Kitabisa! - Masjid&Pusat Budaya Indonesia di Utrecht Belanda

Masjid&Pusat Budaya Indonesia di Utrecht Belanda

Hingga detik ini, kami masih menyewa bekas toko kelontong untuk tempat ibadah. Selalu bermimpi suatu hari kami punya masjid.
Organisasi (Social Media)
Stichting Generasi Baru Utrecht Campaigner Telah Terverifikasi

Rp 467.986.353

terkumpul dari target Rp 3.200.000.000
15% terkumpul 0 hari lagi
Campaign Telah Berakhir

Bantu campaign ini dengan menjadi Fundraiser
Setiap donasi yang kamu kumpulkan akan disalurkan ke Masjid&Pusat Budaya Indonesia di Utrecht Belanda

Jadi Fundraiser

Campaign ini mencurigakan? Laporkan

Update 3 - Dan kita pun masih berjuang ...

Pepohonan di kawasan De Bazelstraat sudah sangat menguning. Beberapa diantara pepohonan itu bahkan sudah gundul, hanya tersisa ranting kering. Biasanya Vorstelijk Complex hingga Bazelstraat diwarnai hijaunya daun pepohonan yang rindang. Kini dedauan itu telah mulai raib ditelan musim dingin datang. Ya, di beberapa sudut masih tergeletak tumbukan dedaunan kering yang terus berjatuhan. Kadang sepasang dan dua pasang daun tertiup angin berlarian seakan saling berkejaran.


Seperti biasa saban Jumat kami menata tempat buat TPA anak-anak di ruang bekas warung kelontong andalan kami. Masjid yang kita impikan nampaknya masih musti diperjuangkan lagi. Saat ini donasi online di kitabisa.com mencapai Rp. 467.936.025,-. Jika ditotal dengan donasi offline semuanya mencapai Rp. 1.221.087.332,- (satu milyar dua ratus juta-an rupiah). Sementara dana yang dibutuhkan untuk membangun masjid sederhana adalah € 230.000,- atau 3.2 Milyar Rupiah. Dengan demikian, saat ini kita BELUM mampu merealisasikan pembangunan masjid segera.


Dari hasil ini, kami akan jadikan bahan pertimbangan (evaluasi) dan menjadi modal untuk tim pembangunan masjid untuk kampanye selanjutnya agar dapat memenuhi target dalam waktu dekat ini. Sekalipun demikian, kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh donatur yang budiman yang telah menyumbang masjid Indonesia pertama di Utrecht. Semoga sumbangan ini menjadi amal jariah dan pahala yang dilipat-gandakan para donatur yang budiman kelak di dunia maupun di akhirat nanti.


Kami akan terus berjuang demi terwujudnya masjid Indonesia yang pertama di Utrecht ini. Mohon doa dan restunya.

ba1fb0c81e4a9e56b9ebe75a066c299dc25222a2

Suasana Idul Fitri tahun ini di lapangan sepak bola

Update 2 - Suarlan, Kajian Keilmuan di Hari Jum’at

Cuaca di Utrecht sedang galau. Sebenarnya ini musim panas. Namun, seringkali mega mendung berdatangan tiba-tiba. Dingin pun menyerang bak awal musim dingin saja. Bagi pelajar Indonesia, musim panas adalah fietstijden, waktu yang nyaman buat bersepeda. Sayang, cuaca tiada lagi mendukung.

Masih di bilangan Bazelstraat, Suarlan, pemuda kelahiran Bogor, 23 Juli 1986 ini menyampaikan hasil risetnya. Ya, kadang hari Jum’at, SGB menyelenggarakan kajian keilmuan. Biasanya pelajar Indonesia perantauan mengisi forum itu. Dan, tiba gilirannya bagi Aan, panggilan akrab Suarlan berceramah.

914d42947a5e4d9543400c336c60a2299c90cf36

Topiknya soal ‘Smart City’, sebuah tema yang diangkat dari tesis masternya di Universitas Utrecht. Dengan bersetelan baju koko habis jum’atan, ia menyiapkan materi presentasinya. Sehari sebelumnya, ia baru saja merampungkan program master di bidang administrasi publik.

Aan melakukan penelitian soal dukungan masyarakat terhadap program Smart City di Kota Bandung. Studinya selama 2 (dua) tahun di dataran rendah ini akan diujikan selama 45 menit. Dua supervisornya, yang juga bertindak sebagai penguji mempersilahkan bagi para pelajar Indonesia yang lain menyimak ujian terbuka itu.

Dengan mengenakan batik andalannya, ditambah blazer hitam, ia melantunkan hasil penelitian lapangannya bait demi bait. Prof. dr. Albert Meijer, pemikir kenamaan di bidang inovasi publik di Utrecht itu takjub dengan kerja keras Aan mengumpulkan responden lebih dari 300-an orang.

Di saat tradisi sains dari Organisatiewetenschap kebanyakan penelitian master didasarkan penelitian dengan belasan informan saja. Singkat cerita, sang profesor pun akhirnya mengumumkan nilai sempurna dan sangat memuaskan bagi Aan.

Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Utrecht 2015/2016 ini pun hanya tersenyum kecil elegan mendengar pengumuman nilai itu. Yakinlah, sebenarnya ia sangat berbahagia. Apalagi ujian terbuka itu, disaksikan juga oleh istri dan dua anaknya yang masih kecil.

Sepanjang dua tahun, ia harus rela berpisah dari dua buah hatinya dan belahan jiwanya itu, berjuang sendirian melawan dinginnya musim salju dan sepi. Namun di momen super penting itu, tiga manusia berharganya itu hadir.

Kesempatan bagi Aan untuk membagi ilmunya itu pada para jemaah, warga, dan pelajar lain di Utrecht. Di meja yang biasanya dipakai Taman Pendidikan Al-quran (TPA), ia menyandarkan laptopnya dan memulai ceramah. ‘Warga Kota Bandung mendukung Smart City.’ Ungkapnya dengan statistik.

Kendati pun demikian, kata Aan, ‘Warga juga memprioritaskan pendidikan, kesehatan dan infrastruktur, barulah Smart City sebagai prioritas keempat.’ Warga dan jemaah SGB pun menyimak dengan hikmat. Tanya jawab pun berlangsung dengan gelak tawa dan canda.

Di ruang bekas toko kelontong itu, menjadi saksi pemuda yang dulu Korps Taruna Paskibra SMA 3 Bogor itu meraih suksesnya menyabet gelar master.

***
Kajian keilmuan SGB adalah salah satu program berbagi dan sharing pengetahuan intelektual dan akademik. Setelah jum’atan, waktu yang dinanti para pelajar dan warga untuk berkumpul bersama.

Seringkali warga bergotong-royong menyediakan masakan khas Indonesia. Terang saja bagi pelajar yang selalu kelaparan tak menyia-siakan momen itu.

Hari demi hari keakraban antara pelajar dan para perantau Indonesia terjalin makin harmonis. Masyarakat Indonesia yang tinggal umumnya usianya lebih tua itu, terasa awet muda berkumpul dengan para pelajar. Pun demikian, para pelajar belajar untuk bijak, prihatin dan tirakat di negeri orang lewat para warga itu.

Mereka bersama memimpikan sebuah masjid dan pusat kebudayaan Indonesia, sebuah tempat permanen yang tak lagi memerlukan biaya sewa yang mahal seperti sekarang ini.

Kami berterima kasih sebesar-besarnya kepada para donatur yang telah membantu. Karena target donasi masih jauh dari cukup untuk membangun tempat sederhana yang diimpikan, maka bersamaan dengan ini kami mengajukan permohonan untuk memperpanjang kampanye ini selama 3 bulan lagi. Hingga saat ini, baik donasi online dan offline sudah mencapai Rp. 1.171.087.332,- (satu milyar seratus tujuh puluh juta-an). Semoga target, 3.2 milyar bisa kita raih bersama untuk bisa membangun masjid kecil permanen yang sederhana di Utrecht ini.

Amin.


Update 1 - Berpuasa di Negeri Van Oranje

Sembilan belas jam kami berpuasa. Mentari mulai menunjukan sinarnya pukul tiga fajar. Tak ayal, kurang dari pukul tiga sudah waktunya imsyakiah di Belanda. Dan, berbuka baru jelang pukul sepuluh malam.

Momen yang kami rindukan seperti biasa saat ramadhan ialah buka bersama. Stichting Generasi Baru (SGB) —yayasan warga muslim Indonesia—dan Bina Dakwah—warga Belanda dan campuran yang muslim—bergantian menyusun acara buka bersama.

Hidangan nusantara aromanya mengundang banyak mukimin dan pelajar berdatangan. Di ruang bekas mini market kecil lah kami menyewa ruangan untuk segala aktivitas ini. Jemaah makin banyak, ruangan pun sudah tidak lagi cukup.

Saat helat acara seperti buka bersama, kita berdesakan dan sulit mengatur sirkulasi jemaah yang berjubel.

77435454660ee3375fd72fe9047ae3ae37bb6a9e

ecc7636588e57b1366297c48ef30be910445c467

suasana berbuka puasa bersama SGB Utrecht

Sudah lama kami menginginkan sebuah masjid. Sebuah tempat yang permanen. Tempat yang kami sewa ini biayanya mahal: € 1000 per bulan. Kadang kalau keuangan krisis kami kebingungan mencari talangan kesana kemari untuk meneruskan sewa kontrakan.

Persis pada bulan puasa ini juga. Tempat yang lebih mirip gudang penyimpanan barang itu, begitu bermakna. Kami berbuka puasa disana, dilanjutkan sholat terakhir yang dimulai tengah malam. Sebagian jemaah melanjutkan iktikaf dan sahur bersama.

Pada akhir 2015, disusunlah sebuah proposal pembangunan masjid dan pusat kebudayaan Utrecht. Proposal disebarkan, mulailah animo jemaah dan masyarakat menyalurkan infaq dan wakaf untuk masjid meningkat.

Meskipun program penggalangan dana sudah dilakukan, namun dana yang terkumpul belumlah mencukupi untuk membeli sebuah bangunan.Namun, kami sungguh sangat bersyukur, dari dana yang dibutuhkan sebesar € 230.000,- atau 3.2 Milyar, alhamdulillah berkat kebaikan hati para donatur terkumpul sebanyak Rp. 1.069.079.922,-(satu milyaran rupiah).

Kalau digambarkan, dibawah ini adalah hasil penggumpulan dana kami yang juga kami laporkan :

  • Pada rekening Bank ING SGB terkumpul € 35.784 atau Rp. 512.015.000,-
  • Pada rekening BNI SGB terkumpul Rp. 142.570.374,-
  • Pada akun kita bisa yang sampai sekarang masih kampanya juga terkumpul Rp. 414.494.548,-

Besar harapan kami supaya para donatur jika masih ada peluang rejekinya memberikan tambahan infaq atau wakaf untuk pembangunan masjid Utrecht. Atau, menyebarkan informasi kebaikan ini ke kolega dan donatur lainnya. Sehingga dana yang tersisa untuk membangun sebuah masjid adalah 2.130.920.078,- (dua milyaran rupiah)

Demikian laporan perkembangan penggalangan dana untuk pembangunan masjid dan pusat kebudayaan Indonesia di Utrecht, Belanda kami haturkan.


0969860a6c773bebdd579d26fbf3c8cb92740194

Mari Bangun Masjid di Negeri van Oranje

e653f0c293c6b8bdbc0734f92cf7e5ccb1776ccc

Mentari bersinar cerah setelah musim semi berlalu. Burung camar riang berterbangan di atas sungai Vecht. Kepakan sayapnya merentang lebar penuh keangunan. Di tepian sungai yang sama, belasan bebek dan angsa liar berjemur sambil bermalasan menyerap sinar mentari. Ya, tiupan angin menyisir rerumputan hijau dan bekas tulip yang layu itulah, sekelompok merpati melesat berziarah di kawasan Oud Zuilen Kasteel.

Balada alam dan bangunan tua diatas cukup akrab dengan anak-anak Indonesia yang belajar mengaji di musala Indonesia. Tepatnya di jalan De Bazelstraat-lah, tempat yang tak begitu jauh dengan sungai Vecht, kami Stichting Generasi Baru (SGB) berjuang menyediakan Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) untuk anak-anak Indonesia.

Tak seperti di Indonesia. Saban habis magrib tersedia banyak TPA di musala-musala. Pun, madrasah dan surau tersebar menyuguhkan TPA. Di Negeri van Oranje ini, kami harus bekerja keras menyelenggarakan TPA sendiri buat anak-anak Indonesia. Semangat kami pun makin membuncah, saat menyaksikan anak-anak bersemangat belajar membaca al-quran di tengah keterbatasan fasilitas. Tidak ada ruang kelas yang memadai. Sungguh, tempat yang kami gunakan mengajari anak-anak mengaji juga adalah bekas mini market serba pas-pasan. Meski juga, sebuah tempat yang cukup mahal biaya sewanya.

Tiap bulan kami perlu merogoh kocek € 1000 atau setara dengan lima belas juta untuk ongkos sewa dan listik bangunan itu. Seiring harga kontrakan di Belanda sangat mahal-mahal. Bekas toko kelontong ini adalah tempat termurah yang kami sewa dari perusahaan perumahan bernama Portaal. Pernah suatu ketika dana-dana dari donatur jemaah sedang minus. Kami terdesak, mau tidak mau harus keluar jika tidak bayar kontrakan.

Dalam benak kami. Jika kami sudah tidak lagi punya tempat. Lalu, bagaimana kami meneruskan program TPA? Bagaimana kita merasakan suasana kemewahan sholat berjemaah dengan saudara muslim Indonesia? Mungkin untuk persoalan yang terakhir, kita bisa meminjam Gymzaal atau Spoortzaal, semacam lapangan olah raga. Seperti yang kami lakukan dulu di awal tahun 2008-an.

Namun TPA adalah program yang begitu penting maknanya bagi anak-anak Indonesia. Selama menyewa bekas mini market itu, kami benar-benar merasa seperti berada di ‘rumah.’ Tak hanya anak-anak yang ceria bermain sambil belajar. Para pelajar kampus Utrecht berdatangan berdiskusi, ibu-ibu warga Indonesia menyajikan masakan khas Indonesia setelah pengajian, para mukimin curhat dari kepenatan pekerjaan keseharian, dst.

Kendati bayangan harga sewa ruang yang sangat mahal, utamanya saat neraca keuangan sedang kritis. Seperti yang pernah terjadi pada sepanjang pulang Juli-September 2011. Kami nyaris saja menyerahkan kunci ruang ini pada pemiliknya. Namun berkat bantuan para donatur, kita bertahan. ‘Saya yakin dibalik usaha terus mengabdi, disanalah selalu ada pertolongan Allah SWT,’ kenang Supardi Ketua SGB. Ternyata keadaan keuangan yang kritis ini tidak hanya terjadi sekali. Melainkan berkali-kali.

Sebelum menyewa sebuah tempat. Gymzaal adalah satu-satunya pelipur lara. Disewa untuk sholat jumat dan kegiatan keagamaan yang lain. Karpet, tikar, dan sound systems diangkut menuju ke lokasi dengan menggunakan sepeda. ‘Kalau angin sedang tidak bersahabat, dikobat-kabitkanlah sepeda bersama pengendaranya,’ ingat Bambang, salah satu pengurus SGB.

Seandainya kami punya tempat sendiri yang permanen. Tentu ceritanya akan lain. Hanya memikirkan membayar listrik dan air. Dan, kami bisa fokus memberikan pelayanan pada jemaah serta TPA untuk anak-anak Indonesia. Setelah terus berpindah-pindah, nomaden pada tahun 2008. Dari satu gymzaal ke sportzaal lain. Tempat pertama yang kami sewa berukuran 64 meter persegi di Maria van Hongarijedreef 38, 3561 TJ Utrecht.

Nah, tak lama kami menempati tempat tersebut. Menikmati indahnya kebersamaan berjemaah, buka puasa, pengajian, dan tentu saja belajar mengajar TPA. Ternyata, ruangan itu harus dirobohkan oleh sang pemilik. Tempat yang sedianya mengobati rasa rindu berkumpul bersama warga muslim Indonesia pun harus direlakan. Sang pemilik berencana membangun perumahan baru. Kami pun terpaksa harus keluar dari Maria van Hongarijedreef. Dan, kami pun meninggalkan tempat yang telah dihancurkan berpuing-puing reruntuhan itu.

Sungguh, sebuah masjid yang permanen adalah mimpi terbesar kami saat ini. Sebuah tempat yang sederhana saja. Sebuah tempat yang layak untuk mendukung kami memberikan belaian keimanan dan bekal religius bagi anak-anak Indonesia. Di tanah rantau itulah, anak-anak Indonesia terus belajar melafadkan ayat-ayat suci. ‘Saat saya menatap wajah anak-anak TPA, mereka seperti anak-anak saya sendiri’ tegas Andi Gustiandi salah satu ustadz TPA.

Terakhir. Kepada para budiman, kami menyediakan ladang beramal: membangun sebuah masjid di Negeri van Oranje ini.

Program dan Kegiatan

Dengan segala keterbatasan yang ada terutama keterbatasan ruang, Alhamdulillah SGB dapat melaksanakan berbagai macam aktifitas seperti berikut. Selengkapnya dapat mengunjungi website http://generasibaru.nl/

Kegiatan Keagamaan

db4e1ce67165bd37c8c4b1405ae593762f306bf4

Kegiatan ibadah rutin, seperti: Sholat Ied pada hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, Sholat Jum’at, Terawih, dst.

Aktifitas rutin pengajian mingguan; Pengajian Bapak-bapak di hari Jumat dan Pengajian Annisa di hari Minggu. Selain itu ada pula acara pengajian bulanan, tahunan, dan edisi khusus dosen tamu seperti; kajian tafsir Al-Qur’an, Pesantren Kilat Anak-Anak dan Remaja, kajian Islam intensif akhir tahun (KIIAAT) yang sekarang menjadi Kajian Islam di Musim Semi (KALAMI), kajian sejarah dan perabadan Islam, dst.

f1bfe33d62f7a60b47db1f6a4e8c2698db673390

(kajian sejarah islam di nusantara bersama Ahmad Baso, intelektual muda muslim Indonesia (kiri) dan Poster Kajian bersama KH. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi (kanan))

Taman Pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak setiap minggu dan Kemping Remaja. Menyiapkan generasi muslim Indonesia di Belanda yang cakap membaca Al-Quran dan memahami nilai-nilai ajaran Islam.

366bb74a54d60362428a9fa33028c217705b03eb

.SGB juga selalu menjaga silaturahmi dan hubungan antar umat beragama di Utrecht dengan berpartisipasi dalam acara-acara dialog antar umat beragama.

8c4a91509a6407190f81ab528efa93d67561c1c5

Kegiatan Kebudayaan

Utrecht Indonesian Day (UID), sebuah event tahunan yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia Utrecht (PPIU) bekerja sama dengan SGB. UID merupakan rangkaian kebudayaan yang menampilkan musik angklung, tarian tradisional, group vokal lagu tradisional Indonesia, dst. Pada tahun 2015, sekitar 600-an tamu berdatangan menikmati kuliner Indonesia, seperti Bakso Malang, Pempek, Sate, Gado-Gado, Bubur Ayam, dst.

UID akan kembali diselenggarakan pada bulan September 2017. Tidak hanya UID, dalam keberlangsungannya, banyak program acara PPIU yang tak lepas dari kerja sama dengan SGB, begitu pula sebaliknya. Karena itu selain sebagai masjid, bangunan dari hasil crowdfunding ini akan dijadikan sebagai pusat kebudayaan dan kegiatan warga Indonesia di Utrecht.

cb7de02e9843ac6a67ae26ae1e2bf9e2a32190de

Kebutuhan Pembangunan Masjid dan Pusat Kebudayaan Indonesia

Prakiraan pembiayaan dengan asumsi membeli bangunan strategis di sekitar daerah Overvecht seluas 270 m², adalah sebagai berikut;

Harga Gedung : € 215.000

Administrasi : € 2.500

Renovasi : € 12.500

Total : € 230.000 atau sekitar Rp 3.2 M.

Sudah ada dana terkumpul saat ini : € 51.421,00 (terdiri dari sebagian sumbangan dari sponsor dan iuran warga)

Bangunan Masjid

Bangunan yang direncanakan terletak di daerah Overvecht-Noord, 9 km dari stasiun pusat kota Utrecht, namun berada di daerah dimana banyak penduduk Indonesianya. Bangunan ini terdiri dari 3 tingkat dengan luas bangunan 270 m2.

f9ba57cfcd01a6753182f806462c33b8972e2734

Alamat bangunan :

Tennesseedreef 7 E, 3565 CK Utrecht, The Netherlands

Rencana desain interior:

735674dd23e473560e7e2276814716b250cc5272

Maka dari itu, kami dengan rendah hati ingin mengajak saudara-saudara untuk ikut berdonasi dalam pembelian bangunan masjid ini. Harapan kami, bangunan masjid ini dapat menjadi berkah dan amal jariyah yang tidak pernah putus bagi para donatur, serta menjadi manfaat di dunia dan di akhirat kelak.

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِى بِهِ وَجْهَ اللَّهِ ، بَنَى اللَّهُ لَهُ مِثْلَهُ فِى الْجَنَّةِ

Barangsiapa yang membangun masjid (karena mengharap wajah Allah), Allah akan membangunkan bangunan yang semisalnya di surga.” (HR. Bukhari dan Muslim, dari ‘Utsman bin ‘Affan).

Donasi Offline

Kami juga membuka jalur donasi secara offline melalui rekening berikut :

Rekening ING Bank Belanda
IBAN : NL80 INGB 0005144915
a.n. Stichting Generasi Baru Utrecht

Rekening BNI
401695510
a.n. Supardi - Masjid SGB Utrecht

atau melalui Aksi Cepat Tanggap (ACT) di :

Rekening Bank Mandiri
1270007721275
a.n. Aksi Cepat Tanggap

Hubungi kami

Alamat Stichting Generasi Baru (SGB):
De Bazelstraat 31, 3555 CR Utrecht

More info: http://generasibaru.nl

Kontak Person : Supardi Hasanuddin +31621132635

Disclaimer: Informasi dan opini yang tertulis di halaman ini adalah milik campaigner dan tidak mewakili Kitabisa

Campaign Telah Berakhir

Donatur 442

  • Rp. 300.000.000
    Elzatta Hijab
  • Rp. 12.000.484
    Rosmaywati

    Insya Allah bisa

  • Rp. 10.000.357
    Amalia Diamantina

    Mohon doanya untuk Alm Bapak Chairul Asikin dan Almh Ibu Sri Reno Ambarlia.

  • Rp. 5.000.807
    Prof. Benny Riyanto

    Untuk pembangunan masjid di belanda

  • Rp. 5.000.783
    Anonim

    A/n alm Djendjen Zainudin

  • Rp. 5.000.777
    Mira Adyanti

    Semoga bermanfaat untuk masjid

  • Rp. 5.000.662
    Oki Muraza

    Semoga Allah menerima amal kita, amiin.. Semoga segera terwujud masjid di Utrecht ini.

  • Rp. 5.000.639
    Mira Adyanti

    Teman saya sudah almarhum, tapi pernah pesan ke saya. Titip doanya utk ibu Nurhayati

  • Rp. 5.000.439
    Yusuf

    InsyaAllah segera terwujud

  • Rp. 5.000.177
    Anonim

    a/n Alm. Moh. Hasan Soeryodiputro

SHOW MORE
SHOW MORE
Empty Fundraiser

Galang dana sebagai Fundraiser

Isi form dibawah untuk menjadi Fundraiser campaign "Masjid&Pusat Budaya Indonesia di Utrecht Belanda"
Setiap donasi yang kamu kumpulkan akan disalurkan ke "Stichting Generasi Baru Utrecht"

Pesan kamu akan langsung terkirim ke Stichting Generasi Baru Utrecht

Mau buat halaman untuk galang dana online seperti ini?