagi di mimbar Masjid al-Aqsa.

Tapi kini luka itu kembali menganga. Pemicunya datang dari Presiden US Donald Trump yang mengatakan bahwa Yerusalem diakui resmi oleh Amerika Serikat sebagai Ibukota dari Israel. Atas dasar pernyataan tersebut, Amerika bakal segera memindahkan Kedutaan Besar negara mereka dari Tel Aviv, menuju Yerusalem.

Status Yerusalem kembali diusik, pernyataan Trump pun kembali mengoyak luka besar yang belum kering. Bahkan nyaris seluruh pemimpin global mengutuk keras pernyataan tersebut.

Emosi pun pecah di Gaza dan al-Aqsa. Ribuan pemuda Palestina para penjaga al-Aqsa turun ke jalan. Perlawanan ditunjukkan dengan demonstrasi. Jumat (8/12) selepas salat Jumat, menjadi puncak dari emosi.

Usai sajadah salat Jumat diangkat, para penjaga itu melawan. Protes keras disuarakan oleh ribuan masyarakat Palestina. Gaza dan al-Aqsa bergemuruh dengan emosi. Mulai dari West Bank, East Jerusalem, sampai Gaza, ada darah warga Palestina yang menetes.

Dapur ACT di Gaza dan Aqsa, dari Indonesia untuk para penjaga

Meski jauh terpisah ribuan kilometer dari Indonesia, tapi sekali lagi, ada bagian dari Indonesia yang ikut hadir di tengah-tengah perlawanan masyarakat Palestina.

Sejak Sabtu kemarin (9/12) Aksi Cepat Tanggap menjadi yang pertama dari Indonesia, bergerak cepat untuk mendirikan dapur umum, menyuplai pasokan makanan untuk para penjaga al-Aqsa.

“Bukan hanya satu, tapi dua dapur umum dengan kapasitas produksi ribuan porsi makanan sehari. Hadir di Gaza dan di dalam Kompleks al-Quds, Yerusalem. Alhamdulillah, sekali lagi ada nama Indonesia yang terlibat di tengah-tengah perjuangan Bangsa Palestina,” ujar Bambang Triyono, Direktur Global Humanity Response, ACT.

Bambang menjelaskan, di Gaza dapur umum ACT mulai aktif mengepulkan olahan nasi biryani sejak Sabtu (9/12). “Distribusi nasi biryani dari Indonesia untuk para pemuda Gaza yang melakukan perlawanan di East of Khan Younis. Sehari 500 porsi makanan di Gaza. Terus berlanjut sampai Ahad (10/12),” jelas Bambang.

Selain Gaza, dari puncak eskalasi konflik di Yerusalem, tepatnya di dalam kompleks suci al-Quds satu lagi ada dapur umum ACT. Bambang menjelaskan, serupa dengan di Gaza, dapur umum di al-Quds mulai memasak sejak Sabtu subuh (9/12). “Makanan siap saji berupa nasi biryani dan sepotong ayam besar menjadi makan siang para penjaga al-Aqsa yang melakukan demonstrasi damai di Yerusalem,” ujar Bambang.

Kondisi terkini Gaza dan al-Aqsa

Dari Gaza dan al-Aqsa, mitra Aksi Cepat Tanggap (ACT) melaporkan situasi terkini. Sampai dengan Ahad, laporan ini diunggah, demonstrasi masyarakat Palestina dibalas dengan peluru, granat kejut (stun grenade/flash bang), hingga gas air mata.

“Bahkan Jumat malam, serangan udara dijatuhkan oleh jet tempur Israel di Gaza,” kata Abu Umar (nama disamarkan, -red) seorang mitra ACT di Gaza.

Pasca demonstrasi besar selepas salat Jumat, ditambah dengan serangan udara Israel yang jatuh di Gaza, Jumat (8/12) malam, sedikitnya dua orang Palestina tewas di tempat. Sementara 800 jiwa lainnya terluka, kata Kementerian Kesehatan Palestina melansir Al Jazeera. []


Update 4 - Protes kembali meledak di Tepi Barat dan Gaza

“Yes... anger controls the atmosphere! People are so angry and sad. Fire and shouting are everywhere in Gaza” said Gaza Woman (8/12).


Pasca pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat terkait pengakuan kota Yerussalem (Al-Quds) sebagai ibukota Israel, unjuk rasa dan bentrokan antara warga Palestina dan militer zionis Israel terjadi di sejumlah lokasi baik di Tepi Barat dan Jalur Gaza. (Klik link >> https://kitabisa.com/helppalestine)

Korban pun telah jatuh di salah satu lokasi bentrokan di selatan Jalur Gaza.

Salah satu tokoh pemimpin Palestina, Ismail Haniyeh, juga sudah menyuarakan ajakan 'Intifada', demi menyatukan suara dan gerak segenap rakyat Palestina serta para pemimpin muslim dunia. (Klik link >> https://kitabisa.com/helppalestine)


(AP Photo)

Sahabat, mari terus doakan yang terbaik untuk Palestina.
ACT saat ini terus berkoordinasi dengan mitra lokal setempat baik di Jalur Gaza dan Tepi Barat.Untuk kemungkinan menyiapkan kembali dapur umum Al-Quds dan menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi para warga yang membutuhkan.

Insya Allah, nama besar bangsa Indonesia sudah tidak asing lagi di telinga mereka. Mari kita kembali buktikan bahwa meski masih banyak perbedaan dan permasalahan yang mewarnai Nusantara, namun bangsa Indonesia kompak bersatu demi Palestina, demi Al-Quds, demi Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam di seluruh dunia.

Salurkan donasi terbaik kita dengan klik link >> https://kitabisa.com/helppalestine

Anda juga ikut membagikan campaign ini ke teman, kerabat, saudara agar semakin banyak orang yang peduli dengan Palestina.

#LetsACTIndonesia
#LetsSaveAlAqsa
#LetsUniteForAlQuds


Update 3 - ​2000 Paket Makan Jamaah Al-Aqsa dari Anda

Setelah membuat "Dapur Umum", kemarin Minggu 30/7 Tim ACT melanjutkan membagikan paket makanan amanah dari masyarakan Indonesia (via https://kitabisa.com/helppalestine) kepada warga dan jamaah Masjid Al-Aqsa.


Kegiatan membagikan makanan di dalam Komplek Masjid Al-Aqsa adalah sebuah pelanggaran bagi militer Israel. Akibatnya tim ACT harus memasukan makanan kedalam masjid secara berangsur-angsur dan dibantu oleh jamaah Masjid.

Dalam sepekan ini, ACT sudah gencar membagikan makanan untuk para pejuang Al-Aqsa, sehingga logo ACT pun sudah menjadi familiar bagi jamaah yang sembari membantu membawa makanan kedalam Komplek Masjid Al-Aqsa.

Dimulai dari persiapan hingga distribusi, tentara Israel selalu mengajukan pertanyaan dan mencegat tim ACT untuk melakukan tugasnya, hingga salah satu anggota tim (insial AR) ditangkap dan dinterogasi selama beberapa jam. Namun Alhamdulillah setelah itu dia dan bekerja kembali.


Alhamdulillah dari 2000 paket makanan yang dibagikan, 400 diantaranya dibagikan khusus bagi para Kafalah Murabithah.

Distribusi pembagian makanan dipusatkan di tengah-tengah komplek (antara Dome of Rock dan Masjid Qibli). Hingga hari ini hanya ada logo ACT yang masuk dan membagikan makanan selama berhari-hari diluar dan didalam Komplek Masjid Al-Aqsa.


Saat ini ACT masih akan terus menjalankan program "Dapur Umum" untuk para pejuang Al-Aqsa. Doakan agar tim ACT selalu dimudahkan untuk menyalurkan amanah dari para donatur.

Kesempatan berbuat untuk Palestina masih terus kami buka di https://kitabisa.com/helppalestine

Mari salurkan bantuan terbaik Sahabat agar Dapur Umum ini terus mengepul, menyediakan makanan untuk para pejuang Al-Aqsa dan umat Muslim disekitaran Al-Aqsa.


Salam,

Aksi Cepat Tanggap


Update 2 - Dapur Umum Indonesia untuk Penjaga Al-Aqsa

Al-Aqsa, tak pernah ditinggalkan para pembelanya, para penjaganya yang setia. Sejak zionis Israel mengetatkan pengamanan di seluruh gerbang masuk Al-Aqsa dua pekan lalu (16/7), ribuan warga Palestina terus membanjiri halaman luar kompleks suci tersebut. Jumlah mereka terus bertambah setiap harinya, memenuhi ruas-ruas jalan yang mengitari Kompleks Masjid Al-Aqsa.

Alhamdulillah, sejak Selasa (25/07) siang waktu setempat, ACT telah mulai mendistribusikan ribuan paket makanan siap santap bagi warga. Hingga Jumat (28/07) siang ini, tak kurang dari 7.700 porsi makanan telah tersalurkan dari amanah donasi Bangsa Indonesia melalui ACT.

Insya Allah ACT berkomitmen untuk terus membersamai para Penjaga Al-Aqsa. Salah satunya melalui program "Dapur Umum" yang setiap harinya akan melayani ribuan umat di sekitar Al-Aqsa.

ACT juga akan terus menggalang kepedulian dan menyalurkan amanah dari segenap Bangsa Indonesia untuk turut membantu perjuangan para Pembela Al-Aqsa di Bumi Palestina.

“Berjihadlah melawan orang-orang musyrikin dengan harta, jiwa, dan lisan kalian.” (HR. Abu Dawud)

“Siapa yang memberangkatkan (mendanai) orang yang berperang di jalan Allah, berarti dia juga ikut berperang. Dan siapa yang mengurusi keluarga orang yang sedang berperang dengan baik, berarti dia juga ikut berperang.” (HR Bukhari)


Update 1 - Zuhur penuh khidmat ACT dan Warga Palestina

Selasa siang (25/7), Aksi Cepat Tanggap melalui mitra setempat berkesempatan melihat situasi di sekitar Kompleks Masjid Al-Aqsa. Merasakan khidmatnya azan Zuhur, ACT membaur bersama puluhan Muslim di Kota Al-Quds.

Tak ada yang lebih nikmat, selain bisa bersujud di tempat yang pernah menjadi kiblat pertama umat Muslim dunia tersebut. Bersama puluhan Muslim yang teraniaya dan para penjaga Kompleks Al-Aqsa yang setia, segala doa kebaikan untuk Palestina terpanjat.

Faktanya, Tidak mudah untuk sekadar menyalurkan bantuan. Israel tidak mengizinkan kendaraan apapun yang berisi bahan makanan melintasi ruas jalan sekitar Kompleks Al-Aqsa.

Namun demikian, ACT tidak berhenti untuk berupaya menyalurkan amanah rakyat Indonesia (via https://kitabisa.com/helppalestine) untuk warga Palestina yang tinggal tak jauh dari Al-Aqsa.


Pasca Zuhur berjamaah, tim ACT sejenak memperhatikan kebutuhkan paling krusial.

Kemudian mendistribusikan paket makanan bagi para Penjaga Masjid Al-Aqsa dan mutakif (orang-orang yang beriktikaf di Al-Aqsa, dan para jemaah salat)


“ACT menjadi NGO pertama yang mencoba menyalurkan bantuan bagi warga Palestina di Al-Quds. Kita akan terus mencoba menjangkau mereka dan mendistribusikan paket pangan, meski tanpa kendaraan,” ungkap seorang warga Palestina yang juga Mitra ACT.

Sahabat, mohon doa tertulus agar segenap ikhtiar ACT baik di Al-Quds maupun di Jalur Gaza dalam menyalurkan amanah rakyat Indonesia untuk Palestina, senantiasa diberikan kemudahan dan diridhaiNya.

Kesempatan berdonasi untuk Palestina masih terus akan dibuka di https://kitabisa.com/helppalestine . Mari bantu sebarkan agar lebih banyak yang tahu tentang kondisi Palestina hari ini dan ikut berpartisipasi.

Salam,

Aksi Cepat Tanggap


Ikhtiar Besar Melayarkan 10.000 Ton Beras Hingga ke Palestina

Dapur Umum Gaza

Pangan, menjadi satu dari sekian banyak kebutuhan mendesak yang sangat diperlukan jutaan warga Palestina. Dari Gaza yang dipenjara, sampai Tepi Barat (West Bank) Yerusalem yang dijajah sekian dekade, pangan tak pernah mudah diperoleh.

Mengawali cerita kemanusiaan di tahun 2018, ikhtiar besar sudah disiapkan: Bangsa Indonesia punya sesuatu yang bakal dikirimkan langsung menuju Palestina. Insya Allah pada tanggal 21 Februari 2017 ada 10.000 ton bantuan beras yang akan dilayarkan. Dari Terminal Petikemas Tanjung Perak Surabaya, menuju dermaga terdekat untuk melabuhkan bantuan masuk ke Gaza, juga Tepi Barat dan Yerusalem.

Ibnu Khajar selaku Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT) memberi ajakan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk memulai ikhtiar masif ini. “Fakta yang paling penting hari ini adalah orang-orang di Palestina membutuhkan kita,” tegas Ibnu Khajar di Jakarta, Selasa (2/1).

“Beberapa rumah sakit dikabarkan logistiknya menipis, suplai pangan berhenti di sejumlah wilayah padat penduduk di Gaza. Sementara di Yerusalem, anak-anak muda Palestina tak henti melawan memastikan Tanah Al-Quds atau Yerusalem tetap diakui sebagai ibu kota Palestina,” tambahnya.

Aksi Cepat Tanggap di Kawasan Penggilingan Beras

Senada dengan Ibnu Khajar, Ahyudin, Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) menyimak rangkaian cerita ini sebagai titik balik di mana Bangsa Indonesia bisa melakukan sesuatu yang terbaik untuk Palestina.

“Insya Allah dari desa ke desa akan ada semangat yang sama. Mengumpulkan bulir beras-beras terbaik. Mencanangkan #KapalKemanusiaan ke Palestina, membawa pangan berupa beras sebanyak 10.000 ton, menjadi penyentak kesadaran dunia untuk bersatu bela Palestina,” ungkap Ahyudin.

Pembagian Beras kepada Saudara Palestina

Kapal Kemanusiaan Palestina: Peranti Menyatukan Bangsa Merdeka

Sejenak pasca proklamasi 1945 terucap, Palestina termasuk salah satu bangsa yang berdiri pertama, mengakui kemerdekaan Indonesia di saat negeri lain masih bergeming.

Kini, 72 tahun sudah berlalu, Indonesia mentereng sebagai salah satu negara berkembang dengan peningkatan ekonomi yang baik. Sementara itu, ribuan kilometer jauhnya di Barat Laut Indonesia, Palestina masih belum merdeka.

Hutang budi kemerdekaan antara Indonesia dan Palestina pun kini sedang diuji. Sejauh mana bangsa Indonesia mampu berbuat sesuatu menjadi motor kemanusiaan untuk membela Palestina?

Mengangkut Beras untuk Palestina

Ahyudin selaku Presiden Aksi Cepat Tanggap (ACT) menyampaikan, ikhtiar Kapal Kemanusiaan Palestina jangan sekadar dilihat sebagai momen mengangkut beras untuk rakyat Palestina. Tapi juga sebagai ekspresi pembelaan Indonesia, wujud nyata mengalirkan kepedulian dan doa tulus dari bangsa Indonesia.

Truk Beras Kapal Kemanusiaan

Kapal Kemanusiaan 10.000 ton untuk Palestina ini akan menjadi lanjutan cerita dari 1.000 ton beras Kapal Kemanusiaan Somalia, juga 2.000 ton beras Kapal Kemanusiaan Rohingya.

Gudang Beras Kapal Kemanusiaan


Atas nama kemanusiaan, mari kita sisihkan sebagian rizki kita untuk membantu mereka. Ayo ikut membantu, donasi kamu akan tercatat transparan di halaman ini.

Sebelumnya ACT sudah menyalurkan bantuan untuk warga Palestina dengan berbagai cara, seperti mendirikan Dapur umum, Mengadakan Bantuan Medis, Mobile Water Tank (Bantuan Air Bersih), Humanity Card dan Kafalah Murabithah kepada warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat.

Ayo bantu muslim Palestina dengan berdonasi.

Cara Berdonasi :

1. Klik "DONASI SEKARANG"

2. Pilih Bank Transfer Mandiri/BCA/BNI/BNI Syariah/BRI dan kartu kredit

3. Dapat laporan via email

Bantu share juga halaman ini agar lebih banyak yang membantu.

Disclaimer: Informasi dan opini yang tertulis di halaman ini adalah milik campaigner dan tidak mewakili Kitabisa

DONASI SEKARANG

Donatur 18885

SHOW MORE
  • Rp. 200.252
    Anonim
  • Rp. 50.667
    Anonim
  • Rp. 20.335
    Anonim
  • Rp. 75.000
    Anonim
  • Rp. 100.768
    Lutfia Susilowati
  • Rp. 100.169
    Anonim

    donasi untuk rakyat palestina

  • Rp. 100.749
    Rina
  • Rp. 250.204
    Lukmanulhakim

    Kami adalah saudara senasib dengan kalian wahaonpalestina, Allah selalu ada dibalik perjuangan kita memperjuangkan kebenaran, Insya Allah

  • Rp. 500.936
    Ana Faozan

    Bismillah,semoga bermanfaat

  • Rp. 400.000
    Anonim
SHOW MORE

Di bawah ini adalah list fundraiser yang ikut mendukung #KapalKemanusiaan Indonesia untuk Palestina :

Pesan kamu akan langsung terkirim ke 'Aksi Cepat Tanggap'

Mau buat halaman untuk galang dana online seperti ini?