Kitabisa! - Bantu Korban Gempa dan Tsunami Palu-Donggala

Bantu Korban Gempa dan Tsunami Palu-Donggala

Bantu Korban Gempa dan Tsunami Palu-Donggala
Rentetan gempa melanda Donggala dan Palu, Sulteng, Jumat (28/09/2018). Puncaknya, gempa sebesar 7,4 SR mengguncang Donggala hingga menyebabkan Tsunami di Palu.

Bantu campaign ini dengan menjadi Fundraiser. Setiap donasi yang Anda kumpulkan akan disalurkan ke Bantu Korban Gempa dan Tsunami Palu-Donggala

Rp 16.709.245.639

terkumpul dari Rp 20.000.000.000
84% tercapai 18 hari lagi


Penggalangan dana dimulai 28 Sep 2018 oleh:

Baca update terbaru dari penggalangan dana ini!


***

Ratusan ribu saudara terdampak bencana membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup dan bangkit kembali.

#BersamaHadapiBencana
#IndonesiaBersamaPaluSigiDonggala

Disclaimer : Informasi dan opini yang tertulis di halaman campaign ini adalah milik campaigner (pihak yang menggalang dana) dan tidak mewakili Kitabisa.

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

DONASI SEKARANG

Donatur 66242

  • Rp. 400.000.000
    BUKALAPAK
  • Rp. 325.062.000
    Rachel Vennya

    Bismillah, untuk pembangunan hunian sementara disana

  • Rp. 250.091.800
    BUKALAPAK
  • Rp. 218.235.200
    BUKALAPAK
  • Rp. 200.000.865
    agus jaka Prasaja

    tetap semangat

  • Rp. 123.177.500
    MINISO Indonesia

    Donasi customers miniso periode 12-18 oktober 2018

  • Rp. 50.000.000
    CreamHeroes

    Kami benar-benar mencoba berdoa untuk Palu di Sulawesi. Dukungan ini dari semua pemirsa untuk saluran Creamheroes di Youtube.

  • Rp. 49.350.809
    PT SENG FONG MOULDING PERKASA

    Semoga saudara kita yang mendapat bencana diberi ketabahan dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan, Aaminn

  • Rp. 43.200.000
    UPNORMAL

    Donasi penjualan kopi periode Agustus-September dari warunk upnormal

  • Rp. 42.000.452
    Yunike Susilo

    POPINDO for PALU

SHOW MORE
  • Rp. 100.562
    Melinda Rosalina
  • Rp. 30.000
    Anonim
  • Rp. 500.498
    Anonim
  • Rp. 30.066
    Anonim
  • Rp. 20.730
    Anonim

    Semoga Palu dan sekitarnya dapat kembali pulih. Amiin Amiin

  • Rp. 100.000
    Novri Denny
  • Rp. 15.152
    Anonim

    Sabar selalu, Allah bersama kita.

  • Rp. 100.762
    Anonim

    Keep on fighting! InsyaAllah sesudah badai akan terlihat pelangi di langit

  • Rp. 50.475
    Anonim
  • Rp. 603.415
    Aqmal Farisza

    hasil dari jualan kopi dan bubur

SHOW MORE
12 Dec 2018

Pencairan Dana Rp 200.000.000

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

12 Dec 2018

Update 57 - Pengungsi Sulteng Mulai Tempati Hunian ICS

Sore itu di Hunian Nyaman Terpadu (Integrated Community Shelter/ICS) Kelurahan Duyu, Tatanga, Palu, tampak sejumlah aktivitas. Sejak Sabtu (24/11), sejumlah warga prioritas terdampak bencana gempa bumi dan likuefaksi mulai menempati satu-satunya hunian terintegrasi di Kelurahan Duyu tersebut.

Nurmin (58) menunjukkan kami beragam tanaman hias yang sedang ia tanam di pekarangan kecil hunian barunya. Ada Bambu Air (Equisetum Hyemale), Kenikir (Cosmos Caudatus), dan Daun Dewa (Coleus Benth). Nurmin dan suaminya, Wagiman, adalah salah satu penghuni baru shelter di ICS Duyu. Rumah mereka yang terletak di Jalan Sungai Manonda, Balaroa, hancur dan tidak lagi bisa ditinggali.

Di sela-sela kegiatan berkebunnya Rabu sore (28/11) itu, Nurmin membagi sedikit cerita tentang perjuangannya sebagai penyintas gempa hingga hari ini. “Saya merinding kalau ingat malam itu,” ujar Nurmin sambil menunjukkan lengan kanannya, memperjelas bahwa bulu kuduknya berdiri. Tanpa jeda ia lanjut bercerita.

Magrib 28 September, tanah tiba-tiba berguncang ketika Nurmin hendak berwudu. Ia dan dua anaknya segera lari meninggalkan bangunan. Nurmin bahkan harus merangkak di lantai rumah agar tubuhnya tidak jatuh. Tidak lama suara dentuman terdengar dari sekitar Balaroa, ia tidak tahu apa yang terjadi di sana. Nurmin hanya ingat, langit di atasnya sempat memerah.

Hampir dua bulan berlalu setelah peristiwa nahas itu, selama itu pula Nurmin yang tidak lagi memiliki tempat tinggal harus tinggal di tenda. “Alhamdulillah, saya dikasih rumah (unit di ICS Duyu) ini. Kalau tidak, saya tinggal terus di tanah kosong itu,” ujarnya yang telah empat malam tinggal di ICS Duyu. Sejak Ahad (25/11) lalu, Nurmin dan keluarganya secara bertahap mulai memindahkan barang-barang yang tersisa dari tenda ke ICS Duyu.

Tetangga baru Nurmin, Supriyono (40), juga salah satu warga yang baru akan tinggal di Jalan Sungai Manonda. Sebelumnya, Nurmin dan Supriyono belum saling kenal walau tinggal di satu daerah yang berdekatan. Sehari-hari Supriyono berdagang sayur keliling, dari Kota Palu ia menjajakan sayurnya hingga ke daerah Pantai Barat Donggala. Sayur-sayur yang ia ambil dari pasar Inpres di kota ternyata sudah memiliki pelanggan tersendiri di sana. “Alhamdulillah, bagi saya ini (ICS) membantu dan (kami) senang. Alhamdulillah, terima kasih ACT,” ujarnya ramah.

Rabu (28/11) sore itu, Supri dan keluarganya baru saja datang melihat kondisi rumah barunya, persis di samping rumah Nurmin. “Ini masih dilihat-lihat dulu, besok rencana mau pindah,” jawabnya.

Bagi Supri, jangka waktu sekitar dua tahun adalah kesempatan yang bisa ia pergunakan dengan baik untuk memulai kehidupan yang baru. Menurut Supri, walaupun kehidupan ia dan keluarganya belum menemukan titik terang, adanya hunian nyaman terpadu yang diberikan sebagai bantuan bagi masyarakat terdampak gempa amatlah membantu. “Sekarang yang penting tempat tinggal dulu. Layak dan tidak kehujanan,” ungkap Supri.

Setiap hari, bapak tiga orang anak itu berangkat berjualan pukul setengah enam sore dan baru kembali ke rumah sekitar pukul tujuh malam. Ia bisa menempuh jarak 93 km untuk berjualan.

Suasana yang sama juga tampak di ICS Sibalaya Utara. Sejak Sabtu (24/11), sejumlah warga terdampak likuefaksi yang mengungsi di kios pasar Sibalaya Utara mulai menghuni ICS mereka. Heriani (40) baru saja usai melipat sejumlah pakaian, Senin (26/11) adalah hari kedua ia tinggal di ICS Sibalaya Utara. Rumah Heriani hancur parah terdampak likuefaksi.

Saat tim ACT berkunjung ke ICS Sibalaya Utara Senin sore, sejumlah anak tampak bermain di fasilitas taman bermain yang disediakan di hunian tersebut. Canda (11) sedang berkumpul bersama sejumlah anak lainnya. Ia bersama orang tuanya mengungsi di pasar Sibalaya Utara. “Kalau di sini bisa bermain, ada papan luncur dan toya-toya (ayunan),” ungkapnya khas anak-anak.

Koordinator ICS Dede Abdul Rahman mengungkapkan, semua warga yang mendapatkan fasilitas ICS di Sibalaya Utara maupun Duyu telah menempati hunian mereka. “Sudah pindah semua, kalau listrik di ICS Duyu masih dalam pemasangan akan disambungkan per blok-nya,” ujar Dede saat ditemui di ICS Lolu, Rabu (28/11) sore.

ICS di Kelurahan Duyu terdiri dari 96 unit shelter dan sejumlah fasilitas penunjang seperti masjid, MCK, dapur umum dan taman bermain. Sedangkan 60 unit untuk 60 KK diperuntukkan bagi warga terdampak bencana Sibalaya Utara. ACT juga masih menargetkan empat kompleks ICS yang tersebar di Palu, Sigi, dan Donggala rampung segera, yakni ICS di Desa Wani satu Kecamatan Tanantovea, Desa Soulowe Kecamatan Dolo, Kelurahan Buluri Kecamatan Ulujadi, dan yang nantinya menjadi salah satu ICS terbesar di Desa Lolu Kecamatan Sigi Biromaru.

Tidak Ketinggalan, ICS terbesar yang terletak di Desa Lolu Kecamatan Sigi Biromaru pun mulai tampak digunakan. Sejak Selasa (27/11) masjid di hunian tersebut digunakan pertama kali untuk salat Asar berjamaah. 

6 Dec 2018

Update 56 - ICS ke-6 untuk Warga Bencana Dibangun di Sigi

Melanjutkan kerja pemulihan pascabencana gempa, Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama pemerintah Sumatera Utara (Sumut) membangun Hunian Nyaman Terpadu (Integrated Community Shelter/ICS) di Desa Soulowe, Kecamatan Dolo, Sigi. Kerja sama itu ditandai dengan peletakkan batu pertama ICS Soulowe pada Sabtu (24/11).

Acara ini dihadiri langsung oleh Kepala BPBD Sumut Riadil Akhir Lubis, Camat Dolo Suplain, Kepala Cabang ACT Sumut Ronio Romantika, dan Kepala Cabang ACT Sulteng Nurmarjani Loulembah. Riadhil mengungkapkan kehadiran perwakilan pemerintah Sumut ke Desa Soulowe adalah bentuk empati dan kepedulian bagi masyarakat terdampak bencana di Sulteng, khususnya di Sigi.

“Kita bersama masyarakat Sumatera Utara dan pemerintah menyampaikan empati, sangat prihatin atas bencana dan musibah ini. Kita datang ke kecamatan Dolo, Desa Soulowe ingin memberikan perhatian dan akan membangun shelter lebih dari 100 unit. Mudah-mudahan bantuan dari Sumatera Utara ini bisa dimanfaatkan warga desa,” papar Riadhil.

Ditargetkan 160 unit hunian akan dibangun di atas lapangan sepak bola milik desa. Selain hunian, ICS Soulowe didesain dengan sejumlah fasilitas umum, antara lain MCK, masjid, dan dapur umum.

“Lokasi ini adalah tanah desa yang dulunya lapangan bola dan diserahkan kepada pemerintah dan masyarakat desa untuk hunian,” jelas Ketua Cabang ACT Sulteng Nurmarjani.

Camat Dolo Suplain menjelaskan, ada lima desa terdampak gempa paling parah dari sebelas desa di Kecamatan Dolo. Kelima desa terdampak parah yaitu Desa Kabobona, Soulowe, Langaleso, Karawana, dan Potoya. “Hampir semua bangunan masyarakat rusak di Desa Soulowe. Kami berterima kasih banyak kepada pemerintah Sumatera Utara untuk memberikan bantuan kepada warga kami di desa Soulowe. Ada sekitar 169 rumah rusak berat, 80 rumah rusak ringan, dan sekitar 80 rumah rusak sedang.” Ungkap Suplain.

Hingga bulan November ini, ACT telah membangun 500 unit hunian yang tersebar di lima kompleks Hunian Nyaman Terpadu (ICS) di Palu, Sigi, dan Donggala. Peletakkan batu pertama ICS di Desa Soulowe tersebut menandakan resmi bertambahnya jumlah kompleks hunian bagi korban bencana di Sulteng.

3 Dec 2018

Pencairan Dana Rp 74.550.454

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

28 Nov 2018

Pencairan Dana Rp 7.874.065

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

28 Nov 2018

Update 53 - Kisah Dapur Umum di Desa Enu, Donggala

Siang itu, cuaca di sekitar Desa Enu, Kecamatan Sindue, Donggala bagian timur cerah. Desa yang berada tak jauh dari pantai ini hawanya terasa panas. Terik matahari menyilaukan mata, tapi pepohonan hijau yang tumbuh subur di sekeliling desa meredamnya.

Tenda dari terpal warna hitam dengan garis oranye yang diset layaknya barak tentara terlihat berdiri di lapangan desa. Di dalamnya ramai, celetuk khas ibu-ibu terdengar. Mereka sesama pengungsi gempa dan tsunami yang melanda Palu, Sigi, dan Donggala saling bercengkrama. Mereka mencoba melupakan ketakutan dan trauma dari bencana yang terjadi akhir September silam. 

Aroma masakan kaya rempah tercium dari dalam tenda. Kompor dengan tabung gas 3 kilogram tengah menyala, sibuk memanaskan yang ada di atasnya. Kepulan asap dari tungku penanak nasi terlihat mengepul putih, sedikit lagi matang. Tak cuma itu, lauk telur dibalur sambal bakal menjadi teman santap siang hari itu. Sayur juga tahu dan tempe akan menjadi pelengkap makan pengungsi.

Yama (40) sebagai Koordinator Dapur Umum Aksi Cepat Tanggap (ACT) Desa Enu menuturkan, setiap harinya dapur ini memasak untuk 900 orang. Proses memasak dilakukan dua kali dalam sehari, untuk makan siang dan malam. Dibantu sekitar 20 orang, penghuni pengungsian juga. Yama memastikan bahwa pengungsi mendapatkan makan siang dan malam secara teratur.

“Kalau sarapan, kami pengungsi di sini masak sendiri-sendiri,” imbuh perempuan yang menempati tenda Dapur Umum ACT ini, Selasa (6/11). 

Di Enu, awalnya jumlah pengungsi berada di angka 560 orang. Namun, dua pekan berselang pascagempa mengguncang, fokus pengungsian dijadikan satu tempat. Dusun 1 yang sebelumnya terpisah tempat mengungsi, kini bregabung dengan dusun lainnya. Saat ini, pengungsi di Desa Enu berjumlah sekitar 900 orang.

Tak lama, semua masakan telah matang, dari nasi hingga lauk-pauknya. Ibu-ibu yang berada di dapur dengan sigap mempersiapkan kertas cokelat sebagai bungkus satu porsi makan. Mereka bersila, duduk menghadap nasi dan lauk yang masih mengepul karena baru masak. “Karena masak di sini dalam jumlah porsi banyak, jadi semua orang pasti kebagian pekerjaan, sampai untuk membungkus nasi ini,” tambah Yama. 

Bungkusan nasi dan lauk yang telah dikemas, ditempatkan jadi satu, dijajarkan untuk kemudian dihitung jumlahnya. Nantinya semua bungkusan itu akan dinikmati pengungsi secara bersama. Mereka menamakan dengan tradisi guyub desa atau merembuk makan bersama.

Logistik untuk Dapur Umum ini secara berkala dan rutin dipasok oleh ACT. Hal itu untuk menjamin keberlangsungan proses memasak. Selain itu juga untuk menjamin ketersediaan makanan bagi pengungsi yang umumnya belum kembali bekerja. 

Di Desa Enu ini, mayoritas warganya berprofesi sebagai petani kakao dan nelayan. Kakao yang belum masuk masa panen dan serangan hama, juga nelayan yang belum berani melaut menjadi hambatan pergerakan ekonomi warga. “Cuma nelayan nekat saja yang berani melaut,” ujar Yama.

27 Nov 2018

Pencairan Dana Rp 53.270.657

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

26 Nov 2018

Pencairan Dana Rp 49.031.101

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

22 Nov 2018

Update 50 - Pengajian Anak di ICS, Satu Cara Redam Trauma

Lantunan ayat suci Alquran menggema dari salah satu unit shelter di Kompleks Hunian Nyaman Terpadu (Integrated Community Shelter/ICS) Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kelurahan Duyu, Kota Palu, Rabu (7/11) sore. Sejumlah anak berkerumun, di antara mereka ada yang terlihat membawa buku Iqra, Alquran, juga buku tulis.

Ida Rosida (51) adalah satu-satunya orang tua di kerumunan anak itu. Ia menjadi guru mengaji sukarelawan di ICS Duyu. Rabu itu, Ida harus mengajar seorang diri sebab salah seorang guru yang lain sakit. Sejak ICS Duyu dibangun, Ida menjadi guru mengaji bagi anak-anak penyintas gempa dan likuefaksi yang tinggal di tenda-tenda sekitar kompleks ICS Duyu.

Sebelumnya, ia adalah guru BTQ (Baca Tulis Quran) di SD Inpres Balaroa. Kini sekolah tempat mengajarnya rata dengan tanah diremuk likuefaksi. Ida juga mengajar TPA (Taman Pendidikan Al Quran) Raudatul Jannah di Jalan Sungai Balantak, sekitar 10 menit ditempuh menggunakan kendaraan bermotor dari lokasi ICS Duyu.

Sama hal dengan murid-muridnya, Ida juga penyintas gempa. Bersyukur, rumah Ida “hanya” miring dan masih bisa untuk ditinggali. Di tengah kondisi yang seperti itu, Ida tetap menjalankan dakwahnya sebagai guru mengaji.

“Harapannya anak-anak hilang traumanya, meningkatkan juga bacaan (Quran) anak-anak, mendekatkan diri kepada Allah supaya selalu berbuat baik. Tentunya pelajaran agama ini pelajaran utama,” papar Ida. Baginya, mengajar anak-anak penyintas mampu menggantikan kegiatannya mengajar di sekolah dasar. Ia pun mengatakan, niatnya hanya mencari rida Allah. “Niatnya lillahi ta’ala,” lanjut Ida.

Setiap sore di hari Senin, Selasa, dan Rabu pengajian anak-anak diselenggarakan di ICS Duyu, tepatnya di salah satu shelter yang difungsikan warga sebagai musala sementara. Saat ini, sekitar 30 anak mengikuti pengajian di shelter ICS Duyu. Mereka adalah siswa kelas 1-6 SD dan tingkat pertama SMP.

Sebelum bencana, para penyintas anak yang tinggal di sekitar ICS Duyu mengaji di masjid-masjid atau musala dekat rumah mereka. Kini kegiatan mengaji di tempat asal sudah tidak dilakukan lagi. Hal itu disebabkan tempat mengaji yang sudah tidak atau pun guru mengaji yang tidak dapat menyelenggarakan pengajian lagi.

Wafid (11), gadis kecil itu adalah salah satu murid mengaji di ICS Duyu. Bacaan Wafid sudah mencapai juz 18 Alquran. Sejak bencana melanda, ia tidak lagi mengaji di masjidnya yang dulu. Ia pun senang bisa mengaji lagi. “Tadi belajar lagu-lagu, panjang-pendek bacaan, menulis angka Arab,” cerita Wafid.

Pengajian anak menjadi salah satu kegiatan keagamaan yang dilakukan di shelter ICS Duyu. Sebelum masjid di kompleks itu jadi, shelter juga digunakan warga untuk melaksanakan salat berjamaah.

Senin (12/11) sore, Tim ACT berkunjung lagi ke ICS Duyu. Hari itu berbeda, selepas pengajian selesai, karpet dan pengeras suara di shelter yang digunakan untuk musala sementara dipindah ke masjid ICS. Magrib itu masjid ICS Duyu digunakan perdana warga salat berjamaah. Begitu pun pengajian anak-anak, Selasa (13/11), pengajian akan dipindah ke masjid yang telah rampung itu.

ICS Duyu menjadi salah satu kompleks hunian nyaman terpadu yang pembangunannya telah mencapai 95%. ACT membangun 96 unit hunian, dilengkapi dengan fasilitas masjid, MCK, dan dapur umum di ICS Duyu.

21 Nov 2018

Pencairan Dana Rp 30.378.215

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

19 Nov 2018

Pencairan Dana Rp 75.903.782

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

16 Nov 2018

Pencairan Dana Rp 24.121.848

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

16 Nov 2018

Update 46 - Paket Sembako untuk Ratusan KK di Desa Simoro

Matahari masih terasa terik, penunjuk waktu di telepon genggam menunjukkan pukul setengah empat sore. Hujan reda tidak lama setelah truk pembawa pasokan logistik dari Palu tiba di Gumbasa. Tepatnya di Desa Simoro, Kecamatan Gumbasa, Kabupaten Sigi.

Menempuh waktu sekitar dua jam dari Kota Palu, truk logistik Aksi Cepat Tanggap (ACT) tiba di Posko Wilayah Gumbasa. Selasa (5/11) itu, sejumlah paket sembako berisi beras, minyak goreng, biskuit, dan keperluan dapur lainnya dibagikan ke lebih kurang 200 KK di Desa Simoro. Hari itu pembagian sembako dibagikan di dua titik. Pertama di Posko Wilayah Gumbasa, kedua di rumah ketua RT 01.

Komandan Posko ACT Wilayah Gumbasa Dede Sugiana mengungkapkan, budaya guyub dan saling membantu di masyarakat Desa Simoro adalah contoh baik di tengah suasana prihatin pascabencana. "Secara dampak lumayan banyak. Di sini situasi kondusif dan masyarakat kooperatif," papar Dede.

Ia juga menceritakan, selang hari setelah gempa, masyarakat pun segera bergotong royong mendirikan tenda di rumah-rumah mereka. Kini, hampir sebagian besar juga masyarakat sudah kembali ke rumah dan memulai aktivitas.

"Kita ingin memberikan bantuan tepat sasaran dan tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan," lanjutnya.

Gempa dan Panen Kakao Menurun

Aema (60) adalah salah satu penyintas  gempa di RT 01 Desa Simoro. Sore itu ia sedang memisahkan biji kakao dari baboli (kulitnya). Ia dan keluarganya memiliki pohon kakao di hutan. Sayangnya, beberapa bulan ini panen kokoa sedang tidak bagus.

Aema dan keluarga biasa menjual hasil panen mereka ke kota Palu. Ia menjual biji kakao kering, per kilonya dihargai Rp 30 ribu. Sedangkan kulit biji kakao (mereka menyebutnya baboli) dihargai Rp 10 ribu per kilo gramnya. Belum lagi, pascagempa aktivitas perdagangan belum kembali normal. Saat ini, masyarakat sebagian besar menggantungkan kebutuhan sehari-hari pada bantuan.

 

"Terima kasih, sangat terbantu," tutur Aema ketika bantuan logistik ACT menyambangi rumahnya.

Bencana gempa, magrib 28 September lalu, memang menyisakan ingatan menyedihkan bagi Aema. Ia yang nyaris tak sadarkan diri karena guncangan gempa dan rumah yang kini retak, bukan alasan untuk hidup dalam kepasrahan.

15 Nov 2018

Update 45 - Pendampingan Ical, Korban Patah Tulang Gempa

Seminggu lamanya Rizal Syahputra alias Ical (10) menginap di Rumah Sakit Undata, Palu. Setelah dirujuk oleh Tim Medis ACT, Ical pun berhasil menjalani operasi pada Rabu (31/10). Operasi berjalan lancar, tulang paha kanan Ical yang patah kini sudah terpasang alat (pen) penyanggah. 

Ical merupakananak kedua dari empat bersaudara dari pasangan petani desa, Nawir (38) dan Ayu (35). Di usianya yang masih belia, Ical harus mengalami patah tulang akibat tertimpa reruntuhan ketika gempa mengguncang kediamannya di Desa Bulubete, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi.  

Ketika gempa datang, Ical sedang berada di masjid untuk bersiap menunaikan salat Magrib berjamaah bersama teman-temannya. Namun, sebelum salat terlaksana, bumi berguncang dan gempa besar terjadi. Ical dan teman-temannya pun lari berhamburan keluar. Nahas, salah satu bagian bangunan masjid yang runtuh menimpa kaki Ical. Saat itu Ical hanya bisa menangis sampai akhirnya diselamatkan oleh seseorang. 

Pertemuan pertama dengan Ical adalah ketika Tim Medis dan Pendampingan Psikososial Posko Wilayah Sigi tengah menyambangi para penyintas di Desa Bulubete, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi pada akhir Oktober lalu. Ical kala itu datang bersama orang tuanya untuk melakukan konsultasi perihal kondisi kakinya. 

Menyaksikan keadaan Ical, tim medis mengaku terkejut. Termasuk Mulyana selaku perawat dari Posko ACT Wilayah Sigi. Hal ini mengingat sebulan lamanya Ical belum mendapat perawatan. Minimnya pengetahuan dan kondisi ekonomi menjadi alasan orang tua Ical tidak membawanya ke rumah sakit. 

“Jadi kaki Ical hanya dipijat dan dioles dengan obat tradisional saja,” ungkap Mulyana yang mengetahui itu dari orang tua Ical. 

Tak ingin hal buruk terjadi, keesokan harinya Mulyana dan Tim Medis ACT lainnya membawa Ical ke Rumah Sakit Undata untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Hingga akhirnya dokter menyatakan Ical harus menjalani operasi dua hari kemudian yakni Rabu (31/10). Ical pun menjalankan operasi, pen dipasang di paha kanannya. 

Mulyana mengaku, selama di rumah sakit dirinya ditemani Tim Pendampingan Psikososial ACT yang juga secara rutin mengontrol kondisi Ical. Sebab sering bertemu, kedekatan antara Ical dan tim ACT menjadi semakin dekat. Bahkan Ical seringkali menanyakan apabila salah satu tidak datang membesuk.

Seperti ketika tim menjemput Ical pada Senin (5/10) kemarin, ketika Ical sudah diperbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Ical tampak gembira ketika Mulyana menjemput, meski sempat sedikit merajuk karena salah satu perawat tidak turut serta. 

Sekarang Ical sudah kembali ke desanya, tetapi bukan pulang ke kediamannya. Rumah Ical hanya tersisa puing-puing, tak mungkin lagi ia dan keluarga tinggal di sana. Ical tinggal di pondok panggung berukuran kecil buatan sang Ayah, hanya berdinding terpal dan berlantai pelupuh. 

Mulyana pun menegaskan, Tim Medis dan Pendampingan Psikososial ACT menegaskan akan tetap membersamai Ical dalam melakukan pemeriksaan rutin ke rumah sakit hingga Ical benar-benar pulih. “Insya Allah Kamis (8/11) besok, kami akan mengantar Ical kontrol. Orang tua Ical titip pesan, katanya terima kasih yang mendalam untuk ACT,” tutur Mulyana.

14 Nov 2018

Pencairan Dana Rp 99.684.778

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

13 Nov 2018

Update 43 - Apa Kabar Pembangunan Hunian Nyaman di Palu?

Kaca jendelanya sudah dipasang, sapuan cat tipis berwarna oranye tampak digores sengaja di atas kaca, tanda kalau jendela itu sudah rampung. Dalam urusan konstruksi bangunan, biasanya kaca jendela adalah bagian paling akhir dipasang. Artinya kalau kaca itu sudah tertempel di tiap-tiap satu jendela, menandakan bahwa seluruh konstruksinya rampung, hampir seluruh fungsinya sudah bisa digunakan.

Hijau, putih, dan oranye, memang telah tampak makin semarak, jadi warna dominan bangunan-bangunan baru di atas lahan lapang di sisi bebukitan Kelurahan Duyu, Kota Palu. Pekerjaan konstruksi dikebut, kompleks Hunian Nyaman Terpadu - ACT di Duyu sudah mulai terlihat bentuknya.

Dihitung sejak pertama kali pekerja konstruksi mulai bekerja, Senin (5/11) menandakan lebih sepekan proses pembangunan Hunian Nyaman Terpadu atau Integrated Community Shelter (ICS), untuk penyintas gempa dan likuefaksi di Duyu berlangsung. Satu lokal hunian dengan total 16 pintu, tuntas diselesaikan. Satu lokal lain, sedang dalam proses akhir.

Dede Abdulrahman, Koordinator Pembangunan Hunian Nyaman Terpadu ACT menjelaskan, satu pekan berjalan, hunian di Duyu sudah telah selesai 55%. “Rinciannya sudah jadi satu lokal hunian dengan 16 pintu, sudah dicat, terpasang jendela, dinding, lantai, dan atap lengkap. Satu lokal hunian lagi sudah terpasang dinding, lantai dan atap, sudah dicat pula, tinggal finishing sedikit. Tiga lokal hunian lagi tinggal memasang atap, dan satu hunian lagi masih berupa pondasi dan persiapan pemasangan kuda-kuda untuk atap dan dinding,” jelas Dede, Senin (5/11).

Lebih lanjut Dede memaparkan, sesuai dengan rencana pembangunan, Hunian Nyaman Terpadu - ACT di Kelurahan Duyu, Palu, akan dibangun sebanyak enam lokal hunian dengan masing-masing 16 pintu. 

“Setiap hunian ini sudah ada konsepnya. Hunian lokal punya 16 pintu dengan ukuran 9,5 meter x 24 meter, Artinya kalau ada enam lokal di Duyu, total ada 96 unit untuk masing-masing keluarga. Setelah itu kami juga bangun masjid, klinik, gudang, ruang sekretariat, juga arena bermain anak-anak,” jelas Dede.

Lembur sampai malam

Hanya lewat sejenak usai matahari Palu muncul dari sisi Gunung Sidole - puncak tertinggi di sebelah Timur Kota Palu - pekerja konstruksi Hunian Nyaman Terpadu - ACT di Duyu mulai bergegas. Kembali ke rutinitasnya, kembali memegang kayu, papan, atap, triplek, juga bermacam perkakas andalan. Pagi untuk bekerja telah dimulai sejak pukul 07.00 WITA.

“Waktu rehat di waktu salat, untuk makan dan istirahat sebentar. Kemudian memulai lagi kerjanya. Biasanya semua baru berhenti sampai pukul 11 malam,” kata Dede.

Alasan ini pula yang akhirnya berpengaruh besar terhadap kecepatan pembangunan Hunian Nyaman Terpadu - ACT di Duyu. Seluruh pekerja konstruksi baik warga lokal maupun relawan yang dibawa dari Jawa, kompak memulai kerja pukul 07.00 dan mengakhirinya jelang tengah malam.

“Total ada 43 orang pekerja konstruksi dari Jawa Barat, dan 33 orang relawan asal Kelurahan Duyu. Alhamdulillah relawan di sini selalu dijaga pola makannya. Agar kesehatan dan energinya juga cepat pulih. Semua demi hunian yang lebih layak untuk para pengungsi ini cepat selesai,” kata Dede.

Bekerja lembur dalam gelap malam pun tak pernah jadi halangan bagi puluhan pekerja konstruksi ini. Hadiyat misalnya, lelaki kelahiran Bandung 48 tahun lalu itu, kini berdomisili di Kawalu, Tasikmalaya. Ia bercerita, bekerja di malam justru membuatnya lebih nyaman.

“Karena udah biasa kerja malam. Sambil guyon juga nggak kerasa. Di sini juga senang, makan terjamin, minum terjamin. Istirahat juga cukup. Kalau malam malah dingin, sejuk. Nggak kayak siang di sini panas sekali,” tutur Hadiyat.

Satu motivasi lain yang memicu Hadiyat tak kenal lelah, adalah alasan utamanya mengapa ia mau diajak terbang jauh dari Pulau Jawa; yakni membantu memulihkan duka pengungsi.

“Itu kebanggaan sekali. Kita jauh dari Jawa. Bisa nolong orang di sini. Sama-sama saudara, banyak juga yang muslim di sini. Pengalaman ini, buat cerita nanti ke anak-cucu,” ucap Hadiyat. 

Di bawah temaram lampu, sehabis azan Isya, Hadiyat masih dalam pekerjaannya. Sembari memegang pensil, penggaris, dan gergaji, Hadiyat fokus dan telaten menggores ujung pensilnya di atas kayu. Malam itu, Senin (5/11), ia sedang menyimpan hitung-hitungan angka di dalam kepala, hitungan tentang berapa panjang kayu kasau (rusuk atap) yang siap dipasang untuk menyangga atap.

“Sesegera mungkin rumah untuk pengungsi ini harus selesai. Jangan lama-lama. Kasihan mereka sudah sebulan tidurnya di tenda-tenda. Mudah-mudahan semua sehat, semua teman-teman relawan konstruksi juga sehat. Doakan kami,” tutup Hadiyat mengharap doa.

12 Nov 2018

Pencairan Dana Rp 155.082.935

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

9 Nov 2018

Pencairan Dana Rp 161.946.156

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

9 Nov 2018

Update 40 - Menggali Sumber Air untuk Pengungsi ICS Palu

Sekali lagi, mata bor bergetar tak karuan, tanda ada batu cadas yang menghalangi. Meski tertahan, mata bor enggan berhenti, terus berputar menambah sekian sentimeter per menit. Suara deru mesin diesel solar bergemuruh hebat. Oli yang menetes, asap mengepul tebal, dan panas yang terik, menjadi latar. Tiga pekerja yang mengawasi kerja mata bor, penuh peluh di kening. Siang yang terik di Kelurahan Duyu, tak menyurutkan semangat mereka untuk terus bekerja.

“Masih lumpur yang keluar, baru lima meter. Bisa jadi sampai puluhan meter. Kami belum tahu pasti berapa dalamnya sampai air keluar,” ujar Amir (55) lelaki asli Suku Bugis, salah satu pekerja yang bertugas mengawasi kerja mesin diesel pengeboran sumur. Senin (5/11), kami, Tim ACTNews, bertemu dengan Amir di salah satu sudut belakang kompleks Hunian Nyaman Terpadu (Integrated Community Shelter/ICS) Aksi Cepat Tanggap (ACT), di Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu.

Amir masih penuh dengan peluh, hampir tengah hari ia dan dua orang kawannya tak henti menatapkan matanya pada pipa-pipa yang terhubung langsung dengan mata bor. Pipa dengan masing-masing panjang tiga meter itu nantinya bakal terus disambung, kelipatan tiga meter terus hingga puluhan meter, menunjam dan berputar perlahan ke dalam tanah.

“Perkiraan kami sekarang, sekitar 40 meter baru dapat air. Insya Allah, semoga bisa segera menemukan airnya,” harap Amir.

Ikhtiar Amir dan dua orang kawannya kini benar-benar ditunggu oleh puluhan kepala keluarga yang menghuni tenda-tenda terpal di sekelilingnya, mereka adalah penyintas gempa dan likuefaksi. Rumah mereka sebagian besarnya hancur, rata dengan tanah diguncang gempa juga digulung likuefaksi. Sudah sebulan berselang pascabencana besar Jumat (28/9) lalu, air bersih pun menjadi masalah pelik, termasuk di Kelurahan Duyu.

Sementara proses pembangunan Hunian Nyaman Terpadu - ACT di Kelurahan Duyu sedang bergulir, sejumlah keluarga penyintas gempa dan likuefaksi memilih menunggu di dalam tenda-tenda terpal di sekeliling. Tidur apa adanya, makan apapun yang bisa digoreng atau direbus, dan menunggu air bersih kiriman datang untuk mandi atau mencuci.

“Hunian pengganti sudah hampir rampung di Duyu, tinggal urusan air bersih yang sedang diikhtiarkan bersamaan. Selama sebulan terakhir, air bersih yang ditunggu-tunggu hanya berasal dari kiriman mobil tangki yang dipasok oleh Tim Air Bersih - ACT,” ujar Dede Abdulrahman, Koordinator Pembangunan Hunian Nyaman Terpadu ACT di Kota Palu

Batu cadas yang menjadi penghalang

Perjuangan Amir dan dua orang kawannya masih panjang. Pasalnya penggalian sumur bor baru berjalan dua hari, kedalamannya pun baru lebih sedikit dari lima meter. Amir bercerita, bukan hal mudah untuk menggali sumur bor di atas tanah perbukitan Kelurahan Duyu.

“Batu keras ini banyak yang kecil-kecil di sini karena lokasinya pegunungan kan. Lebih baik mata bor bertemu batu besar, pasti bisa tembus tapi tidak goyang. Kalau mata bor bertemu batu kecil dia akan bergetar kuat dan semakin sulit untuk ditembus,” jelas Amir.

Namun Amir tetap optimis, ia meyakini pekerjaanya bakal rampung dalam satu pekan ke depan. “Insya Allah tujuh hari lagi bisa selesai, ketemu air perkiraan kami di kedalaman sekitar 40 meter. Kami bekerja sejak pagi sampai Magrib,” tuturnya.

Kala matahari Kota Palu persis berada di atas kepala, Amir dan dua orang kawannya bahkan masih belum menghentikan laju mesin bornya. Derunya masih bergemuruh, sementara sejumlah pekerja konstruksi di Hunian Nyaman Terpadu - ACT sudah lebih dahulu beristirahat.

“Sebentar lagi bakal kami matikan sebentar mesinnya. Mau kami ganti sabuk karetnya sambil kami lihat lagi mata bornya. Sudah berkali-kali sejak tadi mata bor kena batu kecil-kecil. Mesin diesel untuk bor ini kalau tidak ada kerusakan tidak kami kasih berhenti bekerja,” jelas Amir selagi menunjukkan bebatuan kecil yang kemarin sempat membuat tumpul mata bor yang ia miliki.

Bekerja tanpa lelah untuk menemukan air bersih di Hunian Nyaman Terpadu - ACT di Duyu, bukan tanpa alasan. Amir bercerita kalau ia pun menjadi korban dari bencana tsunami di Pantai Talise, sebulan silam. Rumah Amir hancur dilebur dan digulung tsunami.

“Saya merasakan betul bagaimana hidup di tenda pengungsian, air bersih susah. Mau beli air bersih tidak ada uang. Alhamdulillah sekarang saya sudah tinggal sementara di rumah anak saya,” kisah Amir.

Sampai satu pekan ke depan, seluruh proses penggalian sumur bor di Kelurahan Duyu terus dikebut. Sumur bor tersebut nantinya tidak hanya untuk pengungsi yang tinggal di kompleks ICS, namun juga yang berada di sekitar kompleks tersebut.

Berjalan beriringan, proses pembangunan Hunian Nyaman Terpadu - ACT pun terus dirampungkan. Kini, sudah ada empat lokasi yang sedang dibangun dengan total lebih dari 500 hunian untuk ratusan keluarga penyintas gempa, tsunami, dan likuefaksi. Dede menjelaskan, Hunian Nyaman Terpadu - ACT ada di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala.

“Alhamdulillah kami sudah memulai seluruh proses pembangunan Hunian Nyaman Terpadu di empat lokasi. Untuk pembangunan di Kelurahan Duyu, Senin (5/11) sudah sampai 55% prosesnya,” pungkas Dede.

8 Nov 2018

Update 39 - Hunian Nyaman Terpadu untuk Donggala

Sepanjang pesisir itu kini datar, tanpa bangunan sama sekali di atasnya. Hanya ada puing kehancuran, puing sisa tragedi besar Jumat (28/10) petang, lebih dari sebulan silam. Tidak hanya di sepanjang Pantai Talise, Kota Palu, tsunami fatal di Jumat malam itu pun menyapu habis seluruh pesisir Pantai Barat Donggala, khususnya di wilayah sekitar Kecamatan Tanantovea.

Hari itu, tiga kali sapuan gelombang tsunami benar-benar membuat porak-poranda sepanjang pesisir Pelabuhan Wani, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala. Bahkan, sebuah kapal besar, Sabuk Nusantara 39 terdorong tsunami. Kini kapal itu terdampar sepenuhnya, bertengger tak bergerak di atas dermaga Pelabuhan Wani.

Sebulan berselang pascatragedi besar di Pesisir Pantai Barat Donggala, ratusan korban jiwa sudah dimakamkan jauh-jauh hari, tapi duka itu masih ada. Pasalnya, tidak sedikit jumlah keluarga yang kini mengalami kehilangan rumah. Bukan hanya retak terdampak gempa, tapi kini rumah itu lenyap sepenuhnya. Tinggal tersisa ubin berwarna kelam di atas pondasinya. Ubin satu-satunya yang menjadi saksi bahwa gelombang tsunami berwarna hitam itu menyapu habis semua di sepanjang pesisir.

“Di dekat kapal (Sabuk Nusantara 39) yang naik ke daratan itu sebelumnya rumah nelayan semua. Tapi sekarang habis. Mereka tinggal di tenda pengungsian,” tutur Andri Habrin, 36 tahun, Kepala Desa Wani 1, Kecamatan Tanantovea.

Hunian Nyaman Terpadu ketiga di Desa Wani 1

Melanjutkan upaya pemulihan pascabencana di Kota Palu juga Kabupaten Sigi, Donggala, dan Parigi, Aksi Cepat Tanggap (ACT) kembali menginisiasi Hunian Nyaman Terpadu atau Integrated Community Shelter (ICS). Kali ini, Hunian Nyaman Terpadu yang ketiga dibangun di Desa Wani 1, diperuntukkan untuk warga Wani 1, penyintas tsunami yang selamat dari terjangan ombak, namun rumahnya seluruhnya tak bersisa.

“Data yang ada di pemerintah desa sekarang, di Dusun 1 dan Dusun 2, Desa Wani 1 ada 68 rumah terdampak tsunami. Semua rumah milik nelayan di pesisir itu rata dengan tanah,” jelas Andri.

Kamis (1/11) kemarin, di atas tanah lapang berukuran 119 m x 35 m, seremoni peletakan batu pertama dilangsungkan. Dihadiri oleh pemerintah kecamatan dan desa, hari Kamis itu pun jadi tanda dimulainya proses pembangunan puluhan unit Hunian Nyaman Terpadu di Desa Wani 1.

Sri Eddy Kuncoro selaku Direktur ACT memaparkan, Hunian Nyaman Terpadu (ICS) di Desa Wani 1 akan menerapkan konsep yang sama dengan kompleks ICS lainnya.

“Kenapa kami menamakan ini Integrated Community Shelter (ICS)? Karena yang kami bangun ini bukan hanya hunian. Kami lengkapi huniannya dengan sarana ibadah, musala yang bisa digunakan untuk mengaji anak-anak. Kemudian di beberapa hunian lain juga kami bangun sekolah, bisa tiga sampai enam kelas. Lalu ada juga fasilitas dapur umum, air bersih serta toiletnya. Kemudian area bermain, klinik, dan kantor pengelola ICS,” jelas Sri Eddy Kuncoro, atau Ikun panggilan akrabnya, di depan warga Wani 1.

Ikun mengatakan, untuk penyintas tsunami di Desa Wani 1, jumlah hunian yang bakal dibangun berjumlah 60 pintu.

Sementara itu, di depan warganya, Andi Habrin mengaku penuh syukur. Ia menyatakan menyetujui seluruh konsep Hunian Nyaman Terpadu ACT. “Pada prinsipnya kami menyetujui dan merasa bangga, hanya sebulan setelah bencana, sudah ada proses pembangunan hunian di banyak lokasi sekaligus, termasuk di desa kami ini,” kata Andri.

Beberapa pekan ke depan, ketika seluruh proses pembangunan Hunian Nyaman Terpadu di Desa Wani 1 rampung, pemerintah desa yang bakal ditunjuk untuk memilih keluarga mana saja yang bakal mendapat prioritas hunian.

“Kami sudah menyampaikan ke warga terdampak tsunami, skala prioritas kami terapkan. Mereka yang didahulukan mendapat hunian adalah nelayan-nelayan yang sudah tidak lagi punya perahu, semua alat tangkap mereka hilang, perahu, alat pancing, rumah mereka juga rata tanah. Semua habis,” jelas Andri.

Sementara itu, di balik tanah lapang yang digunakan untuk membangun Hunian Nyaman Terpadu Desa Wani 1, ada kisah tentang keikhlasan. Adalah Suhria Intan (48) seorang warga Desa Wani 1, yang juga menjadi pegawai Kecamatan Tanantovea. Setelah mendapat restu dari Suhria, satu kompleks ICS di Desa Wani dibangun di atas tanah miliknya.

“Alhamdulillah ya Allah terima kasih. Daripada tanah ini tidak difungsikan, saya sekeluarga ikhlas memberikan. Insya Allah menjadi berkah. Bencana tsunami juga menjadi pengingat, bahwa harga itu tidak dibawa mati. Rumah saya di pesisir juga terkena tsunami. Sudah tidak lagi layak huni,” cerita Suhria.

Sampai sebulan pascegampa, Suhria pun menjadi penyintas yang tinggal sementara, mengungsi seperti warga pesisir Wani lain. “Tanah ini, lahan ini, harta saya semoga menjadi amal jariah. Semoga bermanfaat penuh, untuk warga Wani 1 yang sama-sama tidak lagi punya rumah setelah tsunami datang,” ujar Suhria sembari berlinang air mata.

7 Nov 2018

Update 38 - Hunian Nyaman Terpadu Dibangun di Sigi

Tak ada yang bakal menyangka, deretan losmen pasar itu kini telah berubah menjadi “pemukiman” baru, tempat bermukim sementara para penyintas gempa dan likuefaksi di Desa Sibalaya Utara, Kecamatan Tanambulava, Kabupaten Sigi. Losmen pasar telah diubah fungsinya, kini penuh dengan terpal-terpal tipis berwarna biru, atau oranye. Dinding tendanya kadang ditutup sembarangan dengan spanduk bekas atau terpal tambalan yang masih bisa digunakan.

Sebulan sudah berselang pascagempa dan likuefaksi besar menerjang Sigi, salah satunya di Desa Sibalaya Utara. Di wilayah ini, ratusan kepala keluarga menjadi korban. Rumah mereka ambruk, rata tanah dibawa lumpur likuefaksi. Beberapa rumah, sekolah juga masjid bahkan berpindah tempat sejauh lebih dari 100 meter.

Mengungsi di atap losmen pasar apa adanya, mau tak mau menjadi pilihan. Untuk menyambung hidup, untuk bangkit dan melupakan trauma bencana besar Jumat (28/9) sebulan silam.

“Sudah hancur semua rumah. Karena lumpur. Karena tanahnya terbelah. Di dalam rumah sudah tidak sempat diambil apa-apa. Hanya baju di badan saja. Sekarang saya dengan keluarga tinggal di pengungsian di pasar,” kisah Marfuah (37) sembari menitikkan air mata, seorang ibu dari RT 03, Dusun 2, Desa Sibalaya Utara.

Getir duka lain dituturkan oleh Heriyani (46). Ia bercerita tidak hanya kehilangan rumah dan harta benda, namun juga keluarga. “Keluarga saya meninggal tiga orang, termasuk tante saya, istri om saya. Mudah-mudahan semua ikhlas dan selamat di akhirat nanti. Mereka semua masih satu dusun dengan saya. Kasihan wafat tertindih rumah sendiri,” kisah Heriyani.

Hunian Nyaman Terpadu ACT di Sibalaya Utara, Sigi

Tapi, duka menjadi pengungsi di losmen pasar itu nampaknya tak akan bertahan lama. Sebab, Selasa (30/10) petang, Aksi Cepat Tanggap (ACT) memulai pembangunan Hunian Nyaman Terpadu (Integrated Community Shelter) untuk Desa Sibalaya Utara.

Hunian bagi para pengungsi yang rumahnya habis diterjang likuefaksi ini dibangun di atas tanah lapang di atas bebukitan tinggi. Berada di ketinggian, jaraknya sekira 10 menit jika berjalan kaki dari perkampungan mereka yang habis diterjang lumpur likuefaksi.

Sri Eddy Kuncoro, Direktur ACT menjelaskan, Hunian Nyaman Terpadu ACT di Sibalaya Utara tidak hanya akan ada rumah-rumah, tapi juga dilengkapi dengan fasilitas umum. “Insya Allah kami tidak hanya menyiapkan hunian, tapi juga kami lengkapi dengan musala, arena bermain, kantor pengelola. Juga agar bapak dan ibu yang mengungsi ini terjaga kesehatannya, akan kami siapkan juga bangunan khusus untuk klinik,” jelas Ikun, panggilan akrabnya ketika memulai peletakan batu pertama, Hunian Nyaman Terpadu ACT di Sibalaya Utara.

Ibrahim Palewa (48) Kepala Desa Sibalaya Utara menuturkan, bencana yang menerjang desanya terjadi hanya berselang menit pascagempa datang. “Likuefaksi menyeret dan meruntuhkan rumah di 2 RT dan 1 dusun. Total warga yang mengalami kerusakan rumah mencapai 205 KK. Bencana juga meninggalkan duka 3 orang wafat, dan SD Sibalaya Selatan hanyut,” tuturnya,

Ibrahim mewakili warga juga pemerintah Desa Sibalaya Utara mengucap rasa syukur atas bantuan hunian yang dikhususkan untuk warga desanya. “Kali ini bukan hanya bantuan sembako untuk menjamin warga kami bisa makan cukup. Tapi bantuan rumah berikut dengan masjid dan bangunan pelengkap lain. Hanya Allah yang bisa membalas budi baik yang telah membantu kami,” ujarnya selagi menghadiri peletakan batu pertama Hunian Nyaman Terpadu di Sibalaya Utara. 

Tentang tanah lapang di bebukitan Sibalaya Utara yang menjadi lokasi Hunian Nyaman Terpadu ACT, ada cerita tersendiri yang juga menginspirasi. Ibrahim mengatakan, tanah lapang yang bakal dibangun hunian bagi warganya ini merupakan kebaikan hati dari Sulastri (58), warganya yang juga menjadi korban likuefaksi.

Ibrahim menjelaskan, Sulastri serta suaminya Muhammad Saleh (65), mengikhlaskan sebidang tanahnya yang lapang di bebukitan, untuk dipinjamkan hak pakainya kepada ACT. “Ibu Sulastri menginspirasi kita semua. Alhamdulillah beliau mengizinkan tanahnya digunakan untuk menjadi hunian bagi warga Sibalaya Utara. Sementara itu, rumah Bu Sulastri pun ikut hancur terseret likuefaksi,” kata Ibrahim.

Sulastri dan suami, beserta anak-anaknya kini tinggal sementara tinggal mengungsi di bilik yang biasa ia gunakan untuk menjaga kebunnya. Rumah itu berdinding triplek dan berlantai kayu apa adanya.

“Saya berdoa mudah-mudahan tidak hanya sebatas ini saja kami bertemu dengan ACT. Semoga sampai akhir hayat. Bila perlu tanah ini saya serahkan lagi kalau ada yang lebih baik lagi setelah hunian untuk pengungsi ini selesai. Seperti mungkin sekolah atau pesantren atau masjid yang lebih besar,” ujar Sulastri di depan warga Sibalaya Utara.

Di usia senjanya, Sulastri dan Muhammad Saleh rupanya juga menjadi panutan bagi warga Desa Sibalaya Utara. Ibarahim bercerita, jauh sebelum gempa terjadi, Sulastri seringkali menjadi penggerak warga desanya untuk aktif dalam mengaji, mengisi masjid-masjid dan bergotong royong membangun Desa Sibalaya Utara.

“Saya sudah tua. Untuk mencari dunia sudah tidak mampu lagi. Sudah tinggal menikmati apa yang saya tanamkan ke anak-anak sejak dulu. Saya berharap, semoga setelah bencana besar ini, warga Sibalaya Utara makin saleh, makin dekat ke masjid. Terima kasih, insya Allah bantuan rumah untuk pengungsi ini dibalas Yang Maha Kuasa,” ucap Sulastri sembari memimpin zikir dan doa, selepas peletakan batu pertama Hunian Nyaman Terpadu.

Dimulai sejak Selasa (30/10), proses pembangunan Hunian Nyaman Terpadu ACT di Sibalaya Utara resmi dimulai. Ikun menargetkan seluruh pembangunan akan rampung dalam waktu tiga pekan ke depan. Kecepatan proses pembangunan menjadi prioritas, menjamin warga yang mengungsi di Losmen Pasar Sibalaya Utara bisa segera berpindah ke rumah pengganti yang lebih layak.  

“Alhamdulillah senang bahagia bisa dapat rumah baru. Ada masjid juga, anak-anak dekat dengan mengaji dan salat berjamaah. Insya Allah kami di sini juga panjang umur. Biar harta benda sudah tidak selamat, tinggal baju yang menempel di badan, yang penting kami selamat. Rumah baru dari ACT nanti supaya kita bisa kumpul lagi bersama-sama keluarga dan saudara,” ucap Marfuah mengirimkan doa dan harapannya.

Hunian Nyaman Terpadu (ICS) di Sibalaya Utara ini merupakan kompleks kedua yang dibangun untuk para pengungsi di Palu, Sigi, dan Donggala. Sebelumnya, kompleks hunian juga telah dibangun di Palu, tepatnya di Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, Kamis (25/10).

6 Nov 2018

Pencairan Dana Rp 485.547.373

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

5 Nov 2018

Update 36 - Ribuan Paket Kebahagiaan untuk Anak Sulteng

Truk engkel kuning dengan spanduk mayoritas berwarna putih bertuliskan “Berbagi Kebahagiaan untuk Palu, Sigi, dan Donggala” menutupi sisi samping dan belakang bak truk. Ditumpangi 10 relawan, kendaraan beroda enam itu mengantarkan paket untuk anak-anak korban gempa, tsunami, dan likuefaksi di Sulawesi Tengah.

“Kami semua dari Kabupaten Pinrang, naik truk ini,” tutur Miftahul Jannah saat ia dan rombongannya tiba di Posko Induk ACT di Palu Barat, Ahad (21/10). Tersenyum semangat, ia mengungkapkan bahwa timnya baru menempuh perjalanan tiga hari dua malam dari Pinrang sampai ke Palu.

Sesampainya di Palu, truk langsung menuju Posko Wilayah ACT di Palu Timur yang juga menjadi gudang penyimpanan logistik. Miftah menjelaskan, truk tersebut membawa paket kebahagiaan untuk anak-anak korban bencana di Sulteng. Paket kebahagiaan yang ia maksud adalah kebutuhan sekolah berupa tas jinjing, alat tulis, alat gambar, mainan kecil, serta  rangkaian kata penyemangat.

 “Kata penyemangatnya ditulis tangan oleh relawan Pinrang untuk adik-adik kita di sana. Jumlahnya menyesuaikan paket kebahagiaan yang mencapai seribu,” terang Miftah

Kisah di balik paket kebahagiaan

Air mata Miftah menetes, memandangi gerimis halus yang mengguyur Palu Barat sore itu. Dengan sesekali ia menyeka matanya agar tidak terlihat terlalu sedih di tengah kerumunan relawan lainnya. Miftah perlahan mengisahkan apa yang sedang dipikirkannya. Sebuah kisah di balik kedatangannya Ahad itu dengan ribuan paket kebahagiaan.

Miftah bertutur awal kedatangannya di tanah Palu. Pasca bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi yang melanda Sulteng akhir September silam, lalu lintas Pinrang amat ramai dibandingkan biasanya. Mobil dan kendaraan lainnya berisikan warga Palu, Sigi, dan Donggala yang mengungsi menuju Makassar.

 “Kondisi awal-awal setelah gempa, Sulteng kacau. Banyak warga yang memilih meninggalkan kota di ujung teluk ini. Mereka menuju ibu kota Sulsel, tapi menyempatkan istirahat di Pinrang karena perjalanannya sangat jauh,” kata Miftah.

Melihat arus pengungsi yang ramai beristirahat di Pinrang, Miftah dan puluhan relawan Pinrang berinisiatif mendirikan tempat istirahat. Di sana, penyintas yang pergi keluar Sulteng dipersilakan merebahkan tubuh untuk siap kembali melanjutkan perjalanan. Di tempat yang sama, relawan Pinrang membuka kesempatan bagi siapa pun untuk berbagi kepada sesama.

“Teman-teman relawan MRI dan lainnya berkumpul. Mereka menggalang donasi dan membuat tempat istirahat bagi pengungsi yang lewat jalur darat keluar dari Sulteng,” tambah Miftah.

Ia termenung sejenak, di tengah rintik-rintik hujan yang semakin deras. Sesaat kemudian Miftah menyebut nama Khalid. Ia adalah salah satu penyintas bencana di Sulteng yang ditemui Miftah saat beristirahat di rest area Pinrang bersama keluarganya. Ayah Khalid seorang polisi dan dinyatakan hilang saat Khalid mengungsi. Ayahnya diperkirakan menjadi korban sapuan tsunami di bibir pantai Talise, Palu, saat sedang bertugas petang itu.

Khalid menginap satu malam untuk melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Malam datang, semua orang terlelap dalam gelap di Pinrang. Tapi, tidak dengan bocah yang mengenakan celana loreng khas tentara saat itu. Sepanjang malam tanpa tidur, Khalid sibuk menulis di atas kertas: “Aku korban gempa dan tsunami Sulteng”.

Sesekali dengan kata-kata yang lebih panjang, anak laki-laki berambut pendek itu menuliskan agar orang lain memberikannya senyuman. “Karena senyuman kalian, aku semangat,” tulis Khalid di atas kertas polos putih berukuran A4.

Melihat Khalid yang tak tidur dan sibuk menulis di atas kertas, Miftah memberikan kertas tambahan dan membiarkan Khalid meluapkan kesedihan. Lebih dari setengah rim atau 250 lembar lebih Khalid habiskan kertas dengan tulisan yang sama sejak sore hingga subuh menjelang.

Kala itu, Miftah dan relawan Pinrang lainya semakin menyadari banyak anak-anak yang menjadi korban gempa bermagnitudo 7,4, Jumat (28/10) lalu itu. “Kami percaya anak-anak korban bencana harus bangkit dengan segera,” ungkap Miftah sambil menangis, Ahad (21/10).

Selama dua pekan sejak pertemuannya dengan Khalid, Miftah dan sejumlah relawan Pinrang menggalang dana agar bisa ditukar menjadi paket kebahagiaan untuk anak-anak Sulteng. Mereka mengemas kebutuhan sekolah dalam tas yang berwarna cerah dengan gambar menarik. Tujuannya sederhana, para relawan ingin mengabarkan kepada anak-anak bahwa mereka tak pernah melewatkan bencana sendirian. “Kita baru akan menjadi manusia jika memulai untuk membantu sesama,” pesan Miftah. 

Hujan rinai semakin menjadi deras. Sopir membenahi terpal yang menjadi atap bak truk, mereka bersiap kembali ke Pinrang. Deru mesin diesel truk juga sudah terdengar, tanda mesin telah menyala. Setelah memastikan bak tak bocor terkena hujan karena di dalamnya ada penumpang, sopir segera menginjak gas dan memulai perjalanan tiga hari dua malam.

“Saya dan tiga orang lainnya menetap beberapa pekan di Sulteng untuk menjadi relawan ACT,” jelas Miftah yang kini bertugas menjadi relawan ACT di Posko Wilayah Sigi.

Selang sehari sejak kedatangan truk tersebut di Palu, ribuan paket kebahagian yang Miftah dan rekan-rekannya antarkan kala itu telah berpindah tangan ke para pengungsi anak di Palu, Sigi, dan Donggala. Secara bertahap sejak Senin (22/10), paket-paket kebahagiaan diantarkan beriring dengan aktivitas dukungan psikososial. 

Alat tulis, buku bergambar, dan mainan berbentuk hewan menjadi pelipur lara anak-anak di bawah tenda pengungsian. Mereka terlihat semangat mengeluarkan isi paket dari dalam tas jinjingnya. “Ada mainannya singa-singaan,” teriak salah satu anak di Desa Kabobona, Sigi, saat melihat mainan dari dalam paket yang diberikan, Senin (22/10). 

2 Nov 2018

Pencairan Dana Rp 270.214.340

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

2 Nov 2018

Update 34 - Kapal Kemanusiaan Ketiga Bersandar di Palu

Untuk ketiga kalinya, Kapal Kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap (ACT) kembali merapat di Pelabuhan Pantoloan, Kota Palu. Kali ini, Kapal Kemanusiaan kembali menggunakan pelayaran KMP Drajat Paciran dari PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Sabtu (27/10) petang, kapal melepas sauhnya dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Dua hari dua malam perjalanan laut melintasi Selat Makassar, Kapal Kemanusiaan tiba di Kota Palu Senin (29/10) setelah azan Magrib. Bongkar muat kapal langsung dilakukan malam itu juga, dikebut hingga tengah malam untuk dipindahkan ke gudang logistik ACT tak jauh dari pelabuhan. Total bantuan logistik yang diangkut berjumlah 200 ton.

Sabtu (27/10) saat pelepasan kapal dari Tanjung Perak, Ponco Sri Aryanto selaku Kepala Cabang ACT Jawa Timur mengatakan, bantuan logistik yang dibawa oleh kapal kemanusiaan kali ini tidak hanya dari masyarakat Jawa Timur saja, melainkan juga dari Jawa Tengah dan Yogyakarta. Bantuan juga berasal dari BPBD Provinsi Jawa Timur.

“Bantuan logistik yang bertolak dari Surabaya ini rata-rata merupakan kebutuhan logistik paling mendesak bagi pengungsi gempa, likuefaksi, dan tsunami di tenda-tenda. Bantuan berupa makanan, obat-obatan, perlengkapan sanitasi, peralatan bayi, dan lain lain,” jelas Ponco.

Tidak hanya memuat logistik ratusan ton, KMP Drajat Paciran juga mengangkut muatan kendaraan penyelamatan milik BPBD Jatim, juga relawan kemanusiaan dari Masyarakat Relawan Indonesia (MRI) Jatim.

Direktur ACT Sri Eddy Kuncoro menjelaskan, seluruh bantuan logistik yang tiba melalui jalur laut maupun darat, akan segera didistribusikan ke puluhan posko ACT di Kota Palu, juga di Kabupaten Siigi, Donggala, dan Parigi Moutong. Hingga Senin (29/10), sudah dibentuk 101 posko ACT di seluruh Sulteng.

“Bantuan logistik termasuk dari beberapa Kapal Kemanusiaan yang tiba di Pantoloan, langsung kami distribusikan. Sudah ada 1 posko induk ACT, 15 posko wilayah, 21 posko unit, 54 posko dapur umum, 1 posko medis, 1 posko food truck, 3 posko logistik, 4 posko Integrated Community Shelter, dan 1 posko ACT Humanity Store,” jelas pria yang akrab disapa Ikun ini.

Dalam beberapa hari ke depan, Ikun mengatakan bakal ada lagi Kapal Kemanusiaan keempat yang merapat di Pantoloan. “Kapal Kemanusiaan berikutnya datang dari Pelabuhan Belawan Medan. Kapal Kemanusiaan keempat ini diangkut menggunakan kapal kargo kontainer. Jumlahnya sekitar 500 ton,” ujar Ikun.

1 Nov 2018

Update 33 - Kehadiran Sekolah Darurat ACT di Donggala

Lalu lalang jalan sekitar Palu, Sigi, Donggala kembali ramai akan anak berseragam putih-merah. Pemandangan ini sudah terlihat sejak Senin (15/10) lalu, tanda siswa SD mulai kembali bersekolah. Tidak hanya siswa SD, siswa SMP dan SMA pun kembali melakukan proses belajar-mengajar.

Sebelumnya, pascabencana gempa yang melanda Sulawesi Tengah, pendidikan di wilayah terdampak berhenti sejenak. Hal ini mengingat guru dan murid juga menjadi korban bencana akhir September silam. 

Akan tetapi, sampai saat ini proses belajar-mengajar masih belum efektif dilakukan. Fisik bangunan sekolah yang mengalami kerusakan. Salah satunya ada di Sekolah Dasar Negeri 13 Sirenja. Sekolah yang berada di Kabupaten Donggala ini kondisi bangunannya mengalami kerusakan berat, sehingga mengancam murid dan guru yang berada di dalamnya jika tetap digunakan. “Bangunannya sudah tidak layak karena gempa,” ungkap Mir’atun, salah satu guru SDN 13.

Melihat kondisi fisik sekolah yang mengalami kerusakan, tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) mendirikan sekolah darurat guna mendukung kegiatan belajar. Sejak Senin (22/10), ACT melalui Posko Wilayah Sirenja mendirikan sekolah darurat di SDN 13 Sirenja. Sekolah sementara ini berdiri di pelataran rumah salah satu warga yang masih baik keadaanya. 

Lokasi tersebut dipilih untuk menghindari bangunan sekolah yang dikhawatirkan roboh sewaktu-waktu. “Awalnya di lapangan, tapi terlalu dekat dengan bangunan sekolah. Makanya dipindah ke sini. Di sini juga dibawah pohon, bisa meredam panas,” tambah Mir’atun.

Walau sudah berjalan dua pekan lamanya, murid yang datang belum seluruhnya masuk kelas. Sebagian besar dari mereka masih dibawa mengungsi di atas bukit yang jauh dari sekolah oleh keluarganya. Begitu pula dengan waktu sekolah yang singkat, yakni hanya berlangsung dari pukul 08.00 hingga 11.00 WITA. 

“Total murid kami 178 orang, dan hari ini baru 59 orang yang masuk. Tidak menentu murid yang datang, mereka masih trauma dan memilih tidak masuk sekolah karena gempa susulan yang masih sering terjadi,” tutur Mir’atun, yang berkaca-kaca menceritakan kondisi tempatnya mengajar.

Selain itu, seragam yang sesuai pun belum diterapkan. Murid-murid yang hadir hanya mengenakan pakaian sehari-hari. Gempa bermagnitudo 7,4 dengan peringatan tsunami membuat murid dan guru tak sempat menyelamatkan harta benda yang banyak, termasuk pakaian seragam.

Setelah berdirinya sekolah darurat ACT di SDN 13 Sirenja ini, Mir’atun berharap seluruh muridnya dapat bersekolah lagi. Orang tua pun diharapkan dapat mendukung untuk mengurangi trauma anak-anak. Kebutuhan pendidikan menjadi prioritas untuk mempercepat proses pemilihan pascabencana. “Lewat pendidikan, anak-anak akan mengerti untuk menyelamatkan diri dari bencana,” tambah Mir’atun.

Tak hanya di SDN 13 Sirenja, sekolah darurat pun didirikan di SMPN 3 Sirenja dan SMAN 1 Sirenja. Sekolah darurat ini untuk sementara akan menggantikan bangunan sekolah yang mengalami kerusakan dan harus direnovasi secara keseluruhan. “Pendampingan untuk dukungan psikososial juga kami berikan,” kata Koordinator Posko ACT Wilayah Sirenja Lukman Solehuddin, Selasa (23/10)

31 Oct 2018

Update 32 - ACT Bangun Hunian Nyaman Terpadu untuk Palu

Sudah lewat empat pekan berlalu pascabencana gempa, tsunami, dan likuefaksi melanda Palu, Sigi, juga Donggala, kondisi Sulawesi Tengah masih dalam duka. Sampai saat ini, sebagian besar warga yang selamat dari musibah besar Jumat (28/9) lalu, mengungsi di bawah tenda-tenda pengungsian.

Terpal biru dibentuk segitiga sebagai atap, tanah kering menjadi alas berlindung mereka dari teriknya matahari Sulawesi Tengah. Belum lagi kalau malam tiba dan hujan datang. Pengungsi hanya bisa merebahkan lelah di tenda pengungsian, melawan dingin dan menjaga agar hujan tak sampai banjir ke dalam tenda.  

Ketika fase darurat sudah terlewati, pemulihan pascabencana segera diinisiasi. Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengawali fase pemulihan pascabencana dengan pendirian Kompleks Hunian Nyaman Terpadu (Integrated Community Shelter/ICS) di Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu. Sebuah tanah lapang yang berada di ketinggian bebukitan menjadi lokasi ICS pertama di Kota Palu. Lokasi tersebut dinilai paling layak dan aman untuk ditinggali oleh para pengungsi.

Peletakan batu pertama pembangunan ICS dimulai Kamis (25/10). Acara ini dihadiri oleh Senior Vice PresidentACT Syuhelmaidi Syukur, Lurah Duyu Nurdin F. Adam, tokoh ulama, serta masyarakat sekitar. Pembangunan ICS ini merupakan tahap awal dari pembangunan 1.000 unit hunian di Palu dan sekitarnya. Hal ini disampaikan oleh Syuhelmaidi sesaat sebelum peletakan batu pertama pembangunan ICS.

"Berbarengan dengan ini kita juga membangun di empat titik yang lain. Kalau hari ini, di titik ini kita merencanakan 96 unit rumah ditambah dengan satu masjid, MCK, dan taman bermain. Insyaallah secara bersamaan kita membangun di empat titik lain. Di Kabupaten Sigi ada satu, kemudian di Donggala ada dua titik. Dan ini akan kita tambah terus seiring dengan kepercayaan publik, kepercayaan masyarakat kepada ACT," terang Syuhelmadi, Kamis (25/10).

Hingga hari permulaan pembangunan ICS di Lapangan Kelurahan Duyu, puluhan tenda-tenda terpal masih mengisi tiap petak lapangan. Direktur Program Kebencanaan dan Pengembangan Masyarakat ACT Sri Eddy Kuncoro menjelaskan, di dalam tenda terpal dihuni berdesakan lebih dari satu keluarga. Mayoritasnya merupakan korban terdampak gempa di Kelurahan Duyu, Balaroa, dan Kampung Lere.

“Insya Allah hunian terintegrasi yang dibangun di Lapangan Duyu ini akan menjadi rumah baru bagi para pengungsi korban gempa dari wilayah terdekat. Shelter berdiri di atas lahan 52x70 meter, sementara jumlah hunian yang akan terbangun sebanyak 96 pintu. Satu masjid juga akan berdiri, berukuran 12x12 meter,” papar Sri Eddy Kuncoro atau yang akrab disapa Ikun.

Memegang identitas sebagai Hunian Nyaman Terpadu, tak hanya rumah juga masjid yang akan dibangun. Fasilitas lain seperti MCK 12 pintu akan berdiri menopang kebutuhan sanitasi pemukim. Dapur umum, gudang logistik, dan ruang kesehatan juga akan berdiri di lahan yang memiliki pemandangan Kota Palu dari atas ini.

“Setelah kami melihat kondisi sekitar shelter, kami tidak dirikan sekolah karena sekolah yang ada tidak terdampak gempa dan masih dapat digunakan,” tambah Ikun.

Melengkapi kebutuhan dasar lain, di atas lahan ICS Lapangan Kelurahan Duyu ini, ACT juga akan menggali sumur bor untuk memasok kebutuhan air bersih. “Karena lokasinya berada di ketinggian, sumur tidak bisa digali dangkal. Kami menyiapkan sumur bor untuk memastikan air bersih bagi keluarga pengungsi di ICS Duyu terjaga pasokan airnya.

Nurdin F. Adam selaku Lurah Duyu begitu bersyukur dengan bantuan hunian yang diberikan. “Sebagai pemerintah setempat saya mengucapkan terima kasih kepada ACT. Aksi Cepat Tanggap sangat-sangat luar biasa membantu masyarakat kami, yang di mana saat ini mereka masih menempati tenda-tenda darurat yang menurut kami tidak bertahan lama. Dengan datangnya ACT ini sangat-sangat terbantu.,” ungkap Nurdin, Kamis (25/10).

Sudah lebih dari sebulan pascagempa, menurut catatan dari pihak kelurahan, ada 150 kepala keluarga yang rumahnya rusak berat akibat gempa Jumat (28/9) silam. Untuk tahap awal, Nurdin menyampaikan pihaknya memprioritaskan warga yang huniannya benar-benar rata dengan tanah, warga dengan rumah retak parah, dan ibu-ibu hamil, dan ibu menyusui.

Husnan (63) misalnya, salah satu penyintas gempa yang rumahnya tak layak lagi digunakan. Perempuan lewat usia paruh baya ini, kini tinggal bersama ibundanya mengungsi di bawah tenda terpal pengap dan panas di lapangan lokasi ICS bakal dibangun. Satu hal yang menarik, Ibunda Husnan yang ikut mengungsi kini telah menjejak di usianya yang menginjak 106 tahun.

“Ini Ibunda saya, namanya Jija, usianya 106 tahun. Alhamdulillah gempa kemarin bisa saya gendong ibu keluar,” ujarnya.

Husnan bercerita, rumahnya memang tidak sampai ambruk, tapi kondisinya rusak berat. Sewaktu gempa, Husnan yang sedang berwudu Salat Maghrib langsung terjatuh terjungkal. “Saya ingat ada ibu saya di dalam kamar. Langsung saya gendong ibu keluar. Suara guncangan dan gemuruh itu membuat saya trauma sampai hari ini. Sekarang rumah saya dindingnya terbelah dua, lantainya ada yang terbumbung,” ungkap Husnan.

Mengetahui lapangan yang dipakainya untuk mengungsi bakal didirikan hunian terintegrasi, senyum simpul hadir di gurat wajahnya.

“Insya Allah kalau di sini dibangun rumah baru, saya gembira. Saya mau tinggal di sini. Sementara ini yang paling dibutuhkan itu tempat tidur. Kita cuma tidur di tanah. Kalau malam dingin sekali, kalau hujan banjir di sini air menggenang di tenda kami,” kisah Husnan.

30 Oct 2018

Pencairan Dana Rp 585.103.135

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

30 Oct 2018

Update 30 - Riuh Anak Soulove Bermain dengan Relawan ACT

Nama desa itu Soulove, terletak di Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi. Penduduk lokal melafalkannya menjadi Saulowe atau Soulowe. Nama yang cukup unik di telinga para pendatang, termasuk Tim Relawan Medis dan Dukungan Psikososial ACT, yang kala itu bertandang ke desa tersebut.

Jumat (17/10) sore, kehadiran tim disambut teriakan kumpulan anak yang bermain di lapangan desa. “ACT...ACT...ACT,” teriak anak kecil beramai-ramai. 

Rupanya iring-iringan kendaraan tim dan ambulans ACT menjadi perhatian penyintas di tempat ini. Mereka yang sebagian besar memang berada di luar tenda memperhatikan kedatangan kami. Remaja dan bapak-bapak yang bermain bola sepak pun berhenti sejenak.

Lapangan Desa Soulove amat luas, barisan tenda pengungsian berterpal biru mengisi pinggiran lapangan. Masyarakat korban gempa mengungsi di tempat ini sebagai perlindungan. Namun demikian, ada juga yang memilih mendirikan tenda di sekitar rumah.

Hijaunya lapangan Desa Soulove berpadu dengan birunya barisan pegunungan yang memanjang dari Donggala Barat hingga Timur. Keindahan ini menambah semangat anak-anak ketika tahu Tim Relawan Dukungan Psikososial ACT akan mengajak bermain di lapangan terbuka itu.

Puluhan anak serentak membentuk lingkaran besar, berlatar pelangi yang membentuk setengah lingkaran di sebelah timur lapangan. Mereka diajak bernyanyi berbagai lagu anak. Tangan mereka menggulung, lalu menepuk bahu teman di sampingnya dan diselingi dengan tepukan tangan yang meriah. Tarian-tarian kecil diiringi lagu menambah keriuhan anak-anak dengan gelak tawa mereka. sampai menikmati.

Kepala Desa Soulove Suharman mengatakan, anak-anak di Soulove tidak pernah terlihat seriang ini sebelumnya selama di pengungsian. Menjelang malam, anak-anak di desa yang tak jauh dari Jono Oge (desa terdampak likuefaksi) ini akan dirundung ketakutan getaran gempa. Mereka enggan untuk tidur di dalam rumah. Menginap dan menghabiskan malam di bawah tenda terpal menjadi pilihan. 

“Anak-anak di sini masih pada trauma karena gempa, dan sekarang terlihat tidak ada lagi sisa ketakutan. Terima kasih kepada tim DP ACT yang telah menghibur dan memberi hadiah ke kami,” ungkap Suharman.

Sejak gempa bermagnitudo 7,4 pada September lalu, kondisi psikologis anak-anak korban gempa juga masih dalam keadaan trauma. Mereka juga belum kembali ke sekolah mengingat kegiatan belajar di sekolah di tiga wilayah Palu, Sigi juga Donggala masih diliburkan. Sebagian besar bangunan fisik sekolah mengalami kerusakan.

Selain memberikan dukungan psikososial, tim turut memberikan bantuan logistik dan membuka layanan kesehatan bagi para pengungsi. Pasien yang antre mayoritas ibu rumah tangga, tapi tak sedikit pula bapak-bapak yang turut mengecek kondisi kesehatan mereka pascabencana.

Di masa tanggap darurat ini, ACT terus menjangkau desa-desa terdampak bencana yang jauh dari pusat kota. Berbagai bantuan dari masyarakat Indonesia akan senantiasa disalurkan untuk para pengungsi yang membutuhkan.

29 Oct 2018

Update 29 - Kapal Kemanusiaan dari Sumatera untuk Sulteng

Kapal Kemanusian untuk ketiga kalinya berlayar menuju Palu. Selasa (23/10), kapal yang memuat bantuan logistik warga Sumatera untuk korban bencana di Sulawesi Tengah itu diberangkatkan dari Medan, Sumatera Utara.

Kapal Meritus Gorontalo yang didaulat sebagai Kapal Kemanusiaan tahap tiga inidilepas dari Pelabuhan Belawan, Medan, menuju Pelabuhan Pantoloan, Palu, oleh Senior Vice President ACT Syuhelmaidi Syukur dan Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Letjend (Purn) Edy Rahmayadi. Kapal membawa 2.000 ton muatan logistik.

“Atas nama ACT sekali lagi kami mengucapkan terima kasih. Mudah-mudahan bantuan kita ini, melalui Kapal Meritus Gorontalo, bisa sampai dan dimanfaatkan saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah. Semoga semua upaya kita mendapat ganjaran terbaik dari Allah, Tuhan yang Maha Esa,” ungkap Syuhelmaidi dalam sambutannya di Dermaga 114 Pelindo Cabang Belawan, Selasa (23/10).

Sebelumnya, di Lapangan Banteng, Medan, Edy memimpin Apel Siaga Bencana dalam rangka melepas 2.000 ton bantuan tersebut. Pada apel itu, pelepasan bantuan ditandai dengan pemakaian rompi oleh Gubernur Sumut kepada para perwakilan petugas siaga bencana diikuti perwakilan TNI, Polri, BPBD, Satpol PP dan sejumlah komunitas masyarakat.

Dikatakan Edy, bantuan logistik ini sangat penting bagi saudara yang terkena bencana khususnya untuk kebutuhan utama seperti beras. "Karena ini sangat penting untuk kita berangkatkan, makanya nanti menyusul untuk yang lain-lainnya. Ada pakaian, alat selimut dan selebihnya akan kita berangkatkan menyusul," jelas Edy.

Pernyataan itu dikuatkan perwakilan BPBD Sumut yang hadir langsung di Dermaga 114 Pelindo, Mega Hadi. Ia mengajak masyarakat Sumut untuk tidak berhenti mengirimkan bantuan kepada masyarakat terdampak gempa di Sulawesi Tengah di sekali momen saja.

“Kami di sini mengucapkan berbela sungkawa, turut berduka cita atas musibah gempa bumi, tsunami, dan pergerakan tanah kepada saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah. Berdasarkan itu, gubernur berinisiatif membantu saudara-saudara di Sulawesi Tengah. Untuk itu kita sampaikan kepada masyarakat Sumatera Utara. Melalui ACT kami mengucapkan terima kasih. Kita berharap bantuan ini terus berlanjut. Sebab, setelah ini ada pemulihan pembangunan-pembangunan rumah. Mari kita sisihkan sedikit harta kita untuk membantu. Mudah-mudahan pelapasan 2.000 ton logistik ke Palu, Sigi, dan Donggala dapat bermanfaat. Kapal ini selamat sampai tujuan dan kembali dengan selamat,” ungkap Mega Hadi.

Kapal Kemanusiaan dari Medan itu memuat bantuan dari masyarakat di berbagai daerah Sumatera lainnya, yaitu melalui ACT Riau, ACT Padang, ACT Pekanbaru, dan ACT Aceh.

Kapal diperkirakan akan tiba di Palu tujuh hari mendatang. Sebelum menuju Pelabuhan Pantoloan, kapal yang membawa sejumlah kebutuhan pokok seperti beras, telur, gula, juga perlengkapan sanitasi itu akan singgah sementara di Pelabuhan Tanjuk Perak, Surabaya.

26 Oct 2018

Update 28 - 82 Relawan MRI Terlatih Siap Bantu Sulteng

Pada kedatangan keduanya di Palu, Kapal Kemanusiaan tak hanya membawa ribuan ton bantuan pangan dan logistik, serta Humanity Food Truck. Berlabuh di Pelabuhan Pantoloan pada Ahad (21/10), Kapal Kemanusiaan turut membawa puluhan relawan yang tergabung dalam Masyarakat Relawan Indonesia (MRI).

Sebanyak 82 relawan akan mendampingi proses penanganan kebencanaan di Palu, Sigi, dan Donggala. Sri Eddy Kuncoro Selaku Direktur Program Kebencanaan dan Pengembangan Masyarakat ACT menyampaikan, para relawan tersebut memiliki keahlian khusus yang dibutuhkan selama masa tanggap darurat dan pemulihan pascabencana.

“Mereka adalah relawan dari berbagai bidang, ada paramedis, ahli logistik, media, dan lainnya. Mereka akan bertugas paling tidak satu bulan lamanya,” terang Eddy, Ahad (21/10).

Seluruh relawan nantinya akan disebar ke sejumlah wilayah posko ACT untuk membantu penanganan tanggap darurat hingga pemulihan korban bencana. Sampai saat ini total posko yang telah didirikan mencapai 12 posko wilayah di empat kabupaten/kota, yakni Palu, Sigi, Donggala, dan Parigi Moutong.

Total 82 relawan MRI didatangkan bukan hanya dari Jakarta saja, namun juga dari berbagai wilayah di Indonesia. “Tim ini didatangkan ada yang dari Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta hingga Jawa Timur,” ungkap Koordinator Relawan Kapal Kemanusiaan Jakarta Yadi Frans. 

Yadi menambahkan seluruh relawan yang baru datang telah mendapatkan berbagai materi kerelawanan, kebencanaan sampai kerohanian. Materi ini diberikan selama perjalanan dari Jakarta menuju Palu.

Salah satu relawan Jakarta Raya Nurkowi menyampaikan, meskipun perjalanan Kapal Kemanusiaan menempuh waktu lima hari, hal tersebut tidak membosankan. Sebab, selama di perjalanan, ia dan puluhan relawan lainnya dibekali materi kerelawanan yang amat berguna sebagai bekal bertugas di wilayah terdampak bencana. “Walau banyak relawan yang mabuk laut, tapi tak mengurangi semangat untuk membantu sesama kita,” ungkap Nurkowi.

25 Oct 2018

Pencairan Dana Rp 166.081.971

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

25 Oct 2018

Update 26 - Redam Trauma, Hadirkan Tawa bagi Sang Anak

Pascabencana gempa, tsunami, hingga likuefaksi yang menimpa Sulawesi Tengah hampir tiga pekan lalu menyisakan dampak yang begitu signifikan. Tak hanya korban jiwa dan luka, namun juga trauma bagi mereka yang selamat. Tak dipungkiri masyarakat Palu, Sigi, dan Donggala masih merasakan trauma pascabencana, terutama kelompok rentan, perempuan, dan anak-anak. Mereka perlu pendampingan agar bisa pulih dari trauma. 

Bersamaan dengan pendistribusian pangan dan logistik, Aksi Cepat Tanggap (ACT) turut memberikan dukungan psikososial di sejumlah wilayah terdampak bencana di Sulawesi Tengah. Senin (15/10), tim Posko ACT Wilayah Sigi mengunjungi Desa Sidera, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, yang berada di kawasan perbukitan. 

Tak hanya pendistribusian logistik dan pelayanan kesehatan, tim juga melakukan dukungan psikososial. Ibu Budi, sapaannya, selaku pendamping mengatakan dirinya dan tim mendapat sambutan yang baik dari anak-anak dan juga para ibu di kamp pengungsi Desa Sidera. Di lapangan dekat kamp pengungsian, di antara bangunan yang runtuh, tawa khas anak-anak terdengar renyah. Siang yang berbeda dari hari sebelumnya, tak peduli teriknya matahari, bagi mereka yang terpenting bisa bermain bersama. Bergurau untuk melupakan duka dan trauma yang mereka alami sejak tiga pekan lalu. 

Banyak hiburan yang mereka lakukan bersama siang itu. Mulai dari bermain, bernyanyi, hingga berkreasi dengan menggunakan kertas dan cat air. “Bersyukur mereka mudah sekali akrab, kami pun jadi enak pendekatannya. Kami sedang semua bisa tertawa lagi, bahagia lagi,” kata Ibu Budi. 

Melebur dengan anak-anak bukan berarti tak ada kendala, apalagi mereka yang masih balita. Haikal misalnya, kata Ibu Budi, anak berusia 5 tahun didapati sedang menangis. Rupanya Haikal termasuk anak yang takut dengan orang baru. Padahal di situasi pasca bencana, Haikal akan sering bertemu dengan banyak orang, 

“Kasihan kalau menangis terus, akhirnya saya melakukan pendekatan. Saya coba ajak menggambar, tidak mau. Saya ajak menyanyi, juga tidak mau. Saya coba terus, sampai saya coba melawak dan dia tertawa. Namanya anak-anak, harus begitu, trauma bagi mereka pastilah sulit hilang,” tuturnya. 

Berjalan menanjak lebih ke atas bukit, tim juga menjangkau Desa Sidera Trans di kecamatan yang sama. Di sana, tim bertemu dengan Citra, pengungsi anak berusia 13 tahun asal Desa Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Senin (15/10). 

Citra adalah korban likuefaksi yang sempat dinyatakan meninggal setelah 7 hari hilang. Rupanya ketika gempa datang mengguncang, Citra sedang bersama kakak dan kakeknya. Mereka panik dan lari berhamburan keluar menghindari bangunan. Sejak saat itu, Citra terpisah dengan keluarga. 

“Kata pamannya, Citra ditemukan seminggu kemudian di salah satu kamp pengungsian di Sigi. Alhamdulillah, Citra masih selamat,” jelas Ibu Budi. 

Sama halnya Haikal, Ibu Budi pun melakukan pendekatan terlebih dahulu dengan Citra. “Sayangnya, Citra masih sulit sekali berbincang. Ia akan hanya jawab pertanyaan saya sekadarnya. Sesekali saya melihat matanya juga berkaca-kaca kalau saya menyinggung peristiwa bencana yang menimpanya,” jelas Ibu Budi. 

Menurut Ibu Budi, kisah Haikal, Citra dan anak-anak pengungsi di Desa Sidera melihatkan begitu besar dampak akibat peristiwa bencana. Mereka tidak hanya memerlukan bantuan pangan, tetapi juga dukungan psikososial. Sebab, kesehatan mental sangat penting untuk menopang mereka agar bisa bertahan. 

“Semoga kelak mereka bisa belajar kuat. Harapan selalu ada untuk mereka, semoga Allah menganugerahkan mereka keimanan yang kokoh, tekad yang kuat, dan kesehatan yang sempurna,” harap Ibu Budi.

24 Oct 2018

Update 25 - Kapal Kemanusiaan Palu Berlabuh Kedua Kalinya

Perjalanan Kapal Kemanusiaan yang membawa ribuan ton bantuan untuk Palu, Sigi, dan Donggala masih berlanjut. Usai kedatangan perdananya di Palu pada 13 Oktober silam, Kapal Kemanusiaan kembali berlabuh di Palu. Dari Jakarta, KMP Drajat Paciran yang menjadi Kapal Kemanusiaan tahap dua ini bersandar di Pelabuhan Pantoloan, Palu, Ahad (21/10).

Kapal membawa 1.000 ton bantuan pangan dan logistik, yang terdiri dari  air mineral, sembako, makanan bayi, selimut, tenda, obat-obatan, dan lain-lain. Semua itu merupakan bentuk kepedulian berbagai pihak yang telah dikumpulkan di gudang Indonesia Humanitarian Center(IHC) di Gunung Sindur, Bogor serta sejumlah instansi sosial. Mereka di antaranya Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi DKI Jakarta, Palang Merah Indonesia DKI Jakarta, Dompet Dhuafa, Organisasi Turun Tangan, Rumah Zakat, Youth Power Indonesia, dan Relawan Jakarta Maju Bersama.

Kedatangan Kapal Kemanusiaan dari Jakarta ini disambut oleh Sri Eddy Kuncoro selaku Direktur Program Kebencanaan dan Pengembangan Masyarakat ACT. Eddy menyampaikan, berlabuhnya Kapal Kemanusiaan untuk yang kedua kalinya ini bukti masih tingginya kepedulian masyarakat Indonesia terhadap korban bencana di Palu, Sigi, dan Donggala.

“Alhamdulillah, semangat membantu saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah begitu tinggi. Ini adalah yang kedua kalinya Kapal Kemanusiaan berlabuh di Palu, membawa ribuan ton bantuan dari berbagai elemen bangsa. Setelah dari Surabaya dan Jakarta, Insya Allah Kapal Kemanusiaan akan kembali berangkat dari Sumatera Barat membawa bantuan yang lebih masif lagi. Ada dari Aceh, Medan, Padang, Riau, Lampung, dan lainnya,” jelas Eddy, Ahad (21/10).

Pengiriman pangan dan logistik melalui Kapal Kemanusiaan untuk Palu, Sigi, dan Donggala terlaksana atas kerja sama ACT dengan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Nantinya, bantuan dari kapal akan masuk gudang yang berada di kompleks Pelabuhan Pantoloan. Bantuan ini akan dibagikan ke pengungsi melalui posko wilayah dan posko unit yang ACT miliki. Sampai saat ini sudah ada 12 posko wilayah dan 6 posko unit di 5 kabupaten di Sulteng.

Selain pangan dan logistik, Kapal Kemanusiaan turut membawa armada Humanity Food Truck, dapur berjalan yang biasa memberikan layanan makanan gratis bagi korban bencana di Indonesia. “Seperti di Lombok, Humanity Food Truck nantinya akan berkeliling ke titik-titik pengungsian untuk membagikan makanan siap santap yang bergizi, dimasak langsung oleh chef terbaik kami,” imbuh Eddy.

Ia juga menyampaikan, kapal juga membawa 82 relawan dari berbagai wilayah. Mereka adalah relawan terlatih dengan berbagai keahlian khusus seperti paramedis, dapur umum, logistik, dan media.

Pascabencana gempa bumi, tsunami, serta fenomena likuefaksi yang terjadi di Palu, Donggala, dan Sigi, puluhan ribu pengungsi masih membutuhkan bantuan pangan hingga saat ini. Oleh karenanya, ACT bersama masyarakat Indonesia akan terus berikhtiar mendampingi korban bencana di Sulawesi Tengah di masa tanggap darurat ini hingga pemulihan.

23 Oct 2018

Pencairan Dana Rp 814.818.518

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

23 Oct 2018

Update 23 - Geliat Dapur Umum ACT Desa Lompio, Donggala

Awan mendung menyelimuti Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Ombak yang menghempas bibir pantai cukup besar, deburnya terasa meramaikan telinga.

Sepi sepanjang jalan, hanya beberapa markah jalan memperingatkan pengendara untuk pelan. "Sedang ada kedukaan," begitu tulisan di atas papan biru yang berdiri di satu lajur jalan. Tapi ketika masuk ke jalan dusun empat Desa Lompio, terlihat ramai warga berkerumun di bawah tenda dengan asap mengepul di atasnya.

Warga bersiap memasak potongan daging sapi yang sebelumnya disembelih. Sejak Ahad (14/10) pagi, tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) di Posko Gempa Bumi dan Tsunami Sirenja memotong lima ekor sapi untuk pengungsi di Desa Lompio. Di desa ini ada sekitar 900 orang pengungsi yang terpisah di empat dusun. Mereka mendirikan tenda di kebun kelapa yang tak jauh dari pemukiman mereka.

Lima ekor sapi yang dipotong di Dusun Empat, Lompio akan dibagikan ke dusun lainnya. Tak butuh waktu lama untuk memotong hewan bertubuh besar itu, masyarakat bergotong-royong, mempercepat pekerjaan.

Setelah terpotong, dengan sigap ibu-ibu di sana memegang pisau, tanda siap mengolah daging. Bertatak gedebok, ibu-ibu yang wajahnya dibaluri bedak dingin memotong daging seukuran sekali gigit. “Daging ini nanti kami olah untuk sambal goreng,” ungkap Ratmi, salah satu pengungsi, sambil memotong daging.

Untuk kaki dan tulangan sapi, warga di sana mengolahnya menjadi Kaledo. Masakan khas Donggala ini terkenal dengan rasa kuahnya yang enak. “Kaki lembu Donggala, itu kepanjangan kaledo,” tambah Ratmi.

Di sisi lain dapur umum, ada ibu-ibu yang sibuk menanak nasi. Kepulan uap panas dengan aroma khas nasi tercium. Mereka juga merebus air, guna mengempukkan daging yang hendak mereka makan.

Sore harinya, makan bersama diadakan. Ini merupakan cara masyarakat untuk mempererat silaturahmi, terlebih pascabenca seperti ini. “Kita makan bersama, sambil berdoa agar tak mendapatkan bencana lagi,” kata Kepala Desa Lumpio, Zulfikar.

Pengungsi butuh tenda

Sama seperti masyarakat terdampak gempa lainnya di Sulteng, warga Lumpio pun telah meninggalkan rumah mereka sejak hari pertama gempa. Rumah mereka sebagian hancur, namun ada juga yang takut kembali ke rumah karena masih seringnya getaran terjadi. Mendirikan tenda menjadi pilihan di tengah bencana yang menerpa Tanah Celebes.

Zulfikar mengatakan, sampai saat ini kebutuhan yang paling mendasar untuk pengungsi adalah tenda. Sebagian pengungsi di sana masih tak memiliki tenda sendiri. “Banyak kepala keluarga yang menumpang tenda, bahkan satu tenda sampai lima keluarga,” terang Zulfikar.

Dua hari sebelumnya, Jumat (12/10), tim ACT juga menyambangi desa ini untuk membagikan pangan dan logistik, termasuk terpal untuk penutup tenda. Tim akan terus bergerak menjangkau desa-desa terdampak lainnya, menyalurkan amanah kepedulian masyarakat Indonesia. 

22 Oct 2018

Update 22 - Pangan & Medis Jangkau Desa Terisolir di Sigi

Sama seperti Palu dan Donggala, Kabupaten Sigi turut terkena dampak bencana yang cukup parah. Bahkan, 11 hari pascabencana, sejumlah kecamatan di Sigi masih terisolir. Salah satunya adalah Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Akses jalan sulit dilalui sebab banyak terjadi tanah longsor, seperti kondisi di Desa Salua.

Rabu (10/10),  Aksi Cepat Tanggap (ACT) berupaya menjangkau desa tersebut. Butuh waktu 3 jam dari Kota Palu dengan menempuh jarak  sekitar 65 kilometer menuju lokasi yang letaknya di area perbukitan itu.

Koordinator Posko ACT Wilayah Kabupaten Sigi Rahadiansyah mengungkapkan, sudah tiga kali tim ACT menyambagi Desa Salua. Namun demikian, akses jalan masih saja menjadi kendala. Sesekali tim harus turun untuk mengurangi beban agar kendaraan dapat melewati jalanan yang licin karena berlumpur.

“Bencana yang menghantam Kabupaten Sigi ini lengkap, ada gempa bumi, ada tsunami, likuefaksi, dan longsor. Jadi, memang sulit sekali bisa menembus wilayah ini. Meski begitu, kami terus berikhtiar. Kali ini kami datang membawa logistik berupa beras, gula, sembako, dan telur untuk kita suplai ke sini,” kata Rahadiansyah, Rabu (10/10).

Tak sekadar memberikan logistik, ACT juga membuka dapur umum agar warga bisa saling membantu memasak bahan makanan yang diberikan. “Kami suplai bahan mentahnya supaya mereka tidak makan mi terus karena di sini belum ada warung yang buka. Insya Allah setiap dua hari sekali akan ada bahan makanan untuk 200 hingga 300 pengungsi,” papar Rahadiansyah.

Ikhtiar ACT dalam menyebarluaskan posko sekaligus membangun dapur umum mendapat dukungan dari masyarakat, utamanya Desa Salua. Marwah (47), misalnya, ibu paruh baya ini dengan sukarela membantu di dapur umum. Katanya, desanya baru pertama kali mendapat bantuan berupa dapur umum.

 “Alhamdulillah, sangat senang sudah ada bantuan seperti ini. Lebih praktis, di sini kami bisa masak sama-sama dan makan juga sama-sama. Sehingga, bantuan bisa langsung dinikmati dan menyebar merata. Terima kasih ACT,” tutur Marwah.

Selain Desa Salua, Rahadiansyah menyebut ACT akan membuka dapur umum di wilayah lain yang juga masih terisolir. “Kalau dapur umum kita akan coba satu lagi di Desa Pandere, dan Insya Allah satu lagi mungkin di Dolo Selatan, Sigi,” jelasnya.

Layanan kesehatan di Desa Salua

Berbicara tentang bencana, pelayanan kesehatan termasuk kebutuhan urgensi. Apalagi di wilayah terdampak yang letaknya sulit dijangkau. Perkara serupa juga dialami masyarakat Desa Salua, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Sejak bencana datang melanda wilayahnya, belum ada satupun warga yang tersentuh bantuan medis.

Relawan Medis ACT dr. Ayu Mufidah menuturkan, banyak warga yang mengalami luka sebab tertimpa reruntuhan akibat gempa. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Mereka semua bahkan belum ditangani tim medis, hanya mengandalkan alat dan obat seadanya mereka coba bertahan dari rasa sakit.

“Alhamdulillah, Tim Medis ACT sudah sampai di sini dan membantu mereka sembuh dari lukanya. Semoga mereka bisa lekas pulih. Saya dengar juga, beberapa ada yang sudah mulai sakit karena cuaca mulai tidak mendukung. Sering hujan, apalagi letak desa mereka di perbukitan,” jelas dr. Ayu.

Desa Salua, satu contoh kecil dari sekian banyaknya desa yang terisolir dan belum terjamah bantuan. Dampak yang timbul begitu masif. ACT akan terus berikhtiar menjangkau mereka dengan menyalurkan amanah kepedulian masyarakat Indonesia untuk Palu, Donggala, dan juga Sigi.

19 Oct 2018

Pencairan Dana Rp 420.301.721

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

19 Oct 2018

Update 20 - Kapal Kemanusiaan Kembali Berlayar Menuju Palu

Pengiriman pangan dan logistik untuk korban bencana di Sulawesi Tengah terus dikerahkan. Berbarengan dengan pengiriman bantuan melalui jalur darat, Aksi Cepat Tanggap (ACT) turut mengirim muatan pangan dan logistik dalam jumlah besar melalui jalur laut. Bekerja sama dengan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), Kapal Kemanusiaan untuk Palu, Sigi, dan Donggala kembali diberangkatkan, setelah sebelumnya kapal berlayar dari Surabaya menuju Palu pada 8 Oktober silam.

KMP Drajat Paciran, kapal yang didapuk sebagai Kapal Kemanusiaan tahap dua untuk Palu, Sigi, dan Donggala ini lepas sauh dari Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Senin (15/10). Kapal berlayar menuju Pelabuhan Pantoloan, Palu, dengan membawa ratusan ton bahan pangan dan logistik. Kapal Kemanusiaan secara resmi dilepas oleh Presiden ACT Ahyudin, yang diwakili oleh Senior Vice President ACT Syuhelmaidi Syukur, beserta jajaran direksi PT ASDP Ferry Indonesia (Persero).

Dalam sambutannya, Ahyudin menyampaikan masih tingginya kebutuhan para penyintas gempa dan tsunami di Palu, Sigi, dan Donggala, meskipun sudah memasuki pekan ketiga pascabencana. Oleh karena itu, ACT tidak henti-hentinya berikhtiar untuk memberikan penanganan kebencanaan yang menyeluruh, dimulai dari masa tanggap darurat.

Selama penanganan di masa tanggap darurat ini, ACT bersinergi dengan berbagai elemen bangsa. Hal ini, menurut Ahyudin, menjadi hikmah yang datang bersamaan dengan bencana, di mana seluruh masyarakat bersatu membantu korban bencana di Sulawesi Tengah.

“ACT bersyukur atas kolaborasi yang baik dengan semua pihak, rakyat Indonesia dari berbagai lapisan. Ikhtiar itu menjadi terwujud dengan keseriusan sarana transportasi yang juga sigap. Salah satunya, pihak PT ASDP Ferry (Persero), sebagai pihak yang mendukung tersedianya transportasi Kapal Kemanusiaan untuk Palu-Sigi-Donggala dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara,” terang Ahyudin.

Sementara itu, Jusuf Hadi selaku Direktur Komersil PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mengapresiasi ACT atas kecepatannya dalam mengambil inisiatif untuk membantu korban bencana di Sulawesi Tengah. "Terima kasih, popularitas ACT dimaksimalkan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat.  Lembaga ini pasti memiliki sistem manajemen dan jaringan mitra yang sangat bagus karena mampu secara cepat melakukan penggalangan bantuan yang cukup besar.  ASDP siap mendukung kerja kemanusiaan. Kami bekerja dengan amanah dua kementerian yaitu Perhubungan dan BUMN. Bersama ACT dan sinersitasnya yang luas, ASDP berkarya total dalam kerja-kerja kemanusiaan," terang Jusuf.

Pemberangkatan Kapal Kemanusiaan tahap dua ini menjadi ikhtiar serius penanganan kedaruratan, setelah lebih dari dua pekan bencana tersebut melumpuhkan ibu kota Sulawesi Tengah dan sekitarnya.

Kapal Kemanusiaan (KK) untuk Palu,Sigi, dan Donggala  membawa 750 ton logistik, yang berasal dari publik, komunitas, dan instansi. Bantuan berupa sembako, air mineral, obat-obatan, paket sanitasi, kebutuhan pangan bayi dan balita, selimut, tenda, dan lainnya. Semua itu merupakan bentuk kepedulian berbagai pihak yang telah dikumpulkan di gudang Indonesia Humanitarian Center (IHC) di Gunung Sindur, Bogor.

Selain membawa bantuan masyarakat yang dihimpun oleh ACT, Kapal Kemanusiaan juga akan membawa bantuan yang diamanahkan masyarakat DKI Jakarta dan sejumlah instansi yang terkumpul di Balai Kota. Mereka di antaranya Badan Penanggulanban Bencana Daerah Provinsi DKI Jakarta, Palang Merah Indonesia DKI Jakarta, Dompet Dhuafa, Organisasi Turun Tangan, Rumah Zakat, Youth Power Indonesia, dan Relawan Jakarta Maju Bersama.

Kapal diperkirakan merapat di Palu dalam empat hari ke depan. Tidak berhenti sampai sini saja, logistik juga akan terus dikerahkan dari berbagai daerah untuk pemenuhan kebutuhan dasar bagi penyintas gempa dan tsunami di Palu. Kapal Kemanusiaan seperti ini, memang bukan yang terakhir. Sepanjang kemanusiaan ada di batin rakyat Indonesia, selama itu pula program ini akan terus ada.

18 Oct 2018

Update 19 - Satu Hari Aksi Kemanusiaan di Sirenja, Donggala

Setengah bulan sudah peristiwa gempa dan tsunami melanda Kabupaten Donggala dan Kota Palu. Selama itu pula masyarakat terdampak gempa berusaha sekuat tenaga untuk bertahan hidup. Kini, hari-hari tanpa listrik, air bersih, dan makanan itu telah berlalu. Namun, kondisi warga belum sepenuhnya pulih.

Menyambangi Kecamatan Sirenja di Kabupaten Donggala, Aksi Cepat Tanggap (ACT) mendistribusikan logistik. Pendistribusian bantuan pada Kamis (11/10) lalu juga disebarengi dengan pelayanan kesehatan dan pelayanan dapur umum. Pagi itu, kegembiraan warga menyambut kedatangan relawan ACT dan kebutuhan logistik yang dibawa. 

Tidak tanggung-tanggung, mereka turut membantu relawan membawa sejumlah logistik ke tenda pengungsian dan dapur umum. Ada yang membopongnya langsung dengan tangan, ada juga yang menawari gerobak kayu, yang beroda karet sebesar ban mobil, dan ditarik sapi untuk mengangkut sejumlah karung beras.

Tepatnya di Desa Lompio dan Lende Induk, lebih dari 500 karung beras, telur, air mineral, dan kebutuhan logistik lainnya dibagikan. Bantuan yang diberikan hari itu menjangkau 427 KK. Walaupun begitu, berdasarkan pantauan Koordinator Posko Wilayah Kecamatan Sirenja, Lukman Solehuddin, masih banyak kebutuhan dasar pengungsi yang harus dipenuhi selain stok bahan makanan, antara lain selimut dan terpal. 

Lukman melaporkan, ia dan timnya beraksi selama sehari penuh. “Alhamdulillah kegiatan kami berjalan dengan lancar. Tim mulai bergerak dari pagi hingga sore hari, pukul 08.00 sampai dengan 18.00 WITA,” jelasnya. Kegiatan hari itu ia lakukan bersama 15 orang relawan lainnya.

“Pelayanan kesehatan hari ini (11/10) melayani 198 pengungsi. Dapur umum kami juga memproduksi 100 porsi makan malam,” lanjut Lukman. 

Pendistribusian logistik, makanan siap santap, hingga pelayanan medis pun berlanjut keesokan harinya, Jumat (12/10). Di hari itu, tim menyambangi Desa Baleng Tuma, Tanjung Padang, Lende Ntovea,  dan Tompe di Kecamatan Sirenje. Lukman menjelaskan, aksi di empat desa itu menjangkau lebih dari 2.000 keluarga pengungsi.

Kecamatan Sirenja menjadi salah satu daerah terdampak parah karena lokasinya berdekatan dengan pusat gempa. Berdasarkan pemodelan cepat yang dilakukan Peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada hari gempa terjadi (29/9), Kecamatan Sirenja termasuk salah satu daerah yang mengalami kenaikan tanah 1,5 meter pascagempa. Sementara dii Sirenja, Posko Kemanusiaan ACT berada di Jalan Trans Toli toli, Desa Lompio, Kecamatan Sirenja, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Hingga Sabtu (13/10), ACT telah menjangkau sejumlah daerah terdampak bencana di Palu, Donggala, dan Sigi. Lebih lanjut, ACT akan berikhtiar menjangkau daerah terdampak gempa lainnya untuk turut berupaya membantu keadaan Sulawesi Tengah menjadi lebih baik.

17 Oct 2018

Update 18 - Bawa Ribuan Ton Bantuan, Kapal Kemanusiaan Berlabuh di Palu

Lima hari selang keberangkatannya dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Kapal Kemanusiaan berlabuh di Palu. Kapal menambatkan jangkarnya di Pelabuhan Pantoloan, Sabtu (13/10). KM Melinda 01 yang didapuk sebagai Kapal Kemanusiaan ini membawa 1.000 ton bantuan pangan dan logistik untuk masyarakat Sulawesi Tengah.

Kapal Kemanusiaan ini membawa 500 ton beras yang dikumpulkan dari Lumbung Pangan Wakaf (LPW) Global Wakaf - ACT di Blora, Jawa Tengah. Sedangkan sisanya memuat bahan logistik lain seperti air mineral, sembako, pakaian baru, makanan bayi, selimut, tenda, obat-obatan, dan lain-lain. Selain pangan dan logistik, kapal turut mengangkut satu mobil ambulans ACT, yang sebelumnya melayani pengungsi di Lombok. 

Senior Vice President ACT Syuhelmaidi Syukur mengatakan, kedatangan Kapal Kemanusiaan merupakan bagian dari rangkaian pengiriman logistik dari berbagai wilayah di Indonesia untuk pengungsi di Sulawesi Tengah. Kapal Kemanusiaan pertama untuk Sulawesi Tengah ini mengangkut ribuan ton bantuan dari Jawa, di antaranya dari Blora, Ngawi, Bojonegoro, Yogyakarta, Semarang, Solo, Malang, dan Surabaya.

“Jadi tidak hanya dari Sulawesi Selatan dan Kalimantan, bantuan juga datang dari berbagai daerah di Jawa melalui Kapal Kemanusiaan. Logistik ini akan memenuhi keperluan pengungsi di Palu dan sekitarnya,” jelas Syuhelmaidi, Sabtu (13/10). 

Pengiriman pangan dan logistik melalui Kapal Kemanusiaan untuk Palu, Sigi, dan Donggala terlaksana atas kerja sama ACT dengan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Nantinya, bantuan dari kapal akan masuk gudang yang berada di kompleks Pelabuhan Pantoloan. Bantuan ini akan dibagikan ke pengungsi melalui posko wilayah yang ACT miliki. Sampai saat ini sudah ada delapan posko wilayah di empat kabupaten di Sulteng.

Syuhelmaidi menambahkan, Kapal Kemanusiaan kedua akan berangkat dari Jakarta. Kapal akan bakal lepas sauh dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, menuju Pelabuhan Pantoloan pada Senin (15/10). “Bantuan untuk masyarakat Sulteng tidak berhenti di sini. Insya Allah Kapal Kemanusiaan selanjutnya akan berangkat dari Jakarta untuk membawa bantuan pangan dan logistik lagi,” jelasnya.

Pascabencana gempa bumi, tsunami, serta fenomena likuefaksi yang terjadi di Palu, Donggala, dan Sigi, puluhan ribu pengungsi masih membutuhkan bantuan pangan hingga saat ini. Mereka kehilangan mata pencaharian sekaligus harta benda. Mengungsi jadi pilihan, karena rasa takut yang mendalam juga akibat hancurnya tempat tinggal.

Pengungsi hingga hari ini tercatat hingga menyentuh angka lebih dari 61 ribu jiwa yang tersebar di 109 titik. Pengungsi yang tinggal di bawah atap tenda terpal segitiga tanpa tembok penghalang membuat kondisi mereka kian rentan. Hal ini mengingat musim hujan telah datang, gerimis hingga hujan hadir saat malam sampai dini hari. Sedangkan siang, panas yang terik membuat tak nyaman di kulit. Kebutuhan makan dan kesehatan menjadi penting bagi mereka. 

16 Oct 2018

Pencairan Dana Rp 303.372.303

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

16 Oct 2018

Update 16 - Kabar dari Sudut Donggala: Warga Bertahan untuk Bangkit

Jalan meliuk, di tepi pantai Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Tak ramai jalanan hari itu, Jumat (12/10), hanya beberapa mobil kecil lewat, dan tak jarang dijumpai truk besar pengangkut alat berat juga bantuan bagi korban gempa bumi dan tsunami di Sulsel. Siang itu, tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) bergerak menuju Desa Alindau, Sindue Tobata, Donggala.

Jalan trans Sulawesi dari Palu ke Donggala arah Tolitoli masih terdapat longsoran. Tebing tepi jalan di sebelah kanan ke arah Tolitoli longsor akibat gempa magnitudo 7,4 pada Jumat (28/9) silam. Separuh badan jalan di beberapa titik masih belum dibersihkan, menghalangi pengendara yang lewat. Setiap pengemudi perlu hati-hati, jalan menjadi licin akibat diselimuti sisa lumpur longsoran, terlebih saat hujan. 

Perlu waktu tempuh lebih kurang 95 menit dari pusat Kota Palu ke Alindau. Hari itu, ACT membagikan paket beras, dan sembako lainnya ke pengungsi di Dusun Lima. Enam dusun bergabung di satu area untuk mengungsi. Di tengah sawah dengan bukit hijau mengelilingi mereka, pengungsi tinggal di bawah atap dan beralas terpal, tanpa dinding penghalang angin.

Salah satu pengungsi, Erwin, mengatakan di Alindau dua orang meninggal dunia. Satu orang tertimpa bangunan saat gempa menghantam magrib itu. Sedangkan seorang lagi meninggal di pengungsian. “Yang meninggal di pengungsian itu ibu hamil 7 bulan, karena trauma,” tuturnya, Jumat (5/10). 

Di Alindau, sampai saat ini masih 53 kepala keluarga berlindung di bawah tenda pengungsian. Sebelum itu angkanya lebih banyak, akan tetapi sebagian sudah kembali ke rumah mereka yang masih utuh, walau dalam keadaan rusak ringan. Untuk yang rumahnya hancur, korban memilih bertahan di tenda pengungsian. “Rumahku hancur sudah karena gempa,” kata salah satu pengungsi Satiyah.

Potensi pertanian

Pemandangan hamparan sawah padi menemani perjalanan ke Dusun Lima, tempat warga di enam dusun Desa Alindau mengungsi. Beberapa petak sudah selesai panen, tinggal menyisakan damennya saja. Tapi, tidak sedikit juga petak sawah yang sudah menguning daunnya, merunduk biji beras tanda siap dituai. Terlihat juga dua orang petani sedang memisahkan biji padi dengan pohonnya. 

Di desa Alindau, sebagian besar warganya berprofesi sebagai petani. Tanah yang subur dan ketersediaan air bersih melimpah, udaranya juga sejuk karena dikelilingi bukit-bukit hijau.

Pascagempa magnitudo 7,4 dua pekan silam, warga kehilangan harta benda mereka, termasuk modal untuk bertani. Erwin, salah satu pengungsi berharap untuk setelah bencana ini mereka dapat kembali menggarap area sawah yang saat ini masih dijadikan lahan mengungsi. “Kami ingin mendapatkan modal dan ketersediaan bahan untuk bertani padi lagi, pertanian kami ingin diberdayakan,” ujarnya sambil menunjukkan luasnya areal sawah. 

Harapan untuk bangkit dan pulih dari bencana telah tertanam dalam benak Erwin dan warga lainnya di Alindau. Harapan ini tumbuh, bersamaan dengan ketegaran untuk menyambung hidup sementara waktu di pengungsian.

15 Oct 2018

Pencairan Dana Rp 1.609.017.078

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

12 Oct 2018

Pencairan Dana Rp 470.167.944

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

12 Oct 2018

Update 13 - Posko ACT Sulteng Bertambah, Jangkau Lebih Banyak Pengungsi

Lebih dari 10 hari sudah pascabencana gempa, tsunami, juga likuefaksi melanda Palu, Donggala, hingga Sigi. Jumlah korban menurut Badan Nasional Penggulangan Bencana (BNPB) per tanggal 8 Oktober berada di angka 1.944 orang. Korban meninggal dunia diakibatkan tertimbun bangunan, tergulung ombak tsunami dan terhisap lumpur likuefaksi pada Jumat (28/9).

Aksi Cepat Tanggap (ACT) sejak hari pertama pascagempa telah mengirimkan sejumlah relawan untuk melakukan evakuasi. Selain itu, hingga kini ACT telah mendirikan lima posko wilayah untuk memudahkan distribusi bantuan logistik dan pelayanan kesehatan. Lima posko tersebar di Palu, Donggala, Sigi, hingga Parigi Moutong. “Hari ini akan ada posko wilayah Parigi Moutong, jadi ada penambahan menjadi enam posko,” kata Direktur Global Humanity Response (GHR) ACT Bambang Triyono, Selasa (9/10). 

Di Palu, posko berada di Palu Barat dan Timur. Wilayah Donggala juga terdapat dua posko, sedangkan Kabupaten Sigi terdapat satu posko yang berada di Pesantren Madinatul Ilmi Desa Kota Rindau, Dolo. Semua posko ini tak hanya sebagai tempat awal pendistribusian logistik bantuan, tapi juga dijadikan sebagai posko medis. “Posko medis menempel dengan posko wilayah,” kata dr. Muhammad Riedha, bagian dari Tim Medis ACT untuk bencana Sulawesi Tengah.

Bambang selanjutnya mengatakan, pekan ini target 8 posko akan didirikan. Masing-masing posko akan dioptimalkan untuk pendataan dan peninjuauan data korban dan wilayah yang terdampak bencana di Tanah Celebes . Posko untuk wilayah Donggala akan segera ditambah guna memaksimalkan proses evakuasi, pendistribusian logistik, hingga pemulihan. “Cakupan aksi wilayah Donggala cukup luas, perlu 3 posko,” tambah Bambang. 

Posko kemanusiaan ACT tidak hanya mengatur proses pendistribusian logistik di wilayah terdampak. Dapur Umum juga didirikan berdekatan dengan lokasi posko untuk mengolah makanan siap santap, yang dibagikan kepada pengungsi. Selain itu, tim di masing-masing posko ACT juga akan melakukan pendataan guna persiapan masa pemulihan.

Bantuan terus datang

Senin (8/10) pagi, bantuan logistik telah kembali berangkat melalui jalur darat dari Sidenreng Rappang untuk korban gempa di Sulteng. Bantuan dengan berat 300 ton ini akan didistribusikan ke wilayah terdampak. “Masing-masing posko tengah merencanakan pendistribusian,” kata Bambang. 

 Untuk pembagian bantuan ini, tambah Bambang, tim ACT akan melakukan peninjauan ke tempat pengungsi berada. Cara ini dilakukan guna mengetahui keadaan pengungsi dan kebutuhan yang paling diperlukan. Setelah itu, pengiriman barang bantuan akan dilakukan dari posko wilayah terdekat pengungsi. “Tapi ada juga pengungsi yang datang dan mengambil langsung bantuan ke posko kami,” ungkapnya.

Selain dikirim dari Kabupaten Sidenreng Rappang dan Makassar, Sulsel, logistik juga datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Seribu ton bantuan pangan dan logistik telah dilayarkan Kapal Kemanusiaan pada Senin (8/10) lalu dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Seluruhnya dihimpun dari sejumlah kabupaten dan kota di Jawa, seperti Blora, Ngawi, Bojonegoro, Solo, Semarang, Yogyakarta, Malang, dan Surabaya. 

Ahad (15/10) mendatang, Kapal Kemanusiaan untuk Palu, Sigi, dan Donggala akan diberangkatkan kembali dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Kapal akan membawa ribuan ton pangan dan logistik tambahan, amanah kepedulian masyarakat Indonesia.

***

Ruang partisipasi kepedulian untuk Palu-Sigi-Donggala masih terus dibuka. Sahabat dapat memberikan bantuan terbaik untuk mereka dengan klik

11 Oct 2018

Update 12 - Bertahap, Logistik Dikirimkan dari Makassar Menuju Palu

Bantuan masyarakat Sulsel untuk korban gempa dan tsunami di Palu, Sigi, dan Donggala terus mengalir ke Indonesian Humanitarian Center (IHC) Aksi Cepat Tanggap (ACT) Sulsel di Jl. Sultan Alauddin, Alauddin Plaza Ruko BA 27, Kota Makassar.

Kepedulian masyarakat Sulsel begitu tinggi terhadap korban bencana di Sulteng. Hal ini  terlihat dari tumpukan barang bantuan yang menggunung di gudang IHC ACT Sulsel.

Sari selaku Koordinator Gudang IHC ACT Sulsel mengatakan, hampir dua pekan sejak bencana gempa dan tsunami melanda Sulteng, bantuan terus mengalir ke gudang IHC. “Segala macam bantuan kami terima. Namun mohon maaf untuk menghormati para korban, kami tidak menerima pakaian bekas dan mi instan,” ujar Sari.

Hal senada juga disampaikan oleh Kepala Cabang ACT Sulsel Syahrul Mubarak yang juga ikut mengomandoi pergerakan aliran barang bantuan masyarakat ke IHC ACT Sulsel. Ia menyampaikan, bantuan gudang IHC ACT di Makassar siap diberangkatkan, mengingat jumlahnya sudah besar.

“Insya Allah, Senin (8/10), barang bantuan yang telah terkumpul kami kirim secara bertahap melalui jalur darat, menggunakan 3 truk berkapasitas 7 - 15 ton. Barang bantuan yang kita kirimkan hari ini berupa berupa beras, air mineral, minyak, obat-obatan, terpal, kasur, selimut dan bahan logistik lainnya,” jelas Syahrul.

Sebelumnya, Rabu (3/10), ACT telah mengirimkan 10 truk bantuan ke Palu via darat dari Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Truk-truk ini membawa bahan pangan berupa beras, telur, minyak, dan gula. Bahkan beras yang disiapkan, sebelumnya dibeli langsung dari petani lokal di Sidrap.

Logistik yang dikirimkan menuju Palu ditampung di posko kemanusiaan ACT. Dari posko inilah nantinya berbagai kebutuhan pangan dan logistik langsung didistribusikan ke korban gempa dan tsunami yang masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.

ACT telah mendirikan 5 Posko di Palu tepatnya di daerah Sigi, Donggala, Palu barat, dan Palu Timur. Posko tersebut dilengkapi dengan dapur umum, layanan kesehatan medis, dan air bersih yang setiap harinya sibuk untuk membantu korban.

Menurut data dari tim Disaster Emergency Response and Relief Management (DERM) – ACT yang telah berjibaku untuk melakukan evakuasi dan distribusi bantuan di lokasi sejak sehari pascabencana, hingga Senin (8/10), korban jiwa telah mencapai lebih dari 1.800 orang. Sementara itu, sekitar 2.500 jiwa luka berat dan lebih dari 70.000 jiwa mengungsi. Semua tersebar di 95 desa terdampak di Sulawesi Barat dan 839 desa di Sulawesi Tengah.

11 Oct 2018

Pencairan Dana Rp 1.717.886.305

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

10 Oct 2018

Update 10 - Aksi Medis ACT Terus Berjalan di Palu dan Donggala

PALU - Sudah lebih dari sepekan berlalu sejak gempa dan tsunami melanda Palu, Donggala, Sigi dan sekitarnya pada Jumat (28/9). Hingga saat ini menurut data yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per tanggal 7 Oktober korban meninggal dunia mencapai 1.649 orang. Ratusan orang mengalami luka ringan hingga berat. Juga puluhan ribu orang orang harus mengungsi karena kehilangan tempat tinggal.

Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang sejak hari pertama pascagempa menurunkan tim evakuasi di tanah Celebes juga menghadirkan tim medis. Tim medis yang terdiri delapan dokter itu segera membuka posko medis guna membantu korban. Tak hanya dokter, enam perawat dan tiga orang bidan juga turut bertugas sebagai bagian dari tim medis ACT.

Hingga kini, tim medis di Sulawesi Tengah telah membuka enam posko medis. Dua pos berada di Donggala, tiga pos berada di Palu. Sedangkan di Sigi ada satu pos. Semua pos medis sampai saat ini masih menyatu dengan posko wilayah yang dibangun ACT, termasuk posko induk di Palu. “Saat ini posko medis masih menempel dengan posko wilayah,” dr. Riedha dari tim medis ACT, Ahad (7/10).

Posko medis saat ini melayani luka dan cedera. Untuk pelayanan operasi korban, aksi medis dilakukan di rumah sakit yang memiliki peralatan bedah. Selain karena faktor peralatan yang kurang memadai, kondisi area yang tidak cukup steril menjadikan operasi tidak dapat dilakukan di posko medis. “Tim dokter ACT ada di RSUD Undata,” tambah dr. Riedha

9 Oct 2018

Update 9 - Keberangkatan Kapal Kemanusiaan, Antarkan 1.000 Ton Bantuan

SURABAYA - Pangan, medis, dan logistik kian mendesak dibutuhkan oleh penyintas gempa dan tsunami di Palu, Donggala, Sigi, dan wilayah terdampak lainnya di Sulawesi Tengah (Sulteng). Merespons kondisi tersebut, Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memberangkatkan Kapal Kemanusiaan untuk Palu dan Donggala. Pemberangkatan Kapal Kemanusiaan ini menjadi ikhtiar serius penanganan kedaruratan, setelah lebih dari sepekan bencana tersebut melumpuhkan ibu kota Sulteng dan sekitarnya.

Kapal Kemanusiaan (KK) untuk Palu dan Donggala berangkat pada Senin (8/10), membawa 1.000 ton logistik dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya menuju Pelabuhan Taipa, Palu. Kapal dilepas secara resmi oleh Senior Vice President ACT sekaligus Presiden Global Wakaf N. Imam Akbari dan Rudi Hanafiah selaku General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Surabaya.

Dalam sambutannya N. Imam Akbari mengatakan betapa besarnya dampak bencana di Palu dan Donggala. Hampir semua sendi kehidupan di Palu lumpuh, terlihat dari krisis yang melingkupi wilayah tersebut selama sepekan terakhir. Tidak hanya korban jiwa dan luka, gempa dan tsunami juga menghancurkan infrastruktur serta membuat pangan, air bersih, dan logistik menjadi langka. Bahkan krisis juga terjadi di daerah lain, seperti Parigi Moutong dan Sigi.

“Dampak bencana Palu dan Donggala amat besar, oleh karena itu kami juga berikhtiar besar untuk mendampingi warga terdampak di masa tanggap darurat ini. Evakuasi dan layanan medis masih berlangsung. Bantuan logistik dan pangan terus didistribusikan dari berbagai wilayah di Indonesia. Keberangkatan Kapal Kemanusiaan yang membawa 1.000 ton logistik adalah salah satunya. Ini membuktikan besarnya animo kepedulian masyarakat terhadap korban bencana di Palu, Donggala, dan Sigi,” papar Imam, Senin (8/10).

Bencana Palu dan Donggala menggugah empati dari berbagai elemen masyarakat Indonesia, termasuk PT ASDP Ferry Indonesia (Persero). Bersama ACT, BUMN di bidang transportasi laut tersebut menyiapkan kapal berkapasitas 1.000 ton untuk melayarkan bantuan ke Palu. Kapal tersebut yakni KM Melinda, kapal yang didapuk sebagai Kapal Kemanusiaan untuk Palu dan Donggala.

Rudi Hanafiah selaku General Manager PT ASDP Ferry Indonesia Cabang Surabaya mengatakan, dalam setiap peristiwa bencana, ASDP selalu membantu dan mengirimkan armadanya. Hal ini mengingat ASDP memiliki armada yang cukup memadai dan efektif menjangkau lokasi bencana di seluruh Indonesia.“Secara khusus kami memiliki kapal dan kapasitas angkut secara besar, oleh sebab itu kami perlu bekerja sama dengan pihak yang lebih berpengalaman (ACT) dalam pendistribusian bantuan ke lokasi bencana,” terang Rudi.

Apalagi, imbuh Rudi, kapal yang mengusung bantuan kemanusiaan ke Palu ini diberangkatkan dari dermaga Ujung, Tanjung Perak Surabaya. “Ini adalah kali pertama kapal bantuan berangkat dari Surabaya dalam kapasitas besar. Oleh sebab itu, ini kesempatan besar membantu saudara-saudara kita di Palu,” jelasnya.Selain melalui Surabaya, ASDP sebelumnya telah memberangkatkan kapal bantuan yakni KMP Julung julung dari Toli Toli Sulawesi Utara ke Palu dan KMP Drajat Paciran dari Surabaya ke Palu.

ASDP berkomitmen  mengirimkan bantuan ke Palu melalui beberapa kota, yakni balikpapan, Mamuju, Toli Toli, Bitung, Surabaya dan Jakarta. Kapal Kemanusiaan untuk Palu dan Donggala membawa 1.000 ton bantuan kemanusiaan dan ambulans. Lima ratus ton di antaranya berupa beras yang dikumpulkan langsung dari Kabupaten Blora dan sekitarnya. Ratusan ton beras tersebut dipanen oleh petani lokal binaan Global Wakaf - ACT, melalui program Lumbung Pangan Wakaf (LPW).

Sementara itu, ratusan ton sisanya berupa sembako, air mineral, obat-obatan, pakaian baru, paket sanitasi, kebutuhan pangan bayi dan balita, selimut, tenda, dan lainnya. Berbagai jenis bantuan pangan dan logistik ini dihimpun dari masyarakat Indonesia, seperti dari Blora, Ngawi, Bojonegoro, Yogyakarta, Solo, Semarang, Malang, dan Surabaya. Semua dihimpun sejak Rabu (3/10) hingga Ahad (7/10) di gudang Indonesia Humanitarian Center (IHC) Surabaya yang berada di Pelabuhan Tanjung Perak.

“Ini menandakan betapa besarnya empati dan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap derita saudara-saudaranya yang tertimpa bencana di Palu dan sekitarnya. Semoga animo kepedulian ini bisa terus membersamai warga Palu, Donggala, dan Sigi hingga masa pemulihan nanti,” pungkas Imam.

Keberangkatan Kapal Kemanusiaan untuk Palu dan Donggala dari Surabaya akan diikuti keberangkatan kapal serupa dari wilayah lainnya, seperti Jakarta, Aceh, dan Medan. Tidak hanya itu, logistik juga akan terus dikerahkan dari berbagai daerah untuk pemenuhan kebutuhan dasar bagi penyintas gempa dan tsunami di Palu.

8 Oct 2018

Pencairan Dana Rp 3.272.933.197

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

8 Oct 2018

Update 7 - Bantuan Pangan Tahap Awal Tiba di Palu dan Donggala

5 Oktober 2018. Setelah sehari semalam perjalanan darat, akhirnya konvoi tahap pertama truk berisi bantuan pangan, tiba di Palu dan Donggala. Berangkat sejak Rabu (3/10) dari Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), truk bantuan pangan tahap pertama dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) melaju konvoi berjumlah 10 unit. 

Aras (33) pengemudi salah satu truk yang membawa bantuan logistik mengatakan, sepanjang perjalanan dari Sidrap melintasi rute Mamuju dan Pasangkayu, tak ada hambatan yang merintangi. “Alhamdulillah perjalanan lancar, kami hanya menunggu sedikit lebih lama di Mamuju untuk mendapat pengawalan petugas dari Mamuju sampai Donggala dan Palu. Karena kami membawa barang bantuan, pengamanan dari Kodim Mamuju menjadi penting,” ujar Aras dihubungi via telepon.

Seperti yang sudah dikabarkan sebelumnya, ACT memberangkatkan tahap pertama bantuan logistik skala masif dari Kabupaten Sidenreng Rappang, Rabu (3/10) kemarin. Badan, selaku Koordinator Persiapan Bantuan Pangan ACT di Sidrap menjelaskan, setiap truk berisi kebutuhan logistik yang mendesak untuk korban gempa Palu dan Donggala.

“Mengingat pasar pun belum banyak yang buka, ekonomi masih belum bergerak. Bantuan logistik prioritas yang kami kirimkan dari Sidrap berupa beras dan sembako. Bahan pokok selain beras berisi minyak, ikan asin, telur dan gula,” jelas Badan.

Konvoi truk tahap awal berisi bantuan logistik untuk korban gempa Palu dan Donggala ini pun berkolaborasi dengan Kodim 1418/Mamuju. Dari mulai memasuki Kabupaten Mamuju sampai Donggala, Kodim 1418/Mamuju melakukan pengawalan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. 

Seorang ibu, Suriyani asal Desa Loli Dondo mengaku bersyukur bisa melihat konvoi truk logistik masuk ke wilayahnya. Ia sudah menunggu sejak berhari-hari pascagempa, menunggu bantuan datang.

“Kami bersyukur sekali. Akhirnya ada truk bantuan yang datang. Terima kasih banyak. Semua kita di sini kasihan. Rumah kita pun hancur karena gempa,” tutur Suriyani. 

Tiba di gudang logistik ACT Donggala dan Palu

Hingga hari ketujuh pascagempa, Jumat (5/10), posko ACT di Donggala dan di Kota Palu masih berjibaku pada empat fokus aksi. Bambang Triyono, Koordinator Tim Emergency Response ACT menjelaskan, aksi utama di fase darurat ini meliputi proses evakuasi korban meninggal dunia, mobile medic, distribusi logistik di sejumlah lokasi, dan persiapan untuk mengaktivasi posko dapur umum.

“Bantuan tahap pertama yang datang dari Sidrap akan didistribusikan segera di 2 lokasi utama di Donggala dan Palu. Hari ini, Jumat (5/10) Donggala sudah mulai didistribusikan di tujuh titik lokasi, yakni Kelurahan Boya, Kelurahan Kabonga, Desa Loli Dondo, Desa Loli Tasiburi, Desa Loli Pesua, Desa Loli Saluran, dan Desa Loli Oge,” jelas Bambang.

5 Oct 2018

Pencairan Dana Rp 5.364.321.914

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

5 Oct 2018

Update 5 - ACT Dirikan Posko Kemanusiaan di Donggala


Berbagai upaya tanggap darurat terus dilakukan untuk merespon sbencana gempa bumi 7.4 SR dan tsunami yang melanda Palu dan Donggala, Jumat (28/09) . Memasuki hari keenam pascabencana, Aksi Cepat Tanggap (ACT) mendirikan Posko Kemanusiaan di Donggala untuk mempermudah pelayanan kepada pada korban gempa bumi dan tsunami.

Posko ACT di Donggala terletak di Masjid Raya Donggala, Jl. Pelabuhan No. 10 Kelurahan Boya Kecamatan Banawa Kabupaten Donggala. Menurut Daryadi, Koordinator Posko ACT di Donggala, Masjid Raya Donggala dipilih menjadi lokasi posko kemanusiaan ACT karena beberapa sebab, antara lain letaknya yang strategis dan mudah untuk menjangkau tiga titik pengungsian di Donggala.

“Masjid ini merupakan bagunan yang representatif. Letaknya strategis, dapat menjangkau tiga titik pengungsian di Donggala. Selain itu, dengan mendirikan posko di Masjid Raya Donggala, diharapkan keamanan dapat lebih terjaga mengingat beberapa insiden penjarahan yang dilakukan oleh oknum masih sering terjadi belakangan ini,” jelas Daryadi.

ACT juga telah menjalin koordinasi dengan pihak Dewan Kemakmuran Masjid, Imam serta Remaja Masjid. Diharapkan para aktivis masjid tersebut dapat ikut berpartisipasi dalam kegiatan kemanusiaan yang berpusat di posko ACT Donggala. 

“Kemungkinan besok atau dua hari ke depan akan ada dropping logistik sebanyak sepuluh truk dari daerah Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Logistik sebanyak lima truk akan dikirimkan untuk Donggala dan lima truk untuk Palu. Truk-truk logistik tersebut mengangkut bantuan berupa beras, minyak, gula, air mineral dan telur asin. Mudah-mudahan para anggota DKM serta remaha masjid dapat turut serta dalam aktivitas pembagian logistik,” imbuh Daryadi.

Donggala merupakan salah satu daerah terdampak gempa dan tsunami paling parah. Selain menerjang Palu, tsunami juga membuat luluh lantak sebagian wilayah pesisir Donggala. Banyak bangunan di pesisir pantai yang rusak akibat tersapu tsunami. Sementara itu, di sisi Donggala yang berada jauh dari pantai, mayoritas rusak pun mengalami kerusakan akibat gempa dahsyat.

Diperkirakan masih ada sejumlah jenazah yang masih tertimbun reruntuhan dan belum dievakuasi, terutama di pesisir pantai wilayah Donggala. Kehadiran posko ACT di Masjid Raya Donggala diharapkan dapat mempermudah aksi-aksi kemanusiaan yang dilakukan oleh tim ACT di Donggala.   

“Hingga saat ini posko baru saja didirikan. Posko ini masih berada di fase awal.  Posko ACT di Donggala masih berkoordinasi dengan posko ACT lainnya yang telah berdiri lebih dulu di Kota Palu, tepatnya di Jl. H. Hayun, No: 38, RT 02 RW 07, Kelurahan Besusu Barat, Kecamatan Palu Timur. Sebelum posko Donggala berdiri, sejak sehari pascagempa dan tsunami, telah dilakukan beberapa aksi evakuasi yang dilakukan tim ACT di Donggala,” pungkasnya.

4 Oct 2018

Update 4 - Posko Kemanusiaan ACT Didirikan di Tengah Kota Palu

Menyiapkan aksi skala masif dan pusat koordinasi Tim Aksi Cepat Tanggap di Kota Palu, Selasa (2/10), Posko Kemanusiaan ACT pun didirikan. Kusmayadi, Koordinator Tim Emergency Response ACT di Kota Palu mengabarkan, Posko Utama Tim ACT di Kota Palu beralamat di Jl. H. Hayun, No: 38, RT 02 RW 07, Kelurahan Besusu Barat, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu.

“Tidak mudah untuk mencari bangunan yang layak dan sekiranya tahan gempa untuk dijadikan posko ACT pascagempa di Kota Palu. Bangunan di pinggir laut habis disapu tsunami, sementara bangunan yang masuk ke selatan Palu banyak sekali yang mengalami kerusakan fisik. Kami juga mencari bangunan yang berada di tengah Kota Palu, untuk memudahkan tim evakuasi ACT bergerak ke lokasi di sekitar Palu,” jelas Kusmayadi.

Tantangan lain datang dari bangunan rumah yang ditinggal oleh sejumlah warga untuk mengungsi. “Kalaupun ada bangunan utuh tidak mengalami retak, tapi tidak bisa kita akses. Karena bangunan dikunci dan ditinggal penghuninya mengungsi,” tutur Kusmayadi.

Permasalahan air bersih dan listrik yang padam pun menjadi urusan pelik di seluruh kota. Tim ACT di lokasi bencana melaporkan, sudah berhari-hari sejak gempa terjadi, mereka hanya berwudu menggunakan air mineral. Mandi adalah hal mustahil karena air bersih yang langka. Masalah ini yang juga menjadi prioritas untuk menyiapkan Posko Utama ACT yang layak.

“Insya Allah Posko ACT di Palu bisa menyala listriknya dengan genset. Air bersih juga sedang kami siapkan di posko. Bangunan posko sudah kami pastikan tahan guncangan gempa susulan karena tidak ada yang mengalami keretakan, Insya Allah,” tutur Nur Ali Akbar, Koordinator Relawan dan Logistik ACT di lokasi gempa Palu.

Memulai aksi dalam kondisi serba darurat dan terbatas, beberapa kendaraan operasional Tim ACT di Palu bahkan menggunakan mobil yang penyok-penyok akibat tertimpa runtuhan gempa. Seperti kendaraan operasional medis ACT misalnya, mobil berwarna putih itu menjadi saksi bisu betapa gempa dan tsunami Palu terjadi begitu dahsyat.

“Kondisi serba darurat di sini, selagi Ambulans ACT sedang dikirimkan langsung dari Kota Makassar, kami kesulitan mencari kendaraan roda empat untuk mobilisasi seluruh Tim ACT. Beberapa kendaraan bekas terkena gempa kami gunakan untuk sementara waktu.

Memasuki hari keempat pascagempa, aksi darurat bencana Tim ACT berfokus pada urusan evakuasi jenazah yang mulai membusuk dan memastikan pasokan logistik terjamin. Senin (1/10) petang kemarin, Tim ACT sempat mengevakuasi puluhan sampai ratusan jenazah yang tergeletak begitu saja di halaman parkir RSUD Undata Kota Palu. Karena minimnya kantong jenazah, tubuh yang mulai membusuk karena tergulung tsunami itu dibiarkan sementara di halaman RSUD Undata.

“Senin sore, kantong jenazah datang. Sejumlah relawan ACT segera bergegas memindahkan jenazah ke dalam kantong jenazah untuk segera dikuburkan di lokasi pemakaman massal. Kondisi tubuh jenazah yang mulai membusuk bisa sangat berbahaya bagi pengungsi di sekitarnya,” jelas Aria Rahadyan, salah satu Tim ACT yang tengah berada di Palu.

3 Oct 2018

Update 3 - ACT Siap Layarkan Kapal Kemanusiaan Menuju Palu dan Donggala

ACT Siap Layarkan Kapal Kemanusiaan Menuju Palu dan Donggala

Merespons cepat kebutuhan logistik yang mendesak, Aksi Cepat Tanggap (ACT) menyatakan siap melayarkan Kapal Kemanusiaan untuk Palu dan Donggala. Pernyataan ini disampaikan oleh Ahyudin, selaku President ACT, di Jakarta, Senin (1/10).

Ahyudin mengatakan, bencana di Palu dan Donggala dampaknya sangat masif. Krisis sudah dimulai dari langkanya logistik makanan dan minuman untuk puluhan ribu pengungsi. Bahkan krisis juga terjadi di daerah lain, seperti Parigi Moutong dan Sigi.

“Dalam waktu dekat kita akan layarkan Kapal Kemanusiaan untuk membawa kebutuhan logistik, terutama makanan dan minuman. Kapal Kemanusiaan untuk Palu Insya Allah akan mengangkut 1.000 ton beras, dan 500 ton logistik berisi kebutuhan dasar untuk para pengungsi. Menyusul juga akan dikirimkan dari daerah cabang-cabang ACT lainnya,” jelas Ahyudin.

Lebih lanjut, Insan Nurrohman selaku Vice President ACT memaparkan, Kapal Kemanusiaan akan dilayarkan dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya juga dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.

Kapal Kemanusiaan ACT langsung menuju Palu, Sulawesi Tengah. Berangkat dengan membawa 1.000 ton beras dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, dan sekitar 500 ton logistik campuran dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta mengangkut kebutuhan dasar seperti selimut, tenda, genset, air minum, makanan bayi dan lain-lain,” papar Insan.

Insan menambahkan, dari Tanjung Perak Surabaya, Kapal Kemanusiaan akan menggunakan Kapal Republik Indonesia (KRI) Teluk Ende. “Sekali lagi, Kapal Kemanusiaan ACT akan bersinergi dengan TNI AL. Beberapa waktu lalu, Kapal Kemanusiaan untuk Lombok juga menggunakan KRI Banjarmasin (592). Insya Allah dari Tanjung Perak akan 1.000 ton logistik beras untuk Palu akan diangkut dengan KRI Teluk Ende dari TNI AL,” jelas Insan.

Sementara itu, dari Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), ACT pun akan mengirimkan langsung 1.000 ton lagi bantuan beras untuk Palu dan Donggala. Insan menjelaskan, beras dari Sidrap akan melalui jalur darat menuju Palu-Donggala.

“Lebih dulu dibanding Kapal Kemanusiaan berlayar, bantuan beras juga akan dipasok dari Lumbung Pangan Wakaf (LPW) yang berada di Sidrap. Jalur darat dipilih untuk membawa beras dari Sidrap sampai Palu dan Donggala,” ujarnya.

Ribuan ton beras yang dikirimkan via Kapal Kemanusiaan maupun jalur darat, dipasok dari Lumbung Pangan Wakaf yang dikelola oleh Global Wakaf ACT. Lumbung Pangan Wakaf yang memasok bantuan beras untuk Palu berada di Kabupaten Blora, Jawa Tengah dan Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan. 

Pasokan logistik yang langka untuk puluhan ribu pengungsi

Hingga Selasa (1/10) pagi, keadaan Kota Palu masih lumpuh total. Nimas Afridha, Tim ACTNews yang berada di Palu melaporkan, makanan dan minum masih sangat sulit didapat. Bahkan untuk sekadar sebotol air minum hampir mustahil ditemukan di seluruh kota.

“Kebutuhan logistik sedang benar-benar kritis. Pengungsi sudah mulai banyak yang kelaparan, berhari-hari tidak menemukan makanan dan minum,” ujar Nimas.

Listrik yang padam, BBM yang sulit didapat, dan akses menuju Palu yang masih sangat terbatas menjadi hambatan. “Stok logistik masih sangat kurang. Listrik belum hidup, bahan bakar tidak ada dan relawan lokal yang terdampak gempa dan tsunami pun masih tersebar mengurus keluarga mereka terlebih dahulu. Distribusi bantuan akhirnya masih terhambat dan tidak merata,” cerita Nur Ali Akbar, anggota lain dari Tim Emergency Response ACT di Kota Palu.

#BersamaHadapiBencana
#IndonesiaBersamaPaluDonggala

3 Oct 2018

Pencairan Dana Rp 30.066.529

Ke rekening BCA *** *** 3818 a/n Aksi Cepat Tanggap

Rencana penggunaan dana: Terimakasih telah mendukung dan berpartisipasi dalam program Bantu Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk membantu pengungsi Korban Gempa Donggala & Tsunami Palu Sulteng dalam bentuk bantuan emergency seperti pangan, obat-obatan, tindakan medis, tenda dan lainnya. Semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita semua.

1 Oct 2018

Update 1 - Korban Meninggal Tsunami Palu-Donggala

Korban Meninggal Tsunami Palu-Donggala Jadi 832 Jiwa


ACTNews, PALU – Hari kembali gelap, sudah lewat lebih dari 48 jam pascagempa tsunami menerjang Kota Palu dan Donggala. Tapi listrik belum menyala hingga Ahad (30/9). Artinya, ketika matahari mulai turun, saat itu pula Kota Palu benar-benar gelap. Hanya cahaya lampu dari kendaraan yang remang di antara runtuhan. Puing rumah akibat gempa dan tsunami masih berserak, Kota Palu sebagai pusat dari pemerintahan Sulawesi Tengah masih lumpuh total.

Lebih dari dua hari dua malam pascagempa dan tsunami, reporter ACTNews yang berada di Kota Palu melaporkan kekacauan yang sebenar-benarnya sedang terjadi di antara ribuan jiwa pengungsi. Kekacauan terjadi ketika kebutuhan dasar seperti air minum, pangan, dan bahan bakar minyak (BBM) sangat sulit sekali didapat.

whatsapp_image_2018_09_30_at_19.29.48.jp

“Logistik lumpuh sepenuhnya. Sementara bantuan logistik belum merata. Bensin tidak ada, bahkan sekadar air minum kami tak menemukan sejak pagi. Kami Tim ACT yang bertugas di Palu baru sempat minum sedikit sekali sejak pagi hari. Kondisi pengungsi jauh lebih berduka lagi. Masih sangat banyak warga yang tidak menemukan makanan sejak dua hari lalu,” ujar Nimas Afridha, Reporter ACTNews mengabarkan dari tengah Kota Palu, Ahad malam (30/9).

Sementara itu, di waktu bersamaan angka korban meninggal akibat tertimbun runtuhan dan terhempas gempa terus bertambah. Sampai Ahad (30/9) siang, jumlah korban meninggal dunia telah diperbarui kembali menjadi 832 jiwa.

“Kami petang tadi menyisir sisi sebelah Timur Teluk, di sekitar Universitas Tadulako. Runtuhan rumah karena tsunami masih luarbiasa berserakan. Di dalam runtuhan-runtuhan itu diduga masih banyak jenazah tertimbun,” jelas Lukman Solehuddin, Koordinator Tim Emergency Response ACT di Palu.

Jenazah korban tsunami yang masih terdampar di pesisir sekitar Teluk Palu ini pun menjadi dilema baru. Pasalnya, jenazah terkena air laut akan mempercepat pembusukan dan menjadi ancaman kesehatan bagi pengungsi di sekitarnya.

"Tubuh meninggal dunia ada proses pembusukan, Kalau tenggelam di air laut dikhawatirkan bakteri pembusukan akan mencemari sumber air. Kalau terbuka baunya menyengat, lama-lama juga berbahaya untuk kesehatan pengungsi yang masih hidup di sekitarnya,” papar dr. Muhammad Riedha, Koordinator Tim Medis ACT.

whatsapp_image_2018_09_30_at_17.33.34.jp

Logistik nihil, penjarahan toko marak

Kekacauan sumber pangan dan air minum yang nihil di seluruh Kota Palu, nampak jelas dari maraknya “penjarahan” minimarket di seantero Kota. Bahkan minimarket yang diambil barang-barangnya oleh warga ini terjadi di depan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto.

Ahad (30/9) siang tadi, ketika Wiranto dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bersiap menggelar rapat di kantor Komando Rayon Militer Tadulako, tampak warga bergantian mengambil seluruh barang-barang yang bisa dikonsumsi. Warga membobol minimarket di dekat Korem Tadulako, terpaksa demi mendapat makanan dan minuman.

whatsapp_image_2018_09_30_at_17.33.53.jp

Peristiwa pembobolan minimarket lainnya juga terjadi di Bandara Mutiara Sis Aljufri, Sabtu (30/9) kemarin. Warga di sekitar bandara membobol sebuah minimarket di bandara untuk mengambil semua barang-barang yang bisa dimakan, seperti roti dan air minum.

Tim Emergency Response ACT di Kota Palu melaporkan, penyintas gempa dan tsunami Palu terpaksa melakukan tindakan pembobolan minimarket. Karena tak tahu lagi ke mana harus mencari bahan pangan dan air minum.

“Ada banyak sekali hambatan. Stok logistik masih sangat kurang. Listrik belum hidup, bahan bakar tidak ada dan relawan lokal yang terdampak gempa dan tsunami pun masih tersebar mengurus keluarga mereka terlebih dahulu. Distribusi bantuan akhirnya masih terhambat dan tidak merata,” tutur Nur Ali Akbar, anggota lain dari Tim Emergency Response ACT di Kota Palu .

whatsapp_image_2018_09_30_at_17.17.53.jp

Sampai Ahad (30/9) malam, ACTNews merangkum sejumlah kebutuhan logistik yang sangat mendesak untuk segera didistribusikan ke pengungsi di Palu, sebagai berikut:

  • Makanan siap saji
  • Air minum
  • Makanan bayi dan anak
  • Tenda, terpal, selimut
  • Tenaga medis
  • Obat-obatan
  • BBM
  • Water tank
  • Tenda pengungsi
  • Genset
  • Alat penerangan
  • Kantong mayat
  • Kain kafan

Disclaimer : Informasi dan opini yang tertulis di halaman campaign ini adalah milik campaigner (pihak yang menggalang dana) dan tidak mewakili Kitabisa.

Penggalangan dana ini mencurigakan? Laporkan

DONASI SEKARANG

Di bawah ini adalah list fundraiser yang ikut mendukung Bantu Korban Gempa dan Tsunami Palu-Donggala :

Mau buat halaman untuk galang dana online seperti ini?