Kitabisa! - #KadoPahlawan - Pak Sudarto

#KadoPahlawan - Pak Sudarto

#KadoPahlawan - Pak Sudarto
Sadarkah kamu begitu banyak pahlawan yang ada di sekitar kita? Beberapa diantaranya adalah mereka, yang masih perlu uluran tangan kita untuk wujudkan citanya.

Rp 2.268.813

terkumpul dari Rp 2.000.000
113% tercapai
Campaign Telah Berakhir

0 SHARES



Penggalangan dana dimulai 19 Oct 2015 oleh:

Baca update terbaru dari penggalangan dana ini!

718ee09fd722534c58c484cfe9109f1657bf28f1

Pahlawan ini bernama Sudarto, lahir di Kota Malang pada Tahun 1940. Beliau terlahir dari latar belakang keluarga yang telah bergelut di dunia kesenian, Jaran Kepang namanya. Ini membuktikan darah seni dan kecintaannya pada seni Jaran Kepang sudah tak perlu diragukan.

Pak Darto beralamat asli di Jalan Klayatan, Sukun, Malang. Namun, demi menghemat ongkos pulang-pergi kerja, sehari-hari beliau tinggal di kontrakan sempit di daerah Comboran Malang, sebuah kawasan pasar yang sedikit kumuh nan padat penduduk. Tepat satu meter di depan rel kereta api yang masih aktif dilewati si raksasa besi, beliau tinggal bersama dua putranya. Mamas Basir (panggilan kakak a la keluarga ini) yang berusia 20 tahun dan si kecil Mikres yang masih berusia 11 tahun. Mamas Basir menderita sedikit gangguan mental akibat sering mengalami step yang tidak terobati saat kecil, sedangkan Mikres sudah putus sekolah sejak setahun lalu semenjak ibunya meninggal karena sakit.

Hunian yang ditinggali sungguh jauh dari kata layak. Ruangan sempit berukuran 3 x 5 meter yang bertutupkan bekas baliho itu harus dibagi untuk tempat tidur bagi Pak Darto dan dua anaknya, tempat memasak, dan tempat untuk menyimpan beraneka macam perlengkapan seni Jaran Kepang. Ada kepala barong, anyaman kudang kepang yang berjumlah lebih dari tiga, cambuk, baju-baju pentas, hingga peralatan elektronik seperti pengeras suara dan kabel berserakan di lantai hingga dindingnya. Semua peralatan itu tergantung dan tertata tidak rapi karena keterbatasan tempat untuk menyimpan.

Bertiga mereka selalu berkeliling menyambangi hiruk pikuk kota Malang. Mikres menarikan Jaran Kepang dengan kakak dan bapaknya mengurus instrumen pengiring. Dulu, sebelum Alun-alun Kota Malang dipugar, disanalah mereka mengamen setiap hari. Namun sekarang setelah tempat tersebut disterilisasi, rombongan Pak Darto dituntut lebih lihai mencari keramaian dari tempat satu ke tempat yang lain. Satu momen yang masih menjadi harapan tetap bagi pak Sudarto dan keluarga adalah Car Free Day (CFD) setiap hari Minggu di Jalan Ijen Malang. Setiap Minggu subuh pak Sudarto mengayuh becak untuk mengangkut anak dan peralatan pentasnya sejauh lima kilometer menuju pusat keramaian mingguan tersebut. Sudah menjadi satu resiko pekerjaan bagi pak Darto juga jika sewaktu-waktu petugas keamanan akan mengusirnya karena dianggap membuat kegaduhan. Sehingga tak heran jika di CFD pun belum menjamin bahwa beliau akan mendapatkan tempat untuk menampilkan tariannya. Solusinya, beliau selalu berangkat jam empat pagi demi mendapatkan tempat strategis untuk tampil menari.

377aafcf57036aa2dc15cee2d89b86d35e592b27

Selain itu, Pak Darto tak hanya menyimpan kemampuan seninya untuk keluarganya saja, namun juga menularkannya kepada tetangga sekitar dan mengajak mereka bergabung dalam rombongan pertunjukan. Sejumlah ibu rumah tangga dan anak-anak di samping kanan-kiri kontrakan telah menjadi anggota rombongan Jaran Kepang Pak Darto. Sesekali rombongan pak Darto juga diundang untuk mengisi acara-acara hajatan para tetangga dan orang-orang berpunya di daerah Malang. Rombongan pentasnya juga sudah beberapa kali menemani beliau tampil dalam pertunjukan sederhana nan bersahajanya di sudut-sudut kota.

Dedikasi Pak Darto pada kelestarian Jaran Kepang atau Kuda Kepang ini menjadi alasan mengapa beliau pantas menjadi salah satu pahlawan yang patut diapresiasi. Ketulusannya mengajari para tetangga dan anak muda dalam rombongannya untuk belajar tarian ini juga menjadi nilai plus mengapa beliau merupakan sosok yang heroik. Mustahil bagi anggota rombongannya mendapat tambahan penghasilan jika tanpa ilmu menari dari pak Sudarto.

Kesederhanaanya terpampang nyata dari baju dan aksesoris yang ia kenakan bersama anak-anaknya saat tampil. Meski sudah banyak payet selendang terlepas karena terkoyak waktu, semangat menari mereka tak pernah luntur. Semangat mereka gagah tercermin dari tiap gemulai tangan dan hentakan kaki walaupun warna merah putih corak baju khas Madura yang mereka kenakan kini juga telah luntur, lusuh, dan terlihat menahun melekat di badan mereka. Sesekali pak Sudarto membetulkan pengeras suara modifikasinya dengan memukul-mukulnya agar kembali bekerja dengan baik. Ya, selain suara pecut dan gongseng kaki, pengeras suara itu adalah satu-satunya alat yang paling bisa ia handalkan untuk mencuri perhatian orang-orang di jalanan. Alat musik pelengkap tari dulunya lengkap. Kendang, gending, kenong, dan lain sebagainya dulu ia miliki. Sungguh mewah dan meriah rombongan tariannya dulu. Namun, sejak istri pak Darto sakit-sakitan, ia harus rela menjual peralatan musiknya. Meski pengobatan sudah dilakukan dengan maksimal dari uang hasil menjual alat-alat musiknya, istri Pak Darto masih belum bisa sembuh hingga akhirnya meninggal setahun yang lalu.

775467b7d454e75f13485e657cae3b262d7892aa

Cerita pak Sudarto yang sederhana, ramah dan humoris ini hanya satu dari banyak pahlawan yang ada di sekitar kita. Semangat dan ketulusannya adalah nafas yang menghidupi relung-relung ketidaksempurnaan hidup di jaman yang penuh perjuangan ini. Semoga masih banyak Pak Darto di Indonesia yang mau tulus melestarikan budaya. Semoga masih banyak keringat yang mengalir tulus dari orang kecil seperti pak Darto, sehingga roda pelestarian budaya terus berputar tanpa jeda.

Kami ingin mengajak teman-teman untuk mendukung beliau, melecut semangatnya agar tak lelah untuk terus menjadi penggerak pelestarian kekayaan budaya negeri. Kado pahlawan mungkin tak seberapa dibanding dengan dedikasi beliau selama puluhan tahun menjadi pelaku seni, namun semoga kado dari kita dapat menujukkan kepada Pak Darto bahwa masih ada dari generasi mudanya yang peduli dan siap mengulur tangan. Karena mengapresiasi jauh lebih baik daripada tak bergerak sama sekali, bukan?

Rencana Penggunaan Dana

Seluruh dana yang didapatkan dari program ini akan diberikan kepada Pak Sudarto dalam bentuk perlengkapan seperti Speaker (600.000), Kostum (1.000.000) dan untuk perbaikan becak (400.000). Kesemuanya akan diberikan pada malam puncak sebagai Kado Pahlawan

Disclaimer : Informasi dan opini yang tertulis di halaman campaign ini adalah milik campaigner (pihak yang menggalang dana) dan tidak mewakili Kitabisa.

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Campaign Telah Berakhir

Donatur 16

  • Rp. 700.607
    pita
  • Rp. 150.711
    Anonim
  • Rp. 150.705
    Maleha
  • Rp. 150.695
    Anonim
  • Rp. 108.602
    Anonim
  • Rp. 100.969
    Oktora HS
  • Rp. 100.949
    Anonim
  • Rp. 100.847
    Ari Sudana
  • Rp. 100.839
    Anonim
  • Rp. 100.777
    Anonim
SHOW MORE
  • Rp. 50.257
    Anonim
  • Rp. 100.649
    Dicky Purnama
  • Rp. 100.451
    Tya
  • Rp. 700.607
    pita
  • Rp. 100.151
    Anonim
  • Rp. 100.949
    Anonim
  • Rp. 100.847
    Ari Sudana
  • Rp. 100.969
    Oktora HS
  • Rp. 108.602
    Anonim
  • Rp. 150.711
    Anonim
SHOW MORE
17 Nov 2015

Update 2 - Sekali Lagi Terima Kasih

Halo Semua

Kami dari Hipwee Community Malang mengucapkan terima kasih kepada para donatur yang telah memberikan donasi kepada Pak Sudarto, seniman asal Malang yang sedang membutuhkan uluran tangan dan perhatian dari kita.

Dana yang terkumpul dari campaign selama 14 hari adalah sejumlah Rp. 2.268.813, berhasil melewati angka 113,44% karena target awal pengumpulan dana adalah Rp. 2.000.000, sekali lagi terima kasih untuk anda yang luar biasa!

Pada hari Sabtu, 14 November 2015 pukul 15.00 WIB di Kafe Pustaka Universitas Negeri Malang, kami pun telah mengadakan penganugerahan kepada Pak Sudarto dan grup tari jaran kepang-nya yang berisi Pak Sudarto dan anak anaknya. Baju tari baru untuk Mikres (anak Pak Sudarto) pun telah dikenakan saat tari jaran kepang ditampilkan, dan uang untuk pembelian speaker juga telah diberikan kepada Pak Sudarto di akhir acara.

30916ee99a674823b044940427c27c5c25e1ee84

Sekali lagi, kami ucapkan terima kasih yang luar biasa! Tanpa kalian, kami pun tidak akan bisa berbuat lebih untuk pahlawan kota Malang yang satu ini :)

Salam,

Hipwee Community Malang

3 Nov 2015

Update 1 - Terima Kasih Para Donatur

Akhirnya campaign untuk pak Sudarto #KadoPahlawan Hipwee Community Malang bisa sukses hingga 110%, Terima kasih kepada seluruh donatur yang sudah membatu kami dalam mengumpulkan dana.

Seluruh dana yang didapatkan dari program ini akan diberikan kepada Pak Sudarto dalam bentuk perlengkapan seperti Speaker (600.000), Kostum (1.000.000) dan untuk perbaikan becak (400.000). Kesemuanya akan diberikan pada malam puncak sebagai Kado Pahlawan

Disclaimer : Informasi dan opini yang tertulis di halaman campaign ini adalah milik campaigner (pihak yang menggalang dana) dan tidak mewakili Kitabisa.

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

Campaign Telah Berakhir

Anda tidak dapat menggalang untuk halaman penggalangan ini karena batas waktu telah berakhir.

Mau buat halaman untuk galang dana online seperti ini?