Kitabisa! - #KadoPahlawan - Oei Him Hwie

#KadoPahlawan - Oei Him Hwie

#KadoPahlawan - Oei Him Hwie
Sadarkah kamu begitu banyak pahlawan yang ada di sekitar kita? Beberapa diantaranya adalah mereka, yang masih perlu uluran tangan kita untuk wujudkan citanya.

Rp 3.057.026

terkumpul dari Rp 2.500.000
122% tercapai
Campaign Telah Berakhir

0 SHARES



Penggalangan dana dimulai 19 Oct 2015 oleh:

Baca update terbaru dari penggalangan dana ini!

Oei Him Hwie, Medayu Agung dan Kenangan-kenangan yang dikumpulkan

e584c91b63e131e60b4e28ceae59faf9360f9a99

Awal mula saya mengenal Oei Him Hwie atau yang biasa disapa Pak Wie adalah dari ajakan teman saya untuk ke salah satu perpustakaan di Surabaya. Perpustakaan Medayu Agung. Perpustakaan yang kiranya hanya satu-satunya yang berfokus pada sejarah di kota Surabaya ini. Pertemuan pertama saya dengan Pak Wie lebih banyak speechlessnya. Pak Wie dengan telaten mengajak saya berkeliling perpustakaan dan menjelaskan buku-buku koleksinya, koleksi kenangan-kenangan yang mungkin akan menjadi bekal mati yang cukup jika terus diamalkan oleh penerusnya.

Pak Wie dulunya adalah seorang wartawan di Koran Trompet Masjarakat. Pada masa beliau menjadi wartawan tersebut, Pak Wie rajin mengumpulkan dokumen, foto, koran, buku, pun mengkliping dokumen-dokumen bersejarah yang saat ini justru menjadi harta karun bagi mahasiswa-mahasiswa yang sering datang ke Perpustakaan Medayu Agung. Tak hanya mahasiswa, wartawan dan peneliti pun kerap berkunjung ke sini untuk mencari referensi dan mencari informasi.

Pak Wie lahir di Malang, 24 November, 80 tahun silam. Kini Pak Wie hidup berdua dengan istrinya, karena kedua anak lelakinya sering bekerja di luar kota. Keseharian pak Wie dihabiskannya di Perpustakaan Medayu Agung, dengan membaca, menulis atau mengkliping, hobi yang ditekuninya sejak kecil. Kesehatannya yang terkadang mulai menurun akibat usia dan vertigo yang dideritanya mengharuskan beliau sering ke klinik untuk check up kesehatan. Ketika banyak mahasiswa datang dan bertemu beliau, beliau akan menyapa dengan tangan terbuka dan bercerita panjang lebar.

Seperti cerita saat beliau ditangkap dan dipenjarakan di Batu, pada tahun ketika peristiwa 65 pecah. Trompet Masjarakat ditutup dan Pak Wie ditangkap. Seluruh koleksi foto-foto, buku, koran, kliping, majalah, dokumen dirampas dan dibakar. Apa yang ada di Medayu Agung adalah sisa-sisa dari yang mampu diselamatkan oleh adik Pak Wie.

Berpindah dari satu penjara ke penjara lain mulai dari Batu, Lowokwaru, Karang tengah, Nusa Kambangan sampai Pulau Buru, pada tahun 1970 sampai 1978, dan di sana lah Pak Wie bertemu dengan Pramoedya Ananta Toer, sosok penulis Indonesia yang sempat digadang untuk mendapatkan penghargaan Nobel Sastra.

8584dcc6189584e64f6461fca9d888bab3da2a1f

Saat di penjara, Pak Wie membantu Pram dengan menyusupkan kertas-kertas perkamen dari karung pembungkus semen untuk media Pram menulis. Pak Wie membantu Pram mengedit naskah-naskahnya. Hingga pada saat Pak Wie bebas, Pram menitipkan naskah-naskahnya untuk dibawa keluar. Lalu pada tahun 1979 setelah Pram bebas, Pak Wie mengunjungi Pram untuk mengembalikan naskah-naskah tersebut.

Setelah keluar dari penjara, Pak Wie mendapat KTP dengan gelar ET di belakang namanya, alias Eks Tapol. Dari sini lah semua perjuangan untuk mewujudkan Medayu Agung dimulai.

Dengan gelar Eks Tapol yang ditentengnya, Pak Wie kesulitan mendapatkan pekerjaan di manapun. Hidup menumpang pada adiknya membuat Pak Wie sungkan. Kesehariannya hanya mengkliping koran saja. Status ET nya dihapuskan setelah Pak Wie berumur 60 tahun.

Kemudian Pak Wie dihubungi oleh Haji Masagung, pendiri Toko Buku Gunung Agung dan Yayasan Idayu Jakarta. Beliau meminta Pak Wie pindah dari Malang agar tidak terus menerus dipantau. Lalu pindahlah Pak Wie ke Surabaya, bekerja di Perpustakaan Sari Agung yang juga milik Haji Masagung, dan mulai mempelajari pengelolaan perpustakaan.

Pada tahun 1992, ketika Haji Masagung meninggal dan Pak Wie memutuskan untuk pensiun, Pak Wie membawa buku-bukunya yang sempat selamat ke Surabaya. Buku-buku yang banyak dipenuhi debu dan dimakan renget. Sampai pada saat ada dua orang peneliti yang ingin membeli koleksinya dengan harga 1 milyar, namun Pak Wie enggan menjualnya.

Lalu datanglah Ongko Tikdoyo yang menawarinya membuat perpustakaan dan membantunya mengontrak rumah. Pada tahun 2001, Pak Wie dan Ongko menyewa sebuah rumah di Jl. Medayu Selatan VII/22 dan menyulapnya menjadi perpustakaan yang penuh koleksi buku-buku, arsip majalah dan kliping. Sampai pak Wie menyebut rumah tersebut seperti susuh alias sarang burung. Semakin banyaknya koleksi dan buku-buku, akhirnya perpustakaan pun berpindah ke Jl. Medayu Selatan IV/42-44

Sekarang, Pak Wie menjadi pengelola utama Perpustakaan Medayu Agung dengan tanpa gaji. Saat ini, Pak Wie dengan penglihatannya yang mulai kabur, masih tekun mengkliping, tiga sampai empat Koran tiap harinya. masih meladeni orang-orang seperti kami yang bertanya dan ingin lebih banyak tahu tentang sejarah. Sejarah perpustakaan Medayu Agung tak bisa dilepaskan dari sejarah hidup Pak Wie.

Sampai saat ini, yang jadi pikiran Pak Wie adalah regenerasi. Hal yang beliau khawatirkan dan yang beliau harapkan tinggi-tinggi adalah adanya penerus. Perpustakaan ini dikelola dengan swadaya, padahal isi di dalamnya lebih dari cukup untuk mengisi otak-otak pengunjungnya. Pada akhirnya Pak Wie hanya mengakui bahwa beliau bekerja untuk sejarah, agar tidak hilang, agar tidak dibolak-balik, agar anak cucu dan generasi selanjutnya tidak buta sejarah, agar nantinya beliau bekerja untuk keabadian pengetahuan.

Rencana Penggunaan Dana

Seluruh dana akan diberikan kepada Pak Hwie untuk apresiasi atas perjuangannya membangun Perpustakaan Medayu Agung.

Kado untuk Pak Hwie adalah berupa RAK BUKU dan BUKU-BUKU SEJARAH untuk melengkapi koleksi perpustakaan beliau.

Disclaimer : Informasi dan opini yang tertulis di halaman penggalangan ini adalah milik penggalang dana dan tidak mewakili Kitabisa.

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Campaign Telah Berakhir

Donatur 11

  • Rp. 2.000.616
    pita
  • Rp. 250.792
    Maitra Faiszal
  • Rp. 100.891
    Lee Ana
  • Rp. 100.831
    Anonim
  • Rp. 100.653
    Anonim
  • Rp. 100.646
    Anonim
  • Rp. 100.607
    Anonim
  • Rp. 100.445
    Anonim
  • Rp. 100.124
    Anonim
  • Rp. 50.754
    Teddy Parluhutan
SHOW MORE
SHOW MORE
2 Dec 2015

Update 2 - Ucapan terima kasih

Teruntuk para donatur baik hati,

Lepas dari suksesnya campaign #kadopahlawan untuk Pak Hwie membawa saya kembali untuk sekali lagi, bahkan berkali-kali lagi mengucapkan terima kasih yang amat sangat atas dukungan para donatur. Tentu saja, tanpa dukungan Anda, campaign ini tidak akan terwujud. Terima kasih, sekali lagi.

Dana yang terkumpul dari campaign ini adalah Rp 2.976.000 dari target Rp 2.500.000. Sungguh amat tidak disangka dalam waktu yang bisa dibilang sempit, dana sejumlah itu bisa terkumpul. Terima kasih, sekali lagi.

Kemarin, pada tanggal 28 November 2015 pukul 11.00 WIB di Perpustakaan Medayu Agung, donasi dari para donatur sekalian sudah kami serahkan kepada Pak Hwie melalui acara "Bincang Hangat dan Apresiasi Sosok Inspiratif". Donasi kami rupakan buku-buku untuk melengkapi koleksi perpustakaan sesuai dengan permintaan Pak Hwie pribadi, dan ada pun dana yang awalnya kami alokasikan untuk pembelian rak buku terpaksa kami rupakan uang karena kondisi perpustakaan Medayu Agung yang penuh. Salah satu pegawai Pak Hwie berjanji untuk membuatkan rak buku segera setelah Perpustakaan Medayu Agung pindah. Ya, saking penuhnya, Perpustakaan Medayu Agung rencana akan dipindahkan.

fd032cbd6cd51f961b09f3081403a3ce899771a7

Kami, Hipwee Surabaya, memohon maaf atas keterlambatan penyampaian donasi dikarenakan kami menunggu kesembuhan Pak Hwie yang sempat dirawat di rumah sakit karena stroke ringan. Kami pun meminta maaf atas keterlambatan penyampaian surat ini.

Sekali lagi, tidak ada yang mampu kami sampaikan selain ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya.


Salam,

Hipwee Surabaya

6 Nov 2015

Update 1 - Surat untuk para Donatur

Teruntuk para donatur yang baik hati,

Tidak menyangka bahwa campaign yang saya bawa mencapai goal dalam waktu kurang dari satu bulan. Saya, secara pribadi, maupun sebagai pembuat campaign, sangat merasa terharu masih ada perhatian dari orang-orang budiman seperti para donatur sekalian terhadap keberlangsungan dunia literasi dan sejarah Indonesia.

Campaign ini tidak akan mampu mencapai titik puncak tanpa bantuan dan perhatian kalian. Kado untuk Pak Hwie telah mencapai nilai Rp 2.956.902 yang mana jauh melampaui target Rp 2.500.000. Tidak ada yang mampu saya ungkapkan selain ucapan terima kasih kepada para donatur sekalian.

Seperti yang saya tulis dalam rencana penggunaan dana, donasi yang didapat akan dipergunakan untuk menunjang kebutuhan perpustakaan Medayu Agung yaitu berupa rak buku dan buku-buku referensi sejarah.

Semoga apa yang kita lakukan saat ini bermanfaat untuk kita semua.

Disclaimer : Informasi dan opini yang tertulis di halaman campaign ini adalah milik campaigner (pihak yang menggalang dana) dan tidak mewakili Kitabisa.

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Campaign Telah Berakhir

Anda tidak dapat menggalang untuk halaman penggalangan ini karena batas waktu telah berakhir.

Mau buat halaman untuk galang dana online seperti ini?