Kitabisa! - Wujudkan Mimpi Mang Toha Mengubah Nasib Petani

Wujudkan Mimpi Mang Toha Mengubah Nasib Petani

Wujudkan Mimpi Mang Toha Mengubah Nasib Petani
Dulu ia miskin.Tinggal di gubuk. Kebutuhan makan saja susah. Kesengsaraannya bertambah ada isu beredar dia suka mencuri ternak. Sekarang ia pengabdi sosial

Bantu Amal Sosial Odesa dengan menjadi Fundraiser. Setiap donasi yang Anda kumpulkan akan disalurkan ke "Wujudkan Mimpi Mang Toha Mengubah Nasib Petani".

Rp 26.854.447

terkumpul dari Rp 93.500.000
29% tercapai 134 hari lagi


Penggalangan dana dimulai 18 Apr 2017 oleh:

Baca update terbaru dari penggalangan dana ini!

Dulu ia miskin.Tinggal di gubuk. Kebutuhan makan saja susah. Kesengsaraannya bertambah saat orang-orang menjauhinya karena ada isu beredar dia suka mencuri ternak.

Nama yang tertera dari Kartu Keluarga (KK) tertulis Toha. Lahir di Bandung 12 Maret 1978. Pria yang tinggal di Kandang Sapi di kawasan Wisata Oray Tapa Bandung ini dikenal orang sebagai petani dan peternak. Kepribadiannya menarik. Komunikasinya bagus. Kalau bercerita tentang pertanian detail. Selera humornya kuat. Tidak jaga image. Ia juga punya kelebihan lain, yaitu sikap sosial yang baik terhadap warga sekitarnya. Dan yang membuat asyik bekerjasama dengan Toha karena ia mahir bergurau.

Namun di luar kepribadiannya itu, Toha memiliki karakter yang berbeda dari rata-rata petani lain. Ia memiliki bekal pengetahuan yang baik, dan mengenal model pertanian dari hulu ke hilir secara rasional. Tingkat kelemahannya hanya pada soal kurangnya teknologi dan aspek organisasi. Ia bertani sendiri tanpa melalui nahkoda kelompok tani atau organisasi. Ia juga belum modern dalam agribisnisnya.

KISAH LAIN YANG MENGENASKAN Odesa.id

Antara kelebihan dan kelemahan itu oleh Odesa Indonesia ditempatkan pada aspek yang proporsional. Dalam ruang gerak pemberdayaan, sosok seperti Toha ini sudah cukup untuk menjadi modal kebaikan untuk diproses lebih lanjut untuk menghasilkan progres (kemajuan).

Toha. Untuk saat ini hidupnya boleh dibilang cukup. Ukuran kecukupannya ditinjau dari dua hal. Pertama, dari aspek proses hidupnya yang tanpa modal materi dan lemah pendidikan. Kedua, dari ukuran hidup rata-rata orang di Kampung Waas Toha tergolong menengah. Tidak miskin seperti mayoritas buruh tani lainnya, juga tidak tergolong kaya sebagaimana beberapa petani yang memiliki tanah.

5b186ee0-1518-4ce5-bddb-cff46cb53735.jpg

Bangkit dari kemiskinan

Dari penuturan Toha, perjalanan hidupnya menyedihkan untuk diceritakan. Masa kecil usia 11 tahun saat ibunya meninggal ia harus berpisah dengan keluarganya, mendapat orangtua asuh di Cilaja Cilengkrang. Kata Toha, ia kurang mendapat perhatian oleh bapaknya yang menikah lagi sampai beristri empat. Tetapi dari orangtuanya ia memetik pengalaman sebagai peternak sapi.

“Bapak saya pinter ternak sapi. Saking berhasilnya suka kawin. Saya mendapat pengetahuan di masa kecil; kalau punya satu sapi, maka wajib dalam setahun harus punya dua ekor. Kalau tidak menghasilkan satu sapi dalam setahun mending tidak usah,” terangnya.

Toha sekolah hanya sampai kelas 2 SD. Keluar sekolah karena tidak mampu membayar. Rp 350 perbulan memberatkan orangtuanya.

Masa usia SD hingga remaja ia lakoni sebagai anak asuh dari petani. Ladang dan hutan Arcamanik menjadi tempatnya yang akrab. Paham setiap sudut sisi hutan. Ketika menginjak usia 15 tahun ia mulai mengenal dagang, belajar dan belajar berjualan segala macam hasil tanam, sampai membawanya ke kawasan perkotaan Bandung Timur.

Saat mulai lagi tinggal di Waas, ia tak punya tanah dan tak punya tempat tinggal. Beruntung ada orang Kota yang punya tanah dan baik hati untuk mengurusnya. Tanah itu yang kini menjadi kandang sapi.

“Dulu itu ada seorang bapak, maaf ya, Cina dari Kopo yang baik hati sama saya.Dia membeli tanah ke orang dan mengijinkan saya mengurusnya. Saya bisa membangun gubuk dan bertanam. Saking baiknya ketika bapak itu butuh duit kepepet dan ingin menjual tanahnya diberikan ke saya dengan sistem cicilan ratusan ribu per bulan, atau kapan saja saya bisa membayar,” terangnya.

Dari kebaikan orang Kota itu Toha hidup, dan nekad menikah pada usia 17 tahun. Ia berkawin dengan Irah, gadis Waas yang saat tahun 1999 masih berusia 14 tahun dan sekarang dikaruniai anak Irawati, Rismawati, Virginia Putri.

c35eec59-e2f6-4f7e-a5f4-808d185363d0.jpg

Pada mulanya ia menikah tanpa restu orang tua karena kata Toha calon mertuanya saat itu tidak yakin dirinya bisa memberi makan. Namun ia nekad. Menikah dan pada beberapa tahun kemudian mertuanya bisa menerima. “Saya percaya hidup di hutan itu banyak keajaiban,” kata Toha.

Bertahun-tahun menikah dan bekerja keras ia tetap miskin. Tapi ia punya kebersamaan pikiran dengan istrinya, bahwa satu-satunya cara untuk mengubah keadaan hanya dengan pekerja keras siang dan malam. “Saya ini biasa lapar, saya biasa susah hidup bertahun-tahun, bahkan pernah menggelandang di jalanan bersama istri saya. Saya tidak boros. Istri saya bisa mengatur uang,” katanya.

Usaha kerasnya berhasil pada tahun 2008. Hasil tabungan Toha bisa membeli tanah seluas 140 meter persegi dengan harga Rp 600.000. Uang Rp 600 ribu ini dari hasil bagi hasil memelihara sapi. Bosan tinggal di gubuk, Toha mulai berpikir punya rumah. Hasil tabungan dari sapi milik orang lain. Pada 2013 berhasil terkumpul uang sampai Rp 60 juta untuk bangun rumah.

Dicurigai sebagai maling

Mengenang kisah tahun 2000-2010 bagi Toha adalah mengenang kesedihan. Hidup dalam kemiskinan yang akut sampai-sampai membuat dirinya diremehkan tetangganya. Ia merasa tidak pernah merugikan orang lain, tapi selalu saja ada yang beranggapan minor, apalagi saat ia mulai berdagang domba.

“Saya sering gonta-ganti domba karena saya berternak sambil berdagang. E ternyata ada orang berpikir saya melakukan hal yang enggak-enggak. Orang-orang menjauhi karena ada isu menyebar saya maling domba. Petani di kampung saya itu merasa tidak wajar kalau berganti-ganti domba. Biasanya setahun baru dijual” katanya.

Yang paling menyedihkan dari Toha adalah ketika suatu hari ada ustad kehilangan domba. Ia tertimpa sial dituduh sebagai pencuri. Toha dipaksa mengaku dengan bacokan. Ia tidak melawan saat itu. Ia memilih membawa masalah ke polisi. Naas polisi tidak mau memproses karena alasan tidak ada visum. Pulang ke rumah dengan amarah karena ia merasa di kampungnya dicap sebagai maling, sementara di kepolisian tidak mendapatkan keadilan yang diminta. Tidak terima akan hal itu, ia merasa harus mengambil jalan penyelesaian. Kepada beberapa warga ia menyampaikan kalau Ustad itu harus pergi dari Waas atau mati di ladang.

“Mungkin karena saya tidak main-main marahnya. Entah siapa yang menyampaikan hal ini ke orang itu. Akhirnya pindah juga,” kenang Toha.

Penyiapan bibit Kopi Pak Toha

Bagi Toha, penyakit iri soal harta di kampung sudah lumrah terjadi. Biasanya orang-orang yang merasa kaya merasa sok jagoan sehingga merendahkan orang yang tak punya. Yang ia pikirkan cuma satu, hidup cukup dan tidak melarat. Dan caranya cuma satu.

“Jangan heran kalau saya dan istri saya kerja sampai jam 11 malam. Prinsip kami biarkan orang tua menderita, asalkan anak-anak bahagia. Anak-anak tinggal di rumah, saya dan istri tetap di kandang,” tuturnya.

Kebaikan

Toha dan keluarganya sekarang tidak disebut miskin, sekalipun tidak bisa disebut kaya, tetapi etos kerja cukup menganggumkan. Proses panjangnya dari tidak memiliki apa-apa sekarang bisa memiliki rumah, beberapa ribu meter tanah milik sendiri, dan juga tanah kelola di perhutani.

Hasil penelusuran Odesa-Indonesia ke kampung-kampung Waas tentang sosok Toha cukup menarik. Dari 7 orang di RT berbeda dan tiga kampung dekat Waas memandang Toha secara positif. Semua menilai Toha hebat karena alasan suka bekerja keras. Salut karena dulunya tidak mampu sekarang punya sapi dan pinter tani. Beberapa orang mengenal Toha karena kebaikannya membantu orang lain. Bahkan sampai sekarang ia pun menyantuni satu keluarga tua untuk bekerja di ladangnya dengan jaminan kebutuhan pangan tercukupi. Belum lagi ia juga sering berbagi pekerjaan kepada saudaranya yang ia anggap mau berusaha keras untuk memperbaiki keadaan.

“Pantes Mang Toha itu kalau dikasih job pekerjaan selalu bilang sanggup. Rupanya dia bisa mengorganisasir pekerja dan memimpinnya,” kata Agung Prihadi yang mendampingi Toha untuk urusan manajeman program kerja pendampingan.

http://odesa.id Kontak [email protected]

Kisah Menarik Lainnya Baca Mang Toha, Si Gila dari Oray Tapa

CARA BERDONASI:

1. Klik tombol “DONASI SEKARANG”

2. Masukan nominal donasi

3. Pilih metode pembayaran (transfer bank BNI, Mandiri, BCA, BRI, BNI Syariah, atau kartu kredit)

ea817607-7a00-484b-aca9-f6aa1d98f31f.jpg

Disclaimer : Informasi dan opini yang tertulis di halaman penggalangan ini adalah milik penggalang dana dan tidak mewakili Kitabisa.

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

DONASI SEKARANG

Donatur 151

  • Rp. 6.000.000
    Basuki Suhardiman

    pembiayaan bibit sayuran Toha

  • Rp. 5.000.588
    Sultan Kalanhka

    Salam Maju Petani dr SK&TL

  • Rp. 2.000.000
    Anonim

    nambah untuk pak Toha cs. semoga cepat sukses bibit dan sapinya.

  • Rp. 1.000.555
    Anonim

    untuk petani Indonesia mandiri....

  • Rp. 515.878
    Anonim
  • Rp. 500.981
    Anonim
  • Rp. 500.686
    Anonim
  • Rp. 500.655
    Yuliani Liputo
  • Rp. 500.202
    Anonim

    Tetap Semangat

  • Rp. 500.118
    Angga Pramanto Wiryono
SHOW MORE
  • Rp. 200.630
    hastina a
  • Rp. 200.000
    Anonim
  • Rp. 10.000
    Anonim
  • Rp. 5.000
    Anonim
  • Rp. 50.000
    Anonim
  • Rp. 1.000
    Anonim
  • Rp. 10.000
    Anonim

    Tetap semangat!!!

  • Rp. 20.000
    Yasa Paramita Singgih
  • Rp. 10.000
    Anonim
  • Rp. 100.833
    Anonim
SHOW MORE
Amal Sosial Odesa 29 Jul 2019

Pencairan Dana Rp 1.400.000

Ke rekening BRI ** *** *** *** 4506 a/n YAYASAN ODESA INDONE

Rencana penggunaan dana: Untuk menambah belanja mesin penyiraman petani

Amal Sosial Odesa 19 Jul 2019

Update 13 - Kekeringan Memiskinan Petani. Bantu Mereka

Sahabat donatur kitabisa yang baik……

Kekeringan menyebabkan kemiskinan petani. Itu bukan isu, melainkan fakta karena di musim kemarau  banyak petani berhenti bekerja. Tanah sudah tidak sehat.

Pepohonan tinggi telah banyak yang hilang. Tak jarang kalau kekeringan membuat banyak petani memilih migrasi ke kota-kota besar menjadi pekerja kasar. Itu pun jika mendapatkan job. Itulah mengapa banyak orang miskin semakin miskin di musim kemarau.

405cbbe8-fe9d-4e70-947e-dcaa32010dda.jpg

Para petani kecil, penggarap lahan milik orang lain itu adalah pahlawan bagi kita yang bukan petani. Mereka penyedia pangan yang hidup serba susah, apalagi pada musim kemarau.

Tidak cukup air, melainkan alat penyokong kerja. Ketika Yayasan Odesa Indonesia menemukan sebagian persoalan pertanian adalah air, maka ditemukanlah solusi praktis, yakni memodali para petani dengan membangun saluran irigrasi, menyediakan selang dan mesin penyiraman modern. Dengan cara ini, problem relative teratasi.

aa8e6a20-b716-472c-a172-871e7cd14956.jpg

Pertanian di Bandung Utara yang dikelola Mang Toha meski kekeringan melanda tetap berjalan. Air yang tersedia bisa dimainkan sebagai penyiraman secara efektif. Syaratnya adalah mesin penyiraman modern.

Mari berdonasi untuk kegiatan pertanian ini. Agar petani tidak terjebak pada kemiskinan dan tetap mampu menyediakan pangan bergizi untuk kita semua.

DONASI PETANI HOTANI https://www.kitabisa.com/modalpetani

DONASI PETANI PENGHIJAUAN https://www.kitabisa.com/donasihijau

ZAKAT UNTUK PETANI FAKIR MISKIN https://www.kitabisa.com/zakatodesa

Amal Sosial Odesa 4 Jan 2019

Pencairan Dana Rp 850.000

Ke rekening BRI ** *** *** *** 4506 a/n YAYASAN ODESA INDONE

Rencana penggunaan dana: Pengambilan uang untuk belanja hasil pembibitan bunga matahari Hotani 2,2 kg. Rp 850.000 (november-desember). Bibit tersebut dibagikan petani untuk kegiatan ekosistem pertanian.

Amal Sosial Odesa 4 Jan 2019

Update 11 - Laporan Pertanian Hotani

Sahabat-sahabat donatur yang baik.

e6f253af-8587-48e4-847d-d01b72fad4a2.jpg


Pada bulan oktober hingga desember ini kegiatan Himpunan Orang Tani Niaga (Hotani) menanam beberapa jenis tanaman pangan pertanian, seperti sorgum, hanjeli, bunga matahari, jeruk, kopi, dan beberapa jenis tanaman herbal lainnya. Pengembangan ini terus dilakukan supaya kelak nanti keanekaragaman hayati melimpah dan bisa memperbaiki keadaan petani dan lingkungan hidup serta menyuburkan tanaman lain.

Hutan dan ladang kita sudah rusak dan tanah sakit. Kita mengusahakan para petani terus bergiat aktif memperbaiki keadaan tanah, pohon dan keluarga mereka. 

Terimakasih atas donasinya. Dalam waktu 6 bulan ini donasi cukup membantu sekitar 30 Persen dari anggaran yang oleh yayasan Odesa Indonesia dikeluarkan. Semoga Anda sekalian berkenan mendonasikan lagi untuk kegiatan ini. 

Salam

Agung Prihadi. Sekretaris Odesa Indonesia.


Amal Sosial Odesa 20 Dec 2018

Pencairan Dana Rp 500.000

Ke rekening BRI ** *** *** *** 4506 a/n YAYASAN ODESA INDONE

Rencana penggunaan dana: Rencana pengajuan anggaran ini adalah untuk belanja bibit jeruk. menambah jumlah tanaman buah di kawasan waas.

Amal Sosial Odesa 30 Nov 2018

Pencairan Dana Rp 600.000

Ke rekening BRI ** *** *** *** 4506 a/n YAYASAN ODESA INDONE

Rencana penggunaan dana: Tanggal 1 desember 2018 ini kami akan menanam sorgum untuk lahan 1400 meter. Bantuan ini akan membantu senilai 20 persen dari anggaran total pengolahan lahan bulan november. Terimakasih.

Amal Sosial Odesa 10 Nov 2018

Update 8 - Kisah Sedih Petani di balik bukit

Bagaimana mereka hidup? Apa saja yang mereka lakukan? Pertanyaan ini sudah kami temukan jawabannya setelah dua bulan berinteraksi. (5-6 kali pertemuan). Dua keluarga, Pak Dadang-Bu Imi dengan satu cucunya yang yatim-piatu (suaminya pergi, ibu dari cucunya meninggal 40 hari setelah melahirkan. Nengsih dengan dua anaknya yang hidup tanpa suami di usia 25 tahun. Dua keluarga di Cikored Desa Mekarmanik ini menjadi bagian dari ratusan keluarga buruh tani di Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung yang sering kami temui di tengah-tengah kegiatan pendampingan kegiatan pertanian dan penghijauan.

3d5148ff-d6f8-42c6-afbe-775c616590cf.jpg
Kisah Petani Pra Sejahtera di Balik Bukit
Amal Sosial Odesa 10 Nov 2018

Update 7 - Keluarga Pak Badar, Beginilah Keadaan Petani

Mereka melakoni hidup semampu usaha mereka. Status mereka oleh negara dimasukkan sebagai golongan keluarga Pra-Sejahtera. Tapi seumur hidup tidak pernah mendapatkan tindakan dari negara.

Namanya Badar, usianya 47 tahun. Tinggal di Kampung Tareptep, bertani di Kawasan Oray Tapa, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Badar termasuk petani yang oleh Toha dipilih untuk bergiat bersama bersama Odesa Indonesia. Saat pembentukan Grup Pertanian Himpunan Orang Tani Niaga (Hotani), Badar menjadi pendamping Toha sebagai sekretaris.

Siang itu saya menemuinya untuk keperluan perluasaan pertanian lebih lanjut. Sebab sebelumnya, penanggungjawab Kegiatan Ekonomi Keluarga Petani dari Odesa-Indonesia, Basuki Suhardiman, memberikan laporan terkait dengan perkembangan kegiatan pertanian yang dilakukan Toha dan Agus pada urusan Sorgum dan Bunga Matahari.

Karena saya memiliki tugas untuk perluasan jejaring basis, saya menemui Pak Badar, yang diang itu sedang bersama keluarganya mempersiapkan beberapa jenis tanaman sayuran. Dalam pandangan kami, Pak Badar tergolong petani yang cakap dalam kerja, komunikatif, dan memiliki etika yang bagus. Sebelum masuk pembicaraan rencana pertanian barunya, seperti biasa kami ngobrol banyak hal. Salahsatunya adalah soal keluhan hasil pertaniannya yang serba sulit.

“Pak, kalau ada teman yang mau beli tanah itu besan saya mau jual,” kata pria yang memiliki empat anak dan tiga cucu ini.

badar-petani-hotani-cimenyan-e1525009763286.jpg


Maksud Pak Badar menyampaikan hal itu siapa tahu nanti saya bisa bantu penjualannya ke teman-teman saya dari kota. Tetapi Pak Badar juga tahu, sebenarnya saya dan teman-teman tidak pernah tertarik urusan jual-beli tanah. Bahkan semaksimal mungkin melarang petani menjual tanah sembari kita membantu modeling pertanian baru yang lebih menguntungkan. Kasus jual tanah seperti besan Pak Badar ini bukan hal yang baru. Hampir setiap waktu ketemu petani juga ada yang menawarkan penjualan tanah. Semua karena desakan hidup. Ada yang karena dililit hutang, ada yang karena untuk pernikahan anaknya, ada pula yang karena alasan ingin membangun rumahnya yang sudah mau runtuh.

BACA Keluarga Pak Badar, Beginilah Keadaan Petani

Amal Sosial Odesa 3 Oct 2018

Pencairan Dana Rp 1.000.000

Ke rekening BRI ** *** *** *** 4506 a/n YAYASAN ODESA INDONE

Rencana penggunaan dana: Pengajuan anggaran untuk kegiatan pendampingan 1 petani perempuan (risma) yang sedang mengurus tani pekarangan. Kegunaan anggaran ini untuk mengganti kegiatan kerjanya selama 1 bulan karena harus belajar mengurus pembibitan.

Amal Sosial Odesa 12 Sep 2018

Update 5 - Laporan donasi program pembibitan

28ada2e4-006c-42c2-a50c-67c59fdc2fcf.jpg
YTh para donatur. Pada tanggal 13 Agustus lalu kami telah mencairkan sumbangan Anda sebesar Rp 1.300.000. Donasi tersebut kami gunakan untuk belanja tanah/media tanam dari petani papa, bapak damin dengan tiga tahap. Dengan media tanah dari pohon bamboo tersebut sekarang telah berkembang banyak bibit baru, antara lain sorgum, kelor dan bunga matahari. Berkah melimpah. Untuk pak damim uang Rp 1,3 juta selama dua bulan itu adalah anugerah besar. Dia tetap bekerja dan terhormat menerima upah, dan tanahnya yang menganggur itu bermanfaat bagi banyak orang karena bibit2 tanaman tersebut dibagikan kepada puluhan petani lain.

Salam
Agung Prihadi
Sekretaris Odesa. 
Amal Sosial Odesa 13 Aug 2018

Pencairan Dana Rp 1.300.000

Ke rekening BRI ** *** *** *** 4506 a/n YAYASAN ODESA INDONE

Rencana penggunaan dana: membeli hasil panen bibit bunga matahari dan program tambahan penanaman kelor petani Hotani.

Amal Sosial Odesa 9 Mar 2018

Update 3 - Laporan donasi hotani januari-pebruari

Salam para donatur. Sebelumnya kami dari Yayasan Odesa Indonesia sangat berterimakasih atas donasinya untuk permodalan usaha para petani di Hotani.

Berikut ini kami laporkan secara ringkas penggunaan dana pada bulan Januari dan Pebruari.

Tanam Kelor 350 Pohon beserta perawatan dua bulan awal (biaya Rp 1.350.000)

Permodalan pengairan dengan bendungan kolam sederhana. Rp 1.200.000

Permodalan untuk penananam kelor pekarangan dan biaya kerja lapangan untuk 250 pohon. Rp 900.000.

Penananam kelor ladang baru sebagai investasi pembibitan bulan pebruari 400 pohon membutuhkan biaya Rp 3.600.000

Total biaya 7.050.000

Demikian laporan ringkas kami.

Salam

Agung Prihadi (sekretaris odesa)

f72164f29e1c61a1c6d041e02be03f0134279cd0

9785f6608976ca4d16ee28c59102c8ae576de424

Amal Sosial Odesa 17 Sep 2017

Update 2 - Laporan susulan hotani

Terimakasih para donatur yang telah mengirim bantuan untuk Mang Toha dan teman-teman hotani. Kami telah mencairkan dana tambahan dari sebelumnya hingga biaya Rp 6;500.000 tercukupi, sebagian ditambah oleh donasi offline.

Pencairan Rp 2.800.000. Kebutuhan: Rp 6.500.000. Kekurangan Rp 3.700.000

Laporan ini penggunaannya sesuai dengan program tahap pertama bertanam. https://kitabisa.com/modalpetani

Selanjutnya Hotani kini sedang mengembangkan tanaman kelor dan daun afrika, dua jenis tanaman obat yang merupakan strategi inovasi baru. Salam dari mang Toha.

f69d9aea410260e63374824f8db7b287ebb796c4


Amal Sosial Odesa 17 Jul 2017

Update 1 - Program Tanam Sayur Hotani

No

Jenis Usaha

Pembibitan

Tenaga

Kalender

Kebutuhan

Pelaksana

1

Sayuran (Tomat, Cabe, Bak Cai,)

Rp 20.000 perKg x 100 Kg= 2.000.000

Rp 50.000 x 3 x 30 hari= 4.500.000

Juli 2017

Rp 6.500.000

Himpunan Orang Tani Niaga (Hotani)/Toha

Pencairan Rp 2.800.000. Kebutuhan: Rp 6.500.000. Kekurangan Rp 3.700.000

Disclaimer : Informasi dan opini yang tertulis di halaman campaign ini adalah milik campaigner (pihak yang menggalang dana) dan tidak mewakili Kitabisa.

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

DONASI SEKARANG

Galang Dana sebagai Fundraiser

Isi form di bawah untuk menjadi Fundraiser penggalangan "Wujudkan Mimpi Mang Toha Mengubah Nasib Petani"
Setiap donasi yang Anda kumpulkan akan disalurkan ke Amal Sosial Odesa.

Mau buat halaman untuk galang dana online seperti ini?